Bisakah Masker Kain Buatan Sendiri Memperlambat Penyebaran Coronavirus?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Baru-baru ini, CDC mengeluarkan pernyataan bahwa sebaiknya menggunakan masker, entah itu masker kain atau masker bedah, ketika bepergian ke luar rumah. Imbauan ini dikeluarkan mengingat jumlah kasus terinfeksi COVID-19 yang semakin meningkat dan angka korban yang meninggal pun ikut melonjak. Maka itu, banyak orang yang akhirnya membuat sendiri masker dari kain untuk mencegah penularan coronavirus. 

Pertanyaannya, masker kain seperti apa yang mampu mencegah penularan penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini?

Membuat masker kain dapat mencegah coronavirus, asalkan…

masker

Efek coronavirus (COVID-19) terhadap sebagian orang memang menimbulkan dampak yang cukup serius. Baik bagi lansia hingga orang dewasa dengan penyakit kronis tertentu. 

Terlebih lagi, adanya kabar yang beredar bahwa droplet atau percikan air liur dari penderita COVID-19 dapat bertahan di udara. Hal ini akhirnya membuat semua orang semakin waspada.

Tidak sedikit dari pasien positif coronavirus yang tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, virus yang ada di dalam tubuhnya masih dapat menginfeksi orang lain. 

Awalnya, CDC menganjurkan bahwa penggunaan masker hanya ditujukan pada orang sakit dan petugas kesehatan yang merawat pasien positif. Namun, gejala COVID-19 semakin beragam dan mirip dengan penyakit lain membuat para ahli berpendapat bahwa sudah saatnya untuk mengenakan masker saat keluar rumah. 

Tantangan selanjutnya pun muncul, yaitu jumlah permintaan masker membuatnya cukup langka. Bahkan, tidak sedikit orang yang memanfaatkan situasi ini untuk menyimpan stok masker yang mereka beli dan menjualnya dengan harga selangit. 

Oleh karena itu, masyarakat tidak memiliki pilihan lain, yakni membuat sendiri masker kain untuk mencegah penularan coronavirus. Akan tetapi, banyak dari Anda yang mungkin bertanya-tanya, bagaimana membuat masker yang dapat mengurangi risiko penularan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Sebenarnya, Anda bisa memproduksi masker kain yang dibuat dari barang-barang yang ada di rumah atau bahan umum lainnya. Menurut dr. Benjamin LaBrot, profesor pendidikan kedokteran di University of Southern California kepada Healthline, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat masker. 

Ia menjelaskan bahwa sarung bantal yang tebal atau dua lapis kain flanel dapat menyaring partikel udara hingga 60 persen. Anda bisa menguji kain yang akan dibuat menjadi masker dengan cahaya, untuk melihat seberapa baik bahan dapat disaring. 

Cobalah untuk memegang kain sambil memperlihatkannya ke cahaya. Apabila anda dapat melihat cahaya melalui kain, kemungkinan bahan tersebut tidak terlalu baik untuk menyaring partikel udara. Di sini Anda bisa melihat, semakin tebal dan padat suatu kain, semakin bagus kualitas penyaringannya. 

Kain lainnya untuk membuat masker mencegah coronavirus

Tidak hanya kain flanel atau katun, ada bahan kainnya yang bisa menjadi pilihan dalam membuat masker untuk mencegah coronavirus. 

Sebagai contoh, filter HEPA dapat digunakan sebagai penyaring yang dipakai untuk memperlambat penyebaran virus. Selain itu, bahan Quilt yang memiliki jumlah benang yang banyak juga dapat menyaring partikel kecil hingga 80 persen. 

Walaupun demikian, menggunakan masker kain yang lebih tebal dan padat tentu akan menimbulkan masalah, terutama ketika dipakai dalam waktu yang lama. 

Pertama, Anda mungkin akan kesulitan bernapas. Lalu, penggunaan filter udara pada masker yang dibuat dari fiberglass atau serat kaca ternyata tidak selalu aman digunakan untuk bernapas. 

Oleh karena itu, ketika Anda ingin membuat masker kain untuk mencegah penularan coronavirus, selalu perhatikan bahan yang digunakan. 

Bagaimana masker kain melindungi dari coronavirus?

Menurut American Lung Association, satu dari empat orang yang terinfeksi COVID-19 mungkin akan menunjukkan gejala ringan hingga tidak ada sama sekali. Menggunakan masker kain ketika berada di dekat orang lain ternyata membantu menyaring partikel yang dapat dikeluarkan saat batuk dan bersin. 

Hal tersebut bisa terjadi tanpa sengaja, termasuk saat berbicara. Membuat dan menggunakan masker kain dapat memperlambat penyebaran coronavirus. Terlebih ketika Anda tidak mengetahui bahwa tubuh sudah terinfeksi. 

Maka itu, jenis masker kain tidak dimaksudkan untuk melindungi pemakainya, melainkan agar tidak terjadi penularan yang tidak diinginkan. 

jenis masker

Bisakah masker kain dicuci dan digunakan kembali?

Membuat masker kain untuk mencegah coronavirus ternyata bukan hal yang sia-sia. Tidak seperti masker bedah yang hanya dapat digunakan sekali, masker kain ternyata bisa dicuci dan digunakan kembali. 

Setiap kali Anda pergi ke luar, masker ini harus rutin dicuci tergantung pada frekuensi penggunaan. Bahkan, Anda bisa menggunakan mesin cuci untuk membersihkan masker ini. 

Dengan begitu, Anda bisa membantu memperlambat penyebaran coronavirus melalui masker kain yang dibuat sendiri. 

Membuat dan menggunakan masker kain untuk mencegah coronavirus memang menjadi pilihan alternatif yang cukup baik. Akan tetapi, jangan lupa untuk melakukan upaya mencegah COVID-19 lainnya, seperti tidak perlu keluar rumah jika tidak perlu, mencuci tangan dan menjaga jarak 2-3 meter dari orang lain.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kebiasaan mencuci tangan covid-19

Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit