home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Asma

Definisi|Tanda-tanda & Gejala|Penyebab|Faktor Risiko|Diagnosis|Pengobatan |Komplikasi|Pencegahan
Asma

Definisi

Apa itu asma?

Asma bronkial, atau Anda mungkin lebih akrab dengan “asma” saja, merupakan penyakit akibat peradangan dalam saluran udara (bronkus). Peradangan itu akhirnya membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif.

Akibatnya, saluran pernapasan menyempit sehingga udara yang masuk ke paru-paru jadi terbatas.

Peradangan juga membuat sel di saluran pernapasan membuat lebih banyak lendir dari biasanya. Lendir ini dapat makin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan Anda untuk bernapas lega.

Tergantung faktor pemicunya, asma biasanya dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Asma olahraga
  • Asma nokturnal (kambuh hanya di malam hari)
  • Asma karena pekerjaan tertentu
  • Asma batuk
  • Asma alergi

Salah satu mitos tentang asma yang cukup dipercaya banyak orang adalah bahwa penyakit ini bisa disembuhkan. Sayangnya, hal ini tidak tepat.

Asma tidak bisa sembuh secara total. Jika Anda tidak merasakan gejala-gejalanya sesering dulu, ini menandakan bahwa Anda mampu mengendalikan asma yang Anda miliki dengan baik.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 339 juta orang di dunia memiliki kondisi ini. Indonesia sendiri menempati peringkat ke-20 sebagai negara dengan kasus kematian akibat asma yang terbanyak.

Penyakit yang memengaruhi pernapasan ini lebih sering menyerang anak-anak. Namun, orang dewasa yang berusia di bawah 40 tahun juga bisa mengalaminya.

Asma bronkial adalah salah satu penyakit tidak menular paling umum di seluruh dunia, dengan tingkat kematian yang relatif rendah.

Namun, kebanyakan kasus kematiannya ditemukan di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, termasuk Indonesia.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda dan gejala asma?

Ketika seseorang mengalami serangan asma, gejala-gejala yang timbul sangatlah beragam. Setiap orang bisa saja mengalami gejala yang berbeda, baik dari tingkat keparahan, durasi serangan, maupun frekuensinya.

Anda mungkin saja “kumat” setelah lama tidak, selanjutnya tiba-tiba jadi “rutin” mengalami serangan asma. Sementara itu, orang lain bisa saja mengalami gejala setiap hari, atau hanya malam hari, atau mungkin juga hanya setelah beraktivitas.

Beberapa ciri-ciri dan gejala khas dari penyakit asma adalah:

  • Batuk
  • Mengi
  • Dada sesak
  • Sesak napas

Selain empat yang paling umum di atas, gejala lain yang mungkin saja muncul karena asma, antara lain:

  • Badan lemas, lesu, dan tidak bertenaga
  • Suara sengau
  • Menghela napas terus-terusan
  • Rasa gelisah yang tidak biasa

Bila Anda mencurigai satu atau beberapa gejala yang sudah disebutkan, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter.

Mengenali tingkat keparahan asma

Tidak hanya mengetahui gejala, penting juga untuk memahami tingkat keparahan dari asma bronkial yang Anda derita.

Pasalnya, kekambuhan asma biasanya tergantung seberapa parah kondisi yang Anda miliki.

Berikut adalah tingkat-tingkat keparahan asma:

  • Intermiten
  • Persisten ringan
  • Persisten sedang
  • Persisten berat

Penyebab

Apa penyebab asma?

Para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab asma. Akan tetapi, serangan umumnya terjadi ketika seseorang terpapar pemicunya. Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab alias pemicu asma, antara lain:

  • Perokok aktif dan perokok pasif.
  • Infeksi saluran pernapasan atas (seperti pilek, flu, atau pneumonia).
  • Alergi terhadap makanan, serbuk sari, jamur, tungau debu, dan bulu hewan peliharaan.
  • Paparan zat-zat di udara (seperti polusi udara, asap kimia, atau racun).
  • Faktor cuaca (seperti cuaca dingin, berangin, dan panas yang didukung dengan kualitas udara yang buruk dan perubahan suhu secara drastis).
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu (seperti aspirin, NSAID, dan beta-blocker).
  • Makanan atau minuman yang mengandung pengawet (seperti MSG).
  • Mengalami stres dan kecemasan berat.
  • Bernyanyi, tertawa, atau menangis yang terlalu berlebihan.
  • Parfum dan wewangian.
  • Memiliki riwayat penyakit refluks asam lambung (GERD).

Faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko tinggi terkena penyakit ini?

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan orang dewasa yang berusia 30 atau 40-an sekalipun. Memang, kebanyakan kasus sudah diketahui sejak pasien masih bayi atau kanak-kanak.

Namun, kira-kira sejumlah 25 persen dari pengidap asma bronkial baru pertama kali mengalami serangan di usia dewasa.

Menurut WHO, penyakit ini adalah penyakit yang paling umum dialami anak-anak karena:

  • Orangtua memiliki riwayat penyakit ini.
  • Memiliki infeksi pernapasan, misalnya pneumonia dan bronkitis.
  • Memiliki alergi atopik tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim.
  • Lahir dengan berat badan rendah.
  • Kelahiran prematur.

Diagnosis

Bagaimana cara dokter mendiagnosis penyakit ini?

Kondisi ini hanya bisa didiagnosis oleh dokter. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda (termasuk jenis dan frekuensi gejala), riwayat medis keluarga, serta menjalani pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru-paru.

Beri tahu dokter bila keluarga terdekat Anda, seperti orangtua, saudara kandung, serta kakek dan nenek ada yang mengalami kondisi ini.

Beri tahu pula soal gejala yang Anda rasakan, mulai dari kapan dan seberapa sering Anda mengalaminya.

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mendengarkan pernapasan Anda dan mencari tanda-tanda penyakit pernapasan atau alergi.

Dokter kemudian akan menggunakan tes spirometri untuk memeriksa cara kerja paru-paru Anda. Tes ini mengukur seberapa cepat dan banyak udara yang dapat Anda hirup serta embuskan.

Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan sejumlah tes lain, seperti:

  • Tes alergi untuk mengetahui alergen yang mempengaruhi Anda, jika ada.
  • Tes bronkus untuk mengukur sensitivitas saluran pernapasan Anda.
  • Tes untuk menunjukkan apakah Anda memiliki kondisi lain dengan gejala yang sama seperti asma (misalnya refluks asam lambung, kelainan pita suara, atau sleep apnea)
  • Rontgen dada atau EKG (elektrokardiogram). Tes ini akan membantu mengetahui apakah benda asing atau penyakit lainnya menyebabkan gejala Anda.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati asma?

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Pengobatan yang diberikan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan mencegah kambuh.

Pengobatan asma harus dibicarakan antara Anda dengan dokter. Hal ini dilakukan guna mendapatkan hasil pengobatan yang efektif dan maksimal.

Berikut adalah pilihan pengobatan yang diberikan oleh dokter:

1. Obat kontrol jangka panjang

Apabila kondisi yang dialami termasuk kronis atau persisten ringan hingga berat, pengobatan yang cocok untuk Anda adalah terapi jangka panjang.

Pengobatan jangka panjang bertujuan untuk mengendalikan keparahan gejala, dan mencegahnya kambuh secara berkelanjutan.

2. Obat kontrol jangka pendek

Pengobatan jangka pendek lebih bertujuan untuk meredakan serangan akut dengan segera saat kejadian. Fungsi obat ini adalah membantu meringankan gejala yang baru muncul dan kambuh sewaktu-waktu. Namun, obat ini tidak boleh diminum lebih dari 2 minggu.

Jika Anda menggunakan obat-obatan ini lebih dari 2 minggu, segera konsultasi ke dokter.

Dokter dapat membuat perubahan rencana aksi asma yang disesuaikan dengan kondisi Anda.

Komplikasi

Apa saja komplikasi asma yang mungkin terjadi?

Penyakit asma yang tidak dikendalikan dengan baik dapat memengaruhi kesehatan Anda secara keseluruhan. Bahkan, penyakit ini bisa berdampak langsung pada fungsi tubuh Anda. Begitu pula jika pengobatannya tidak tepat.

Berikut beberapa komplikasi asma yang mungkin bisa terjadi:

  • Pneumonia (infeksi paru-paru)
  • Rusaknya paru-paru sebagian atau keseluruhan
  • Kegagalan pernapasan, di mana kadar oksigen dalam darah menjadi sangat rendah, atau kadar karbon dioksida menjadi sangat tinggi
  • Status asmatikus (serangan asma berat yang tidak merespon pengobatan)

Berbagai komplikasi ini membutuhkan bantuan medis darurat karena dapat berisiko fatal.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah kambuhnya serangan asma?

Meski tak bisa disembuhkan, serangan penyakit ini dapat Anda cegah supaya tidak kambuh.

Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kambuhnya asma, di antaranya:

1. Buat rencana aksi asma

Setiap pasien dengan kondisi ini dianjurkan untuk menentukan rencana perawatan bersama dokter dan tim kesehatan lainnya. Ini disebut rencana aksi asma. Dokter akan membantu dalam menent​​ukan jenis obat dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Pastikan Anda mengikuti rancangan perawatan tersebut supaya kambuhnya gejala dapat dicegah.

2. Menghindari faktor pemicunya

Seseorang akan mengalami serangan gejala bila terpapar pemicunya. Maka dari itu, kenali hal-hal apa saja yang dapat memicu kekambuhan gejala Anda.

Beberapa faktor pemicu yang paling umum adalah paparan zat iritan dari asap rokok, polusi udara, bahan kimia dalam produk rumah tangga hingga bulu binatang dan serbuk sari.

3. Rutin cek fungsi paru-paru

Rutin mengecek fungsi paru-paru dengan peak flow meter juga bisa jadi cara mencegah kekambuhan serangan. Peak flow meter membantu mengukur jumlah aliran udara dalam napas penderita sehingga akan memudahkan penanganan sebelum gejalanya memburuk.

Di sisi lain ini alat ini pun dapat membantu mengenali pemicunya sehingga penderita dapat menghindarinya.

4. Minum obat sesuai yang dianjurkan dokter

Ketika gejala penyakit asma muncul, segera minum obat yang dianjurkan dokter dan hentikan aktivitas yang memicu kekambuhan gejala. Bila gejala yang Anda alami tidak juga membaik, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter.

Jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter meski Anda merasa sudah lebih baik.

Pastikan Anda juga selalu membawa obat-obatan asma ke mana pun Anda pergi, dan setiap kali akan berkonsultasi ke dokter. Hal ini akan memudahkan dokter untuk melihat efek pengobatan yang sedang Anda jalani.

6. Vaksin flu

Gejala dapat kambuh dipicu oleh batuk berkepanjangan akibat flu. Maka itu, tidak ada salahnya untuk melakukan vaksin flu. Namun pastikan Anda berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Asthma – WHO. (2020). Retrieved 26 April 2020, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/asthma

Learn how to take control of asthma – CDC. (2019). Retrieved 26 April 2020, from https://www.cdc.gov/asthma/faqs.htm

Asthma – National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2020). Retrieved 26 April 2020, from https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/asthma

Asthma – MedlinePlus. (2020). Retrieved 26 April 2020, from https://medlineplus.gov/asthma.html

Asthma Types – National Jewish Health. (2012). Retrieved 26 April 2020, from https://www.nationaljewish.org/conditions/asthma/overview/types

Complications of asthma – HealthDirect. (2020). Retrieved 26 April 2020, from https://www.healthdirect.gov.au/complications-of-asthma

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 23/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x