home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenapa Sering Ngorok atau Mendengkur Saat Tidur? Ini Mungkin Penyebabnya

Kenapa Sering Ngorok atau Mendengkur Saat Tidur? Ini Mungkin Penyebabnya

Mendengkur alias ngorok adalah suara berisik dari pernapasan yang dikeluarkan saat tidur. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan saluran udara di tenggorokan atau hidung ketika tidur. Ngorok bisa dialami oleh siapapun sehingga biasanya tidak berbahaya. Namun, gangguan tidur serius seperti obstructive sleep apnea juga bisa menjadi penyebab ngorok.

Bagaimana ngorok bisa terjadi?

Ngorok atau mendengkur terjadi ketika Anda tidak dapat mengeluarkan udara secara bebas melalui hidung. Hal ini disebabkan adanya penyempitan saluran udara di sekitar tenggorokan ketika tidur.

Ketika tidur, otot di tenggorokan termasuk lidah juga akan mengendur. Lidah akan jatuh ke arah belakang dan saluran udara di tenggorokan akan menyempit.

Saluran udara yang menyempit menyebabkan udara memberikan tekanan lebih besar agar bisa terdorong ke luar.

Tekanan yang besar dari aliran udara membuat saluran udara bergetar dan menghasilkan suara kasar yang mengganggu.

Semakin menyempit saluran udara,maka akan semakin besar tekanan yang dibutuhkan untuk membangun aliran udara yang cukup. Semakin besarnya tekanan ini, maka suara ngorok pun akan semakin nyaring terdengar.

Penyebab mendengkur saat tidur

ngorok menyebabkan cepat tua

Meskipun menyempitnya saluran udara di tenggorokan saat tidur merupakan proses alami, tapi tidak semua orang mendengkur saat tidur.

Ngorok lebih umum dialami oleh orang berusia 30-60 tahun dan lebih banyak dialami oleh pria (44%) dibandingkan dengan wanita (28%).

Nah, beberapa kondisi dan masalah kesehatan tertentu memang bisa memicu gangguan ngorok ini. Menurut Mayo Clinic, berikut ini adalah penyebab ngorok terjadi saat tidur:

1. Anatomi tubuh

Penyebab pria cenderung lebih mudah ngorok saat tidur adalah karena memiliki jalur pernapasan di tenggorokan yang lebih sempit.

Laki-laki memiliki posisi kotak suara (laring) yang lebih rendah daripada perempuan.

Hal ini menyebabkan lebih besarnya ruang terbuka di tenggorokan.

Ruang yang lebih besar ini membuat jalan napas di tenggorokan menjadi semakin sempit.

Akibatnya, ketika tidur jalur napas menjadi bertambah sempit sehingga menghasilkan suara ngorok.

Di samping itu, bentuk rahang juga bisa memengaruhi terjadinya ngorok.

Bentuk rahang yang lebih menonjol dan tegas bisa mempersempit jalur udara saat tidur.

Beberapa kondisi lain yang memengaruhi bentuk tenggorokan dan hidung seperti sumbing, kelenjar gondok yang membesar, dan kelainan genetik juga bisa membuat seseorang lebih mudah untuk mendengkur saat tidur.

2. Kelebihan berat badan

Jaringan berlemak dan berkurangnya massa otot juga dapat menjadi penyebab Anda sering ngorok saat tidur.

Penumpukan lemak di sekitar leher bisa menekan saluran udara di tenggorokan ketika tidur sehingga menghalangi aliran udara.

3. Usia

Semakin bertambah usia Anda maka Anda mungkin semakin sering mendengkur saat tidur.

Penyebab orang yang lebih tua cenderung lebih mudah ngorok dikarenakan kondisi otot di saluran pernapasan yang mengendur seiring bertambahnya usia.

Otot saluran pernapasan yang kendur akan lebih rentan bergetar ketika dilalui oleh aliran udara. Akibatnya, lebih rentan untuk menghasilkan suara dengkuran.

4. Masalah pernapasan

Hidung tersumbat akibat penyakit seperti pilek, alergi, atau sinusitis bisa membuat Anda sulit bernapas karena menyebabkan peradangan di tenggorokan dan hidung.

Kondisi ini dapat menghambat aliran udara keluar dari hidung dan menimbulkan suara ngorok saat tidur.

5. Efek samping obat-obatan

Penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat menjadi salah satu penyebab kenapa Anda sering mendengkur saat tidur.

Obat penenang seperti lorazepam dan diazepam yang bekerja untuk merilekskan otot dapat mengakibatkan melemahnya otot di tenggorokan sehingga menimbulkan ngorok.

6. Konsumsi rokok dan alkohol

Kebiasaan mengonsumsi rokok dan alkohol dapat menjadi penyebab kenapa Anda ngorok saat tidur.

Efek konsumsi alkohol bisa mengendurkan otot-otot saluran pernapasan.

Pengenduran otot ini membuat saluran napas menjadi lebih tertutup dan aliran udara pun semakin sempit sehingga muncul suara dengkuran.

Sementara rokok bisa membuat iritasi jaringan di saluran pernapasan.

Kondisi itu akan menimbulkan peningkatan produksi lendir. Peningkatan ini yang selanjutnya menambah penyempitan dan penyumbatan saluran napas.

7. Obstructive sleep apnea (OSA)

Obstructive sleep apnea adalah kondisi terhentinya aliran udara saat tidur selama 10 detik sehingga menyebabkan penurunan aliran udara paling sedikit 30-50% dan penurunan kadar oksigen darah.

Pada OSA, jalan napas seseorang bisa mengalami penyumbatan total atau sebagian dan terjadi secara berulang saat tidur.

Akibatnya, aliran udara pun terhambat dan menyebabkan terjadinya ngorok saat tidur.

Sumbatan pada jalan napas ini bisa menyebabkan seseorang terbangun tiba-tiba. Gangguan tidur ini juga bisa disertai sensasi tercekik pada saat fase apnea (henti napas).

Kejadian apnea terjadi selama 10-60 detik dan OSA yang ekstrem dapat terjadi berulang setiap 30 detik. Namun, penyakit ini jarang terdeteksi bahkan oleh dokter sekali pun.

Padahal OSA dapat menyebabkan berbagai komplikasi berbahaya termasuk penyakit kardiovaskuler, sindrom metabolik, gangguan saraf, dan keseimbangan hormon.

Kapan sebaiknya perlu ke dokter?

Penyebab ngorok atau mendengkur saat tidur

Mendengkur sebenarnya adalah hal yang normal, tapi mesti diwaspadai apabila ternyata disebabkan oleh penyakit berbahaya, seperti obstructive sleep apnea.

OSA tidak menyebabkan suara dengkuran biasa. Suara ngorok yang merupakan gejala utama OSA sangat kencang bahkan sampai bisa membangunkan orang lain yang sedang tertidur lelap.

Tak jarang, OSA juga bisa menyebabkan seseorang ngorok sampai tersedak atau napasnya tersengal sehingga sangat membahayakan.

Oleh karena itu, Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter apabila sering mengalami ngorok yang disertai dengan gejala:

Selain itu, Anda yang mengalami OSA mungkin juga sering mengalami mulut kering, tidur tak nyenyak, sering terbangun di tengah tidur, dan mengeluarkan air liur (ngiler).

  • Mulut terasa kering
  • Tidur tak nyenyak karena sering terbangun
  • Mengeluarkan air liur saat tidur (ngiler)
  • Berhenti napas saat tidur
  • Mengantuk di siang hari yang berlebihan dari biasanya
  • Sakit kepala di pagi hari
  • Terbangun di pagi hari namun rasanya seperti belum beristirahat
  • Tekanan darah tinggi
  • Nyeri pada dada
  • Sering mual
  • Kesulitan untuk kosentrasi di siang hari
  • Suasana hati mudah berubah-ubah seperti gampang marah

Bagaimana dokter mendiagnosis penyebab ngorok?

Saat berkonsultasi ke dokter, selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengevaluasi riwayat kesehatan Anda.

Namun, apabila penyebab ngorok tidak diketahui dari pemeriksaan awal ini, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes untuk melihat bagian dalam tenggorokan dan hidung seperti CT Scan, MRI, endoskopi atau laringoskopi.

Jika dokter mencurigai bahwa penyebab utama dari gangguan mendengkur ini adalah sleep apnea, dokter kan melakukan tes:

  • In-lab overnight sleep study

Anda diminta untuk tidur di laboratorium dan dipasangkan alat pada beberapa bagian tubuh untuk mendeteksi dan mengukur gelombang otak, detak jantung, pernapasan, dan pergerakan tubuh.

  • Home sleep apnea test

Tes ini dilakukan di rumah saat Anda tidur dengan alat yang bekerja memonitor kondisi tubuh saat tidur.

Cara agar berhenti mendengkur saat tidur

Pengobatan untuk menghentikan kebiasaan ngorok saat tidur bergantung dari penyebab dan seberapa parah penyebabnya.

Pengobatan untuk ngorok yang diberikan dokter biasanya berupa obat tetes atau spray hidung untuk mengatasi penyumbatan atau obat untuk radang tenggorokan.

Dalam kondisi yang parah, pemasangan alat atau mesin di mulut dan hidung seperti continuous positive airway pressure (CPAP) bisa menjadi solusi.

Jika penyebabnya adalah OSA yang berkaitan dengan kondisi faring atau uvula, yaitu jaringan kecil yang menggantung di langit-langit mulu, mungkin diperlukan operasi.

Namun, biasanya perubahan gaya hidup berikut dapat membantu mengurangi atau bahkan menghentikan kebisaan mendengkur saat tidur.

  • Jika berat badan Anda berlebih, menurunkan berat badan merupakan cara yang tepat untuk berhenti ngorok.
  • Hindari minum-minuman yang mengandung alkohol sebelum tidur.
  • Berhenti merokok.
  • Tinggikan posisi kepala Anda dengan bantal saat tidur agar lidah Anda tidak menghalangi jalannya napas.
  • Tidur dengan posisi miring.

Ngorok atau mendengkur sebenarnya normal terjadi, tapi jika sampai menurunkan kualitas tidur dan diikuti gejala yang menghambat pernapasan bisa mengganggu dan berbahaya.

Namun, Anda masih bisa melakukan pengobatan dan perubahan gaya hidup untuk mengatasinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mayo Clinic. (2020). Snoring – Symptoms and causes. Retrieved 20 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/snoring/symptoms-causes/syc-20377694#:~:text=Snoring%20can%20be%20caused%20by,)%2C%20tongue%20and%20throat%20relax.

Mayo Clinic. (2020). Snoring – Diagnosis and treatment. Retrieved 20 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/snoring/diagnosis-treatment/drc-20377701

Sleep Foundation. (2020). Snoring & Sleep.  Retrieved 20 October 2020, from https://www.sleepfoundation.org/articles/snoring-and-sleep

Sleep Foundation. (2018). Common Causes of Snoring. Retrieved 20 October 2020, from https://www.sleepfoundation.org/articles/common-causes-snoring

Columbia University Department of Neurology. (2020). Snoring. Retrieved 20 October 2020, from https://www.columbianeurology.org/neurology/staywell/snoring

Kaur, S., Baslas, V., Aggarwal, H., Kumar, P., & Chand, P. (2015). Snoring: an annoyance or a serious health problem (obstructive sleep apnea)?. Indian journal of community medicine : official publication of Indian Association of Preventive & Social Medicine40(2), 143–144. https://doi.org/10.4103/0970-0218.153889

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 24/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.