Cara WNI yang Tersisa di Wuhan Menjaga Kesehatan dari Coronavirus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Reza, salah seorang mahasiswa yang masih berada di Wuhan, Tiongkok, terus berupaya menjaga kesehatannya di tengah wabah novel coronavirus. Bagaimana cara Reza tetap terhindar dari virus mematikan itu?

WNI di Tiongkok terisolasi di tengah wabah coronavirus

WNI di Tiongkok, wabah coronavirus

Sejak 23 Januari 2020, Wuhan dan 13 kota lainnya di Provinsi Hubei, China, diisolasi. Akses dari dan ke Wuhan dibatasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah 2019 novel-coronavirus

Pada awal Februari, pemerintah China akhirnya mengizinkan evakuasi warga negara asing oleh pemerintahnya. Warga negara asing yang bisa dievakuasi harus memenuhi syarat sehat termasuk suhu tubuh dalam kondisi normal. 

Penjemputan WNI di Tiongkok dilakukan pada Minggu (2/2). Sebanyak 238 warga negara Indonesia pulang ke Tanah Air. Mereka kemudian menjalani karantina di kompleks militer di Natuna, Kepulauan Riau, selama 14 hari sebelum dikonfirmasi bersih dari coronavirus.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

278,722

Terkonfirmasi

206,870

Sembuh

10,473

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Tapi Reza salah satu dari tiga mahasiswa Indonesia yang ditolak untuk ikut dalam rombongan evakuasi. Ia tidak lolos pemeriksaan thermal scanner, tubuh Reza berada di suhu 37,5 derajat celcius dan dinyatakan demam.

“Karena saat itu sedang gerah, jadi suhu tubuh ikut naik,” tutur Reza. 

Setelah itu Reza melakukan cek darah dan cek suhu tubuh selama lima kali setiap satu jam.  Di pengecekan kedua suhu tubuh Reza berhasil turun ke angka di bawah 37 derajat celcius, tapi pesawat sudah lepas landas. Reza gagal lari dari Wuhan. Ia lunglai meninggalkan Bandara Tianhe kembali ke asrama kampus.

WNI di Tiongkok menjaga kesehatan di tengah wabah coronavirus 

WNI di Tiongkok menjaga kesehatan di tengah wabah coronavirus

Wuhan sepi, di gedung asrama 6 lantai tempat Reza tinggal hanya tersisa 61 orang mahasiswa yang menempati. Mereka terdiri dari dua orang Indonesia, satu orang India, 11 orang Afrika Selatan, dan 47 orang Pakistan.

Sebagian toko-toko di Wuhan tutup, semua warga diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan dan tidak bepergian. 

Tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan Reza. Yang tersisa di pikirannya adalah menyusun strategi untuk ‘tetap sehat dan tetap waras’. Sebagai salah satu dari WNI di Tiongkok yang tidak ikut dievakuasi di tengah wabah coronavirus, Reza harus tetap tegar.

“Kondisi saat ini sehat, hanya saja sebenarnya yang paling terganggu itu tekanan mental,” tuturnya.

Untuk menjaga tetap waras dan semangat, Reza menghabiskan waktu dengan berolahraga ringan yang bisa ia lakukan di dalam ruangan seperti sit-up, push-up, pull-up.

“Pokoknya olahraga kecil yang bisa dilakukan di dalam ruangan, karena kalau tidak olahraga jadi sakit punggung,” katanya. “Selain olahraga kegiatan kami ya cuma baca buku, dengerin lagu, main games, baca buku lagi,” lanjutnya.’

Asupan nutrisi yang cukup

WNI di Tiongkok menjaga asupan nutrisi di tengah wabah coronavirus

Reza berusaha makan-makanan yang penuh vitamin. Sebetulnya ia lebih suka memasak makanannya sendiri, karena di kantin asrama lebih sering tersedia masakan lokal.

“Tapi justru lebih berisiko bila masak, kan mesti keluar belanja bahan makanan. Paling titip bahan makanan ke penjaga asrama kalau dia sedang keluar, itupun sesekali kalau sudah benar-benar bosan,” terang Reza.

Bosan dengan makanan lokal masih bisa ia tahan, selama makanan itu mencukupi kebutuhan nutrisinya dan bisa menjaga tubuhnya tetap sehat.

Cuci tangan menjadi salah satu rutinitasnya. Sebelum dan sesudah makan, setelah beraktivitas, pokoknya kebiasaan cuci tangan yang sering diabaikan kini menjadi keseharian. Selain itu, ia berusaha untuk tidak banyak beraktivitas di luar ruangan dan selalu memakai masker ketika keluar.

Kampus-kampus di Provinsi Hubei seharusnya sudah mulai memulai kegiatan belajar mengajar masa libur panjang. Tapi karena merebaknya wabah coronavirus maka kegiatan tersebut dialihkan secara online. 

Muhammad Arief, salah satu mahasiswa kedokteran di salah satu universitas di Provinsi Hubei mengatakan sudah memulai kuliahnya secara online sejak awal Februari. 

Menurut Arief, kondisi di Wuhan memang sudah waspada sejak tanggal 29 Desember 2019 saat pemerintah menghimbau masyarakat untuk makan seafood, tidak memakan sesuatu yang mentah, dan mengenakan masker ketika keluar.

Saat itu ia memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga di Indonesia. Ia berharap wabah ini segera berakhir, Reza dan WNI lainnya di Tiongkok bisa menjaga kesehatan dan bertahan di situasi yang sama di tengah wabah coronavirus.

Penularan coronavirus

penularan wabah coronavirus

Penularan coronavirus diduga mirip dengan SARS dan MERS, yaitu melalui tetesan pernapasan yang dapat menyebar di udara. 

Menurut CDC, jarak penularan coronavirus dari manusia ke manusia lainnya terjadi ketika berada di dekat orang yang terinfeksi, yaitu sekitar dua meter atau 6 kaki. Pada jarak tersebut kemungkinan tetesan pernapasan dapat langsung mengenai orang lain, misalnya saat batuk atau bersin.

Kemudian, tetesan air tersebut menempel di mulut atau hidung orang yang berada di dekat pasien dan terhirup ke paru-paru. 

Salah satu yang cukup penting adalah lama seseorang berdekatan dengan orang yang sudah terinfeksi. Jika berinteraksi dan berdekatan selama lebih dari 10 menit maka peluang tertularnya akan semakin besar.

“Waktu dan jarak sangat berpengaruh,” kata Direktur Medis Pengendalian Infeksi University of Chicago, Emily Landon.

Maka penting bagi Reza dan WNI yang masih berada di Wuhan untuk menjaga kesehatan dan betul-betul mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Menurut dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K), dokter spesialis paru di MRCCC Siloam Semanggi, virus perlu berada di benda hidup agar bertahan. Jadi ketika virus itu tidak menemui benda hidup atau menempel pada benda mati, maka kemungkinan selnya akan mati dalam waktu 15 menit.

Mengurangi risiko penularan infeksi coronavirus

kebersihan tangan mencegah coronavirus

WNI di Tiongkok di tengah wabah coronavirus khususnya dan masyarakat pada umumnya, perlu mengikuti prinsip-prinsip dasar untuk mengurangi risiko penularan infeksi coronavirus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya, sering mencuci tangan, terutama setelah berdekatan dengan orang sakit, jika batuk atau bersin, jauhi orang lain dan menutup mulut dengan tisu atau lengan. Selain itu, hindari kontak dengan hewan liar atau hewan ternak, menghindari konsumsi daging mentah, konsultasi ke dokter ketika merasa tubuh tidak sehat.

Jumlah kematian akibat infeksi coronavirus per Selasa (11/2) telah mencapai 1.018 orang. Sedangkan jumlah total pasien yang dinyatakan positif terinfeksi coronavirus telah mencapai 43.104 kasus. 

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memilih Jenis Masker yang Paling Efektif Menangkal Virus

Jenis masker untuk menjaga kesehatan Anda ada beragam. Lantas, apakah benar alat itu efektif menurunkan risiko penularan penyakit?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Hidup Sehat, Tips Sehat 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Perkembangan Terakhir Sejumlah Calon Vaksin COVID-19

WHO mencatat ada 167 calon vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan di berbagai negara di seluruh dunia. Vaksin mana yang paling menjanjikan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 16 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Happy hypoxia adalah gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui dan dinyatakan sebagai salah satu gejala berat yang membahayakan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 7 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus-kasus Pasien COVID-19 Sembuh yang Terinfeksi Dua Kali, Kok Bisa?

Pria 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret. Apakah kekebalan terhadap infeksi kedua tidak terbentuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 3 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
risiko indonesia menjadi episentrum, penularan covid-19 saat konser pilkada 2020

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
kacamata penggunaan sehari hari pandemi covid-19

Penularan COVID-19 dalam Aktivitas Sehari-hari, dari Makan Hingga Berenang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 4 menit