home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Herpes Labialis (Mulut/Bibir)

Pengertian herpes labialis (oral/mulut)|Tanda & gejala herpes labialis|Penyebab herpes labialis|Komplikasi herpes labialis|Faktor risiko herpes di mulut|Diagnosis herpes oral |Pengobatan herpes labialis|Cara mencegah penularan herpes oral
Herpes Labialis (Mulut/Bibir)

Pengertian herpes labialis (oral/mulut)

Herpes labialis atau oral adalah kondisi infeksi virus herpes yang menyerang mulut, bibir, atau gusi akibat virus herpes simpleks-1 (HSV-1).

Herpes oral ditandai dengan munculnya ruam, bengkak, dan sariawan sekitar mulut. Ruam tersebut kemudian berubah menjadi luka melepuh atau lenting.

Infeksi HSV-1 dapat berlangsung seumur hidup sehingga gejala bisa kambuh sewaktu-waktu. Untungnya, gejala herpes mulut bisa diatasi dengan obat antivirus.

Kebanyakan penularan herpes simpleks penyebab herpes oral terjadi melalui kontak pada bibir atau organ intim yang terinfeksi.

Salah satu cara penularan herpes labialis yang paling umum adalah berciuman dengan orang terinfeksi herpes.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Menurut data WHO, diketahui sebanyak 67% orang dewasa di dunia telah terinfeksi virus HSV-1 penyebab herpes labialis.

Sebagian besar dari mereka terpapar virus sejak masih anak-anak.

Pada umumnya, herpes mulut menyerang orang yang terinfeksi HIV atau penyakit menular seksual (kelamin), seperti gonore dan sifilis.

Namun, siapa pun bisa tertular herpes mulut akibat virus HSV-1 sejak kecil apabila virus ini masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka.

Anda dapat meminimalkan peluang terjangkit virus herpes simpleks yang menyebabkan herpes labialis (oral) dengan mengurangi faktor risiko.

Tanda & gejala herpes labialis

Umumnya, gejala herpes di mulut muncul pada anak-anak usia 1-5 tahun, baik gejala ringan maupun berat.

Namun, infeksi virus herpes ini bisa juga tidak menyebabkan gejala pada sebagian orang.

Tanda-tanda herpes di mulut dapat diawali dengan munculnya sariawan, tetapi sariawan akibat herpes berbeda dengan sariawan biasa.

Luka herpes biasanya terlihat melepuh dan terisi cairan yang bisa pecah apabila digaruk.

Gejala penyakit herpes labialis (mulut) yang harus diwaspadai adalah sebagai berikut:

  • Kulit di sekitar bibir atau mulut terasa gatal .
  • Bibir tampak bengkak.
  • Luka melepuh (lenting) di sekitar area mulut atau bibir.
  • Bibir atau mulut terasa kesemutan.

Sebelum muncul luka pada bibir atau mulut, kemungkinan Anda mengalami gejala mirip flu terlebih dahulu, seperti:

Sebagai catatan, ruam atau luka herpes yang melepuh bisa muncul pada:

  • Gusi
  • Bibir
  • Mulut
  • Tenggorokan
  • Lecet yang ada bisa berkumpul menjadi satu dan membesar

Infeksi pertama kali dapat menimbulkan gejala herpes oral yang berat. Saat gejala herpes kambuh atau infeksi kembali aktif, tingkat keparahan gejala akan berkurang dari infeksi pertama.

Dengan kata lain, gejala dari herpes oral yang kambuh biasanya lebih ringan.

Gejala herpes di mulut dan bibir ini muncul dalam waktu 1-3 minggu setelah terpapar virus dan dapat bertahan hingga 3 minggu sampai akhirnya mereda.

Dilansir dari John Hopskin Medicine, gejala bisa kambuh beberapa kali dalam 1 tahun pertama.

Pada tahun-tahun selanjutnya, gejala akan lebih jarang kambuh seiring dengan terbentuknya antibodi untuk infeksi HSV-1 di dalam tubuh.

Meski begitu, tidak semua pengidap herpes labialis mengalami gejala luka pada kulit saat infeksi pertama.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Kemungkinan ada gejala yang tidak disebutkan di atas. Jadi, jika Anda mengalami gejala herpes di bibir dan mulut atau khawatir dengan gejala tertentu, segeralah konsultasikan dengan dokter.

Anda juga perlu menghubungi dokter Anda jika mengalami:

  • Buang air kecil jadi lebih sedikit dan jarang
  • Mengantuk
  • Lebih cepat marah
  • Mulut kering

Jika anak Anda berusia kurang dari 8 minggu dan memiliki luka herpes muncul, segera hubungi dokter. Infeksi parah atau komplikasi herpes labialis juga bisa terjadi pada bayi.

Selain itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah yang mengalami gejala herpes juga perlu segera berkonsultasi dengan dokter.

Sistem kekebalan tubuh bertugas untuk melindungi Anda dari infeksi. Ketika sistem imum melemah, otomatis tubuh Anda lebih rentan terkena infeksi atau komplikasi penyakit.

Kondisi tubuh orang berbeda-beda, selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan terbaik sesuai kondisi Anda.

Penyebab herpes labialis

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, herpes di bibir dan mulut disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1).

Virus ini berasal dari keluarga virus herpes yang menyebabkan penyakit cacar air dan cacar api (herpes zoster).

Saat terinfeksi, virus herpes simpleks ini akan menetap di dalam tubuh seumur hidup.

Virus yang masuk dari kulit bergerak menuju permukaan-sel-sel saraf untuk memperbanyak diri.

Selanjutnya, virus merusak sel-sel sehat di sekitar kulit dan saraf sehingga memunculkan gejala luka herpes.

Setelah infeksi pertama, virus akan tinggal dan menetap di bawah sel-sel saraf tanpa bereplikasi atau memperbanyak diri.

Infeksi virus penyebab herpes labialis bisa aktif kapan saja, terutama saat Anda mengalami kondisi sebagai berikut:

Cara penularan herpes oral

Virus herpes simpleks sendiri terdiri dari 2 jenis, yakni virus herpes simpleks-1 (HSV-1) dan virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2).

Virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) merupakan penyebab utama herpes genital yang hanya dapat ditularkan melalui kontak seksual, seperti penetrasi vagina.

Sebaliknya, virus penyebab herpes labialis atau HSV-1 dapat ditularkan melalui kontak dekat atau sentuhan pada bagian kulit yang terluka.

Namun, banyak juga yang tertular dari pengidap herpes oral yang tidak memiliki luka di kulit alias tidak bergejala.

Menurut American Academy of Dermatology, seseorang bisa tertular herpes labialis dari orang yang terinfeksi melalui:

  • Berciuman
  • Menyentuh kulit seperti mencubit pipi
  • Menggunakan peralatan secara bergantian

Pada kasus yang langka, transmisi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) juga bisa berlangsung dari ibu ke bayi pada saat melahirkan normal.

Risiko penularan akan semakin besar ketika pengidap herpes mengalami gejala luka herpes.

Komplikasi herpes labialis

Komplikasi serius akibat herpes labialis (oral) sebenarnya jarang terjadi. Herpes di mulut atau bibir dapat menyebar ke beberapa bagian tubuh lain, seperti:

  • Mata (herpes mata). Saat menginfeksi tubuh, virus HSV-1 bisa menyebabkan luka dan gangguan penglihatan pada mata.
  • Jari. Komplikasi ini terjadi saat anak-anak dengan herpes di mulut sering menggigit jari-jarinya.
  • Bagian kulit lain. Komplikasi herpes oral bisa menyebarkan ke bagian kulit pada orang yang memiliki eksim atau dermatitis atopik. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis darurat.

Sebagian besar kasus komplikasi lebih sering dialami oleh bayi yang belum dan baru lahir atau orang dengan gangguan sistem imun, termasuk yang terinfeksi HIV atau memiliki kanker.

Faktor risiko herpes di mulut

Setiap orang bisa terjangkit penyakit herpes di bibir atau mulut (oral) ini.

Pasalnya, banyak orang dewasa yang terinfeksi tetapi tidak menyadari bahwa mereka bisa menularkan penyakit ini pada orang lain.

Namun, beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi, terutama saat imunitasnya sedang lemah.

Berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko herpes labialis adalah sebagai berikut:

  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Mengalami infeksi HIV.
  • Memiliki kanker dan menjalani pengobatan kemoterapi.
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman atau tanpa kondom.
  • Menjalani pengobatan untuk transplantasi organ.

Meski memiliki beberapa faktor risiko di atas, bukan berarti Anda pasti akan terkena penyakit herpes labialis ini.

Supaya lebih jelas, sebaiknya lakukan pemeriksaan penyakit kelamin untuk memastikan kondisi kesehatan Anda.

Diagnosis herpes oral

Dokter dapat mendiagnosis herpes labialis dengan mengamati luka melepuh di sekitar bibir dan mulut Anda.

Selain itu, dokter juga mungkin perlu melakukan tes lain untuk memastikan diagnosis herpes oral ini.

Salah satunya pemeriksaan yang mungkin dilakukan dokter yakni mengambil sampel jaringan pada luka herpes lalu diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Kemungkinan, pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi penyebab penyakit menular seksual meliputi:

  • Kultur untuk mengembangbiakan virus pada sampel.
  • Pemeriksaan DNA virus.
  • Tes untuk memeriksa Tzanck untuk virus herpes simpleks.

Pengobatan herpes labialis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Jika dari hasil pemeriksaan Anda diketahui terinfeksi herpes oral, dokter akan memberikan pengobatan.

Meski begitu, gejala herpes di mulut sebenarnya dapat mereda tanpa pengobatan dalam kurun waktu 1-2 minggu.

Walaupun tidak bisa menghilangkan virus, pengobatan bisa membantu mempersingkat lama waktu kemunculan gejala sekaligus mengurangi keparahan bila infeksi kembali kambuh.

Selama pengobatan, dokter dapat memberikan resep obat antivirus yang membantu mengurangi rasa sakit dan gatal serta menghilangkan luka herpes di bibir.

Obat herpes yang digunakan untuk herpes oral biasanya tersedia dalam bentuk tablet, infus, atau obat oles (krim dan salep).

Obat antivirus dalam bentuk salep bisa mengurangi rasa gatal dan perih sekaligus menenangkan kulit yang mengalami gejala.

Selain itu, obat pil atau infus juga bisa diberikan untuk mempersingkat masa infeksi sehingga gejala cepat hilang.

Jenis-jenis antivirus yang diandalkan sebagai obat herpes labialis adalah:

Obat di atas dinilai cukup efektif untuk mengobatai herpes labialis, terlebih jika Anda mematuhi aturan konsumsi dengan benar seperti yang dianjurkan oleh dokter.

Obat-obatan umum seperti pelembab atau lip balm sama sekali tidak ampuh untuk menyembuhkan herpes di bibir atau oral.

Anda juga dapat menggunakan obat pereda nyeri seperti aspirin, acetaminophen, atau ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit dan mengatasi demam selama infeksi berlangsung.

Selain untuk kesembuhan, menjalani pengobatan herpes labialis juga dapat menurunkan risiko penularan pada orang-orang sehat di sekitar Anda.

Cara mencegah penularan herpes oral

Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mencegah dan mengatasi herpes di bibir:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air hangat, terutama setelah dari toilet.
  • Menjaga kulit tetap bersih dan bagian yang melepuh di bibir tetap kering.
  • Hindari mencukur area kulit dan bibir yang terinfeksi.
  • Hindari menggunakan alat-alat kebersihan pribadi bersama dengan orang lain.
  • Segera hubungi dokter atau pergi ke rumah sakit jika Anda mengalami sakit kepala parah, sesak napas, sakit mata ringan maupun parah yang membuat Anda merasa tidak nyaman.
  • Makan makanan bernutrisi dan usahakan tidur serta olahraga yang cukup.
  • Hindari terkena sinar matahari langsung dalam waktu lama.
  • Hubungi dokter jika penyakit kambuh lebih dari 4-6 kali per tahun, termasuk saat gejala semakin parah, mengalami demam, dan kencing nanah.

Anda juga dianjurkan untuk menghindari stres fisik dan mental. Sebaliknya, coba kenali cara mengatasi dan mencegah stres.

Ini karena stres dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan penyakit infeksi mudah kambuh.

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Spencer, J. V. (2009). Herpes. Infobase Publishing. Available at: https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=as8qDV8iqZwC&oi=fnd&pg=PA5&dq=herpes+juliet+v+spencer&ots=Wg6naekdQn&sig=4w-20Ze-aEvqlj1rA3PW1vKExI0&redir_esc=y#v=onepage&q=herpes%20juliet%20v%20spencer&f=false

Whitley, R., & Baines, J. (2018). Clinical management of herpes simplex virus infections: past, present, and future. F1000Research, 7, F1000 Faculty Rev-1726. https://doi.org/10.12688/f1000research.16157.1

WHO. (2020). Herpes simplex virus. Retrieved 18 January 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus

Mayo Clinic. (2021). Cold sore – Symptoms and causes. Retrieved 18 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cold-sore/symptoms-causes/syc-20371017

Mayo Clinic. (2021). Cold sore – Diagnosis and treatment. Retrieved 18 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cold-sore/diagnosis-treatment/drc-20371023

John Hopkins Medicine. (2021). Oral Herpes. Retrieved 18 January 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/herpes-hsv1-and-hsv2/oral-herpes

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 11/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.