home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Operasi Amandel (Tonsilektomi): Prosedur, Risiko, dan Perawatan Pasca Operasi

Operasi Amandel (Tonsilektomi): Prosedur, Risiko, dan Perawatan Pasca Operasi

Operasi amandel atau tonsilektomi adalah prosedur pengangkatan bagian amandel yang mengalami peradangan (tonsilitis). Operasi ini sering dilakukan pada anak-anak karena radang amandel yang berlangsung kronis atau kambuh berulang kali. Meskipun begitu, tidak semua kasus radang amandel membutuhkan operasi. Jika anak Anda hendak menjalani tonsilektomi, sebaiknya ketahui dengan baik seperti apa prosedur, efek samping, dan perawatan pasca-operasinya.

Apa itu tonsilektomi?

Operasi amandel dikenal juga dengan nama tonsilektomi bertujuan untuk mengobati tonsilitis atau peradangan pada amandel atau tonsil.

Pada kebanyakan kasus radang amandel dapat disembuhkan dengan antibiotik untuk radang tenggorokan. Namun, bila kondisinya memburuk dan menjadi kronis, pasien dianjurkan untuk menjalani operasi pengangkatan amandel.

Amandel sendiri adalah sepasang kelenjar yang terletak di belakang tenggorokan. Amandel merupakan bagian dari sistem imun sehingga dapat melawan infeksi virus dan bakteri yang masuk melalui mulut.

Oleh karena itu, amandel juga jadi lebih rentan mengalami infeksi oleh patogen tersebut saat sistem kekebalan tubuh sedang menurun. Ketika terinfeksi, amandel biasanya akan tampak kemerahan, bengkak, dan muncul rasa sakit pada tenggorokan.

Kapan operasi amandel harus dilakukan?

Pengobatan penyakit radang amandel tidak selalu membutuhkan operasi pengangkatan amandel. Tonsilektomi akan dianjurkan oleh dokter ketika tonsilitis terjadi berulang kali bahkan sampai membuat penderitanya kesulitan bernapas.

Menurut studi American Family of Physician, ada beberapa kondisi tertentu yang mengharuskan seseorang melakukan operasi pengangkatan amandel, yaitu:

  • Infeksi amandel terus menerus terjadi.
  • Penyebab masalah lain seperti sleep apnea, yaitu kelainan umum di mana suka berhenti bernapas berkali-kali dalam semalam.
  • Operasi akan dilakukan, kalau daerah sekitar amandel Anda terinfeksi dan membentuk kantong nanah, hal itu disebut abses peritonsil.
  • Dokter akan menyarankan pembedahan jika obat radang amandel tidak mampu lagi mengatasi bakteri.
  • Adanya tumor pada amandel, meskipun kondisi ini jarang terjadi.

Sebelum melakukan operasi, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menimbang pengaruh dari pengangkatan amandel terhadap perubahan kualitas hidup.

Contohnya, operasi amandel dilakukan karena radang amandel yang sering kambuh mengganggu kegiatan sekolah anak. Begitupun pada orang dewasa yang mungkin ingin melakukan tonsilektomi karena infeksi amandel berulang menyebabkan gangguan tidur yang menurunkan kualitas tidur mereka.

Bagaimana prosedur tonsilektomi dilakukan?

Tonsilektomi atau pengangkatan amandel dapat dilakukan dengan dua metode. Namun, metode yang lebih sering digunakan adalah diseksi diatermi bipolar. Metode ini dapat mengurangi risiko perdarahan pasca-operasi.

Metode diseksi diartemi bipolar dilakukan dengan menggunakan forcep elektris guna menutup pembuluh darah yang ada di antara amandel dan otot di sekitarnya. Kemudian, amandel akan diangkat satu persatu. Cara ini dilakukan untuk mengeluarkan amandel secara total dan memastikan tidak ada jaringan amandel yang tertinggal satupun.

Metode tonsilektomi lainnya lainnya adalah metode intrakapsular. Operasi amandel ini menggunakan probe elektris untuk memecah dan menghancurkan protein di jaringan amandel.

Probe tersebut, mengandung larutan garam yang dipanaskan dengan arus listrik, sehingga dapat menghancurkan kelenjar yang ada di lapisan amandel. Tonsilektomi intrakapsular tidak terlalu berisiko merusak otot dan pembuluh darah di sekitar amandel.

Efek samping dan perdarahan setelah operasi amandel

Setiap prosedur operasi pasti memiliki risiko tersendiri, begitu juga dengan tonsilektomi. Untuk mengurangi rasa sakit pasca-operasi, dokter biasanya akan memberikan obat perada nyeri seperti ibuprofen atau acetaminophen.

Efek samping yang umum terjadi usai operasi adalah perdarahan. Sementara jika berlangsung jangka panjang, bisa menyebabkan komplikasi penggumpalan darah di dalam pembuluh darah vena dalam (deep vein thrombosis atau DVT).

Nah, setelah melakukan operasi amandel, terkadang perdarahan masih terus terjadi. Perdarahan kecil ini umum terjadi tepat setelah operasi atau sekitar 1 minggu di masa pemulihan.

Ada dua jenis perdarahan yang dapat terjadi setelah operasi amandel, yaitu perdarahan primer dan sekunder. Jenis perdarahan ini dibedakan berdasarkan penyebab dan waktu berlangsungnya perdarahan.

1. Perdarahan primer

Perdarahan primer adalah jenis perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah operasi amandel. Perdarahan ini berhubungan dengan pembuluh arteri utama yang terhubung dengan amandel.

Jika jaringan di sekitar amandel tidak tertutup dengan sempurna oleh jahitan, maka ini akan memicu perdarahan pada pembuluh arteri. Kondisi ini biasanya dibarengi dengan muntah darah dan perdarahan dari mulut atau hidung.

2. Perdarahan sekunder

Jika perdarahan terjadi 24 jam setelah operasi amandel dilakukan, maka perdarahan ini disebut dengan perdarahan sekunder. Jenis perdarahan ini biasanya disebabkan oleh bekas jahitan yang lepas setelah operasi amandel.

Bekas jahitan memang akan mulai lepas 5-10 hari setelah operasi. Hal ini adalah proses yang normal dan umumnya menyebabkan sedikit perdarahan.

Ketika Anda menemukan air liur bercampur darah yang banyak, maka segera konsultasikan ke dokter. Waspadai tanda dan gejala perdarahan lainnya yang meliputi:

  • Keluar darah merah dari mulut atau hidung
  • Terasa menelan banyak darah, sehingga menyebabkan mulut terasa logam
  • Sering menelan
  • Muntah darah berwarna merah terang atau kecokelatan. Darah kecokelatan adalah darah tua yang bentuknya menyerupai bubuk kopi.

Penting untuk diwaspadai, perdarahan pasca-operasi yang berlangsung lebih dari 5 hari harus mendapat pertolongan darurat medis. Pasalnya, jaringan amandel terletak di dekat pembuluh arteri utama. Saat arteri terluka akan terjadi perdarahan besar dan berbahaya.

Seperti apa perawatan yang tepat setelah tonsilektomi?

mengobati amandel tanpa operasi

Jika Anda menemukan bercak darah kering dalam air liur kurang dari 5 hari setelah operasi, hal ini termasuk perdarahan ringan dan tidak perlu dikhawatirkan. Segera minum air putih yang banyak dan istirahat yang cukup untuk menghentikan perdarahannya.

Sebagai langkah awal, segera kumur-kumur dengan air dingin untuk membantu menghambat perdarahan. Selain itu, pastikan kepala Anda tetap dalam posisi yang lebih tinggi untuk mengurangi perdarahan.

Makanan yang baik dikonsumsi setelah operasi amandel

Selama pemulihan pasca-operasi amandel, tenggorokan Anda mungkin terasa sedikit kurang nyaman, sakit atau mungkin berdarah. Hal ini membuat tenggorokan sakit saat menelan makanan. Padahal Anda tetap harus mendapatkan asupan gizi yang mencukupi agar cepat sembuh.

Berikut adalah rekomendasi makanan yang baik dikonsumsi setelah operasi amandel untuk mempercepat pemulihan:

  • Es krim dan puding adalah makanan dingin bertekstur lembut yang dapat mengurangi rasa perih atau panas di tenggorokan. Keduanya juga membantu mencegah perdarahan pada bagian amandel yang dioperasi.
  • Air putih, jus apel, dan sup kaldu lebih mudah ditelan, membantu mengurangi rasa mual pasca operasi, dan memenuhi kebutuhan cairan sehingga mencegah risiko dehidrasi.
  • Telur orak-arik, kentang tumbuk, dan sayuran yang dimasak hingga lunak bisa dikonsumsi tanpa menambahkan banyak bumbu.

Makanan yang harus dihindari setelah operasi amandel

Untuk mempercepat pemulihan, hindari berbagai jenis makanan atau minuman yang memiliki tekstur keras, rasa asam, pedas, dan bersuhu panas.

  • Kacang, keripik, atau popcorn dapat mengiritasi lapisan tenggorokan dan memperparah rasa sakit pada bagian amandel yang dioperasi.
  • Makanan mengandung asam sitrat tinggi seperti tomat, jeruk, dan lemon bisa membuat tenggorokan terasa gatal dan sakit.
  • Minuman bersoda dapat memperparah rasa nyeri pada tenggorokan dan mengiritasi lapisan di sekitar amandel.

Jika ingin makan atau minum sesuatu yang panas, dinginkan dulu sampai suhunya hangat suam kuku. Pasalnya, suhu panas justru dapat memicu iritasi dan peradangan pada tenggorokan. Alih-alih membuat cepat sembuh, Anda malah harus menahan rasa sakit tenggorokan yang lebih parah saat makan.

Tonsilektomi diperlukan untuk mengatasi radang amandel yang sering kambuh sehingga menurunkan kualitas hidup penderitannya.

Prosedur ini efektif mengatasi gangguan tersebut, tapi tetap memiliki efek samping dan risiko komplikasi. Anda dapat mengurangi risiko komplikasi dengan mengikuti anjuran dari dokter untuk persiapan sebelum dan perawatan pasca-operasi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Baugh, R. F., Archer, S. M., Mitchell, R. B., Rosenfeld, R. M., Amin, R., Burns, J. J., … & Mannix, M. E. (2011). Clinical practice guideline: tonsillectomy in children. Otolaryngology–head and neck surgery144(1_suppl), S1-S30. https://doi.org/10.1177/0194599810389949

Randel, A. (2011). AAO-HNS Guidelines for Tonsillectomy in Children and Adolescents. American Family Physician, 84(5), 566-573. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2011/0901/p566.html

ENT Health. (2020). Post-Tonsillectomy Pain Management for Children: Education for Caregivers. Retrieved 7 October 2020, from https://www.enthealth.org/be_ent_smart/post-tonsillectomy-pain-management-for-children-education-for-caregivers/

Iowa Head and Neck Protocols. (2020). Tonsillectomy bleed (hemorrhage) management (post-tonsillectomy hemorrhage). Retrieved 7 October 2020, from https://medicine.uiowa.edu/iowaprotocols/tonsillectomy-bleed-hemorrhage-management-post-tonsillectomy-hemorrhage

Mayo Clinic. (2020). Tonsillectomy. Retrieved 7 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/tonsillectomy/about/pac-20395141

Cleveland Clinic. (2020). Tonsillectomy: Treatment, Risks, Recovery, Outlook. Retrieved 7 October 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/15605-tonsillectomy

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 07/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x