home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Hal yang Mungkin Terjadi Kalau Ibu Kena Herpes Saat Hamil

Berbagai Hal yang Mungkin Terjadi Kalau Ibu Kena Herpes Saat Hamil

Herpes merupakan salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus. Ada dua jenis virus yang dapat menyebabkan herpes, yaitu virus herpes simplex tipe 1 dan virus herpes simplex tipe 2. Virus ini bisa menyerang siapa saja, termasuk ibu hamil. Lalu, apakah herpes saat hamil berbahaya? Simak jawabannya dalam artikel ini.

Mengenal virus herpes dan gejalanya

Telah disebutkan di atas bahwa herpes bisa disebabkan oleh dua jenis virus, yaitu virus herpes simplex tipe 1 dan tipe 2. Virus herpes simplex tipe 1 merupakan herpes oral yang menyebabkan luka atau luka lepuhan (berisi cairan) di sekitar atau di dalam mulut. Herpes jenis ini bisa menyebar melalui kontak langsung dengan luka, misalnya saat berciuman atau seks oral dengan orang yang terinfeksi herpes.

Sedangkan, virus herpes simplex tipe 2 merupakan herpes genital (kelamin) yang menyebabkan luka atau luka lepuhan (berisi cairan) pada alat kelamin. Anda bisa terkena herpes ini melalui hubungan seksual dengan orang yang punya herpes.

Awalnya Anda mungkin tidak merasakan gejala apa-apa. Baru ketika infeksi virusnya sudah semakin parah, Anda akan mengalami berbagai gejala yang patut diwaspadai.

Pada saat pertama kali terpapar dengan virus herpes genital, benjolan merah mungkin akan muncul di sekitar vagina ibu hamil. Hal ini juga bisa disertai dengan sensasi gatal, terbakar, nyeri, atau kesemutan di daerah kelamin Anda. Anda juga mungkin mengalami keputihan yang tidak normal, pembengkakan pada kelenjar getah bening di pangkal paha, demam, sakit kepala, serta nyeri otot.

Awas, herpes saat hamil bisa menular pada bayi Anda

Ya, herpes pada ibu hamil bisa menular ke bayi. Hal ini dapat terjadi saat bayi dilahirkan normal, yaitu melewati vagina ibu hamil yang sudah terpapar virus herpes. Risiko penularan pada bayi lebih besar saat ibu hamil terinfeksi virus herpes pada trimester ketiga kehamilan. Pasalnya, semakin mendekati waktu kelahiran, semakin terlambat bagi ibu untuk memproduksi antibodi yang dapat melindungi bayinya dari virus.

Dokter Anda mungkin akan menganjurkan persalinan lewat operasi caesar jika Anda terinfeksi virus herpes di akhir kehamilan. Dengan demikian, bayi tidak terpapar dengan virus herpes yang ada di sekitar vagina Anda.

Jika Anda terinfeksi virus herpes pada trimester pertama kehamilan, kemungkinan kecil yang bisa terjadi adalah keguguran atau cacat lahir. Pasalnya, virus bisa masuk ke tubuh bayi melalui plasenta. Untungnya, hal ini jarang terjadi.

Kemungkinan lainnya adalah bayi terlindungi dari herpes karena sistem imun (kekebalan tubuh) ibu akan memproduksi antibodi khusus untuk melawan virus herpes. Ini mungkin akan menyelamatkan nyawa bayi jika dibarengi dengan perawatan obat antivirus dari dokter.

penyakit lupus saat hamil

Apa yang bisa terjadi jika bayi tertular herpes?

Saat bayi terinfeksi virus herpes, kondisi ini dinamakan herpes neonatal. Bayi bisa mengalami berbagai masalah serius, bahkan bisa membahayakan nyawa bayi. Dilansir dari Baby Center, berikut adalah masalah-masalah umum yang mungkin dialami bayi dengan herpes.

  • Infeksi kulit, mata, dan mulut. Infeksi ini bisa timbul saat bayi berusia 1-2 minggu. Biasanya ditandai dengan gejala muncul luka atau iritasi di kulit. Jika herpes hanya terjadi di kulit, mata, dan mulut, bayi mungkin tidak akan memiliki masalah perkembangan. Namun, jika tidak segera diobati, herpes bisa berkembang jadi lebih serius.
  • Penyakit sistem saraf pusat. Ini biasanya terjadi pada bayi usia 2-3 minggu. Namun, bisa juga muncul kapan pun selama 6 minggu pertama kelahiran. Bayi dengan penyakit sistem saraf pusat mungkin menunjukkan gejala seperti demam, lesu, tidak mau makan, rewel, sampai kejang.
  • Herpes diseminata (herpes yang sudah menyebar luas). Penyakit ini sudah memengaruhi banyak organ bayi, misalnya paru-paru dan hati. Ini bisa terjadi pada minggu pertama kelahiran bayi. Akan tetapi, kondisi ini mungkin sulit didiagnosis karena bayi tidak menunjukkan gejala luka herpes.

Bagaimana cara mencegah penularan herpes saat hamil?

Berhati-hatilah saat berhubungan seksual selama kehamilan, terutama selama trimester ketiga kehamilan. Pastikan pasangan Anda bebas dari herpes genital, maupun herpes oral. Anda mungkin perlu memeriksakan diri Anda dan pasangan untuk mengetahui adanya herpes atau tidak sebelum merencanakan kehamilan.

Selain itu, setelah bayi lahir sebaiknya jangan biarkan orang lain mencium bayi Anda. Ingat, herpes bisa menular lewat ciuman orang yang terinfeksi. Infeksi herpes pada bayi baru lahir juga merupakan hal serius.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Baby Center. (2017). Herpes during pregnancy | BabyCenter. [online] BabyCenter. Available at: https://www.babycenter.com/0_herpes-during-pregnancy_1360877.bc [Accessed 18 Sep. 2017].

Baby Centre UK. (2015). Genital herpes in pregnancy. [online] BabyCentre UK. Available at: https://www.babycentre.co.uk/a1011169/genital-herpes-in-pregnancy#section3 [Accessed 18 Sep. 2017].

Johnson, T. C. (2016). Genital Herpes and Pregnancy. [online] WebMD. Available at: http://www.webmd.com/genital-herpes/guide/genital-herpes-pregnant [Accessed 18 Sep. 2017].

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Arinda Veratamala
Tanggal diperbarui 27/09/2017
x