Lopinavir + Ritonavir

    Lopinavir + Ritonavir

    Penanganan HIV/AIDS umumnya dokter lakukan melalui terapi obat-obatan, salah satunya dengan minum kombinasi obat lopinavir dan ritonavir.

    Golongan obat: antiretroviral

    Merek dagang lopinavir + ritonavir: Aluvia, Loparta, Lopivia, Ritocom

    Apa itu obat lopinavir + ritonavir?

    Lopinavir + ritonavir adalah obat antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV pada orang dewasa dan anak-anak.

    HIV atau human immunodeficiency virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Pada tahap tertentu, infeksi HIV bisa menyebabkan AIDS.

    Sementara itu, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah.

    Salah satu jenis obat HIV/AIDS yang dapat diberikan yakni kombinasi lopinavir dan ritonavir.

    Lopinavir + ritonavir termasuk dalam golongan obat protease inhibitor (PI) yang bekerja dengan cara mengikat enzim protease.

    Saat enzim protease diikat, HIV tidak bisa membuat salinan virus baru. Ini berguna untuk mengendalikan jumlah virus yang menginfeksi sel-sel kekebalan yang sehat.

    Obat ini tidak menyembuhkan infeksi HIV atau AIDS, tapi akan membantu menurunkan risiko komplikasi HIV/AIDS dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

    Obat lopinavir dan ritonavir tergolong sebagai obat keras. Maka dari itu, obat ini harus Anda peroleh dengan resep dan di bawah pengawasan dokter.

    Dosis lopinavir + ritonavir

    Dosis lopinavir ritonavir

    Lopinavir + ritonavir tersedia dalam bentuk tablet oral dengan dosis 100/25 mg atau 200/50 mg untuk diminum melalui mulut.

    Dokter bisa memberikan obat ini sebagai obat tunggal. Akan tetapi, dokter juga bisa meresepkannya bersama dengan obat antiretroviral lain.

    Berikut ini merupakan aturan pemberian dosis obat yang perlu Anda perhatikan.

    Dosis lopinavir + ritonavir untuk orang dewasa

    Dosis obat untuk orang dewasa dan remaja di atas 18 tahun yakni 400/100 mg sebanyak 2 kali sehari dengan atau tanpa makanan.

    Dokter juga bisa memberikan dosis obat 800/200 mg sekali sehari dengan atau tanpa makanan.

    Dosis lopinavir + ritonavir ditingkatkan hingga 500/125 mg sebanyak 2 kali sehari bila terapi dilakukan bersama obat lain, seperti efavirenz atau nevirapin.

    Hal ini khususnya pada pasien yang diduga mengalami penurunan sensitivitas klinis terhadap lopinavir pada riwayat terapi sebelumnya.

    Dosis lopinavir + ritonavir untuk anak-anak

    Dosis 400/100 mg sebanyak 2 kali sehari dapat diberikan pada anak-anak berusia 2 tahun ke atas dengan berat badan 40 kg atau lebih dan luas permukaan tubuh (body surface area/BSA) lebih dari 1,4 m2.

    Sementara itu, anak-anak dengan berat badan <25 kg atau BSA ≤1,4 m2 yang sudah bisa menelan tablet utuh bisa mengikuti aturan dosis berikut.

    • BSA 0,5–<0,8 m2: 200/50 mg dua kali sehari.
    • BSA 0,8–<1,2 m2: 300/75 mg dua kali sehari.
    • BSA 1,2–<1,4 m2: 400/100 mg dua kali sehari.
    • BSA 1,4 m2: 500/125 mg dua kali sehari.

    Hingga saat ini, keamanan dan kemanjuran obat lopinavir dan ritonavir pada anak-anak berusia kurang dari 2 tahun belum ditetapkan.

    Dokter juga akan menyesuaikan dosis obat bila pasien mengalami gangguan hati, gangguan ginjal, sedang hamil, atau menyusui.

    Aturan pakai lopinavir + ritonavir

    obat tekanan darah tinggi

    Ikuti anjuran dokter atau petugas medis selama menggunakan obat lopinavir + ritonavir.

    Minumlah obat ini sesuai dosis yang diresepkan dokter. Hal ini bertujuan agar pengobatan lebih efektif serta untuk mengurangi kemungkinan tubuh tidak merespons terapi (resistensi).

    Lopinavir + ritonavir tersedia dalam sediaan tablet yang diminum secara utuh, tidak dikunyah, dipecah, atau dihancurkan dengan bantuan air.

    Di samping itu, obat HIV/AIDS ini bisa Anda minum dengan atau tanpa makanan sebelumnya.

    Obat ini bekerja lebih baik saat jumlahnya dalam tubuh berada pada level yang konstan. Maka dari itu, minumlah obat ini pada waktu yang sama setiap hari.

    Jangan meminum obat lebih banyak atau sedikit dari yang diresepkan. Hal ini bisa membuat jumlah virus meningkat dan infeksi lebih sulit diobati.

    Berhati-hatilah untuk tidak melewatkan dosis obat. Di samping itu, berhenti minum obat juga akan menyebabkan infeksi HIV bertambah parah.

    Konsultasikanlah dengan dokter untuk memperoleh saran penggunaan obat yang tepat.

    Efek samping lopinavir + ritonavir

    Gejala dan tanda-tanda HIV AIDS

    Lopinavir + ritonavir tentu berpotensi memicu efek samping, sama halnya dengan obat-obatan lain. Meski begitu, tidak semua orang mengalami efek samping ini.

    Berikut ini efek samping obat antiretroviral yang perlu Anda ketahui.

    Efek samping tidak serius

    Penggunaan obat ini mungkin menimbulkan sejumlah efek samping umum, meliputi:

    • mual dan muntah,
    • diare,
    • sakit perut,
    • sakit kepala,
    • ruam kulit ringan,
    • kolesterol dan trigliserida meningkat, hingga
    • perubahan bentuk atau lokasi lemak tubuh, terutama pada lengan, kaki, wajah, leher, dada, dan pinggang.

    Efek samping serius

    Segera berhenti minum lopinavir + ritonavir dan hubungi dokter bila Anda mengalami salah satu dari efek samping serius berikut.

    • Sakit kepala disertai nyeri dada dan pusing berat, pingsan, jantung cepat atau berdebar.
    • Perubahan penglihatan.
    • Lebih sering buang air kecil atau munculnya rasa haus yang ekstrem.
    • Ereksi penis yang menyakitkan atau berlangsung lebih dari empat jam.
    • Berkeringat, tremor tangan, cemas, mudah marah, dan masalah tidur (insomnia).
    • Diare, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, perubahan siklus menstruasi, impotensi, dan hilangnya minat pada seks.
    • Pembengkakan kelenjar tiroid pada leher atau tenggorokan.
    • Otot lemas, lelah, sendi atau nyeri otot, dan sesak napas.
    • Nyeri parah pada perut bagian atas yang menyebar ke punggung, kadang disertai mual dan muntah,
    • Masalah saat berjalan kaki, bernapas, berbicara, menelan, atau menggerakan mata.
    • Perasaan berduri pada jari tangan atau kaki, nyeri punggung bawah yang parah, dan hilangnya kontrol kandung kemih.
    • Tanda-tanda dari infeksi baru, seperti demam, menggigil, batuk, dan flu.
    • Tanda-tanda sakit kuning, seperti menguningnya kulit atau mata, kulit gatal, urine gelap, tinja berwarna gelap, dan hilangnya nafsu makan.
    • Reaksi parah pada kulit yang disertai demam, sakit tenggorokan, dan pembengkakan pada wajah atau lidah.

    Tidak semua orang mengalami efek samping dari penggunaan lopinavir dan ritonavir. Selain itu, mungkin ada beberapa efek samping yang tidak disebutkan dalam daftar di atas.

    Segera cari bantuan medis bila Anda mengalami tanda-tanda reaksi alergi, seperti gatal-gatal, sulit bernapas, serta pembengkakan pada wajah, lidah, atau tenggorokan.

    Apabila Anda memiliki kekhawatiran mengenai efek samping tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau petugas medis yang merawat Anda.

    Peringatan dan perhatian saat menggunakan obat

    Ivermectin adalah obat

    Sebelum mendapatkan obat lopinavir + ritonavir, dokter atau petugas medis akan bertanya terkait gejala dan riwayat kesehatan yang Anda alami sebelumnya.

    Di samping itu, beri tahu dokter bila Anda mengalami beberapa kondisi berikut.

    • Mengidap diabetes, kolesterol tinggi, atau gangguan pembekuan darah (hemofilia) yang bisa meningkatkan risiko efek samping saat minum obat.
    • Memiliki riwayat gangguan hati yang dapat memicu efek samping parah pada organ hati, khususnya hepatitis B atau C.
    • Sedang dalam kondisi hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui saat menggunakan obat.
    • Pernah atau sedang menggunakan obat resep dan nonresep, vitamin, suplemen gizi, dan produk herbal.

    Jika Anda tidak bisa memastikan kondisi tersebut, berkonsultasilah kepada dokter untuk menjalani pemeriksaan terlebih dahulu.

    Lopinavir + ritonavir tidak memerlukan kondisi penyimpanan khusus. Obat tablet ini sebaiknya disimpan dalam suhu ruangan berkisar 25℃ yang jauh dari cahaya langsung.

    Perhatikan instruksi penyimpanan dan tanggal kedaluwarsa obat pada kemasan produk. Jauhkan obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

    Apakah obat lopinavir + ritonavir aman untuk ibu hamil dan menyusui?

    Apabila Anda sedang hamil atau menyusui, sebaiknya beri tahu dokter sebelum mengonsumsi obat lopinavir + ritonavir.

    Pada dasarnya, tidak ada penyesuaian dosis lopinavir dan ritonavir pada ibu hamil yang terinfeksi HIV. Akan tetapi, tetap konsultasikan dengan dokter untuk lebih jelasnya.

    Dokter juga menyarankan ibu menyusui untuk tidak memberikan ASI selama meminum obat ini. Dikhawatirkan, ibu yang positif HIV bisa menularkan HIV ke bayi melalui ASI.

    Meski begitu, obat ini mungkin bisa mencegah penularan HIV ke tubuh anak. Konsultasikan dengan dokter untuk mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

    Interaksi lopinavir + ritonavir dengan obat lain

    Interaksi obat bisa mengubah kinerja obat atau meningkatkan risiko efek samping yang serius.

    Beberapa jenis obat yang bisa menimbulkan interaksi dengan lopinavir + ritonavir antara lain:

    • alfuzosin,
    • digoksin,
    • asam fusidat,
    • simvastatin,
    • midazolam,
    • triazolam,
    • rifampisin,
    • sildenafil,
    • avanafil,
    • vardenafil, dan
    • St. John’s Wort (obat herbal).

    Selain dari daftar tersebut, tentu masih ada obat-obatan lain yang bisa berinteraksi dan mungkin belum tercantum di atas.

    Penting untuk berkonsultasi dengan dokter terkait semua produk yang sedang Anda gunakan, termasuk obat resep, nonresep, vitamin, dan produk herbal.

    Lopinavir + ritonavir adalah obat yang digunakan dalam pengobatan infeksi virus HIV dan AIDS.

    Untuk mengurangi risiko penularan HIV, Anda perlu rutin minum obat, menggunakan alat kontrasepsi, dan tidak berbagi peralatan pribadi dengan orang lain.

    Konsultasikan dengan dokter atau perawat Anda untuk informasi lebih jelasnya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Cek Produk BPOM. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. (2020). Retrieved 17 March 2022, from https://cekbpom.pom.go.id//home/produk/pm1p12o8ntikpt8dagte9ugf80/all/row/10/page/1/order/4/DESC/search/5/lopinavir

    Lopinavir + Ritonavir. Pusat Informasi Obat Nasional Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2015). Retrieved 17 March 2022, from https://pionas.pom.go.id/monografi/lopinavir-ritonavir

    Lopinavir / Ritonavir Accord 200 mg / 50 mg film-coated tablets – Summary of Product Characteristics (SmPC). Datapharm. (2021). Retrieved 17 March 2022, from https://www.medicines.org.uk/emc/product/10479/smpc

    Lopinavir / Ritonavir Accord 200 mg / 50 mg film-coated tablets – Patient Information Leaflet (PIL) Datapharm. (2021). Retrieved 17 March 2022, from https://www.medicines.org.uk/emc/product/10479/pil

    Lopinavir and ritonavir. Drugs.com. (2021). Retrieved 17 March 2022, from https://www.drugs.com/mtm/lopinavir-and-ritonavir.html

    Lopinavir / ritonavir Pregnancy and Breastfeeding Warnings. Drugs.com. (2021). Retrieved 17 March 2022, from https://www.drugs.com/pregnancy/lopinavir-ritonavir.html

    Lopinavir + Ritonavir. MIMS. (2018). Retrieved 17 March 2022, from https://www.mims.com/indonesia/drug/info/lopinavir%20+%20ritonavir?mtype=generic

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Apr 19
    Ditinjau secara medis oleh Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.