Hewan Penyebab Novel Coronavirus Disinyalir Adalah Ular

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Ular disinyalir jadi hewan penyebab awal penyebaran munculnya Novel coronavirus di Wuhan, Tiongkok. Hal ini diungkapkan oleh sebuah sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada 22 Januari 2020. Bagaimana penjelasannya?

Novel coronavirus kemungkinan berasal dari ular

pembekuan darah

Dalam Journal of Medical Virology, disebutkan bahwa ular merupakan hewan yang kemungkinan menjadi penyebab merebaknya Novel coronavirus. Kesimpulan ini diperoleh lewat hasil analisis terhadap urutan genetik dari Novel coronavirus yang dibandingkan dengan 200 lebih coronavirus lain dari seluruh dunia yang menginfeksi sejumlah binatang. 

Temuan para peneliti mengungkapkan bahwa 2019-nCov merupakan rekombinasi dari dua coronavirus, yakni bat coronavirus dan satu lagi coronavirus yang belum dikenali. Tidak hanya itu, studi ini juga mengungkapkan bahwa hasil rekombinasi genetik 2019-nCoV mempunyai perubahan pada salah satu protein virusnya.

Protein virus tersebut mengenali dan mengikat reseptor pada sel inang dan bisa membuat virus memasuki sel dan mengubah protein. Para peneliti kemudian menyimpulkan, perubahan protein tersebut mungkin memengaruhi kemampuan coronavirus untuk menginfeksi manusia dari tubuh ular. 

Menurut para peneliti, ada dua tipe jenis ular yang biasanya muncul di kawasan Tiongkok tenggara termasuk kota Wuhan, yakni ular krait dan ular kobra. Selain itu, ular ini juga banyak ditemukan di Taiwan, Tiongkok bagian tengah dan selatan, serta Hongkong.

Hasil studi ini langsung dikiritik oleh para peneliti lainnya. Dilansir nature, para pakar virus yang tidak terlibat dalam penelitian ini menyebutkan bahwa mereka masih meragukan hasil studi ini. Mereka sangsi jika coronavirus bisa benar-benar menginfeksi ular.

Ular Dijual Bebas di Wuhan

Para peneliti yang mengungkap kaitan ular sebagai hewan penyebab Novel coronavirus menilai pasar ikan Huanan di kota Wuhan, Tiongkok, bisa menjadi sumber penyebaran virus tersebut. Kesimpulan ini didapatkan karena pasar ikan Huanan juga menjual sejumlah hewan liar secara bebas.

Selain itu, pasar dengan banyak hewan hidup yang tidak menjaga kebersihannya, apalagi jika dicampur dengan perdagangan satwa liar ilegal, akan meningkatkan peluang bagi virus untuk tersebar pada manusia.

Tidak hanya kegiatan jual-beli satwa liar, menjadikan dagingnya sebagai santapan pun sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat di Wuhan. Mulai dari sop ular, burung merak, burung unta, hingga anjing, semua bisa ditemukan di sana. Bahkan, Washington Post melaporkan, hewan-hewan itu bisa langsung dimasak di tempat dengan pilihan menu yang berbeda.

Hampir sebagian besar orang yang melakukan kontak fisik dengan satwa liar berpotensi terkena Novel coronavirus. Belakangan setelah wabah melanda, pedagang daging di sana menutup sejumlah keterangan hewan liar di toko mereka.

Ular bukan hewan pertama yang menjadi penyebab coronavirus

Meski hewan yang menjadi penyebab penularan Novel coronavirus di kota Wuhan adalah ular, virus korona sendiri sudah ditemukan sejak tahun 1960. Coronavirus merupakan jenis virus zoonosis, artinya virus ini berasal dari hewan yang lalu ditularkan ke manusia.

Virus zoonosis masih menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan masyarakat, termasuk Novel coronavirus yang sedang merebak satu bulan belakangan ini. Berbagai penyakit seperti SARS, MERS, dan ebola yang telah ditemukan di tahun-tahun sebelumnya juga menjadi wabah global yang membuat masyarakat was-was.

Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait dengan virus zoonosis, hewan yang termasuk ke dalam kelompok mamalia dan burung memiliki potensi yang lebih besar dalam menyebarkan wabah penyakit. Bahkan, hewan mamalia sendiri mengandung 320.000 virus yang belum semuanya terdeteksi. Kisaran inang yang dimiliki virus dari hewan tersebut juga lebih luas.

Fakta ini semakin diperkuat dengan adanya temuan kelelawar sebagai hewan yang menjadi tuan rumah dari virus penyebab penyakit SARS dan tidak menutup kemungkinan bahwa kelelawar juga menjadi sumber Novel coronavirus.

Kelelawar adalah mamalia dari ordo Chiroptera yang dapat ditemukan di seluruh belahan dunia, kecuali Arktik, Antartika, dan beberapa pulau samudera. Hewan ini merupakan satu-satunya mamalia yang memiliki kemampuan terbang.

Kelelawar adalah inang tempat berkumpulnya berbagai mikroorganisme yang dapat menyebabkan berbagai penyakit serius pada manusia. Keberadaannya yang mudah ditemukan di daerah perkotaan membuat kontak manusia dengan hewan ini menjadi lebih dekat.

Penularan mikroorganisme dalam koloni kelelawar didukung oleh perilaku hewan tersebut yang senang berkumpul ramai-ramai dalam satu sarang. Kelelawar dapat menularkan infeksi melalui inang perantara dengan banyak cara. Salah satunya, kebiasaan kelelawar yang sering menyisakan makanan yang nantinya jatuh ke tanah dan dikonsumsi hewan lain.

Dari sanalah penuyebarab infeksi terjadi. Jika hewan tersebut melakukan kontak dengan manusia, bukan mikroorganisme yang berasal dari kelelawar tadi juga akan menular ke manusia. Sedangkan penyebaran secara langsungnya bisa disebabkan dari konsumsi daging kelelawar yang terinfeksi dan terkena gigitan seperti kasus rabies.

Jika bercermin pada penyebaran virus Novel coronavirus yang baru terjadi, konsumsi daging hewan kelelawar dapat menjadi penyebab seseorang terinfeksi virus yang dapat menimbulkan penyakit pneumonia tersebut.

Hewan Penular Coronavirus Sebelumnya

Seperti yang sudah dijelaskan, penyebaran virus dengan kelelawar sebagai inang primer juga terjadi pada penyebaran tipe coronavirus sebelumya yaitu SARS dan MERS.

Berdasarkan keterangan WHO, virus SARS-CoV pertama kali diidentifikasi di Tiongkok pada tahun 2003. Penyakit ini ditularkan dari musang yang sudah terinfeksi dari kelelawar ke manusia. Lalu ada MERS-CoV yang pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada 2012 datangnya berasal dari unta dromedaris.

Kedua penyakit tersebut kemudian menyebar ke seluruh dunia dan memakan korban sampai beratus-ratus jiwa.

Ada beberapa coronavirus lain yang sudah diidentifikasi di sejumlah hewan, namun sampai saat ini tidak menginfeksi manusia.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 24, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 31, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca