Bagaimana Proses Sebuah Kota Menjalani Karantina Terkait COVID-19?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia, pasien ini diketahui bertempat tinggal di Kota Depok, Jawa Barat. Dengan tertularnya dua orang ini apakah pemerintah akan melakukan karantina kota untuk mencegah penularan COVID-19?

Beberapa saat setelah diumumkannya kasus positif COVID-19 di Indonesia, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Jawa Barat dalam kondisi siaga satu. Masyarakat berbondong-bondong berbelanja segala kebutuhan. Dari masker, alat kebersihan, hingga bahan makanan.

Selain untuk berhati-hati tertular COVID-19, mereka juga membeli bahan makanan karena khawatir akan adanya lockdown atau karantina kota. Namun bagaimana sebenarnya syarat sebuah kota dikarantina? Pengalaman dari kota-kota di negara lain mungkin bisa jadi gambaran.

Bagaimana proses karantina kota yang terpapar COVID-19?

karantina kota COVID-19

Wabah COVID-19 adalah patogen baru yang sangat menular, dapat menyebar dengan cepat, dan dampaknya bukan hanya pada kesehatan tapi juga dianggap mampu menyebabkan dampak ekonomi dan sosial yang besar.

Penelitian dan pemahaman tentang wabah COVID-19 masih terus berkembang. Namun pemahaman yang belum selesai ini juga menuntut kesiapsiagaan luar biasa dari pemerintah dalam menangani dan menghalau COVID-19.

Sejak merebaknya wabah COVID-19, hingga Senin (3/3) Indonesia telah memeriksa 339 orang suspek, yang dua diantaranya telah dinyatakan positif.  Sesuai arahan dari WHO, walau baru dua kasus terkonfirmasi, Indonesia harus memasang alarm keras untuk mencegah penularan lebih banyak.

Saat ini tim Kementerian Kesehatan masih dalam proses tracking, melacak jejak orang-orang yang berkontak langsung pasien positif COVID-19Pemerintah belum merasa perlu untuk melakukan karantina Kota Depok, tempat dimana ditemukan pasien positif COVID-19

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Anung Sugihantono, mengatakan hingga kini belum ada arahan untuk melakukan isolasi wilayah. Belum ada indikator resmi yang dikeluarkan otoritas kesehatan terkait karantina kota saat terjadi wabah. 

Namun negara-negara yang dengan penyebaran wabah COVID-19 parah ada yang sudah memutuskan untuk melakukan karantina kota. Hal tersebut dilakukan berdasarkan kebijakan masing-masing negara. Jumlah indikasi korbannya pun berbeda-beda.

Berikut negara-negara yang memutuskan melakukan karantina kota atau lockdown:

Italia karantina 11 kota untuk mencegah COVID-19 

karantina kota COVID-19

Italia mengumumkan untuk melakukan karantina kota pada Jumat (23/2). Keputusan ini dilakukan pemerintah Italia setelah angka kasus positif COVID-19 mencapai 100 pasien. 

Italia memutuskan melakukan karantina pada 11 kota. Yakini Codogno, Castiglione d’Adda, Casalpusterlengo, Fombio, Maleo, Somaglia, Bertonico, Terranova dei Passerini, Castel Gerundo, dan San Fiorano  di Provinsi Lombardy dan Vo’ Euganeo di Provinsi Veneto.

Pemerintah Italia mengatakan ini adalah langkah mendesak untuk menghentikan penyebaran wabah lebih luas lagi.

Dengan dilakukannya isolasi pada kota-kota ini maka akses dari dan ke sana dibatasi sangat ketat. Orang-orang diminta untuk tetap di dalam rumah.

Sebagai tindakan lanjutan, pemerintah Italia mengatakan sedang mempertimbangkan “langkah luar biasa” untuk memerangi virus corona setelah kematian dua warga negara.

Kasus positif COVID-19 di Italia telah meningkat drastis, per selasa (3/3) total kasus mencapai 2036 dengan korban 52 orang korban meninggal. Beberapa kota-kota lain di Italia juga membatalkan acara-acara festival tahunan seperti Karnaval Venesia dan beberapa festival lainnya.

Korea Selatan menutup Kota Daegu 

Daegu Korea Selatan

Penyebaran wabah COVID-19 ke Korea Selatan termasuk salah satu yang paling mengejutkan. COVID-19 menyebar dengan cepat di Korea Selatan dan kasusnya meningkat drastis dalam beberapa hari saja. 

Pada 20 Februari total kasus positif COVID-19 di Korea Selatan berjumlah 104, angka itu meningkat berkali-kali lipat empat hari kemudian menjadi 700 kasus. Dengan di antaranya tujuh korban meninggal.

Pemerintah Korea Selatan menaikkan status wabah menjadi siaga satu. Upaya pencegahan penyebaran COVID-19 langsung dilakukan salah satunya dengan melakukan karantina kota Daegu. 

Sejumlah fasilitas publik, seperti perpustakaan dan sekolah pun ditutup, semua orang diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan.

Daegu adalah kota yang pertama kali dideteksinya kasus positif COVID-19 di Korea Selatan.  Di sini ditemukan superspreader di sebuah gereja daerah Daegu, Korea Selatan. Tingkat penularan yang dilakukan oleh superspreader lebih tinggi dibandingkan orang biasa, sehingga kasus positif COVID-19  meningkat cepat. 

Sebagian besar kasus berpusat di sekitar Gereja Shincheonji Yesus, sebuah sekte keagamaan di kota selatan Daegu.

Saat ini total kasus COVID-19 yang menginfeksi di Korea Selatan mencapai 5186, dengan di antaranya 28 orang korban jiwa dan 34 orang sudah dinyatakan sembuh, sedangkan sisanya masih dalam perawatan.

Tiongkok Menutup Akses Kota Wuhan 

karantina kota COVID-19 WUHAN

Kota Wuhan sebagai pusat utama penyebaran wabah COVID-19 menjadi yang pertama melakukan langkah karantina kota. Wuhan tertutup dari dunia luar, akses dari dann ke Wuhan dibatasi. 

Warga negara asing yang mau keluar dari Wuhan harus dievakuasi oleh pemerintahnya dengan melalui prosedur ketat, termasuk Indonesia.

Ini menjadi pertama kalinya sepanjang sejarah modern satu negara mengunci 11 juta orang dalam satu kota. Media-media memberi sebutan “Wuhan Lockdown”.

Kota-kota di sekitar Wuhan juga melakukan isolasi kota seperti yang dilakukan Kota Wenzhou dan Zhejiang. Kota ini hanya mengizinkan satu orang dalam satu keluarga untuk keluar rumah, itu pun dibatasi per dua hari.

Respons ini dipuji WHO, mereka menyebut kebijakan ini bahkan di luar pedomannya Tiongkok sendiri, tapi merupakan keputusan cepat tanggap yang baik.

Tiongkok juga dengan sigap menyusun pengaturan rantai transmisi layanan kesehatan dalam beragam pengaturan dari kota-kota besar hingga ke kabupaten terpencil.

WHO juga meminta apa yang telah dijalani Tiongkok dalam menghadapi COVID-19 bisa dijadikan pelajaran bagi negara lain.

“Langkah-langkah Tiongkok dalam mengambil langkah tanpa kompromi dan keras untuk menahan penularan virus COVID-19 adalah pelajaran penting untuk global” tulis WHO dalam laporan WHO -China Joint Mission COVID-19.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 5, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 31, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca