home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cacar Air

Definisi|Tanda & gejala|Penyebab|Faktor-faktor risiko|Diagnosis|Pengobatan|Pengobatan di rumah|Pencegahan
Cacar Air

Definisi

Apa itu cacar air?

Cacar air (chickenpox) adalah penyakit kulit akibat infeksi virus yang menyebabkan timbulnya lenting gatal berisi cairan pada seluruh tubuh dan wajah. Infeksi juga bisa menyerang selaput lendir (membran mukosa), seperti di mulut.

Virus biasanya menyerang di masa anak-anak. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan seseorang baru terkena penyakit ini di usia dewasa. Terlebih lagi, cacar air yang terjadi pada orang dewasa bisa saja menimbulkan gejala dan komplikasi yang serius, terutama bila mereka belum pernah mengalami cacar air sebelumnya.

Setelah sembuh dari cacar air, virus penyebabnya dapat bertahan dalam tubuh dalam kondisi inaktif. Sewaktu-waktu, virus ini dapat kembali terbangun untuk menginfeksi dan memicu penyakit cacar api (cacar ular) yang disebut dengan herpes zoster. Herpes zoster bisa mengakibatkan komplikasi cacar yang berat.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Cacar air adalah penyakit menular yang sangat sering terjadi. Penyakit ini dapat terjadi pada semua usia. Namun, sebagian besar kasus cacar air terjadi pada anak berusia di bawah 15 tahun.

Orang dengan sistem imun yang lemah lebih berisiko terkena penyakit ini seperti bayi, ibu hamil, dan lansia.

Penyakit ini biasanya muncul sekali seumur hidup. Sangat sedikit orang yang mengalami infeksi cacar air dua kali dalam hidupnya.

Tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala cacar air?

Sebenarnya, kemunculan gejala cacar air yang dialami oleh setiap orang dapat berbeda-beda. Namun, biasanya gejala pertama yang akan dirasakan adalah kelelahan dan rasa tak nyaman pada tubuh selama satu sampai dua hari.

Kemudian, ruam gatal mulai timbul pada tubuh, wajah, kulit kepala, dan di bawah ketiak. Terkadang ruam juga muncul di dalam mulut.

Nantinya ruam akan berubah menjadi lenting atau bintik-bintik gatal berisi cairan yang dapat melepuh dan mengering, membentuk keropeng dalam 5-10 hari.

Dilansir dari Mayo Clinic, lenting yang muncul bervariasi, bisa hanya dalam jumlah yang sedikit, bisa juga dalam jumlah yang banyak mencapai 500.

Secara garis besar, Anda akan melewati tiga fase utama penyakit setelah ruam muncul, yaitu :

  • Muncunya benjolan merah muda atau merah (papula) selama beberapa hari.
  • Munculnya lepuhan kecil berisi cairan yang terbentuk sekitar satu hari sebelum pecah.
  • Timbul kerak dan keropeng menutupi lepuhan yang rusak.

Biasanya benjolan baru akan terus muncul di seluruh bagian tubuh selama beberapa hari hingga akhirnya berhenti.

Pada kasus yang parah, ruam bisa menutupi seluruh tubuh dan lenting bisa muncul di tenggorokan, mata, selaput lendir uretra, anus, hingga vagina.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Ketika gejala cacar air mulai muncul, sebaiknya langsung periksakan diri atau anak Anda ke dokter. Dokter akan meresepkan obat untuk mengurangi keparahan dan meringankan gejala yang Anda atau anak derita.

Selain itu, konsultasikan kembali ke dokter jika Anda atau anak mengalami berbagai gejala seperti:

  • Ruam yang menyebar ke salah satu atau kedua mata.
  • Ruam menjadi lebih sensitif jika disentuh dan terasa panas. Hal ini bisa menjadi tanda infeksi bakteri.
  • Pusing, linglung, denyut jantung cepat, sesak napas, leher kaku, gemetar hingga demam lebih dari 39,4°C.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan sistem imun yang lemah.

Jika memiliki pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter untuk mendapatkan informasi lengkap seputar masalah kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab cacar air?

Penyebab utama kondisi ini adalah varicella-zoster yang merupakan salah satu virus herpes. Virus ini bisa berpindah dari orang yang terinfeksi ke orang yang sehat dua hari sebelum lepuhan muncul. Virus akan tetap menular sampai semua lepuhan kering. Biasanya virus ini dapat menyebar melalui:

  • Air liur
  • Batuk
  • Bersin
  • Kontak dengan cairan dari lepuhan

Anda berisiko menularkan penyakit sejak 2 hari sebelum ruam muncul hingga 6 hari setelah lenting terbentuk. Virus akan tetap menular hingga semua lepuhan yang pecah ini mengeras.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena cacar air?

Siapapun yang belum pernah terpapar atau tertular virus sangat berisiko terkena cacar air. Namun, risikonya akan meningkat pada:

  • Orang yang melakukan kontak kulit dengan pasien cacar air.
  • Anak berusia dibawah 12 tahun.
  • Orang yang merokok.
  • Wanita hamil yang belum pernah terinfeksi.
  • Orang yang belum menerima vaksin cacar air.
  • Orang dewasa yang tinggal dengan anak-anak.
  • Bekerja di sekolah atau tempat penitipan anak di mana virus sangat rentan menyebar luas.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena penyakit atau obat-obatan tertentu.

Paparan virus melalui infeksi aktif sebelumnya atau vaksinasi mengurangi risiko terjangkitnya penyakit yang satu ini.

Diagnosis

Bagaimana pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis cacar air?

Bintik-bintik akibat cacar air berbeda dari jenis ruam yang lain sehingga diagnosis mudah ditentukan. Dokter akan melakukan pengecekan riwayat medis dan melihat ruam untuk membuat diagnosis.

Setelah itu, dokter terkadang juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaannya meliputi:

  • PCR untuk mendeteksi virus varicella pada lesi kulit.
  • Tes kultur cairan lepuhan dari bintik cacar, tapi pemeriksaan ini jarang dilakukan karena dapat memakan waktu yang lama.
  • Tes serologi, untuk mengetahui reaksi antibodi (IgM dan IgG) terhadap cacar air.

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan obat untuk cacar air?

Cacar air pada anak biasanya tidak membutuhkan obat khusus karena bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, dokter biasanya meresepkan beberapa jenis obat cacar air berikut untuk membantu meringankan gejala seperti:

  • Obat pereda nyeri.

Obat seperti paracetamol biasanya sering diresepkan untuk membantu meredakan demam dan nyeri ringan.

Namun, obat yang mengandung aspirin sebaiknya tidak boleh diberikan pada anak karena dapat menyebabkan kondisi bernama sindrom Reye, di mana otak dan fungsi hati mengalami kerusakan mendadak.

  • Antihistamin.

Salah satunya obatnya adalah diphenhydramine (Benadryl) yang diberikan untuk mengurangi gatal. Biasanya obat bisa dalam bentuk krim oles atau obat minum.

  • Obat antivirus.

Pada orang-orang yang berisiko tinggi mengalami komplikasi, dokter akan memberikan obat herpes berupa antivirus untuk mempersingkat infeksi virus.

Biasanya yang rentan terhadap komplikasi adalah ibu hamil, bayi di bawah enam bulan, dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah. Salah satu obat yang diberikan adalah acyclovir (Zovirax, Sitavig).

  • Vaksinasi

Dalam kasus tertentu, dokter biasanya meminta Anda untuk melakukan vaksin setelah terpapar virus ini. Pasalnya selain mencegah penyakit, vaksin cacar air juga bisa mengurangi keparahan gejala.

Pengobatan di rumah

Apa pengobatan di rumah yang bisa dilakukan untuk mengatasi cacar air?

Penyakit cacar air merupakan self-limiting disease, artinya penyakit bisa sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, pengobatan dokter hanya membantu mempersingkat dan meringankan gejala.

Namun, Anda juga sebaiknya melakukan berbagai perubahan gaya hidup untuk membantu meringankan gejala penyakit ini. Berikut berbagai pantangan cacar air dan cara perwatan alami untuk meringankan gejalanya, yaitu:

  • Tidak menggaruk lepuhan

Menggaruk area kulit yang gatal akan memperparah lepuhan dan memperlambat penyembuhan. Bila Anda khawatir akan menggaruk kulit saat sedang tidur, potong kuku dan gunakan sarung tangan agar kulit tidak terluka saat tergaruk.

  • Mengoleskan calamine

Calamine mengandung berbagai zat yang bisa menenangkan kulit, salah satunya zinc oxide. Gunakan losion ini untuk membantu mengurangi rasa gatal yang mengganggu. Jangan digunakan di sekitar mata.

  • Minum banyak air putih

Air putih dapat menjadi obat alami cacar air karena penyakit ini berisiko menyebabkan dehidrasi.

Minum banyak air dapat membantu mencegah gangguan kesehatan yang disebabkan dehidrasi. Selain itu, ketika terhidrasi dengan baik, tubuh bisa melakukan berbagai tugasnya termasuk untuk memulihkan kondisi.

  • Makan makanan yang lunak

Bila lepuhan muncul di sekitar mulut, pilihlah makanan dengan tekstur yang lembut dan lunak untuk menghindari rasa nyeri saat menggigit makanan.

  • Mandi yang benar

Saat mandi, gunakanlah air hangat suam kuku, jangan menggunakan air panas. Batasi waktu tidak lebih dari 15 menit.

Selain itu, pilihlah produk pembersih tubuh yang dibuat khusus untuk kulit sensitif atau diformulasikan untuk kulit bayi yang baru lahir. Gunakan sabun dengan lembut tanpa menggosok terlalu keras.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah cacar air?

Cara terbaik mencegah penyakit cacar air yaitu dengan melakukan vaksin. Vaksin memberikan perlindungan menyeluruh dari virus varicella zoster yang diberikan. Ketika vaksin tidak memberikan perlindungan yang menyeluruh, keparahan cacar air tetap bisa dikurangi.

Tak perlu khawatir, vaksin cacar air aman untuk anak-anak dan orang dewasa. Sejak vaksin ini tersedia, ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa vaksin ini aman dan efektif.

Adapun efek samping yang ditimbulkannya cukup ringan. Kemerahan, pegal, dan terkadang benjolan kecil di lokasi suntikan menjadi efek yang kerap muncul.

Umumnya vaksin direkomendasikan untuk:

  • Anak-anak

Anak-anak berusia 12 bulan hingga 12 tahun wajib mendapatkan 2 dosis vaksin. Vaksin biasanya diberikan saat anak berusia 12 hingga 15 bulan dan 4 hingga 6 tahun.

Vaksin ini juga bisa dikombinasikan dengan campak, gondong, dan rubela (MMR). Namun efeknya, pada sebagian anak kombinasi ini bisa meningkatkan risiko demam dan kejang.

  • Orang dewasa yang berisiko

Orang dewasa yang tidak divaksinasi dan belum pernah terkena cacar air berisiko tinggi terkena penyakit ini. Apalagi jika Anda bekerja di tempat penitipan anak atau layanan kesehatan.

Biasanya dokter atau petugas kesehatan akan memberikan dua dosis vaksin. Tidak sekaligus, vaksin akan diberikan secara terpisah selama 4 hingga 8 minggu.

Jika Anda lupa pernah melakukan vaksin atau mengidap cacar air, dokter akan melakukan tes darah. Tes darah membantu menentukan kekebalan tubuh Anda.

Siapa saja yang tidak boleh melakukan vaksin?

Vaksin tidak boleh diberikan pada:

  • Wanita hamil.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah karena penyakit atau obat.
  • Orang yang alergi terhadap gelatin atau antibiotik neomycin.

Intinya, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter sebelum melakukan vaksin. Kemudian, tanyakan pada dokter terkait apakah Anda memang membutuhkannya.

Jika Anda berencana untuk hamil dalam waktu dekat, tanyakan pada dokter kira-kira boleh atau tidak melakukan suntik vaksin.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Chickenpox – Symptoms and causes. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 27 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chickenpox/symptoms-causes/syc-20351282

Chickenpox (Varicella). (2018). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 27 October, from https://www.cdc.gov/chickenpox/hcp/index.html

Chickenpox. (2016). DermNet NZ. Retrieved 27 October, from https://dermnetnz.org/topics/chickenpox/

Chickenpox. (n.d.). Johns Hopkins Medicine. Retrieved 27 October, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/chickenpox

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 04/01/2021
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x