home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Orang dengan Demensia?

Bagaimana Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Orang dengan Demensia?

Pandemi COVID-19 menyebabkan kematian orang dengan demensia mengalami peningkatan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bukan hanya infeksi COVID-19 yang berisiko lebih parah pada pasien demensia, tapi juga kondisi pandemi yang membuat keparahan kondisi demensia lebih fatal.

Bagaimana dampak pandemi pada orang dengan demensia?

orang dengan demensia pada masa pandemi covid-19

Selama masa pandemi COVID-19, Badan Statistik Inggris (ONS) mencatat kasus kematian akibat demensia dan alzheimer jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya pada periode yang sama. Dalam data ONS, terjadi 79% peningkatan angka kematian selama 14 Maret dan 11 September.

Negara bagian Wales mengalami lonjakan angka kematian akibat demensia tertinggi yakni 94% lebih banyak daripada rata-rata di periode sebelumnya.

Di Amerika, kematian akibat alzheimer dan demensia meningkat hingga 20% selama periode musim panas 2020. Diperkirakan ada 61.000 orang yang meninggal akibat demensia selama masa pandemi COVID-19, 11.000 lebih banyak daripada periode yang sama di tahun 2019.

Peneliti belum bisa memastikan penyebab lonjakan kematian terkait demensia yang terjadi selama masa pandemi COVD-19.

“Ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang terjadi dan itu perlu diselesaikan,” kata Robert Anderson, Kepala Badan Statistik Kematian Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) seperti dikutip dari Politico.

Para ahli menyampaikan beberapa kemungkinan-kemungkinan dampak pandemi pada peningkatan kematian demensia. Di antara yang paling memungkinkan yakni stres pada masa isolasi dan lockdown, kesulitan merawat pasien demensia selama pandemi, akses ke fasilitas kesehatan yang terbatas, dan diagnosis COVID-19 yang terlambat.

Beberapa keterbatasan aktivitas selama pandemi yang membuat kondisi orang demensia memburuk

Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat, berpikir, bertingkah laku, dan berbicara. Kondisi demensia kerap ditandai dengan sifat mudah lupa (pikun) karena kemampuan otak terganggu untuk mengingat.

Kematian akibat demensia diartikan orang tersebut meninggal akibat degenerasi saraf. Namun kematian mereka lebih sering disebabkan oleh masalah kesehatan lain yang diperburuk karena tidak mendapat perawatan tepat waktu. Kondisi ini contohnya, pneumonia yang terlambat ditangani, obat yang tidak pernah diminum, atau jatuh yang menyebabkan patah tulang parah dan komplikasi fatal.

“Orang dengan penyakit Alzheimer dan kondisi terkait demensia adalah orang yang paling rentan di masyarakat,” kata Miguel Arce Rentería, neuropsikolog klinis dan ilmuwan penelitian asosiasi di Columbia University Medical Center di New York.

Orang dengan demensia juga sangat bergantung pada pengasuh, baik mereka tinggal di rumah, panti jompo, atau fasilitas perawatan demensia. Karena itu agar pasien demensia mendapatkan perawatan terbaik, pengasuhnya juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

Isolasi dan kesepian

Kondisi pandemi membuat perawat atau pengasuh pasien demensia mengalami banyak kesulitan. Pengasuhnya di rumah harus ikut isolasi dengan ketat karena ia berpotensi membawa virus dan menularkan pada orang demensia yang rentan terinfeksi COVID-19 dengan gejala berat. Dalam kondisi ini, pengasuhnya akan merasa kelelahan dan perawatan yang diberikan bisa jadi tidak maksimal.

Bagi para pengasuh yang tidak tinggal bersama, mereka terpaksa harus membatasi kunjungan selama masa pandemi untuk mengurangi paparan virus pada para lansia.

Selain itu, panti-panti jompo juga membatasi kunjungan-kunjungan keluarga yang menyebabkan kesepian. Pandemi telah membatasi interaksi fisik orang demensia dengan keluarga atau pengurusnya.

Perasaan kesepian ini yang kemungkinan besar berkaitan dengan kematian terkait demensia selama masa pandemi.

Persoalan kesepian dan terisolasi secara sosial memang berkaitan dengan peningkatan risiko demensia pada orang dewasa sehat. Orang yang terisolasi secara sosial memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi tidak hanya demensia, tetapi juga penyakit jantung, tekanan darah tinggi, depresi, penurunan kognitif, dan kematian.

Keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan

Penurunan akses ke perawatan medis membuat keterlambatan dalam penanganan orang dengan demensia. Di Amerika, rumah sakit dan klinik-klinik mencatat penurunan pasien yang datang selama masa pandemi terutama pada masa awal karantina.

Banyak jadwal kontrol kondisi kesehatan yang terlewat, obat-obatan yang harus dikonsumsi rutin jadi terhambat.

Selain itu, transisi konsultasi tatap muka menjadi konsultasi online atau telemedicine tidak bisa dilakukan untuk pengidap demensia.

Pandemi COVID-19 menyebabkan kematian orang dengan demensia lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bukan hanya infeksi COVID-19 yang berisiko lebih parah pada pasien demensia, tapi juga kondisi pandemi yang membuat keparahan demensia menjadi lebih fatal.

Bagaimana dampak pandemi pada orang dengan demensia?

Selama masa pandemi COVID-19, Badan Statistik Inggris (ONS) mencatat kasus kematian akibat demensia dan alzheimer jauh lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya pada periode yang sama. Dalam data ONS, ada 79 persen peningkatan angka kematian selama 14 Maret dan 11 September.

Negara bagian Wales mengalami lonjakan angka kematian akibat demensia yang lebih tajam, 94 persen lebih banyak daripada rata-rata di periode sebelumnya.

Di Amerika, kematian akibat alzheimer dan demensia meningkat hingga 20 persen selama periode musim panas 2020. Diperkirakan ada 61.000 orang yang meninggal akibat demensia selama masa pandemi COVID-19, 11.000 lebih banyak daripada periode yang sama di tahun 2019.

Peneliti belum bisa memastikan penyebab lonjakan kematian terkait demensia yang terjadi selama masa pandemi COVD-19.

“Ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang terjadi dan itu perlu diselesaikan,” kata Robert Anderson, kepala badan statistik kematian Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) seperti dikutip dari Politico.

Para ahli menyampaikan beberapa kemungkinan-kemungkinan dampak pandemi pada peningkatan kematian demensia. Diantara yang paling memungkinkan yakni stres pada masa isolasi dan lockdown, kesulitan merawat pasien demensia selama pandemi, akses ke fasilitas kesehatan yang terbatas, dan diagnosis COVID-19 yang terlambat.

Beberapa keterbatasan aktivitas selama pandemi yang membuat kondisi orang demensia memburuk

Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat, berpikir, bertingkah laku, dan berbicara. Kondisi demensia kerap ditandai dengan sifat mudah lupa (pikun) karena kemampuan otak terganggu untuk mengingat.

Kematian akibat demensia diartikan orang tersebut meninggal akibat degenerasi saraf. Namun kematian mereka lebih sering disebabkan oleh masalah kesehatan lain yang diperburuk karena tidak mendapat perawatan tepat waktu. Misalnya, pneumonia yang terlambat ditangani, obat yang tidak pernah diminum, atau jatuh menyebabkan patah tulang parah yang menyebabkan komplikasi fatal.

“Orang dengan penyakit Alzheimer dan kondisi terkait demensia adalah orang yang paling rentan di masyarakat,” kata Miguel Arce Rentería, seorang neuropsikolog klinis dan ilmuwan penelitian asosiasi di Columbia University Medical Center di New York. Orang dengan demensia juga sangat bergantung pada pengasuh, baik mereka tinggal di rumah, panti jompo, atau fasilitas perawatan demensia. Karena itu agar pasien demensia mendapatkan perawatan terbaik, pengasuhnya juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

Isolasi dan kesepian

Kondisi pandemi membuat perawat atau pengasuh pasien demensia mengalami banyak kesulitan. Pengasuhnya di rumah harus ikut isolasi karena berpotensi membawa virus dan menularkan pada pasiennya yang rentan terhadap COVID-19 gejala berat. Dalam kondisi ini, pengasuhnya akan merasa kelelahan dan perawatan yang diberikan bisa jadi tidak maksimal.

Bagi pengasuh yang tidak tinggal bersama, mereka terpaksa membatasi kunjungan selama masa pandemi untuk mengurangi paparan virus pada lansia.

Selain itu, panti-panti jompo juga membatasi kunjungan-kunjungan keluarga yang menyebabkan kesepian. Pandemi telah membatasi interaksi fisik orang demensia dengan keluarga atau pengurusnya.

Perasaan kesepian ini yang kemungkinan besar berkaitan dengan kematian terkait demensia selama masa pandemi.

Persoalan kesepian dan terisolasi secara sosial memang berkaitan dengan peningkatan risiko demensia pada orang dewasa sehat. Orang yang terisolasi secara sosial memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi tidak hanya demensia, tetapi juga penyakit jantung, tekanan darah tinggi, depresi, penurunan kognitif, dan kematian.

Keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan

Penurunan akses ke perawatan medis membuat keterlambatan dalam penanganan orang dengan demensia. Di Amerika, rumah sakit dan klinik-klinik mencatat penurunan pasien yang datang selama masa pandemi terutama pada masa awal karantina.

Banyak jadwal kontrol kondisi kesehatan yang terlewat, obat-obatan yang harus dikonsumsi rutin jadi terhambat.

Selain itu, transisi konsultasi tatap muka menjadi konsultasi online atau telemedicine tidak bisa dilakukan untuk pengidap demensia.

Diagnosa yang terlambat

Sejak Februari 2020, terjadi penurunan tingkat diagnosis demensia di Inggris, dari 67,6 persen pada Februari menjadi 63,2 persen pada Juli. Misdiagnosis demensia memang masih menjadi perhatian para ahli, namun selama pandemi para pasien ini menghadapi risiko tidak terdiagnosa sama sekali.

Belum mendapat vaksin? Ayo daftar vaksinasi COVID-19 untuk lansia di sini!

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Gray, D., Freeman, G., Johns, C., & Roland, M. (2020). Covid 19: a fork in the road for general practice. BMJ, m3709. doi: 10.1136/bmj.m3709
  • Arnold, C. (2020). Could COVID delirium bring on dementia?. Nature, 588(7836), 22-24. doi: 10.1038/d41586-020-03360-8
  • Azarpazhooh, M. R., Amiri, A., Morovatdar, N., Steinwender, S., Rezaei Ardani, A., Yassi, N., Biller, J., Stranges, S., Tokazebani Belasi, M., Neya, S. K., Khorram, B., Sheikh Andalibi, M. S., Arsang-Jang, S., Mokhber, N., & Di Napoli, M. (2020). Correlations between COVID-19 and burden of dementia: An ecological study and review of literature. Journal of the neurological sciences, 416, 117013. https://doi.org/10.1016/j.jns.2020.117013
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x