4 Dampak Obesitas Terhadap Kesehatan Otak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Obesitas adalah jika nilai indeks massa tubuh Anda di atas 27 kg/m2. Ini merupakan suatu masalah kesehatan yang memicu berbagai penyakit kronis mematikan.  Obesitas dapat diatasi dengan melakukan diet dan menerapkan pola hidup sehat. Namun pada kenyataannya, selain berbahaya secara fisik, kondisi obesitas dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan gangguan kognitif, sehingga individu dengan obesitas akan lebih sulit untuk mengatasinya.  

Bagaimana obesitas bisa mempengaruhi otak?

Obesitas merupakan permasalahan yang kompleks, dipicu oleh berbagai faktor risiko yang tidak hanya pola makan namun juga lingkungan. Respon otak terhadap pola konsumsi manis dan tinggi lemak juga berperan dalam membentuk kebiasaan yang tidak sehat sejak seseorang mengalami kegemukan. Namun, saat mengalami obesitas, kebiasaan tersebut cenderung lebih sulit untuk dihilangkan dan menimbulkan kerusakan pada otak.

Gangguan pertama pada otak dialami karena ketidakseimbangan hormon ghrelin dan leptin. Kegemukan, bersama dengan kebiasaan konsumsi yang tidak sehat, membuat tubuh melakukan sekresi hormon leptin berlebih. Akibatnya, tubuh cenderung merasa lapar lebih lama karena otak tidak merespon hormon ghrelin yang memberi sinyal rasa kenyang. Tingginya hormon leptin juga menyebabkan seseorang makan lebih banyak karena tidak kurang menikmati rasa makanan, dan akhirnya memicu obesitas.

Selanjutnya, kondisi lemak berlebih akan merusak berbagai saraf otak, bahkan mengubah struktur otak bagian depan. Namun, hal ini hanya dialami oleh seseorang dengan obesitas. Saat tubuh memiliki lemak yang terlalu banyak, pelindung saraf otak (myelin) cenderung mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Saraf otak yang kehilangan pelindung akan lebih sulit menyampaikan impuls dari berbagai bagian tubuh dan otak, dan akibatnya otak tidak dapat memproses berbagai respon dari tubuh secara optimal. Suatu penelitian juga menambahkan, kerusakan saraf otak yang diakibatkan obesitas cenderung terjadi pada bagian depan otak. Kondisi tersebut adalah penyebab utama penurunan fungsi kognitif otak pada orang mengalami obesitas.

Dampak obesitas terhadap fungsi otak

Penurunan fungsi otak adalah hal yang wajar terjadi seiring dengan pertambahan usia. Namun, kondisi obesitas dapat mempercepat penurunan fungsi otak, dan jika tidak ditangani dapat menjadi gangguan permanen di usia yang lebih muda. Berikut beberapa gangguan kognitif yang dapat diamati pada  seseorang dengan obesitas:

1. Ketagihan makanan dan minuman

Rasa ketagihan adalah suatu kejadian yang sangat erat dengan fungsi otak dalam memberikan perintah untuk melakukan suatu kegiatan berulang, dan otak manusia secara alami memang sudah memiliki ketagihan pada makanan manis dan berlemak. Kondisi ketagihan ini akan menjadi lebih buruk jika seseorang mengalami obesitas. Konsumsi makanan atau minuman akan mengaktifkan suatu bagian pada otak yang dikenal dengan stratium, yang juga berperan untuk memberikan perintah mengonsumsi makanan di samping reaksi hormon. Namun pada orang yang obesitas, otak cenderung lebih lambat dalam mengaktifkan bagian tersebut, sehingga orang yang obesitas cenderung memakan makanan lebih banyak.

2. Memicu perilaku impulsif

Perilaku impulsif adalah suatu perilaku yang cenderung ‘tidak sabaran’ atau tidak berpikir panjang, dan hal ini merupakan tanda utama bahwa seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Orbifrontal cortex merupakan bagian otak yang mengatur berbagai perilaku seseorang, namun ahli neurologis menemukan bagian tersebut cenderung lebih kecil dari ukuran normal pada anak yang mengalami obesitas dibandingkan anak dengan berat badan yang ideal. Ukuran bagian otak Orbifrontal cortex yang tidak normal kemungkinan adalah penyebab dari perilaku impulsif pada individu yang mengalami obesitas.

Kerusakan bagian otak akibat obesitas berawal dari inflamasi pada berbagai jaringan tubuh, termasuk otak. Jika inflamasi terjadi pada bagian otak, maka dapat mengganggu perkembangan dan pemulihan jaringan otak sehingga terjadi kelainan. Perilaku impulsif juga bisa disebabkan kebiasaan buruk menuruti kemauan makan berlebih, dan merupakan efek samping dari kegemukan.

3. Gangguan respon terhadap stress

Tidak hanya kenaikan berat badan yang memicu gangguan, namun penurunan berat badan terlalu cepat pada orang yang obesitas juga dapat menyebabkan otak merespon stress dengan cara yang tidak sesuai. Hal ini bermula dari diet untuk menurunkan berat badan yang tidak konsisten, atau mengurangi terlalu banyak kalori sehingga menyebabkan seseorang mengalami binge eating. Kondisi kelaparan akan dapat memicu makan berlebih saat seseorang mengalami stress. Jika hal ini menjadi kebiasaan, maka otak akan selalu memberikan perintah untuk makan sangat banyak sebagai upaya mengatasi stress, dan hal ini akan menjadi sangat sulit untuk dihilangkan.

4. Meningkatkan risiko demensia

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, inflamasi pada otak adalah kerusakan yang cukup parah, bahkan memicu demensia, atau yang lebih dikenal orang awam dengan sebutan “pikun”. Otak sebagai penyeimbang perkembangan tubuh akan lebih cepat mengalami kerusakan jika tubuh mengalami penimbunan lemak pada bagian tertentu, atau dikenal dengan obesitas sentral. Kondisi perut buncit membuat berbagai hormon tidak stabil dan otak mengalami beban kerja yang sangat berat untuk menyeimbangkannya. Akibatnya, terjadi berbagai kerusakan sel otak sehingga ukuran otak menjadi lebih kecil dan memicu penurunan berbagai fungsi kognitif salah satunya adalah demensia.

Apa yang dapat dilakukan?

Terlepas dari berbagai kondisi atau gangguan fungsi kognitif otak, obesitas tetaplah faktor risiko penyakit degeneratif yang dapat dimodifikasi. Berapapun usia seseorang yang mengalami obesitas, menerapkan gaya hidup sehat tetap perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap terjadinya penyakit degeneratif dan komplikasinya. Menerapkan pola hidup sehat secara bertahap dan konsisten dan menjaga berat badan agar tidak kembali meningkat adalah hal terpenting dalam mengatasi obesitas.

BACA JUGA:

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kesal Menghadapai Orangtua yang Memojokkan Anda? Hadapi dengan 3 Langkah Bijak Ini

Punya orangtua yang sulit diajak kompromi memang bikin pusing. Jangan emosi! Begini cara bijaknya menghadapi orangtua yang suka memojokkan anak sendiri.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Mie Instan atau Nasi: Mana yang Bikin Lebih Cepat Gemuk?

Saat ingin menjaga atau menurunkan berat badan, Anda mungkin bingung memilih mana yang lebih baik: nasi putih atau mie instan. Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 20 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Cari tahu apa itu introvert, apa tanda-tandanya jika si kecil memiliki kepribadian introvert, dan apa yang perlu Anda lakukan sebagai orangtua.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Benarkah Makan Buah Plum Bisa Melangsingkan Badan?

Buah plum kerap dijadikan camilan diet kemasan yang ramai dijajakan toko-toko online di media sosial. Namun, benarkah klaim tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Gladys Mangkuliguna
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 18 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit


Direkomendasikan untuk Anda

patah hati menyebabkan kematian

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
berat badan naik setelah diet

3 Penyebab Berat Badan Anda Naik Setelah Diet

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
mie instan atau nasi

Mie Instan atau Nasi Putih, Mana yang Lebih Sehat untuk Dikonsumsi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
self esteem adalah

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit