Menikah Ternyata Bisa Mengurangi Risiko Pasutri Terkena Demensia

Demensia adalah kumpulan gejala yang terjadi akibat penurunan fungsi kognitif otak yang disebabkan oleh kematian sel otak. Demensia menyebabkan hilang memori dan penurunan cara berpikir, sering disebut sebagai pikun, juga mengakibatkan perubahan kelakuan dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Saat ini lebih dari 48 juta orang di dunia mengalami demensia. Psst… Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko demensia pada pasangan suami-istri lebih rendah daripada orang yang hidup melajang. Kok bisa?

Risiko demensia menurun pada pasangan yang sudah menikah

Pada tahun 2050 diperkirakan penderita demensia meningkat hingga hampir 3 kali lipat. Dengan adanya kondisi ini, para peneliti berusaha mencari faktor risiko yang bisa diubah untuk memperlambat atau mengurangi risiko terjadinya demensia. Banyak studi yang menyebutkan bahwa menikah mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan. Tampaknya, penurunan risiko demensia menjadi salah satu manfaat menikah yang belum banyak dikupas tuntas.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Neurology, Neurosurgery and Psychiatry tahun 2017 menemukan bahwa risiko demensia pada orang-orang lajang 42% lebih tinggi daripada risiko pasangan suami-istri. Peningkatan risiko tersebut juga ditemukan pada wanita yang menjanda, bahkan setelah puluhan tahun hidup sendiri. Risiko demensia pada wanita yang sudah pernah menikah meningkat hingga 20 persen. Akan tetapi, janda yang menjadi partisipan dalam penelitian ini merupakan wanita yang suaminya telah meninggal. Pada wanita yang bercerai, tidak ditemukan perbedaan risiko.

Kenapa bisa begitu?

Pernikahan sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung pada risiko demensia. Orang yang menikah biasanya memiliki gaya hidup yang lebih sehat, karena ada pasangan yang mendorong untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Orang yang menikah juga lebih sering dan lebih baik dalam menjalani hubungan sosial. Menurut data, orang menikah memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menikah. Terlebih, kesehatan jasmani orang yang lajang biasanya lebih buruk.

Penjelasan lain yang bisa menjadi alternatif mengenai hubungan janda dan demensia yaitu stres akibat kehilangan orang yang dicintai akan mempercepat terjadinya demensia. Stres memiliki efek buruk pada demensia.

Namun, hasil penelitian ini tidak serta-merta berarti bahwa pernikahan adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya demensia. Hal yang lebih penting daripada sebuah pernikahan adalah kualitas hubungan antar kedua pasangan dari pernikahan itu sendiri, serta hubungan sosial yang baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Sementara itu, perubahan gaya hidup sehatlah yang memegang peranan vital terhadap pencegahan fungsi otak menurun akibat demensia.

Gaya hidup sehat membantu mencegah risiko demensia meningkat

Penyebab beberapa jenis demensia (terutama Alzheimer) masih belum diketahui dengan jelas. Jadi, beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya demensia vaskular (pembuluh darah) yaitu:

  • Diet sehat dan seimbang.
  • Olahraga teratur.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Tidak merokok.
  • Hindari minuman yang mengandung alkohol.

Itu artinya, baik orang yang single maupun yang sudah berkeluarga sebenarnya sama-sama berpeluang tinggi untuk mencegah risiko demensia apabila berhasil menjaga pola hidup sehat dan seimbang sepanjang hidupnya.

Baca Juga:

Sumber