Siapa yang Butuh Vaksin MMR, dan Apa Akibatnya Jika Tidak Divaksin?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Vaksinasi adalah salah satu cara pencegahan penyakit infeksi berbahaya sejak usia dini. Nah, salah satu jenis vaksin yang harus didapat oleh orang-orang Indonesia adalah vaksin MMR. Vaksin ini bertujuan untuk melindungi kita dari penyakit Measles atau campak, Mumps atau gondongan, dan Rubella atau campak Jerman. Jangan anggap sepele ketiga penyakit tersebut.

Apa itu MMR?

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Anak-anak adalah kelompok usia yang paling rentan terinfeksi MMR karena daya tahan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Namun demikian, orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah juga berpeluang untuk ketularan salah satu atau lebih dari penyakit ini. Apalagi jika sewaktu kecilnya tidak mendapatkan vaksinasi.

1. Meales (campak)

Measles atau campak adalah infeksi virus sangat menular yang menyerang pernapasan.

Virus penyebab campak dapat sangat mudah menyebar melalui percikan liur atau lendir yang keluar dari mulut orang sakit campak saat batuk atau bersin. Penyakit campak juga mudah menular dari sentuhan langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi atau kebiasaan saling berbagi barang pribadi, seperti pinjam-meminjam alat makan atau minum dari gelas yang sama.

Gejala campak yang harus diwaspadai adalah:

  • Ruam merah di kulit
  • Batuk
  • Hidung mengeluarkan ingus
  • Demam
  • Bintik putih di mulut (bintik Koplik)

Campak yang sudah parah dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), infeksi telinga, dan kerusakan otak. Komplikasi campak lainnya yang juga fatal adalah ensefalitis (radang otak) yang dapat menyebabkan anak kejang-kejang.

2. Mumps (gondongan)

Mumps (parotitis) atau di Indonesia sering disebut dengan nama gondongan adalah infeksi virus menular yang menyerang kelenjar ludah. Setiap orang dapat terinfeksi gondongan, tapi penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia 2-12 tahun.

Virus penyebab gondongan menular lewat air liur (ludah) yang keluar bersama embusan udara saat orang sakit gondongan batuk atau bersin. Selain itu, Anda juga dapat terkena penyakit ini jika bersentuhan langsung atau menggunakan barang seseorang yang terjangkit penyakit gondongan.

Gejala gondongan yang paling  jelas adalah pembengkakan kelenjar ludah sehingga area pipi dan sekitar leher terlihat bulat, bengkak membesar. Berikut adalah gejala gondongan lainnya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar ludah
  • Nyeri otot
  • Rasa sakit saat mengunyah atau menelan
  • Nyeri pada wajah atau kedua sisi pipi
  • Sakit tenggorokan

Kadang-kadang, virus gondongan juga dapat menyebabkan peradangan pada testis, ovarium, pankreas, atau meninges (selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang). Tuli dan meningitis adalah risiko komplikasi lainnya yang mungkin terjadi akibat gondongan.

3. Rubella (campak Jerman)

Rubella atau sering disebut dengan campak Jerman adalah infeksi virus rubella yang menyebabkan kemunculan bintik-bintik ruam merah di kulit. Virus penyebab Campak Jerman juga menyebabkan kelenjar getah bening leher dan belakang telinga membengkak.

Tanda-tanda dan gejala rubella seringkali sangat ringan sehingga sulit untuk diperhatikan, terutama pada anak-anak. Gejala campak Jerman pada anak biasanya mulai muncul sekitar 2-3 minggu setelah tubuh mulai terpapar virus. Berikut gejalanya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Hidung tersumbat atau pilek
  • Mata merah meradang
  • Ruam merah muda halus yang dimulai pada wajah dan dengan cepat menyebar ke batang tubuh, kemudian ke lengan dan kaki, sebelum menghilang dalam urutan yang sama.
  • Sendi-sendi tubuh sakit, terutama pada wanita.
Semua orang berisiko terkena rubella. Rubella pada anak dan dewasa pada umumnya dapat cepat membaik, tidak berbahaya, dan jarang menyebabkan komplikasi fatal.Campak Jerman barulah sangat berbahaya jika terjadi pada wanita hamil, khususnya dalam 4 bulan pertama kehamilannya. Jika seorang wanita terinfeksi rubella saat hamil mida, bayi berisiko mengalami kecacatan atau bahkan lahir mati.

Siapa yang wajib vaksin MMR?

Tiap orang wajib mendapatkan vaksin MMR paling tidak sekali seumur hidup. Perlu diketahui bahwa di Indonesia, vaksin campak dan campak Jerman (vaksin MR) sengaja dipisah dari vaksin gondongan karena gondongan sudah lebih jarang ditemui di zaman modern kini. Namun, bukan berarti ini menjadi alasan buat Anda tidak mendapatkan ketiganya.

Vaksin MMR penting untuk mencegah penyakit campak, gondong, dan rubella mewabah di Indonesia.

Anak kecil dan balita

Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, imunisasi MMR wajib diberikan pada anak mulai usia 9 bulan sampai selambat-lambatnya kurang dari 15 tahun. Imunisasi ini juga akan masuk ke dalam jadwal vaksinasi rutin selanjutnya yang diberikan pada anak di usia 18 bulan dan anak kelas 1 SD sederajat (usia 6-7 tahun) atau saat anak baru masuk sekolah, tanpa dipungut biaya.

Selain itu, anak-anak berusia 6-11 bulan yang akan bepergian ke luar negeri harus menerima setidaknya dosis pertama vaksin MMR sebelum keberangkatan. Sebelum berusia 12 bulan, anak-anak juga harus sudah menerima dosis vaksin kedua.

Orang dewasa

Menurut Center for Disease Control and Prevention, (CDC), orang dewasa berusia 18 tahun atau yang lahir sebelum tahun 1956 harus menerima dua dosis vaksin MMR sekaligus kapan saja jika tidak pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya.

Orang dewasa barulah hanya diwajibkan imunisasi susulan dengan 1 dosis saja apabila mereka dapat membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi atau sudah pernah terkena penyakit MMR sebelumnya.

Siapa pun yang berusia 12 bulan atau lebih yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin MMR tetapi dianggap berpeluang besar terkena gondong selama terjadi wabah harus mendapatkan satu lagi vaksin gondong secepatnya. Dalam semua kasus, dosis harus diberikan setidaknya 28 hari setelah imunisasi pertama atau kedua didapatkan.

Yang tidak harus vaksin MMR

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), badan pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika Serikat, ada beberapa kelompok orang tertentu yang tidak perlu mendapatkan vaksin MMR.

Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat terlindungi oleh vaksin secara langsung, tapi dapat merasakan perlindungan dari penyakit MMR apabila orang-orang di sekitarnya sudah melengkapi vaksin tersebut sehingga tidak ada lagi yang bisa menularkan penyakit MMR ke mereka. Efek ini disebut dengan herd immunity.

Berikut adalah kriterianya:

  • Orang memiliki reaksi alergi yang parah atau mengancam jiwa terhadap neomycin atau komponen lain dari vaksin
  • Orang telah memiliki reaksi serius terhadap dosis MMR atau MMRV masa lalu (campak, gondong, rubella, dan varicella)
  • Orang yang menderita kanker atau menerima perawatan kanker yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Orang menderita HIV/AIDS, atau gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya
  • Orang yang menerima obat apa pun yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti steroid
  • Orang yang sedang menderita TBC atau tuberculosis

Selain itu, kemungkinan Anda dipebolehkan menunda vaksin MMR apabila memiliki kondisi berikut:

  • Saat ini memiliki penyakit kronis dari stadium sedang hingga parah.
  • Sedang hamil atau dalam program hamil.
  • Baru-baru ini menjalani transfusi darah atau memiliki kondisi yang membuat Anda mudah berdarah atau memar.
  • Telah menerima vaksin untuk penyakit lain selain MMR, dalam empat minggu terakhir.

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang apakah Anda atau anak Anda harus mendapatkan vaksin MMR, bicarakan dengan dokter Anda

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca