Hati-hati, Paparan Asap Knalpot dan Debu Jalanan Dapat Merusak Sperma

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 03/01/2018
Bagikan sekarang

Ada banyak hal yang menyebabkan pasangan sulit hamil, di antaranya kualitas sperma yang rendah. Selain faktor bawaan, ada kemungkinan kelainan sperma juga dapat disebabkan oleh hal-hal dari lingkungan luar yang merusak sperma. Salah satu yang harus diwaspadai, terutama bagi kaum Adam yang tinggal di kota-kota besar, adalah polusi udara. Ya. Tidak hanya berakibat buruk pada pernapasan, penurunan kesuburan pria juga turut menjadi dampak polusi udara — yang seringnya tidak disadari.

Dampak polusi udara terhadap kualitas sperma dan kesuburan pria

Ketika kita membicarakan kualitas sperma, ada tiga faktor penting yang menjadi perhatian yaitu jumlah sperma, bentuk sperma, dan gerakan sperma. Jika ada satu saja kelainan dari ketiga faktor tersebut, maka risiko pria tidak subur atau bahkan mandul bisa meningkat. Sel sperma membutuhkan waktu sekitar 75 hari untuk tumbuh dan matang, sehingga kualitas sperma yang buruk dapat memengaruhi kesuburan Anda.

Lantas, apa hubungannya dengan polusi udara yang menemani keseharian Anda? Banyak! Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat mengakibatkan jumlah sperma menurun drastis. Pasalnya, testis tidak dapat berfungsi dengan baik kecuali suhunya lebih dingin daripada bagian tubuh yang lain. Jika suhu testis naik hingga mencapai lebih dari 37˚C, produksi sperma bisa terganggu. Pemanasan iklim alias global warming adalah dampak polusi udara yang tidak terbantahkan.

Peningkatan suhu lingkungan inilah yang memungkinkan testis Anda terperangkap dalam panas berlebih, ditambah dengan kebiasaan lainnya yang mungkin Anda lakukan. Misalnya, menggunakan celana yang ketat atau duduk terlalu lama di tempat yang panas, misalnya saat menyetir bis atau truk. Stres emosional saat menghadapi kerasnya jalanan juga ikut memengaruhi kualitas sperma, karena tingginya hormon kortisol dapat mengganggu hormon-hormon yang bertanggung jawab terhadap kesuburan Anda

Selain itu, asap knalpot, asap rokok, asap cerobong pabrik, hingga debu jalanan banyak mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan, termasuk bagi sistem reproduksi pria. Ambil contoh timbal, kadmium, dan merkuri. Ketika masuk ke dalam tubuh, sejumlah senyawa kimia toksik ini menimbulkan reaksi stres oksidatif dan radikal bebas yang dapat mengganggu komposisi DNA, protein, dan membran lemak dari sel sperma sehingga mengacaukan bentuk sperma.

Selain mengurangi jumlah dan mengacaukan bentuk sperma, dampak polusi udara lama kelamaan juga mengganggu pergerakan atau motilitas sperma. Padahal, sel sperma harus aktif dan cepat bergerak agar dapat membuahi sel telur perempuan pada masa suburnya.

Lantas, harus bagaimana?

Hidup di kota besar jangan lantas membuat Anda takut akan jadi tidak subur. Dampak polusi udara terhadap penurunan kesuburan ini membutuhkan waktu paparan yang cukup lama, mungkin hingga bertahun-tahun. Anda bisa menekan risikonya dengan selalu pakai masker untuk menghalangi debu polusi udara yang bisa terhirup masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, tangkal radikal bebas dari lingkungan sekitar dengan memperbanyak makan buah dan sayuran yang tinggi antioksidan, serta rutin berolahraga.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber
  • (2017). Male Infertility Epidemiology. [online] News Medical Life Sciences. Available at: https://www.news-medical.net/health/Male-Infertility-Epidemiology.aspx [Accessed 23 Nov. 2017]
  • Najafi TF, Roudsari RL, Namvar F, Ghanbarabadi VG, Talasaz ZH, Esmaeli M. Air Pollution and Quality of Sperm: A Meta-Analysis. Iran Red Crescent Med J. 2015;17(4):e26930.
  • Carre J, Gatimel N, Moreau J, Parinaud J, Leandri R. Does air pollution play a role in infertility?: a systematic review. Environmental Health. 2017;16:82.
  • Vecoli C, Montano L, Borghini A, Notari T, Guglielmino A, Mercuri A, al. Effects of Highly Polluted Environment on Sperm Telomere Length: A Pilot Study. Int J Mol Sci. 2017;18:1703.

Yang juga perlu Anda baca

Menjadi Social Smoker Ternyata Sama Bahayanya dengan Perokok Aktif

Istilah social smoker yaitu sebutan bagi yang hanya merokok saat bersosialisasi. Namun, apa Anda tahu dampak kesehatannya sama saja seperti perokok aktif?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

6 Faktor yang Dapat Menjadi Penyebab Pria Tidak Subur

Tahukah Anda bahwa masalah kesuburan bisa terjadi baik pada pria maupun wanita. Lalu, apa saja penyebab pria menjadi tidak subur?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesuburan, Kehamilan 11/04/2020

Benarkah Pria Tidak Subur atau Infertil Setelah Operasi Kanker Prostat?

Benarkah pria tidak subur atau infertil setelah operasi kanker prostat? Apakah jenis pengobatan lain dapat menghindari hal tersebut? Berikut jawabannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Benarkah Udara Kotor Bisa Bikin Susah Tidur?

Selain memberikan dampak buruk untuk kesehatan paru-paru dan jantung, udara kotor ternyata juga dapat mempengaruhi tidur Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

Dampak Polusi Udara pada Kesehatan Mata dan Cara Mencegahnya

Dampak Polusi Udara pada Kesehatan Mata dan Cara Mencegahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020
Apakah Puasa Memengaruhi Kesuburan untuk Hamil?

Apakah Puasa Memengaruhi Kesuburan untuk Hamil?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020
Begini Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan Sekitar

Begini Efek Pandemi COVID-19 Terhadap Lingkungan Sekitar

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020
Keunggulan Nasal Spray Powder untuk Melindungi Hidung

Keunggulan Nasal Spray Powder untuk Melindungi Hidung

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 24/04/2020