Reaksi Alergi: Definisi, Gejala, Penyebab, Obat, dll.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 November 2020 . Waktu baca 15 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu alergi?

Alergi adalah reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh saat terdapat zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Zat asing pemicu kondisi ini dikenal sebagai alergen.

Pada kondisi normal, sistem imun hanya bereaksi terhadap zat asing yang mengancam kesehatan seperti bakteri, virus, dan sejenisnya yang menyebabkan penyakit. Namun, pemicu kondisi ini justru berasal dari sesuatu yang tidak berbahaya.

Contoh pemicunya yakni makanan, serbuk sari, obat, debu, dan udara dingin. Tubuh orang pada umumnya tidak akan bereaksi negatif terhadap hal-hal tersebut, sebab sistem imun dapat membedakan mana zat berbahaya dan mana yang tidak.

Akan tetapi, sistem imun sebagian orang tidak seperti itu. Tubuh mereka yang memiliki kondisi ini akan bereaksi berlebihan ketika terkena pemicunya. Reaksi tersebut terkadang sangat parah sehingga dapat membahayakan jiwa.

Jenis-jenis

Apa saja jenis-jenisnya?

Semua yang ada di sekitar Anda dapat menjadi pemicu kondisi ini. Ini sebabnya jenis-jenisnya sangatlah luas dan beragam. Namun, berdasarkan penyebab dan tempat munculnya gejala, kondisi ini secara umum dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.

1. Makanan

Alergi makanan disebabkan oleh reaksi sistem imun yang berlebihan terhadap protein dalam bahan makanan. Makanan yang sering memicu alergi adalah makanan laut (ikan, kerang, udang), kacang, telur, serta gandum dan produk turunannya.

Bagi penderita, mengonsumsi sedikit saja makanan penyebab alergi dapat memicu gangguan pencernaan, ruam dan gatal, hingga sesak napas. Pada kasus yang langka, alergi makanan bisa menimbulkan reaksi parah yang membahayakan nyawa.

2. Pada kulit

Alergi pada kulit dapat dipicu oleh banyak alergen, mulai dari tungau, makanan, hingga udara dingin. Selain itu, penggunaan produk berbahan lateks dan nikel, air yang tidak bersih, serta konsumsi obat juga kerap menjadi pemicunya.

Bentuk alergi pada kulit yang paling sering terjadi adalah eksim (dermatitis atopik) dan biduran (hives). Bedanya, eksim memiliki gejala berupa kemerahan, iritasi, dan kulit kering, sedangkan biduran identik dengan bentol-bentol kemerahan berukuran besar.

3. Obat dan lateks

Tidak banyak orang yang bereaksi negatif terhadap pengobatan atau bahan tertentu seperti lateks sehingga bisa dikatakan alergi. Kondisi ini biasanya juga sulit didiagnosis karena dianggap sebagai gejala efek samping obat atau sekadar iritasi.

Pada alergi obat, yang paling sering menjadi pemicunya adalah antibiotik penisilin. Ada pula kasus alergi terhadap obat antikonvulsan untuk kejang, obat antiradang nonsteroid seperti ibuprofen dan aspirin, serta obat-obatan kemoterapi. 

Sementara pada alergi lateks, kondisi ini lebih banyak dialami oleh orang yang sering memakai produk berbahan lateks seperti sarung tangan karet atau kondom. Reaksi seperti gatal dan ruam umumnya timbul setelah mengenakan produk-produk tersebut.

4. Dermatitis kontak

Dermatitis kontak merupakan peradangan pada kulit yang dipicu oleh alergen atau zat penyebab iritasi. Reaksi ini biasanya muncul pada area tubuh yang bersentuhan secara langsung dengan zat-zat tersebut.

Pemicu yang paling umum antara lain bahan kimia pada produk pembersih, deterjen, dan tanaman seperti poison ivy. Kulit yang terdampak umumnya mengalami ruam, gatal, nyeri, dan terkadang dipenuhi luka lepuh berisi cairan.

5. Pada mata dan hidung

Alergi pada mata dan hidung biasanya disebabkan oleh alergen yang terhirup. Alergen mungkin berasal dari tungau, serbuk sari tanaman, atau debu yang melayang di udara. Butiran alergen berukuran sangat kecil sehingga Anda menghirupnya tanpa sadar.

Begitu terhirup, tubuh akan menganggapnya sebagai bahaya dan menimbulkan reaksi sistem imun. Gejala yang sering muncul antara lain bersin-bersin, gatal, hidung meler atau tersumbat, serta mata merah berair.

6. Hewan dan gigitan serangga

Pada alergi hewan, alergen pada dasarnya bukan berasal dari bulu hewan itu sendiri, melainkan air liur, ketombe, feses, atau air kencing yang menempel pada bulu. Zat-zat tersebut mengandung protein tertentu yang dianggap tubuh sebagai ancaman.

Begitu pun dengan alergi serangga. Alergen berasal dari zat beracun yang dikeluarkan serangga ketika menyengat Anda. Zat tersebut sebetulnya tidak berbahaya, tapi sistem imun bereaksi secara berlebihan karena menganggapnya sebagai ancaman.

7. Lainnya

Jika Anda alergi terhadap makanan, debu, bulu hewan, atau bahan kimia dalam produk pembersih, semua ini termasuk dalam deretan pemicu alergi yang paling umum. Akan tetapi, ini baru segelintir dari puluhan alergen yang ada di sekitar Anda.

Masih ada banyak pemicu kondisi ini yang mungkin jarang dikenali, seperti:

  • spora jamur dan lumut,
  • biji wijen,
  • daging merah,
  • buah-buahan sitrus,
  • mangga dan alpukat,
  • sinar matahari, dan
  • keringat.

Kondisi langka ini biasanya lebih sulit didiagnosis. Hal ini tentu mencemaskan, sebab Anda bisa saja mengalami reaksi alergi parah tanpa menyadari pemicunya. Segera kunjungi dokter bila Anda curiga suatu zat atau bahan memicu gejala alergi pada tubuh Anda.

Gejala

Apa saja gejalanya?

Setiap orang bisa saja menunjukkan gejala alergi yang berbeda. Tingkat keparahannya pun dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Apabila Anda terkena alergen untuk pertama kalinya, Anda mungkin akan mengalami gejala ringan seperti.

  • ruam (bercak bintik-bintik merah pada kulit yang terasa gatal),
  • kulit lecet atau terkelupas,
  • hidung gatal, tersumbat. atau berair,
  • mata merah, bengkak, berair, atau gatal,
  • bersin-bersin, dan
  • sakit perut.

Gejala dapat bertambah buruk bila Anda berulang kali terkena alergen. Reaksi alergi yang parah dapat menimbulkan gejala seperti:

  • kram perut,
  • rasa sakit atau sesak di dada,
  • diare,
  • kesulitan menelan,
  • pusing (vertigo),
  • ketakutan atau kecemasan,
  • wajah memerah,
  • mual atau muntah,
  • jantung berdebar,
  • pembengkakan wajah, mata, bibir, atau lidah,
  • badan lemah,
  • batuk mengi,
  • serangan asma,
  • sulit bernapas, dan
  • hilang kesadaran.

Kapan Anda perlu ke dokter?

Jika obat bebas yang dijual di apotek tidak dapat meredakan gejala alergi, segera periksakan diri Anda ke dokter. Anda juga harus mengunjungi dokter bila gejala yang Anda alami mengganggu tidur dan kegiatan sehari-hari.

Selain itu, segera datangi unit gawat darurat bila reaksi alergi sangat parah dan muncul tiba-tiba dalam beberapa detik setelah terkena alergen. Jenis reaksi ini dikenal sebagai syok anafilaksis.

Gejala anafilaksis yang harus diwaspadai adalah kesulitan bernapas serta penurunan tekanan darah secara drastis dan mendadak. Tanpa penanganan segera, kondisi ini dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 15 menit.

Penyebab

Apa penyebab alergi?

Sampai saat ini para ahli dan dokter masih belum mengetahui pastinya penyebab alergi, atau apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh bereaksi berbeda terhadap zat tertentu.

Meski begitu, perlu diketahui bahwa alergi menurun dalam keluarga. Jika anggota keluarga dekat Anda mempunyai alergi, Anda berisiko lebih besar mengalami kondisi yang sama.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat mampu membedakan mana zat berbahaya dan yang tidak. Akan tetapi, sistem imun tubuh beberapa orang tidak mampu bekerja seperti demikian. 

Sistem imun mereka menciptakan antibodi imunoglobulin E (IgE) dan melepaskan zat histamin untuk menyerang alergen tertentu. Ketika lain kali Anda terpapar alergen yang sama di masa depan, sistem imun akan terus menghasilkan reaksi serupa.

Jika Anda terkena pemicu kondisi ini berulang kali, hal ini dapat membuat alergen mengikat semakin kuat pada sel-sel kekebalan tubuh. Akibatnya, gejala yang Anda alami mungkin akan berkembang, bertambah banyak, atau semakin parah.

Faktor-faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko memiliki alergi?

Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang lebih berisiko terkena kondisi ini, yakni:

  • Riwayat keluarga. Jika ada anggota keluarga Anda yang mempunyai alergi, kemungkinan besar Anda juga bisa terkena.
  • Masih kanak-anak. Anak-anak lebih berisiko terkena alergi, tapi risiko ini bisa saja menurun seiring bertambahnya usia..
  • Menderita asma. Asma membuat Anda berisiko terkena banyak alergi lain.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Dokter dapat mendiagnosis alergi dengan melihat riwayat kesehatan dan melakukan sejumlah pemeriksaan. Apabila reaksi alergi Anda parah, Anda mungkin akan diminta membuat jurnal rinci mengenai gejala, zat pemicunya, serta kapan gejala muncul.

Setelah melihat riwayat kesehatan Anda, dokter akan melakukan beberapa tes untuk menentukan zat apa yang menjadi alergen. Jenis tes alergi yang paling umumdilakukan di antaranya:

  • Tes kulit untuk mengetahui penyebab reaksi tubuh terhadap alergen. Ada 3 jenis tes pada kulit yaitu prick testing, patch testing, dan intradermal testing.
  • Challenge test atau tes tantangan untuk mendiagnosis alergi makanan.
  • Tes darah imunoglobulin E (IgE) untuk mengukur antibodi penyebab reaksi alergi dan efeknya terhadap tubuh.
  • Complete blood count (CBC) atau pemeriksaan darah lengkap yang digunakan untuk menghitung jumlah sel darah putih eosinofil.

Selain itu, dokter dapat menindaklanjuti tes sebelumnya dengan beberapa prosedur berikut.

1. Tes eliminasi

Dokter akan menyarankan Anda untuk menggunakan atau menghindari sesuatu yang diduga menjadi pemicu alergi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah reaksi Anda memburuk atau membaik setelah terpapar zat tersebut.

Guna melihat pengaruh udara pada tubuh, dokter juga perlu memeriksa reaksi Anda terhadap perubahan suhu. Sementara untuk alergi makanan, dokter dapat mengujinya secara oral dengan memberikan Anda sedikit makanan yang dicurigai sebagai alergen.

2. Tes di kelopak mata

Terkadang alergen juga dicairkan dan diteteskan ke dalam kelopak mata bagian bawah untuk memeriksa reaksi tertentu. Berhubung prosedur ini dapat berisiko, tes alergi hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan medis yang ketat oleh spesialis alergi.

Obat dan Pengobatan

Bagaimana cara mengobati alergi?

Cara terbaik untuk meredakan gejala alergi adalah dengan menghindari apa pun yang menjadi penyebabnya. Apabila Anda alergi kacang misalnya, segera berhenti makan makanan apa pun yang mengandung kacang begitu Anda menyadarinya.

Alergi adalah kondisi yang umumnya tidak dapat dihilangkan atau disembuhkan total. Oleh sebab itu, Anda harus siap dengan reaksi alergi yang dapat muncul kapan saja. Anda juga perlu ekstra hati-hati ketika bepergian ke tempat yang baru.

Kabar baiknya, Anda dapat menghindari alergen dan mengontrol gejala yang muncul dengan obat-obatan. Biasanya, dokter akan menyarankan obat tergantung pada jenis alergen, reaksi apa yang muncul, dan seberapa parah gejala yang Anda alami.

Berikut obat alergi yang umumnya digunakan.

1. Antihistamin

Antihistamin bisa dibeli bebas atau diperoleh dengan resep dokter. Obat ini tersedia dalam beberapa bentuk, di antaranya:

  • kapsul dan pil,
  • obat tetes mata,
  • suntikan,
  • cairan, dan
  • nasal spray.

2. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah obat antiperadangan yang tersedia dalam beberapa bentuk, yaitu:

  • krim dan salep untuk kulit,
  • obat tetes mata,
  • nasal spray, dan
  • inhaler untuk paru-paru.

Orang dengan gejala yang parah bisa mendapatkan resep obat berupa pil kortikosteroid atau suntikan yang memiliki efek jangka pendek. Obat kortikosteroid juga dapat dibeli bebas ataupun dengan resep dokter.

Pemakaian kortikosteroid secara berulang tanpa pengawasan dokter bisa memberikan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Selalu konsultasikan penggunaan steroid dengan dokter dan periksakan diri Anda bila terdapat keluhan lain.

3. Dekongestan

Dekongestan adalah obat untuk meringankan hidung tersumbat. Obat ini biasanya tersedia dalam bentuk semprotan. Jangan gunakan semprotan hidung dekongestan lebih dari beberapa hari karena obat ini dapat menyebabkan efek sebaliknya.

Meski demikian, dekongestan dalam bentuk pil tidak memiliki efek samping yang sama. Orang yang mempunyai tekanan darah tinggi, masalah jantung, atau masalah prostat, harus menggunakan dekongestan dengan hati-hati.

4. Suntikan alergi

Suntikan imunoterapi akan diberikan jika tubuh tidak dapat menghindari alergen dan pasien mengalami gejala reaksi yang sulit dikendalikan. Suntikan alergi bekerja dengan mencegah tubuh agar tidak bereaksi berlebihan.

Suntikan akan diberikan dari dosis paling rendah, dan suntikan-suntikan berikutnya akan mengandung dosis yang terus lebih tinggi sampai dosis maksimum tercapai. Suntikan harus digunakan secara teratur agar efeknya optimal. 

Suntikan tidak bisa digunakan oleh semua orang, dan Anda harus sering mengunjungi dokter untuk mendapatkan suntikan ini. Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter secara rutin.

5. Sublingual Immunotherapy Treatment (SLIT)

Sublingual immunotherapy treatment adalah prosedur pengobatan tanpa suntikan. Obat diletakkan di bawah lidah untuk mengurangi gejala reaksi yang parah. Pemberian obat awalnya dilakukan dengan dosis rendah, lalu ditingkatkan perlahan-lahan.

6. Suntik epinefrin

Reaksi yang parah atau anafilaksis perlu ditangani dengan obat yang disebut dengan epinefrin (EpiPen). Epinefrin bekerja dengan melebarkan saluran pernapasan dan meningkatkan tekanan darah yang tadinya terganggu akibat syok anafilaksis.

Pertolongan pertama terhadap reaksi alergi

Reaksi alergi sangat bervariasi pada tiap orang sehingga memiliki pertolongan pertama alergi yang berbeda pula. Anda mungkin hanya merasakan gatal setelah terkena debu, tapi orang lain bisa saja mengalami reaksi yang membahayakan jiwa.

Reaksi yang bersifat ringan dapat hilang dengan sendirinya atau dengan bantuan obat. Namun pada sejumlah kasus, pasien tidak mampu menggunakan obat karena reaksi yang dialaminya sangat parah.

Bila orang terdekat Anda mengalami reaksi ini, bantulah dia untuk menggunakannya. Jika orang tersebut tidak sadar, Anda harus mencarikan bantuan darurat untuknya dan melakukan hal berikut untuk mencegah syok sementara menunggu bantuan:

  1. Periksa apakah orang tersebut masih bernapas.
  2. Baringkan orang tersebut dalam posisi telentang di atas permukaan rata.
  3. Mengangkat kaki orang tersebut hingga lebih tinggi dari jantungnya
  4. Menutupi badannya dengan selimut.

Apabila situasi tertentu membuat Anda tidak bisa mencarikan bantuan darurat, segera bawa orang tersebut ke unit gawat darurat. Anda juga perlu melakukan ini ketika orang tersebut mengalami syok anafilaksis.

Apakah alergi bisa disembuhkan secara total?

Gagasan untuk menyembuhkan alergi secara total sama saja seperti harus mengubah kerja sistem imun dalam merespons alergen yang menyerang tubuh. Mengubah semua proses tersebut sangatlah sulit. Dengan kata lain, tidak ada cara untuk menyembuhkan alergi hingga tuntas.

Namun, bukan berarti Anda harus berpasrah diri dalam menghadapi kondisi ini. Anda bisa mencegah dan mengendalikan gejala dengan menghindari pemicu alergi yang Anda miliki.

Sebagai contoh, Anda dapat mengurangi keluar rumah saat cuaca berangin, memilah-milah jenis makanan yang akan dikonsumsi, hingga rutin mengganti seprai setidaknya 2 minggu sekali.

Lanjutkan dengan minum obat-obatan yang membantu meredakan gejala, baik yang dijual bebas di apotek maupun obat yang diresepkan oleh dokter. Dengan begini, risiko kekambuhan bisa ditekan hingga seminimal mungkin.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah alergi?

Anda mungkin tidak dapat mencegah reaksi alergi. Namun, ada cara mencegah alergi sebagai berikut.

  • Menghindari paparan alergen.
  • Mencari perawatan medis jika Anda terkena alergen.
  • Membawa obat untuk mencegah dan mengobati anafilaksis.

Hal berikut ini juga diyakini dapat mengurangi risiko dari kondisi ini:

  • Memberikan ASI eksklusif kepada anak selama enam bulan pertama kehidupannya.
  • Menyesuaikan pola makan bila memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini. Konsultasikan jenis makanan dan pantangan dengan dokter yang bersangkutan.

Pentingnya pergi ke dokter alergi

Dalam beberapa kasus, dokter umum dapat mengobati dan mendiagnosis alergi. Namun, jika kondisi ini terbilang sedang hingga parah atau tidak bisa ditangani dengan obat-obatan alergi umum, Anda mungkin akan dirujuk ke dokter spesialis.

Sebelum kunjungan dokter, tanyakan apakah ada instruksi khusus untuk pemeriksaan Anda. Dokter mungkin akan membutuhkan dokumen khusus atau meminta Anda agar tidak makan dan minum selama jangka waktu tertentu sebelum menjalani tes alergi.

Anda perlu memiliki informasi sebanyak mungkin terkait riwayat alergi dalam keluarga Anda, terutama jika ada alergi yang berkaitan makanan. Anda juga perlu mengingat riwayat kondisi ini masa kanak-kanan yang mungkin Anda miliki.

Saat kunjungan dokter, bawalah setiap catatan medis yang Anda miliki. Catatan ini akan membantu dokter spesialis dalam mendiagnosis kondisi Anda. Jangan ragu bertanya kepada dokter guna mengoptimalkan hasil diagnosis dan pengobatan.

Contoh pertanyaan yang dapat Anda ajukan antara lain:

  • Apakah ada yang bisa saya ubah dalam lingkungan atau gaya hidup saya untuk mencegah gejala-gejala ini?
  • Apa pengobatan yang bisa saya jalani?
  • Apakah ada efek samping untuk obat yang diresepkan?
  • Tes apa yang tersedia untuk menentukan apa yang menyebabkan reaksi alergi saya?

Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter akan merekomendasikan perawatan berupa suntikan alergi atau obat resep. Dokter biasanya juga menyarankan berbagai perubahan gaya hidup untuk mengurangi gejala, terutama jika jenis alergi berkaitan dengan makanan.

Alergi adalah reaksi berlebihan tubuh saat terkena zat asing dari lingkungan. Kondisi ini tidak bisa sembuh total dan membahayakan bagi beberapa orang. Kendati demikian, obat-obatan dan penanganan darurat dapat menyelamatkan nyawa pasien.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Fakta tentang Alergi yang Perlu Anda Ketahui

Ada lima fakta alergi yang tak boleh diabaikan. Simak juga pembahasan cara pencegahan dan mengurangi reaksi alergi apabila terjadi, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
fakta alergi flu batuk
Alergi 1 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Selain makanan dan debu, alergi obat antibiotik juga perlu diperhatikan. Apa itu alergi antibiotik? Cari tahu penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Orang yang mengidap alergi lateks bisa mengalami mulai dari gatal-gatal hingga sesak napas setiap terpapar bahan karet lateks. Bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ctm sebagai obat tidur

Bolehkah Menggunakan CTM Sebagai Obat Tidur?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 3 menit
obat alergi alami

Obat Alergi dari Bahan Alami yang Bisa Ditemukan di Rumah

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 November 2020 . Waktu baca 5 menit
alergi binatang kucing dan anjing

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit