home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspada 6 Gejala Usus Buntu pada Anak

Waspada 6 Gejala Usus Buntu pada Anak

Usus buntu adalah penyakit yang tak hanya dapat dialami oleh orang dewasa tetapi juga anak kecil. Apa saja gejala usus buntu pada anak yang perlu orangtua waspadai? Simak penjelasannya berikut ini.

Gejala usus buntu pada anak berbeda dengan orang dewasa

Gejala usus buntu pada anak kecil cenderung lebih sulit dideteksi karena cenderung berbeda dengan orang dewasa pada umumnya.

Apalagi anak-anak yang usianya masih sangat kecil biasanya masih sulit mengutarakan keluhan yang mereka rasakan.

Maka dari itu, orangtua harus lebih jeli mengenali perubahan yang tampak pada perilaku anak maupun kondisi tubuhnya agar penyakit si kecil dapat segera diobati.

gejala usus buntu pada anak

Ciri-ciri umum usus buntu pada anak

Penelitian yang terbit dalam jurnal Medicine, menyatakan bahwa mendiagnosa usus buntu pada anak cenderung lebih sulit karena setiap anak menunjukkan gejala yang beragam.

Namun, secara umum, terdapat ciri-ciri usus buntu yang biasanya dirasakan anak antara lain sebagai berikut.

1. Sakit perut di kanan bawah

Perut bagian kanan bawah adalah lokasi apendiks atau usus buntu pada manusia. Oleh karena itu, waspadalah jika anak merasakan rasa nyeri pada bagian tersebut.

Sakit perut sebelah kanan bawah adalah gejala usus buntu yang paling umum pada orang dewasa, tetapi juga bisa dirasakan anak kecil.

Penyebab rasa nyeri ini adalah adanya jaringan limfa atau kotoran (feses) yang mengeras sehingga menyumbat rongga usus buntu.

Sumbatan tersebut kemudian menjadi lahan bagi bakteri untuk berkembang biak dan menyebabkan infeksi.

Segeralah periksakan ke dokter jika anak merasakan nyeri pada perut sekitar pusar yang menjalar hingga ke perut bagian kanan bawah.

2. Perut bengkak dan kembung

Meskipun merupakan ciri khas gejala usus buntu, tetapi pada beberapa anak mungkin saja tidak mengalami rasa nyeri. Mereka mengalami perut yang bengkak, kembung, dan terasa empuk ketika ditepuk pelan.

Gejala seperti ini biasanya dialami oleh anak yang berusia 2 tahun ke bawah.

3. Demam

Demam adalah respon alami tubuh ketika diserang infeksi dan peradangan. Oleh karena itu, demam juga bisa menjadi ciri-ciri usus buntu pada anak.

Biasanya demam yang dialami anak akibat usus buntu tidak begitu tinggi. Namun, disertai gejala lain seperti menggigil dan berkeringat banyak.

Keluarnya keringat yang banyak adalah upaya tubuh dalam menormalkan suhu.

gejala usus buntu pada anak

4. Hilang nafsu makan disertai mual dan muntah

Selain demam, ciri-ciri usus buntu pada anak yang wajib diperhatikan orang tua adalah mual dan muntah.

Peradangan dan infeksi pada usus buntu sering menyebabkan anak tidak nafsu makan. Kadang, ciri-ciri usus buntu pada anak ini diperparah dengan rasa mual dan muntah.

Tidak nafsu makan dan mual adalah refleks bawah sadar tubuh untuk menghindari konsumsi zat apa pun yang dapat memperparah kondisinya selama masih sakit.

Pada penyakit usus buntu, muntah merupakan refleks otomatis tubuh untuk mengosongkan isi perut secara paksa agar sumbatan yang ada padanya dapat dikeluarkan.

5. Diare atau sembelit

Infeksi usus buntu pada anak terkadang dapat menyebabkan gejala berupa diare.

Ciri-ciri usus buntu pada anak ini cenderung lebih sering muncul apabila lokasi peradangannya berada di dekat rongga panggul.

Sehingga infeksi pada usus buntu ikut mengiritasi rektum atau usus besar. Kondisi inilah yang membuat anak bisa diare saat mengalami usus buntu.

Namun, banyaknya kotoran yang terbuang saat diare akibat usus buntu biasanya lebih sedikit dibandingkan diare umumnya.

Tekstur fesesnya juga cenderung lunak (tidak benar-benar cair) dengan frekuensi BAB yang lebih sering.

Di sisi lain, beberapa anak justru mengeluhkan gejala sebaliknya, yakni susah buang air besar dan susah buang angin.

6. Sakit saat buang air kecil

Beberapa anak yang mengalami usus buntu mungkin saja mengeluhkan rasa sakit saat buang air kecil. Sehingga gejala ini sering disalahartikan sebagai gejala infeksi saluran kencing (ISK).

Ciri-ciri usus buntu pada anak ini dapat muncul apabila lokasi peradangan usus buntunya dekat dengan kandung kemih.

Usus buntu yang meradang dapat mengiritasi kandung kemih sehingga menimbulkan gejala seperti anyang-anyangan, kencing berdarah, atau kencing putih seperti susu.

Beberapa anak bahkan mengalami sulit buang air kecil karena nyeri.

Kapan harus ke dokter?

Anak periksa ke dokter

Ibu dapat memberikan obat paracetamol atau ibuprofen pada anak sebagai langkah pertama meredakan demam dan gejala lainnya akibat usus buntu.

Namun, pertolongan dokter tetap harus diutamakan. Apalagi jika ibu merasa khawatir gejala tersebut merupakan tanda usus buntu pada anak.

Jangan tunda untuk membawa anak ke dokter jika keluhan yang anak alami semakin bertambah parah, seperti:

  • sakit perut yang langsung disertai muntah,
  • demam yang tak kunjung turun atau makin tinggi, dan
  • penurunan nafsu makan secara drastis.

Dokter akan menanyakan berbagai hal terkait kondisi tubuh dan gejala yang dialami anak. Kemudian melanjutkan dengan serangkaian pemeriksaan guna memastikan adanya peradangan pada usus buntu.

Beberapa pemeriksaan yang mungkin akan diterapkan antara lain:

Jika ada gejala yang mengarah pada usus buntu, sebaiknya orang tua tidak menunda untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

Hal ini karena usus buntu adalah salah satu penyakit yang sangat sulit dideteksi pada anak.

Melansir dari Italian Journal of Pediatrics, hampir 100% dokter gagal mendeteksi penyakit usus buntu pada anak di bawah usia 2 tahun.

Sementara pada anak usia 2 sampai 12 tahun, kegagalan diagnosa mencapai 28% hingga 57%.

Oleh karena itu, orang tua sebaiknya koperatif terhadap rangkaian pemeriksaan yang dokter sarankan. Hal ini bertujuan agar membantu mendiagnosa penyakit dengan lebih baik.

Selain itu, anak yang menderita usus buntu membutuhkan penanganan yang ekstra cepat. Jika anak tidak mendapatkan penanganan dalam waktu lebih dari 48 jam, peluang untuk usus buntu pecah menjadi sangat tinggi.

Menunda pengobatan dapat semakin memperburuk kondisi tubuh anak.

Seberapa umum kejadian usus buntu pada anak?

Anak kecil lebih ternyata lebih rentan mengalami radang usus buntu (apendisitis) daripada orang dewasa. Pada anak kecil, penyebab usus buntu paling umum adalah jaringan limfoid yang membengkak dan menghalangi rongga saluran usus buntu.

Peradangan yang semakin parah dapat berisiko membuat usus buntu anak pecah sehingga menimbulkan infeksi serius.

Apa yang terjadi jika tidak segera mengobati gejala usus buntu pada anak?

Ketika radang usus buntu anak tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, bakteri dan nanah akan semakin menumpuk di ususnya. Penumpukan ini akan semakin menekan usus buntu dan menyebabkan usus bengkak.

Pembengkakan tersebut pada akhirnya dapat menghambat pasokan darah segar ke usus buntu. Hal ini menyebabkan jaringan dan sel di sekitarnya mati.

Dinding usus yang mati akan mendorong bakteri dan nanah masuk ke dalam rongga perut. Akibatnya, isi usus buntu yang pecah akan bocor dan merembes hingga ke dalam perut.

Pecahnya usus buntu adalah kondisi gawat darurat medis dan dapat membahayakan nyawa. Oleh karena itu, harus segera mendapatkan penanganan dokter.

Segeralah membawa anak ke UGD rumah sakit terdekat apabila ia mengalami gejala-gejala yang mengarah pada usus buntu pecah.

gejala usus buntu pada anak

Gejala usus buntu pecah pada anak

Anak biasanya sulit mendeskripsikan gejala sakit yang ia rasakan. Oleh karena itu orang tua harus lebih peka terhadap keluhan yang anak alami.

Kenalilah beberapa ciri-ciri usus buntu pecah pada anak berikut ini.

1. Sakit perut kanan semakin parah

Gejala sakit perut di kanan bagian bawah pada anak akan semakin terasa menyakitkan apabila usus buntu sudah mulai pecah. Bahkan sakit perut hebat menyebar diseluruh lapang perut

Anak mungkin akan mengeluhkan gejala yang bertambah parah ketika Anda menekan perut pada bagian tersebut selama beberapa saat.

Mereka juga mungkin mengatakan sakitnya terasa lebih parah ketika bergerak, menarik napas dalam, atau saat batuk dan bersin.

Infeksi dan peradangan usus buntu dapat mengiritasi lapisan dinding perut, yang dikenal sebagai peritoneum.

Inilah yang akan menyebabkan anak merasa sakit saat berjalan, berdiri, melompat, batuk, atau bahkan bersin karena tekanan di dalam perutnya meningkat.

2. Demam tinggi

Demam memang jadi salah satu gejala usus buntu pada anak, tapi dengan suhu yang tidak lebih dari 38º Celsius.

Namun, jika suhu melonjak drastis melebihi angka tersebut, kemungkinan besar ini adalah ciri-ciri usus buntu pecah pada anak.

Mengatasi ciri-ciri usus buntu pada anak

Satu-satunya cara untuk mengatasi gejala usus buntu pada anak adalah dengan operasi. Lewat operasi, dokter akan membuang usus buntu yang meradang dan terinfeksi sebelum menyebar ke organ perut lain.

Ada dua jenis pembedahan medis untuk usus buntu, yaitu dengan laparoskopi (operasi dengan sayatan kecil) dan bedah terbuka (operasi dengan sayatan lebih besar).

Sebelum operasi, biasanya si kecil akan diopname 1 hari sebelumnya. Dokter biasanya akan memberikan obat antibiotik dan cairan intravena atau infus selama masa perawatan.

Untuk mencegah infeksi sebelum dan sesudah operasi, dokter akan memberikan obat antibiotik. Selain itu, anak juga akan menerima cairan infus dan obat lainnya melalui injeksi.

Anak membutuhkan cairan infus untuk mencegah dehidrasi akibat gejala usus buntu seperti diare dan muntah.

Sebaiknya orang tua tidak khawatir melakukan operasi usus buntu pada anak karena risiko komplikasinya termasuk kecil. Memutuskan operasi adalah pilihan yang bijak untuk menghindari risiko usus buntu pecah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Wang, Z. H. (2019, March). Diagnostic accuracy of pediatric atypical appendicitis: Three case reports. PubMed. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30921220/ Accessed March 16, 2021

Brogan, R. J. (2018, July). Appendicitis. Nemours KidsHealth – the Web’s most visited site about children’s health. https://kidshealth.org/en/parents/appendicitis.html Accessed March 16, 2021

Doolin, E. J. (n.d.). Appendicitis in children. Children’s Hospital of Philadelphia. https://www.chop.edu/conditions-diseases/appendicitis#.Vsd-x7zmut8 Accessed March 16, 2021

Bach, D. (2020, March). Appendicitis. Cincinnati Children’s Hospital Medical Center. https://www.cincinnatichildrens.org/health/a/appendicitis Accessed March 16, 2021

Appendicitis in children information & more. (2016, November 17). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10792-appendicitis-in-children Accessed March 16, 2021

Reust, C. E. (2016, May 15). Acute abdominal pain in children. AAFP American Academy of Family Physicians. https://www.aafp.org/afp/2016/0515/p830.html Accessed March 16, 2021

Abdominal pain – children under age 12. (n.d.). MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/ency/article/007504.htm Accessed March 16, 2021

Hamid, K. A. (2018, March). Acute appendicitis in young children: A persistent diagnostic challenge for clinicians. PubMed Central (PMC). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5959314/ Accessed March 16, 2021
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Tanggal diperbarui 4 minggu lalu
x