10 Daftar Komplikasi yang Bisa Terjadi Saat Melahirkan

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/01/2020
Bagikan sekarang

Hamil dan melahirkan memang bukan merupakan suatu proses yang mudah untuk dilalui. Kemungkinan adanya masalah tidak hanya bisa datang saat hamil, tapi Anda juga dapat mengalami komplikasi saat proses melahirkan berlangsung. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi saat persalinan?

Berbagai komplikasi persalinan yang umum terjadi

Risiko munculnya komplikasi bisa datang kapan saja selama proses persalinan atau melahirkan berlangsung. Khususnya pada beberapa kondisi tertentu yang memang rentan terhadap komplikasi persalinan.

Sebagai contoh, usia kehamilan sudah lebih dari 42 minggu, usia ibu yang sudah cukup tua, ibu punya kondisi medis tertentu, dan lain sebagainya.

Bahkan kehamilan selama 9 bulan lamanya yang berjalan dengan lancar sekali pun tetap berisiko mengalami komplikasi saat melahirkan atau persalinan nantinya.

Ada beragam komplikasi persalinan yang bisa terjadi pada Anda dan bayi, meliputi:

1. Persalinan tidak maju (failure to progress)

melahirkan risiko kanker payudara

Melahirkan merupakan sebuah proses alami di mana setiap ibu bisa melakukannya. Sebuah proses kelahiran yang lancar mungkin akan memakan waktu selama beberapa jam saja.

Failure to progress atau yang dimaksud sebagai persalinan tidak maju (distosia) adalah komplikasi melahirkan ketika total waktu yang dihabiskan mulai dari awal pembukaan leher rahim, sampai bayi keluar terbilang cukup lama dari waktu normalnya.

Menurut American Pregnancy Association, persalinan dikatakan tidak maju jika berlangsung lebih dari 20 jam untuk pengalaman melahirkan yang pertama.

Sementara jika sebelumnya Anda sudah pernah melahirkan, komplikasi persalinan tidak maju yakni ketika memakan waktu lebih dari 14 jam.

Fase melahirkan yang dialami setiap wanita memang berbeda-beda. Jika persalinan tidak maju berlangsung selama fase awal atau laten, biasanya tidak langsung mengarah pada komplikasi.

Namun, bila terjadi pada fase melahirkan atau persalinan aktif, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi sehingga memerlukan penanganan medis segera. Berikut berbagai penyebab proses persalinan ibu tidak mengalami kemajuan karena adanya komplikasi:

  • Pelebaran leher rahim (serviks) lambat.
  • Penipisan leher rahim (serviks) lambat.
  • Ukuran tubuh bayi besar.
  • Ukuran jalan lahir seperti vagina dan panggul kecil.
  • Melahirkan kembar atau lebih dari satu bayi.
  • Kondisi emosional yang dialami ibu, seperti stres, cemas, khawatir, dan lainnya.
  • Konsumsi obat pereda nyeri, yang bisa membuat kontraksi rahim menjadi lambat dan lemah.

Proses melahirkan yang terlalu lama ini tentu tidak baik jika dibiarkan terus. Pasalnya, risiko ibu mengalami infeksi (jika air ketuban sudah pecah) akan semakin besar.

Maka itu itu, solusi pertama yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat persalinan akibat komplikasi persalinan ini yakni dengan berjalan-jalan santai, mandi air hangat, atau beristirahat. Selanjutnya, dokter dan tim medis dapat memberikan obat untuk memicu induksi persalinan, maupun menyarankan operasi caesar.

2. Bayi sungsang

antibiotik saat melahirkan

Saat usia kehamilan Anda sudah mendekati waktu kelahiran, biasanya Anda perlu memeriksakan diri Anda ke dokter untuk melihat posisi bayi. Tujuannya untuk mengecek posisi bayi sudah berada di jalur yang sesuai untuk melahirkan, atau malah sungsang alias kurang tepat.

Posisi bayi yang baik saat dilahirkan adalah kepala bayi berada di bawah dengan wajah yang juga menghadap ke bawah. Sayangnya, tidak semua bayi berada di posisi yang tepat untuk bisa langsung keluar dengan mudah saat melahirkan. 

Posisi bayi sungsang merupakan salah satu komplikasi saat persalinan atau melahirkan, contohnya ketika:

  • Posisi tubuh bayi menghadap ke atas.
  • Posisi bokong (frank breech) atau kaki (complete breech) yang akan keluar pertama kali.
  • Berbaring dengan posisi miring secara horizontal atau memanjang pada rahim, dan bukan secara vertikal.

Jika posisi bayi sungsang, dokter biasanya menyarankan Anda untuk melakukan berbagai cara guna mengembalikan bayi ke posisi yang seharusnya. 

Namun, jika hal ini tidak berhasil dan posisi bayi masih sungsang saat akan dilahirkan, komplikasi persalinan ini akan membuat proses melahirkan lebih rumit. Melahirkan dengan operasi caesar mungkin direkomendasikan saat Anda mengalami komplikasi persalinan ini.

3. Prolaps tali pusat

kontraksi rahim akibat komplikasi melahirkan

Selama dalam kandungan, tali pusat (tali pusar) merupakan tumpuan hidup bayi. Tali pusat bertugas untuk mengalirkan nutrisi dan oksigen dari ibu ke tubuh bayi. Dengan begitu, bayi dapat tumbuh dan berkembang di dalam rahim ibu.

Terkadang selama proses melahirkan, tali pusat dapat masuk ke dalam leher rahim atau serviks (prolaps tali pusat) terlebih dulu sebelum setelah air ketuban pecah. Tali pusat bahkan bisa keluar lebih dulu melalui vagina dibandingkan bayi sehingga menyebabkan komplikasi saat persalinan.

Mengalami komplikasi persalinan atau melahirkan ini tentu sangat berbahaya bagi bayi karena aliran darah pada tali pusar bisa terhambat atau bahkan terhenti. Pastikan Anda segera mendapatkan penanganan medis sedini mungkin saat komplikasi persalinan ini terjadi. 

4. Tali pusat melilit tubuh bayi

proses melahirkan normal

Posisi bayi di dalam kandungan tidak selalu diam dan tenang. Kadang kala, bayi bisa bergerak dan berganti posisi, sehingga membuat tubuhnya terlilit tali pusatnya sendiri.

Tali pusat bisa melilit bayi dan terlepas dengan sendirinya berkali-kali selama kehamilan. Namun, tali pusat yang melilit bayi selama proses persalinan dapat menimbulkan komplikasi.

Ini karena aliran darah untuk bayi bisa terganggu sehingga membuat denyut jantung bayi menurun secara tiba-tiba (variable decelerations).

Jika detak jantung bayi terus memburuk selama persalinan dan bayi menunjukkan tanda-tanda bahaya lainnya, melahirkan dengan operasi caesar bisa jadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi komplikasi persalinan ini.

5. Plasenta previa

proses induksi

Plasenta previa adalah satu dari beberapa komplikasi persalinan ketika posisi plasenta menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks). Padahal seharusnya, posisi plasenta di sebelah atas maupun samping rahim, sehingga tidak akan menutupi jalan lahir bayi.

Komplikasi dari plasenta previa berisiko mempersulit proses persalinan, bahkan bisa menimbulkan perdarahan hebat sebelum atau selama proses melahirkan.

Berikut beberapa hal yang memperbesar peluang untuk mengalami komplikasi persalinan berupa plasenta previa:

  • Pernah melahirkan sebelumnya, terutama jika ini kali keempat atau lebih Anda melahirkan
  • Pernah mengalami plasenta previa, operasi caesar, maupun operasi rahim sebelumnya
  • Hamil bayi kembar
  • Berusia lebih dari 35 tahun saat sedang hamil
  • Memiliki fibroid
  • Merokok

Salah satu gejala utama pada komplikasi persalinan berupa plasenta previa yakni munculnya perdarahan tanpa adanya rasa sakit selama trimester ketiga kehamilan. Dokter biasanya mengatasi kasus komplikasi persalinan karena plasenta previa dengan cara:

  • Perbanyak istirahat atau jika perlu dirawat di rumah sakit untuk memperbaiki kondisi
  • Pemberian transfusi darah
  • Menyarankan untuk segera melahirkan, khususnya jika perdarahan tidak kunjung berhenti atau denyut jantung janin tidak diketahui

Apabila tidak segera ditangani, komplikasi persalinan plasenta previa dapat meningkatkan risiko plasenta akreta. Plasenta akreta juga merupakan komplikasi persalinan yang berpotensi mengancam jiwa.

Hal ini dikarenakan plasenta, pada plasenta akreta, tidak dapat dipisahkan dari dinding rahim.

6. Asfiksia perinatal

metode persalinan

Asfiksia perinatal adalah kompliksi persalinan ketika bayi tidak mendapatkan cukup oksigen di dalam kandungan selama proses melahirkan berlangsung. Asfiksia perinatal juga bisa terjadi saat oksigen yang diperoleh bayi tidak memadai setelah kelahirannya.

Asfiksia perinatal merupakan salah satu komplikasi melahirkan atau persalinan yang menjadi penyebab kematian pada bayi baru lahir.

Selain karena kadar oksigen yang rendah, bayi juga bisa mengalami komplikasi persalinan berupa asfiksia perinatal karena peningkatan kadar karbon dioksia.

Terlalu banyak jumlah asam di dalam darah (asidosis) dan adanya masalah organ tubuh juga bisa mengakibatkan munculnya komplikasi persalinan asfiksia pada bayi.

Komplikasi persalinan atau melahirkan yang satu ini biasanya disebabkan oleh proses persalinan yang terhambat, sehingga membuat bayi tidak kunjung keluar.

Atau dalam kasus lainnya, bayi mungkin sudah hampir keluar tapi terhambat di tengah jalan ketika persalinan. Dokter biasanya melakukan penanganan segera untuk kasus asfiksia perinatal dengan memberikan oksigen kepada ibu dan operasi caesar.

Setelah melahirkan, pengobatan juga akan tetap dilakukan misalnya dengan memberikan pernapasan mekanis maupun perawatan lainnya pada bayi.

7. Distosia bahu

induksi persalinan melahirkan

Distosia bahu adalah komplikasi melahirkan atau persalinan ketika kepala bayi sudah keluar dari vagina, tapi salah satu bahu masih berada di dalam vagina. Komplikasi persalinan ini memang tidak terlalu umum atau jarang terjadi.

Namun, kebanyakan kasus distosia bahu dialami oleh wanita yang belum pernah melahirkan sebelumnya dengan pintu panggul yang sempit atau berat bayi yang terlalu besar.

Sebagai penanganannya, dokter dan tim medis biasanya melakukan beberapa tindakan ini untuk mempermudah kelahiran bayi dengan komplikasi persalinan distosia bahu:

  • Mengubah posisi tubuh ibu saat proses persalinan.
  • Memutar bahu bayi secara manual.
  • Memperbesar vagina melalui pembedahan dengan cara mengguntingnya (episiotomi) guna memberikan ruang bagi bahu bayi untuk keluar.

Jika berbagai cara di atas tidak berhasil, mungkin dokter akan merekomendasikan operasi caesar untuk mengatasi komplikasi persalinan atau melahirkan berupa distosia bahu. Adanya komplikasi pada proses persalinan akibat distosia bahu umumnya dapat segera ditangani.

Akan tetapi, jika denyut jantung bayi tampak tidak terdengar hal ini bisa mengindikasikan adanya masalah medis lainnya.

8. Rahim robek (ruptur uteri)

Melahirkan Secara Sesar, Bisa Menyebabkan Anak Mengalami Obesitas

Komplikasi persalinan rahim robek ketika melahirkan kemungkinan bisa terjadi jika Anda sebelumnya pernah melakukan operasi caesar. Kondisi ini terjadi ketika bekas luka tersebut terbuka di persalinan normal berikutnya.

Di samping mengakibatkan komplikasi persalinan berupa perdarahan hebat pada ibu, bayi di dalam kandungan juga berisiko mengalami kekurangan oksigen. Bukan hanya karena pernah menjalani operasi caesar, berikut beberapa faktor risiko lain yang bisa menyebabkan rahim robek (ruptur uteri):

  • Mendapatkan induksi persalinan.
  • Ukuran tubuh bayi terlalu besar.
  • Usia ibu di atas 35 tahun saat hamil dan melahirkan.
  • Alat yang digunakan saat proses persalinan normal.

Dalam kondisi ini, dokter biasanya akan menganjurkan untuk segera melakukan operasi melahirkan caesar. Itu sebabnya, ibu yang berencana untuk melahirkan normal setelah caesar sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan, dan kemudian menentukan keputusan terbaik setelah melihat kondisi ibu dan bayi.

Ada berbagai tanda-tanda rahim robek yang merupakan salah satu komplikasi melahirkan atau persalinan, seperti:

  • Detak jantung bayi tidak normal.
  • Ibu mengalami nyeri atau sakit perut.
  • Proses persalinan tidak kunjung mengalami kemajuan.
  • Perdarahan pada vagina.
  • Detak jantung cepat dan tekanan darah rendah pada ibu.

Dengan rutin melakukan pemeriksaan dan perawatan yang tepat, hal ini setidaknya dapat menurunkan risiko terjadinya komplikasi persalinan yang serius karena rahim robek.

9. Berat badan lahir rendah (BBLR)

masalah paru-paru bayi prematur

Berat badan lahir rendah termasuk satu dari sekian macam komplikasi melahirkan atau persalinan, khususnya pada bayi prematur. Bayi dikatakan prematur ketika lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu.

Selain itu, bayi dengan berat badan lahir rendah juga bisa dialami oleh kelahiran kembar dua, tiga, atau lebih. Biasanya, berat badan bayi yang lahir tergolong rendah yaitu jika beratnya kurang dari 2,5 kilogram atau 2.500 gram.

Selain kelahiran prematur, komplikasi persalinan berupa berat badan lahir rendah pada bayi juga bisa disebabkan oleh:

  • Adanya masalah pada plasenta.
  • Komplikasi saat proses melahirkan atau persalinan.
  • Cacat lahir pada bayi.
  • Asupan zat gizi yang buruk pada ibu.
  • Ibu merokok, minum alkohol, maupun konsumsi obat-obatan selama kehamilan.

Kondisi BBLR yang dialami bayi baru lahir berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Hal ini meliputi perkembangan yang terhambat, munculnya komplikasi pada kesehatan, serta kematian dini.

Berikut berbagai risiko yang mungkin terjadi pada bayi:

  • Infeksi saluran pernapasan, pencernaan, serta saraf.
  • Kesulitan mendengar dan melihat (buta).
  • Infeksi jantung.
  • Sindrom kematian mendadak atau sudden infant death syndrome (SIDS).

Intinya, bayi yang lahir dengan berat rendah biasanya memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah ketimbang bayi dengan berat normal. Itulah mengapa bayi BBLR cenderung lebih rentan terkena penyakit.

Penanganan yang diberikan untuk bayi dengan berat lahir rendah biasanya disesuaikan dengan kondisi yang dialaminya. Umumnya, bayi diharuskan untuk mendapatkan perawatan sementara waktu di rumah sakit sampai berat badannya kembali normal.

10. Perdarahan berat

persalinan macet

Setelah bayi berhasil dilahirkan, perdarahan bisa terjadi pada ibu. Perdarahan ringan normal terjadi tapi perdarahan berat dapat menjadi hal yang serius. Perdarahan yang merupakan komplikasi persalinan atau melahirkan bisa terjadi setelah plasenta dikeluarkan. 

Kontraksi uterus atau rahim yang lemah tersebut tidak mampu memberikan tekanan yang cukup pada pembuluh darah. Khususnya tempat di mana plasenta menempel pada rahim.

Perdarahan yang berlebihan juga bisa disebabkan oleh adanya bagian plasenta yang masih tersisa dalam rahim dan infeksi pada dinding rahim. Kesemua hal ini dapat mengakibatkan pembuluh darah terbuka sehingga dinding rahim terus mengeluarkan darah.

Komplikasi persalinan berupa perdarahan berlebih setelah melahirkan ini disebut dengan perdarahan postpartum, yang terbagi menjadi dua jenis.

Pertama, primer atau langsung (perdarahan yang terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan). Kedua, sekunder atau tertunda (perdarahan setelah 24 jam pertama sampai 6 minggu setelah melahirkan).

Perawatan yang dilakukan dokter dan tim medis untuk mengatasi komplikasi persalinan karena perdarahan ini, yakni:

  • Pemberian obat-obatan.
  • Pengangkatan plasenta yang tertinggal.
  • Perawatan pada rahim.
  • Melakukan tindakan pada pembuluh darah agar dapat menghentikan perdarahan.

Perdarahan saat melahirkan yang terlalu banyak berisiko mengancam nyawa ibu, melansir dari National Institute of Health. Namun, penanganan segera dari dokter dan tim medis dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan ibu, sekaligus mencegahnya bertambahnya parah.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menghitung Hari Perkiraan Lahir untuk Kehamilan IVF (Bayi Tabung)

Setiap kehamilan pasti punya tanggal HPL. Apabila hamil lewat bayi tabung atau IVF, bagaimana cara menghitung hari perkiraan lahir yang benar?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Melahirkan, Kehamilan 16/12/2019

6 Tips Mengeringkan Luka Pasca Operasi Caesar

Mengeringkan luka operasi caesar dapat dilakukan dengan beberapa cara ini. Jangan lupa untuk tak beraktivitas terlalu berat agar luka bisa segera pulih.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Melahirkan, Kehamilan 09/12/2019

Melahirkan Lebih Lancar, Ini Berbagai Teknik Persalinan yang Meringankan Rasa Sakit

Rasa sakit saat melahirkan kerap menjadi momok bagi calon ibu. Namun, Anda bisa meringankan rasa nyeri dengan menerapkan metode melahirkan berikut.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Melahirkan, Kehamilan 05/12/2019

5 Kiat Ampuh Mengurangi Stres Menjelang Persalinan

Baik selama kehamilan maupun menjelang persalinan, ibu hamil rentan mengalami stres. Lantas, bagaimana cara mengurangi stres menjelang persalinan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Melahirkan, Kehamilan 24/11/2019

Direkomendasikan untuk Anda

bayi terinfeksi COVID-19

Melahirkan di Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020

Hal yang Perlu Diketahui dan Dipersiapkan saat Lahiran Caesar Kedua

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 04/04/2020
melahirkan normal setelah miomektomi

Masih Bisakah Menjalani Persalinan Normal Setelah Miomektomi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 26/03/2020
merawat bekas operasi sesar

Tips Merawat Bekas Luka Operasi Caesar (Sesar) di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 22/01/2020