Kupas Tuntas Pengobatan CPAP untuk Ngorok (Sleep Apnea)

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Istilah Obstruktif Sleep Apnea memang masih asing di telinga masyarakat. Penyakit ini jarang terdeteksi, bahkan oleh dokter sekali pun. Padahal gejalanya, yaitu mendengkur saat tidur, kerap kita temukan pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Obstruktif Sleep Apnea atau biasa disingkat OSA adalah penyakit yang menakutkan, karena para penderitanya dapat berhenti bernapas saat tertidur. Hal inilah yang dapat memicu terjadinya berbagai macam penyakit metabolik, seperti hipertensi, diabetes melitus, serangan jantung, bahkan stroke.

Berbagai macam penelitian dilakukan untuk menemukan pengobatan penyakit ini, sekaligus memperbaiki kualitas hidup para penderitanya. Selain tindakan pembedahan untuk memperlebar saluran pernafasan penderita, dikembangkan pula pengobatan tanpa bedah. Hal ini dilakukan untuk mendukung penderita yang takut akan pisau bedah. Salah satu pengobatan non-bedah untuk OSA adalah CPAP, yaitu sebuah alat yang mengalirkan udara ke paru penderita saat tidur, sehingga kejadian kekurangan oksigen pada saat tidur dapat terhindarkan.

Apa itu CPAP (Continuous positive airway pressure)?

Continuous positive airway pressure (CPAP) adalah pilihan terapi utama untuk sleep apnea. Mesin CPAP adalah sebuah mesin yang memberikan tekanan udara melalui masker yang ditempatkan di atas hidung dan/atau mulut saat tidur.

Bagaimana CPAP dapat menghilangkan ngorok pada penderita sleep apnea?

Pada penderita sleep apnea, saluran naoas tertutup sebagian atau seluruhnya saat tidur, sehingga aliran udarah ke paru terhambat. Pada saat tertutup seluruhnya, terkadang pasien mengalami henti napas yang dapat membahayakan kehidupan. Tertutupnya saluran napas ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti lidah yang terlalu panjang, membesarnya amandel, sampai obesitas.

Konsep CPAP adalah bekerja melalui tekanan positif di jalan napas atas dengan konstan dan terus menerus, sehingga menjaga jalan napas atas tetap terbuka selama tidur. Hasilnya, volume paru dapat dipertahankan, membantu faring tetap terbuka. Hal tersebut dapat mencegah terjadinya apnea, dan oksigen dapat disalurkan dengan baik. Selain itu, beberapa penelitian juga menyebutkan penggunaan CPAP dapat mengurangi kejadian mendengkur.

Seperti apa bentuk mesin CPAP?

Jenis masker yang digunakan pada CPAP disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan derajat keparahan OSA. Penggunaan masker CPAP harus memperhatikan kenyamanan pasien, karena akan digunakan setiap pasien tidur. Jenis tersebut antara lain:

  • Masker nasal (masker yang dipakai di hidung, seperti selang oksigen)
  • Masker oral (masker yang dipakai di mulut)
  • Masker kombinasi (masker yang menutupi hidung dan mulut, seperti masker pilot pesawat tempur)
  • Variasi lain

Pada awal penggunaan CPAP, terkadang ada pasien yang merasa canggung dan tidak nyaman. Kebanyakan orang belajar menyesuaikan masker untuk mendapatkan masker yang cocok, nyaman, dan aman. Segelintir orang juga mendapat manfaat dari menggunakan humidifier (pelembap udara) bersama dengan sistem CPAP, untuk mengurangi efek samping berupa hidung yang kering saat penggunaan CPAP.

Siapa saja yang dapat menggunakan mesin CPAP?

Semua penderita sleep apnea yang belum mendapat terapi pembedahan, dapat memanfaatkan CPAP sebagai terapi pilihan. Obstructive sleep apnea adalah penyakit yang menakutkan karena dapat menyebabkan kematian mendadak, tanpa memandang usia, jenis kelamin dan ras, karena para penderita mempunyai episode henti napas di setiap tidurnya.

Nasal CPAP (CPAP dengan masker di hidung) telah digunakan dengan hasil yang baik pada anak termasuk bayi, anak obesitas, Down syndrome, akondroplasia, dan dengan kelainan kraniofasial (kelaian bentuk kepala-wajah). Pada kelompok usia anak, CPAP terutama berguna untuk pasien yang obesitas dan pasien dengan sleep apnea yang tak kunjung hilang meski sudah menjalani tonsilektomi dan/atau adenoidektomi.

Para ahli merekomendasikan pemberian CPAP pada anak-anak yang setelah dilakukan tonsilektomi dan/atau adenoidektomi tetap saja masih mempunyai gejala OSAS. Atau, mesin CPAP digunakan sementara sambil menunggu tindakan tonsilektomi dan/atau adenoidektomi. Pada orang dewasa pun berlaku hal yang sama. Tetapi, bila dari awal menolak pembedahan, CPAP mutlak menjadi pilihan utama.

Apakah ada efek samping dari penggunaan mesin CPAP?

Banyak orang khawatir bahwa pemberian tekanan positif pada saluran pernapasan dapat menyebabkan paru-paru pecah. Namun jangan khawatir, CPAP memiliki kemampuan untuk menyesuaikan tekanan yang dibutuhkan tubuh hanya untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. Selain itu, dikembangkan pula jenis CPAP Autoset yang dapat melakukan peningkatan tekanan inspirasi secara bertahap sampai tercipta kenyamanan pasien.

Efek samping CPAP biasanya ringan dan berhubungan dengan kebocoran udara di sekitar selang masker. Keadaan ini dapat menyebabkan mata kering, konjungtivitis, iritasi hidung, dan ruam pada kulit. Tetes hidung dengan NaCl fisologis atau penggunaan sistem CPAP dengan menggunakan humidifer dapat mengurangi efek samping.

Apa tanda jika terapi CPAP Anda berhasil?

Kunci keberhasilan terapi CPAP adalah kepatuhan berobat yang dikombinasikan dengan persiapan yang baik, edukasi, dan pemantauan yang intensif. Tanda keberhasilan penggunaan CPAP antara lain:

  • Anda dapat tidur lebih baik
  • Anda merasa lebih segar pada waktu bangun tidur
  • Terjadi penurunan tekanan darah
  • Peningkatan dalam vitalitas dan motivasi diri
  • Peningkatan kinerja dalam bekerja dan pengendalian mood
  • Kualitas seks yang baik
  • Peningkatan kewaspadaan saat mengendarai kendaraan

Keberhasilan dari terapi ini sangat bergantung pada kepatuhan Anda untuk menggunakan alat tersebut, sehingga alat ini menjadi kurang efektif jika tidak digunakan secara teratur.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Teknik Latihan Pernapasan untuk Mengurangi Gejala Asma

Oang dengan asma memiliki saluran pernapasan yang menyempit dan meradang, latihan pernapasan yang benar bisa mengurangi gejala sesak yang sering timbul.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Asma, Health Centers 11/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Saat udara dingin, asma seseorang bisa lebih rentan kambuh. Apa yang menyebabkan hal ini? Apa kambuhnya asma berhubungan dengan alergi dingin?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Asma, Kesehatan Pernapasan 13/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Nyeri Dada saat Asma

Bagaimana cara mengatasi nyeri dada saat asma? Ketahui dulu penyebabnya, lalu coba dalami cara mengatasinya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Asma, Health Centers 16/02/2020 . Waktu baca 4 menit

Pentingnya Membersihkan Ruangan untuk Penderita Sakit Paru Kronis

Membersihkan ruangan dapat menjadi hal yang sedikit sulit untuk penderita PPOK. Namun jangan khawatir, berikut tips untuk bantu Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hidup Sehat, Tips Sehat 30/01/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

susu memicu asma

Benarkah Produk Susu Bisa Memicu Gejala Asma?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
dampak menghirup udara kotor

Tak Hanya di Luar, Udara Kotor di Dalam Ruangan Bisa Ganggu Sistem Pernapasan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 04/06/2020 . Waktu baca 6 menit
penyebab tidur berlebihan

Terus Mengantuk dan Ingin Tidur, Ini Berbagai Penyebab Anda Tidur Berlebihan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020 . Waktu baca 4 menit
penderita asma covid-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020 . Waktu baca 6 menit