Panduan WHO Soal Penyebaran Informasi Kondisi Pasien COVID-19

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Maraknya pemberitaan terkait kronologi hingga informasi pribadi tentang pasien COVID-19 ternyata menimbulkan dampak psikologis bagi mereka. Bagaimana tidak, wabah yang telah menyebabkan sekitar 90.000 kasus secara global ini sedang disorot oleh masyarakat, terutama di Indonesia. Lalu, bagaimana seharusnya aturan menyebarkan informasi pasien COVID-19?

Berhati-hati ketika menyebarkan informasi pasien COVID-19

persiapan wabah COVID-19

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat dua WNI di Indonesia yang dinyatakan positif terkena COVID-19. Kabar berita yang sempat membuat masyarakat gempar pada Senin (2/3) ini disebarkan melalui media sosial, tayangan berita, dan platform lainnya. 

Mulai dari kronologi pasien berkontak dengan penderita COVID-19 dari Jepang hingga informasi pribadi tersebar di dunia maya. Tidak sedikit dari berita-berita tersebut yang mengungkapkan kabar hoaks, alias bohong dan ternyata menimbulkan dampak psikologis bagi pasien. 

Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:

  • COVID-19 adalah penyakit baru dan masih banyak hal yang belum diketahui
  • Manusia takut pada hal yang belum diketahui
  • Rasa takut mudah dikaitkan dengan orang lain, sehingga menimbulkan rasa takut

menyikapi berita hoax dan negatif

Ketiga faktor tersebut akhirnya menyebabkan stereotip yang berbahaya, yaitu takut terhadap pasien COVID-19. Padahal, ketakutan tersebut mungkin muncul dari berita atau kabar yang menggunakan pemilihan kata yang menakuti mereka, sehingga terbentuk stereotip seperti itu. 

Akibatnya, stereotip berbahaya tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mendiskriminasi kelompok tertentu dan dalam kasus ini adalah pasien COVID-19. Berikut ini beberapa dampak yang dihasilkan dari salah memilih kata ketika menyebarkan informasi terkait wabah penyakit. 

  • mendorong orang menyembunyikan penyakit karena takut mengalami diskriminasi
  • mencegah orang sakit mendapatkan perawatan dengan segera
  • mengurangi keinginan orang untuk menjalani perilaku sehat

Siapa sangka bahwa pemilihan kata dalam menyebarkan informasi, terutama terkait informasi pasien COVID-19 dapat berdampak cukup besar terhadap masyarakat?

Maka itu, usahakan untuk selalu memperhatikan berita yang diterima, apakah hoaks atau bukan sebelum menyebarkannya kepada orang lain dan menambah kepanikan.

Aturan menyebarkan informasi terkait pasien COVID-19

ponsel penyebab kebutaan

Sebenarnya, WHO telah mengeluarkan panduan dalam menyebarkan informasi wabah COVID-19, terutama terkait kondisi pasien. 

Panduan ini dibuat untuk mencegah beredarnya stigma dan rasa takut tentang penyakit menular, sehingga menghambat respons. Maka itu, pemerintah diminta untuk membangun kepercayaan pada layanan kesehatan yang bisa diandalkan, menunjukkan empati terhadap pasien, dan memahami penyakit tersebut. 

Menulis atau cara berkomunikasi tentang COVID-19 ternyata cukup penting agar orang lain dapat menerapkan tindakan efektif dalam memerangi penyakit. Selain itu, komunikasi juga diperlukan agar rasa takut dan stigma terhadap pasien tidak terlalu buruk. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menyebarkan informasi tentang wabah penyakit COVID-19 agar tidak menimbulkan citra buruk pada pasien, seperti:

1. Pemilihan kata

menghilangkan rasa iri akibat media sosial

Salah satu aturan yang penting dalam menyebarkan informasi tentang wabah COVID-19, terutama soal pasien yang terjangkit adalah pemilihan kata. 

Kata-kata mungkin tidak dapat mengubah kenyataan, tetapi bisa mengganti cara orang memandang fakta dan melihat dunia di sekitarnya. Satu dua patah kata dapat membuat perbedaan yang cukup besar antara menyukai dan membenci orang tersebut. 

Pada saat membicarakan COVID-19, kata-kata tertentu, seperti pasien suspek dan isolasi mungkin memiliki bagi sebagian orang. Akibatnya, muncul stereotip negatif, memperkuat hubungan palsu antara penyakit dengan faktor lain, seperti ras, dan menyebarkan ketakutan

menghadapi covid-19

Tidak sedikit masyarakat yang terpapar dari salah memilih kata ini untuk tidak memeriksakan diri ke dokter atau menjalani karantina di rumah ketika sakit. Kata-kata kemudian menjadi sangat penting, terutama ketika menyebarkannya di media sosial. 

Maka itu, WHO kemudian mencoba membuat aturan menyebarkan informasi terkait COVID-19 agar tidak muncul stigma buruk terhadap pasien dan orang sekitarnya. 

Memilih penyebutan penyakit

nama baru coronavirus

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memilih penyebutan penyakit dalam menyebarkan informasi terkait wabah dan pasien COVID-19 adalah nama penyakitnya. 

Sebelum COVID-19 disebut sebagai nama resmi, tidak sedikit media yang menyebut wabah ini sebagai virus Wuhan, virus Asia, atau virus China. Padahal, penggunaan nama ras atau negara tertentu dalam penyebutan nama penyakit tidak diperbolehkan karena dapat menimbulkan stereotip dan stigma buruk. 

Menggunakan istilah yang sudah ditetapkan

mitos coronavirus

Selain penyebutan nama penyakit, istilah tertentu terkait pasien COVID-19 pun perlu diperhatikan saat menyebarkan informasi kepada orang lain. 

Sebaiknya, Anda menggunakan istilah pasien pada orang yang terkena COVID-19. Penggunaan kata korban atau mengaitkan mereka dengan kasus COVID-19 ternyata tidak disarankan. 

Selain itu, WHO juga menganjurkan untuk memakai kata ‘mendapatkan’ dan ‘terjangkit’ bagi pasien yang terkena penyakit. Hal ini bertujuan agar pemakaian kata ‘menyebarkan’ atau ‘menginfeksi’ terdengar menyalahkan pasien dan merusak simpati kepada mereka. 

Akibatnya, hal tersebut memicu keengganan masyarakat untuk menerima perawatan hingga menjalani karantinaOleh karena itu, pemilihan kata ketika menyebarkan informasi terkait penyakit dan pasien COVID-19 cukup penting karena berpengaruh terhadap banyak hal. 

2. Menyebarkan fakta

menyikapi berita hoax dan negatif

Menyebarkan informasi tentang COVID-19, terutama informasi pribadi pasien kepada masyarakat luas tentu perlu didukung oleh data yang dapat dipercaya. 

Memberikan kabar atau berita yang kurang lengkap bisa menyebabkan kesalahpahaman. Semua jenis kabar berita seputar COVID-19 yang dasar hingga penting, seperti penularan, pengobatan, dan cara mencegah infeksi virus cukup penting bagi masyarakat. 

Usahakan untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan kurangi penggunaan istilah medis. Umumnya, media sosial menjadi tempat yang cukup populer untuk mengambil informasi kesehatan karena gratis dan diakses oleh setiap orang. 

Maka itu, menyebarkan informasi berdasarkan fakta yang ada, terutama di media sosial, ternyata sangat bermanfaat. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan kepanikan terhadap berita yang belum dipastikan kebenarannya. 

3. Berkomunikasi dengan baik

pengaruh media sosial

Rumor dan informasi tentang penyakit serta kondisi pasien COVID-19 yang salah ternyata lebih cepat menyebar dibandingkan berita dari lembaga resmi. Kondisi ini pun akhirnya berujung pada mendiskriminasi masyarakat yang berasal dari daerah yang terkena dampak wabah, seperti Tiongkok. 

Oleh karena itu, diperlukan cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat, terutama ketika Anda sering memberikan berita di media sosial. Bagaimana caranya?

Salah satu hal yang perlu Anda ingat ketika menyebarkan informasi seputar wabah penyakit yang sedang menyedot perhatian dunia adalah mempromosikan tindakan pencegahan. 

Kemudian, jangan lupa untuk membagikan cerita-cerita yang menjelaskan perjuangan seseorang atau kelompok yang terkena COVID-19. Entah itu tenaga kesehatan di pusat wabah atau mendukung pasien yang sedang dalam proses penyembuhan. 

Intinya, dalam menyebarkan informasi tentang wabah dan pasien COVID-19 ada tiga hal yang perlu diingat, kata-kata, fakta, dan simpati. 

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 5, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 31, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca