Bahaya Obesitas pada Anak Balita yang Perlu Orangtua Perhatikan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Siapa, sih, yang tidak gemas melihat anak yang gemuk? Buat sebagian orang, anak balita yang gemuk memang tampak lucu dan menarik. Sayangnya, tubuh anak yang gemuk lama-lama bisa mengarah pada obesitas dan menimbulkan gangguan kesehatan si kecil hingga beranjak dewasa. Lantas, apa bahaya obesitas pada anak balita? Bagaimana cara mencegah obesitas pada balita? Simak jawabannya dalam ulasan berikut ini.

Apa bahaya obesitas pada balita?

Untuk mengetahui anak obesitas atau tidak, orangtua tidak hanya mengukur berat dan tinggi anak, tetapi juga indeks massa tubuh atau BMI. Mengutip dari WebMD, ini adalah ukuran lemak tubuh berdasarkan berat dan tinggi badan seseorang.

Kristi King, Ahli Diet Klinis Rumah Sakit Anak, Texas menyebutkan bahwa BMI tidak hanya orang dewasa. Anak-anak juga perlu menghitung BMI karena bisa menjadi pengukuran yang sangat akurat.

IDAI nenjelaskan dalam situs resminya bahwa anak dikatakan obesitas ketika berat badannya lebih dari +3 SD grafik pertumbuhan.

Sementara untuk anak overweight ketika berat badan lebih dari +2 SD grafik pertumbuhan yang dibuat WHO.

Berikut bahaya obesitas pada balita yang perlu diperhatikan oleh orangtua:

1. Penyakit jantung

Obesitas pada anak balita bisa ditandai dengan menumpuknya jaringan lemak di seluruh atau beberapa bagian tubuh. Tanpa sadar, obesitas meningkatkan risiko anak terserang penyakit jantung nantinya. Bagaimana bisa?

Begini, anak yang mengalami obesitas memerlukan darah dalam jumlah yang lebih banyak. Secara otomatis, beban kerja jantung pun akan jauh lebih keras untuk memompa darah.

Kondisi ini lama-lama akan membuat jantung semakin membesar agar bisa mengalirkan banyak pasokan darah ke seluruh tubuh.

Peningkatan aliran darah ini juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi pada anak sebagai penyebab awal penyakit jantung.

2. Diabetes mellitus tipe 2

Anak balita yang mengalami obesitas berisiko lebih tinggi untuk mengalami peningkatan kadar gula darah.

Pasalnya, tubuh anak akan kesulitan untuk mencerna asupan glukosa dengan optimal. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah akan meningkat dan berkembang menjadi penyakit diabetes pada anak tipe 2 ketika dewasa.

3. Sleep apnea

Sleep apnea adalah gangguan tidur termasuk pada anak yang terjadi ketika pernapasan mendadak berhenti saat sedang tidur. Penderita obesitas, termasuk pada balita dan anak-anak, rentan mengalami sleep apnea.

Ini karena adanya penimbunan lemak tubuh yang menghalangi saluran udara sehingga menghambat pernapasan. Akhirnya, kualitas tidur si kecil memburuk dan mudah merasa kelelahan keesokan harinya.

4. Asma

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Asthma Research and Practice Journal, sekitar 38 persen penderita obesitas juga memiliki gejala penyakit asma, dilansir dari Healthline.

Salah satu penyebabnya adalah karena paru dikelilingi oleh jaringan lemak berlebih yang membuatnya jadi lebih sensitif terhadap udara dari luar.

Lama-lama, kondisi ini mengakibatkan peradangan pada sistem pernapasan yang kemudian menyebabkan asma.

5. Masalah hormonal

Semakin bertambah berat badan anak, maka akan semakin sulit untuk mengatur produksi hormon di dalam tubuh. Jumlah hormon yang dihasilkan pun jadi tidak normal.

Bukannya baik, hal ini justru bisa mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang terkait dengan hormon di kemudian hari, termasuk obesitas pada balita.

Ambil contoh, pada anak perempuan masalah hormonal bisa menyebabkan menstruasi jadi tidak teratur. Sementara pada anak laki-laki bisa berakibat pada ginekomastia, yakni pertumbuhan payudara yang abnormal.

Selain itu, hormonal juga mengganggu pubertas  yang bisa datang lebih awal. Gejala ini lebih banyak dialami oleh perempuan karena ditandai dengan menstruasi dini.

Kondisi menstruasi lebih awal, merupakan tanda ketidakseimbangan hormonal yang nantinya dapat menimbulkan masalah kesehatan perempuan setelah dewasa.

6. Masalah pada otot dan tulang

Berat badan yang melebihi batas normal akan memberikan beban besar pada otot dan tulang karena harus bekerja ekstra untuk menopang berat tubuh.

Itu sebabnya, banyak balita dan anak remaja yang mengalami obesitas sering mengeluhkan nyeri pada bagian tulang dan ototnya, dibandingkan dengan teman-teman seusianya yang punya berat badan normal.

7. Masalah pada hati

Obesitas pada balita bisa membuat anak memiliki hepatic steatosis. Ini adalah kondisi liver berlemak atau yang dikenal juga sebagai fatty liver disease, menjadi penyebab penumpukan lemak di tubuh dan di dalam pembuluh darah.

Meskipun tidak menimbulkan gejala yang serius di waktu muda, tapi dapat menimbulkan kerusakan liver.

8. Gangguan psikologis

Gangguan psikologis dari anak dengan obesitas merupakan hasil dari stigma dan diskriminasi sosial, diantaranya:

Minder

Ini merupakan kecenderungan merasa rendah diri bahkan kehilangan rasa percaya diri akibat body image yang dimiliki.

Obesitas pada balita bisa menyebabkan minder dan perlu dilatih kepercayaan dirinya. Inikarena anak merasa tubuhnya berbeda dengan yang lain.

Masalah perilaku dan gangguan belajar

Anak yang overweight cenderung memiliki kemampuan berinteraksi dan mengalami kecemasan dan cenderung menarik diri di lingkungan sosial, misalnya lingkungan sekolah. Hal ini dapat berdampak kepada kemampuan akademik di sekolah yang menjadi efek dari obesitas pada balita.

Depresi

Kondisi ini disebabkan oleh akumulasi dari masalah psikologis yang dipicu oleh interaksi sosial. Tidak hanya menarik diri, anak yang mengalami depresi akan kehilangan semangat dalam beraktivitas. Masalah depresi pada anak sama beratnya dengan depresi pada orang dewasa.

9. Komplikasi kesehatan

Pada umumnya komplikasi kesehatan akibat obesitas pada anak erat kaitannya dengan perkembangan penyakit degeneratif, di antaranya:

Gejala prediabetes

Kondisi ini menyebabkan tubuh anak tidak dapat mencerna glukosa secara optimal dan meningkatkan kadar glukosa di dalam darah. Jika kondisi ini terus berlangsung maka pada saat usia remaja anak tersebut dapat menderita diabetes mellitus.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif seperti tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol “jahat” atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol “baik” atau HDL (high density lipoprotein) dan penumpukan lemak di sekitar perut anak.

10. Gangguan pertumbuhan muskuloskeletal

Berat badan yang berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tulang, sendi, dan otot pada anak.

Pada masa anak-anak, tulang dan sendi sedang mengalami pertumbuhan sehingga belum memiliki bentuk dan kekuatan yang optimal.

Kalau seorang anak mengalami berat badan berlebih maka akan merusak area pertumbuhan tulang dan dapat mencederai tulang.

Berikut  beberapa gangguan kesehatan tulang yang berisiko dialami oleh anak dengan obesitas:

Slipped capital femoral epiphysis (SCFE)

Merupakan kondisi tulang paha (femur) yang mundur ke belakang akibat area pertumbuhan tulang tidak dapat menahan berat badan. Pada kasus yang serius, kaki yang mengalami gangguan ini tidak dapat menahan berat badan sedikit pun.

Penyakit Blount

Gangguan ini ditandai dengan kaki yang bengkok akibat perubahan hormon dan tekanan yang terlalu berat pada kaki yang sedang mengalami pertumbuhan sehingga mengalami kecacatan.

Patah tulang

Anak yang mengalami obesitas berisiko mengalami patah tulang akibat berat badan berlebih dan tulang yang tidak terlalu kuat akibat jarang beraktivitas fisik.

Flat feet

Adalah istilah untuk menggambarkan kondisi kaki yang mudah lelah sehingga tidak berjalan dengan jarak yang jauh.

Gangguan koordinasi

Anak yang mengalami obesitas cenderung sulit untuk menggerakan anggota tubuh dan memiliki kemampuan keseimbangan tubuh yang buruk seperti tidak dapat melompat dan berdiri dengan satu kaki.

11. Masalah dalam interaksi sosial

Anak yang mengalami obesitas cenderung mendapat stigma dan kurang diterima di lingkungan sosial seusianya. Mereka juga cenderung mengalami pandangan negatif, diskriminasi, hingga perilaku bully oleh teman-temannya karena kondisi badan mereka.

Anak yang obesitas juga cenderung terpinggirkan dalam permainan yang membutuhkan kekuatan fisik. Ini karena mereka bergerak cenderung lambat dibandingkan anak lain seusianya.

Kondisi sosial yang buruk seperti ini juga berpotensi mendorong mereka untuk menarik diri dari lingkungan dan lebih memilih untuk tinggal di rumah.

Jumlah teman yang lebih sedikit bisa membuatnya jadi jarang beraktivitas di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Hal ini bisa mengurangi waktu mereka untuk beraktivitas fisik.

Cara mengatasi obesitas pada balita

Selain karena faktor genetik dari keluarga, obesitas yang terjadi pada si kecil bisa didasari atas berbagai alasan lainnya.

Coba evaluasi kembali, apakah pola makan hariannya sudah tepat? Atau apakah ia aktif bergerak, entah itu dengan bermain, berolahraga, atau aktivitas normal lainnya?

Kombinasi semua faktor  yang kurang optimal tersebut bisa jadi penyebab utama obesitas pada anak dan bayi Anda. Pasalnya, obesitas terjadi ketika energi yang dikonsumsi jauh lebih banyak daripada energi yang dikeluarkan oleh tubuh.

Nah, yang harus Anda pikirkan selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk mencegah agar si kecil terhindar dari obesitas.

Mengonsumsi susu rendah gula untuk kurangi obesitas pada balita

Untuk mencegah obesitas pada balita dan anak-anak, Anda bisa membatasi pemberian gula dalam makanan dan minuman harian si kecil. Salah satunya dengan memberikan susu yang tepat yaitu yang rendah gula.

Pilihlah susu rendah gula yang tetap memiliki kandungan gizi susu terutama yang kaya asam omega 3 dan 6, untuk mendukung perkembangan otak dan kecerdasan si kecil.

Lewat memilih susu rendah gula tetapi tetap tinggi nutrisi, semua kebutuhan gizi anak akan terpenuhi, termasuk untuk perkembangan otaknya. Selain itu, risiko obesitas akibat asupan gula berlebihan bisa dihindari.

Mengurangi asupan gula harian untuk mengurangi obesitas pada balita

Selain itu, tidak ada salahnya untuk membatasi asupan gula harian anak sedikit demi sedikit. Sebab tidak hanya lemak saja yang berperan terhadap meningkatnya berat badan, gula pun demikian. Ganti camilan anak yang manis dengan buah-buahan.

Ini karena kelebihan asupan gula yang didapat dari makanan dan minuman akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak.

Akhirnya, bisa menyebabkan kegemukan pada anak dan obesitas. Beri si kecil sumber makanan dengan gizi seimbang yang padat kandungan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral.

Melakukan olahraga bersama kurangi risiko obesitas pada balita

Aktivitas fisik bisa mengurangi risiko obesitas pada balita. Olahraga bersama anak tidak hanya perlu dilakukan oleh si kecil, tetapi juga orangtua.

WebMD menjelaskan bahwa aktivitas fisik membuat anak bergerak aktif dan lebih sehat. Tentu, kebiasaan ini bisa mengurangi risiko obesitas pada si kecil.

Kegiatan yang bisa dilakukan bersama yaitu lari pagi, berjalan santai, bersepeda, atau berenang. Melakukan aktivitas di luar ruangan bersama anak tidak hanya mencegah obesitas pada balita, tapi juga mendekatkan diri dengan si kecil.

Sebenarnya tidak sulit, Anda bisa mulai perlahan dari hal-hal ringan sehari-hari. Tentunya, dalam batasan yang sehat.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Gangguan Kesehatan Akibat Duduk Terlalu Lama

Di mobil duduk, di kantor duduk, sampai rumah duduk lagi. Apa kira-kira efeknya pada kesehatan kita?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Radiasi dari TV cembung zaman dulu memang mungkin merusak mata. Namun apakah efek yang sama dihasilkan dari perangkat televisi modern?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Klaudikasio

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa? Cek Di Sini! ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Congestive Heart Failure (CHF)

Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi jantung tidak mampu memompa darah. Apa penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

berat badan ideal balita

Ketahui Berat Badan yang Ideal untuk Anak Usia 1-5 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
gula darah turun

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan hitam di leher

Leher Hitam? Atasi dengan Cara Mudah Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
kaki lemas

Kaki Terasa Lemas Tiba-Tiba? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit