Seputar Melahirkan Vakum, Penggunaan Alat untuk Memudahkan Proses Persalinan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Pernah mendengar mengenai metode melahirkan dengan vakum sebelumnya? Vakum umumnya digunakan selama proses persalinan normal dengan tujuan tertentu. Biasanya, dokter akan menganjurkan cara ini guna mempercepat kelahiran, khususnya jika persalinan dirasa tidak mengalami perkembangan. Nah, untuk informasi lebih lanjut mengenai melahirkan vakum bisa Anda simak melalui ulasan di bawah ini.

Apa itu melahirkan dengan vakum?

Sumber: The Pulse

Melahirkan vakum adalah suatu prosedur persalinan yang dilakukan dengan bantuan alat berupa vakum. Ketika persalinan normal sedang berlangsung, dokter dapat menyarankan penggunaan vakum bila bayi sulit dilahirkan dengan kontraksi saja.

Alat vakum atau ekstraktor vakum, di sini bertugas untuk membantu mempermudah keluarnya bayi melalui vagina. Terutama jika persalinan mengalami hambatan dan berisiko buruk bagi kesehatan bayi bila tidak segera dilahirkan.

Penggunaan vakum biasanya baru mulai dilakukan setelah masuk ke tahap  melahirkan normal, atau saat Anda melakukan kontraksi.

Apa saja jenis alat vakum untuk melahirkan?

Sumber: Pregnancy Video

Ada dua jenis vakum ekstraktor yang dapat digunakan selama persalinan normal, yakni:

1. Metal cup

Perangkat vakum dengan berbahan metal cup atau logam memiliki bentuk bulat, dengan ukuran diameter antara 40-60 milimeter (mm). Tepat di bagian atas bulatan logam, terdapat rantai yang menghubungkan logam dengan gagang yang bisa dilepas pasang untuk memudahkannya saat digunakan.

Kelebihan penggunaan alat vakum berbahan dasar logam yaitu lebih mudah ditempatkan untuk menyedot kepala bayi saat melahirkan. Selain itu, tingkat keberhasilannya juga terbilang lebih tinggi ketimbang vakum soft cup.

Namun di sisi lain, alat vakum dari logam ini cenderung lebih kaku, sehingga agak sulit dan tidak nyaman saat digunakan. Bahan logam penyusun vakum untuk membantu proses melahirkan normal ini, juga berisiko menimbulkan cedera pada kulit kepala bayi.

2. Soft cup

Berbeda dengan metal cup, soft cup adalah bahan penyusun vakum melahirkan yang terbuat dari plastik. Vakum soft cup awalnya berbentuk seperti corong atau lonceng.

Akan tetaoi, kini vakum berbahan plastik ini sudah dimodifikasi menyerupai bentuk vakum metal cup. Dengan begitu, vakum jenis ini seolah menggabungkan keunggulan yang dimiliki vakum berbahan logam dan plastik.

Karena terbuat dari plastik, jenis vakum untuk memudahkan persalinan ini lebih lunak, sehingga tidak akan menyakiti kepala bayi.

Kapan vakum digunakan saat melahirkan normal?

proses melahirkan normal

Dokter biasanya memutuskan untuk menggunakan bantuan vakum saat melahirkan bagi beberapa kondisi tertentu. Berikut beberapa kondisi yang disarankan untuk menggunakan vakum ektraktor:

  • Anda sudah melakukan kontraksi, tapi persalinan tidak kunjung mengalami kemajuan. Proses persalinan dianggap memakan waktu terlalu lama jika tidak mengalai perkembangan dalam kurun waktu tertentu.
  • Muncul masalah pada detak jantung bayi. Jika dokter dan tim medis khawatir detak jantung bayi mengalami masalah, persalinan harus segera dilakukan. Dalam hal ini, melahirkan normal bisa dibantu dipercepat dengan bantuan alat vakum. Namun bayi tidak dalam kondisi gawat janin.
  • Ibu memiliki masalah kesehatan tertentu, seperti penyempitan pada katup aorta (stenosis katup aorta). Dokter dan tim medis mungkin membatasi upaya Anda saat melakukan kontraksi, sehinga proses melahirkan dipermudah dengan menggunakan alat vakum.

Sebelum mempertimbangkan kondisi di atas, terdapat beberapa syarat vakum, yaitu

  • sudah terjadi pembukaan lengkap
  • janin cukup bulan (usia kehamilan di atas 37 minggu)
  • bagian janin yang dekat dengan panggul ibu adalah kepala
  • kepala sudah turun mendekati liang vagina.

Adakah kondisi yang sulit menggunakan vakum melahirkan?

melahirkan risiko kanker payudara

Meski bertujuan baik, tapi dokter dan tim medis biasanya tidak menganjurkan penggunaan vakum melahirkan pada kondisi seperti:

  • Usia kehamilan kurang dari 34 minggu.
  • Bayi memiliki kondisi medis tertentu yang berpengaruh terhadap kekuatan tulangnya. Misalnya osteogenesis imperfecta, maupun gangguan perdarahan seperti hemofilia.
  • Kepala bayi belum bergerak mencapai bagian tengah-tengah jalan lahir atau leher rahim (serviks).
  • Posisi kepala bayi tidak terdeteksi.
  • Bagian bahu, lengan, bokong, atau kaki bayi yang diduga akan keluar lebih dulu melalui vagina.
  • Ukuran tubuh bayi terlalu besar atau ukuran panggul Anda terlalu kecil, sehingga bayi sulit melewati panggul.

Bagaimana proses melahirkan normal dengan vakum?

induksi melahirkan

Mungkin penggunaan vakum tampak agak menyeramkan karena alat tersebut dimasukkan ke dalam vagina Anda. Namun, sebelum membayangkannya lebih jauh, begini proses melahirkan normal dengan bantuan ekstraktor vakum:

Sebelum penggunaan vakum

Berbagai cara dan alternatif lain akan dicoba oleh dokter dan tim medis terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya memustukan penggunaan vakum. Mulai dari penggunaan obat Pitocin melalui infus sebagai induksi melahirkan, atau membuat sayatan gunting vagina (episiotomi) untuk memudahkan keluarnya bayi.

Jika berbagai cara telah dilakukan tapi vakum melahirkan dirasa merupakan pilihan terbaik, dokter akan menyampaikan keputusan ini pada Anda. Tanyakan semua informasi, termasuk risiko dan alternatif dari penggunaan alat vakum melahirkan ini.

Biasanya, bila persalinan tidak kunjung mengalami perkembangan meski sudah dilakukan vakum, operasi caesar akan menjadi pilihan terakhir.

Selama penggunaan vakum

Sama halnya seperti melahirkan normal, Anda juga akan diminta untuk berbaring dengan posisi kedua kaki terbuka lebar. Agar lebih kuat dan bertenaga saat melakukan kontraksi, Anda bisa memegang kedua sisi tempat tidur atau tempat lain yang dirasa lebih nyaman.

Dokter kemudian akan memasukkan alat vakum ke dalam vagina Anda, dan menempelkannya pada kepala bayi. Selanjutnya, pompa vakum diaktifkan agar penarikan bisa dilakukan dan kepala bayi dapat segera keluar melalui vagina.

Prosedur tersebut akan terus dilakukan berulang kali setiap Anda melakukan kontraksi, dengan meningkatkan tekanannya secara bertahap. Sementara di antara kontraksi, tekanan pada alat vakum tersebut akan dikurangi.

Setelah tubuh bayi berhasil dikeluarkan, dokter kemudian melepaskan alat vakum tersebut dari kepalanya. Dalam beberapa kasus, penggunaan vakum melahirkan tidak selalu berhasil.

Jika ini yang terjadi, dokter dan tim medis dapat segera melakukan alternatif terakhir yakni dengan operasi melahirkan caesar.

Setelah penggunaan vakum

Semua proses melahirkan dengan vakum kini telah selesai. Namun, tidak berhenti sampai di sini saja. Dokter dan tim medis masih akan melakukan tugasnya untuk memeriksa kemungkinan adanya cedera pada Anda maupun bayi karena penggunaan vakum.

Jika sebelumnya dokter melakukan gunting vagina untuk mempermudah proses persalinan, akan turut diperbaiki setelah melahirkan selesai. Bayi juga akan diberikan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui adanya tanda-tanda komplikasi akibat ekstraksi vakum.

Adakah risiko melahirkan dengan vakum?

sakit perut dan keputihan

Sama halnya seperti berbagai prosedur medis lainnya, penggunaan vakum melahirkan juga memiliki risiko di baliknya. Bagi Anda, berikut risiko vakum melahirkan yang mungkin terjadi:

  • Nyeri pada jaringan antara vagina dan anus (perineum) setelah melahirkan.
  • Susah buang air kecil untuk sementara waktu.
  • Inkontinensia urin atau feses. Kondisi ketika sulit mengontrol keinginan untuk buang air kecil maupun besar, sehingga bisa keluar secara tiba-tiba tanpa disengaja.

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, dokter mungkin akan membuat sayatan di antara vagina dan anus (gunting vagina). Hal ini bertujuan untuk memudahkan masuknya alat vakum dan proses pengeluaran bayi.

Sedangkan berbagai risiko vakum melahirkan pada bayi meliputi:

  • Adanya luka di kulit kepala.
  • Bayi berisiko mengalami distosia bahu, atau salah satu bahu bayi masih berada di dalam vagina ketika kepalanya sudah keluar dari vagina.
  • Fraktur tengkorak atau retak pada tulang tengkorak kepala.
  • Perdarahan di dalam tengkorak kepala.

Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena jarang sekali terjadi cedera serius pada bayi setelah ekstraksi vakum.

Terlebih jika dilakukan dalam prosedur yang benar, risiko yang mungkin ditimbulkan dari melahirkan dengan vakum bisa lebih kecil. Ini artinya, peluang munculnya komplikasi pada Anda dan bayi juga dapat lebih diminimalisir.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Janin Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan janin dalam kandungan.
Error message goes here
Pantau Bayi Saya
Tak tahu kapan akan melahirkan? Hitung di sini! *Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anda hamil [num] minggu! Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Kapan hari pertama menstruasi terakhir Anda?
Hitung!
Error message goes here
Anda hamil [num] minggu! Perkiraan Melahirkan: [num] Dapatkan info setiap hari, sesuai dengan kebutuhan pribadi Anda dan bayi.
Error message goes here
Pantau sekarang!
Hitung ulang!
Yang juga perlu Anda baca