Bagaimana Kasus COVID-19 di Korea Selatan Bisa Melonjak Drastis?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 yang berawal dari Wuhan, Tiongkok, kini telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara, termasuk Korea Selatan. Menurut WHO per tanggal 20 Februari 2020, jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan berkisar 104 kasus. Namun, angka tersebut terus meningkat hingga berkali-kali lipat.

Melonjaknya jumlah kasus di Korea Selatan ini membuat masyarakat semakin waspada dan bertanya-tanya, apa yang menyebabkan peristiwa ini terjadi? 

Bagaimana kasus COVID-19 di Korea Selatan meningkat drastis?

coronavirus covid-19 flu babi

Sampai saat ini (24/2), jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan mencapai 763 kasus. Di antara ratusan kasus tersebut, infeksi virus ini telah menelan sekitar 7 korban jiwa. Namun, jumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 pun tidak sedikit, yaitu 17 orang. 

Peningkatan jumlah kasus secara drastis ini tentu terjadi bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penularan COVID-19 di Korea Selatan terjadi begitu cepat. 

Salah satu kasus infeksi virus SARS-CoV-2 di Korea Selatan yang menyita perhatian dunia adalah ditemukannya superspreader di sebuah gereja daerah Daegu, Korea Selatan. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

27,549

Terkonfirmasi

7,935

Sembuh

1,663

Meninggal Dunia

Superspreader merupakan seseorang yang tanpa sengaja menginfeksi orang lain melalui kontak sekunder. Akan tetapi, tingkat penularan yang dilakukan oleh superspreader lebih tinggi dibandingkan orang biasa, sehingga jumlah kasus infeksi virus meningkat dengan cepat. 

Di Korea Selatan terdapat superspreader yang menginfeksi virus sekitar 37 orang di gereja. Superspreader tersebut diidentifikasi sebagai seorang wanita berusia 61 tahun. 

Awalnya, wanita yang disebut sebagai “pasien-31” ini menghadiri gereja bernama Shincheonji of Jesus Temple di Daegu, Korea Selatan, dan menghadiri empat kebaktian gereja. Kunjungan ke gereja tersebut dilakukan sebelum ia didiagnosis mengidap COVID-19

Walaupun wanita tersebut mengalami gejala COVID-19, seperti demam dan flu, ia menolak melakukan pemeriksaan terkait infeksi SARS-CoV-2. 

mengatasi batuk berdahak

Sampai saat ini, dia dan 37 anggota gereja lainnya dinyatakan positif menderita COVID-19 dan 52 jemaat lainnya menunjukkan gejala, tetapi belum diujicobakan. 

Ketidaktahuan tersebut membuat peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan melonjak drastis. Pemerintah Korea Selatan pun menyebutkan bahwa fenomena ini disebabkan oleh superspreader karena seorang wanita dapat menularkan infeksi kepada puluhan orang. 

Para ahli memperkirakan bahwa saat ini satu orang yang terinfeksi virus rata-rata dapat menyebarkan infeksi kepada 2,2 orang lainnya. Maka itu, peristiwa infeksi virus di gereja di Daegu ini disebut-sebut disebabkan oleh superspreader

Apa itu istilah superspreader?

coronavirus tanpa gejala

Sebelumnya, kasus superspreader COVID-19 tidak hanya terjadi di Korea Selatan, melainkan juga di Inggris. Seorang warga Inggris tanpa sadar terinfeksi COVID-19 saat menghadiri konferensi di Singapura. 

Kemudian, ia melanjutkan perjalanan ke Perancis dan akhirnya menginfeksi lima warga Inggris dengan virus SARS-CoV-2. Sejak saat itu, warga negara Inggris ini dikaitkan dengan satu kasus COVID-19 di Spanyol dan lima kasus tambahan di Inggris. 

Peningkatan kasus di negaranya sendiri membuatnya disebut sebagai superspreader. Hal ini dikarenakan warga Inggris tersebut tidak sengaja menginfeksi beberapa orang dengan penyakit yang mirip SARS ini. 

Menurut Mashina Jutani, MD, spesialis penyakit menular dari Yale Medicine kepada Health, fenomena ini dapat terjadi meskipun cukup langka. Pada beberapa kasus penyakit menular tertentu, sekelompok kecil individu sering bertanggung jawab atas sebagian besar penularan. 

infeksi menular mematikan / penyakit menular mematikan

Bahkan, beberapa orang dapat lebih mudah menularkan penyakitnya kepada orang lain. Apabila terdapat 20% orang yang terinfeksi, biasanya terdapat 80% orang yang bertanggung jawab atas peristiwa ini. 

Walaupun demikian, belum ada faktor pasti yang menyebabkan seseorang menjadi superspreader. Hal ini dikarenakan banyak orang bepergian ke negara yang terinfeksi dan terpapar oleh sekian ribu orang lainnya. 

Teori yang paling masuk akal terkait kasus COVID-19 di Korea Selatan dan Inggris ini adalah adanya koinfeksi dari penyakit lainnya. Koinfeksi merupakan infeksi simultan oleh dua virus. 

Sebagai contoh, ketika seseorang terinfeksi influenza dan COVID-19, tingkat penularannya menjadi lebih tinggi. Akibatnya, superspreader melepaskan lebih banyak agen infeksi kepada orang lain. 

gejala dan komplikasi coronavirus

Sikap pemerintah Korea Selatan terhadap kasus COVID-19

karantina adalah

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan, pemerintah setempat akhirnya menaikkan status wabah ini menjadi siaga satu. Artinya, pihak berwenang melakukan beberapa upaya pencegahan darurat, seperti karantina kota yang terkena dampak dan membatasi perjalanan dalam negeri.

Selain itu, gereja yang bersangkutan juga telah menutup semua fasilitasnya secara nasional per tanggal 20 Februari 2020. Bahkan, walikota Daegu, Korea Selatan juga mengimbau agar tetap berada di rumah jika menunjukkan gejala COVID-19. 

COVID-19 Bisa Dihadapi dengan Meratakan Kurva Pandemi, Apa Maksudnya?

Maka itu, sejumlah fasilitas publik, seperti perpustakaan dan sekolah pun ditutup sebagai langkah mengurangi risiko terjadinya penularan dari orang lain. 

Sementara itu, beberapa negara seperti Amerika Serikat melalui laman kedutaan besar di Korea Selatan mengimbau warganya untuk mempertimbangkan pergi ke negara di Asia. 

barak karantina coronavirus

Bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan dengan kapal pesiar pun perlu menyadari, banyak negara yang sudah menerapkan pemeriksaan kesehatan yang cukup ketat. Selain itu, penyebaran virus di kapal pesiar pun dikabarkan terjadi dengan cepat, sehingga disarankan untuk tidak melakukan perjalanan laut dalam waktu dekat. 

Imbauan ini telah dikeluarkan beberapa negara yang memiliki riwayat perjalanan cukup sering, baik ke Korea Selatan maupun Tiongkok. Dengan begitu, risiko penularan COVID-19 pun dapat dikurangi. 

Peningkatan kasus COVID-19 di Korea Selatan mungkin dapat menjadi pelajaran bahwa ketika mengalami gejala terkait wabah coronavirus, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Hal ini sebagai salah satu upaya agar tidak terjadi komplikasi dari COVID-19 dan tidak menularkannya kepada orang lain. 

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Allyn, B. (2020). Officials Scramble To Contain Coronavirus Outbreaks In South Korea, Iran And Italy. Retrieved 24 February 2020, from https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2020/02/23/808631806/officials-scramble-to-contain-coronavirus-outbreaks-in-south-korea-iran-and-ital

Groth, L. (2020). A Coronavirus 'Super-Spreader' May Have Infected At Least 11 People With the Virus—Here's How That Happens. Health. Retrieved 24 February 2020, from https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus-super-spreader

Lanesse, N. (2020). ‘Superspreader’ in South Korea infects nearly 40 people with coronavirus. Live Science. Retrieve 24 February 2020, from https://www.livescience.com/coronavirus-superspreader-south-korea-church.html

U.S Mission Korea. (2020). Health alert: increase of COVID-19 cases in the Republic of Korea (ROK). US Embassy & Consulate in the Republic of Korea. Retrieved 24 February 2020, from https://kr.usembassy.gov/022120-health-alert-increase-of-covid-19-cases-in-the-republic-of-korea-rok/

Yang juga perlu Anda baca

Potong Rambut di Salon Saat COVID-19 Ada Aturannya, Lho!

Pelonggaran aturan PSBB sudah mulai direncanakan. Sejumlah salon dan tempat cukur pun mulai dibuka. Amankah potong rambut di salon saat COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/06/2020

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Makan di luar rumah kini menjadi hal yang tidak biasa saat pandemi COVID-19. Lantas, amankah jika sekarang makan di restoran?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/06/2020

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Berbeda dengan kebanyakan negara, Swedia justru mengandalkan herd immunity untuk melawan COVID-19. Apakah cara ini berhasil?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 29/05/2020

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Bukan hanya kejenuhan yang melanda, ternyata saat-saat karantina di rumah juga bisa berdampak pada berat badan Anda yang naik.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 29/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Panduan Mempersiapkan Diri untuk Cegah Penularan COVID-19 di Tempat Kerja

Panduan Mempersiapkan Diri untuk Cegah Penularan COVID-19 di Tempat Kerja

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
Bagaimana Jika Sekolah Dibuka Selama Pandemi COVID-19?

Bagaimana Jika Sekolah Dibuka Selama Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
Perhatikan Penggunaan Disinfektan yang Baik Agar Aman dan Efektif Cegah Penyebaran Virus

Perhatikan Penggunaan Disinfektan yang Baik Agar Aman dan Efektif Cegah Penyebaran Virus

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi?

Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020