Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejauh ini belum ditemukan obat-obatan khusus untuk melawan virus di tubuh pasien COVID-19. Maka dari itu, para ahli mencoba berbagai upaya untuk mendapatkan obat yang ampuh mengobati COVID-19. Salah satu temuan dari studi tersebut adalah antibodi dari pasien SARS dikabarkan dapat untuk melawan virus COVID-19.

Antibodi SARS untuk melawan COVID-19

laboratorium coronavirus

Pada kasus tertentu, antibodi atau kombinasi dari sejumlah antibodi bisa berfungsi sebagai pengobatan infeksi virus baru atau mencegah virus pada orang yang berisiko tinggi. Peluang tersebut akhirnya digunakan oleh tim peneliti untuk menggali perkembangan antibodi monoklonal yang menetralkan virus. 

Menurut penelitian dari Nature, terdapat antibodi yang ditemukan dalam sampel darah pasien yang telah pulih dari SARS dikabarkan dapat melawan virus corona, termasuk COVID-19. Antibodi yang disebut sebagai S309 ini sebenarnya telah dipelajari sebelum pandemi COVID-19 merebak. 

Di dalam penelitian tersebut, para ahli mencoba bereksperimen dengan 25 jenis antibodi yang berbeda. Kemudian, mereka mencoba menargetkan antibodi tersebut terhadap lonjakan spesifik pada virus untuk melihat apakah terdapat jenis antibodi untuk mencegah sel terinfeksi COVID-19. 

Pasalnya, seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa baik SARS dan virus yang menyebabkan COVID-19 berasal dari payung yang sama, yaitu coronavirus. Virus yang diduga berasal dari hewan ini disebut memiliki struktur yang serupa. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

257,388

Terkonfirmasi

187,958

Sembuh

9,977

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Hasilnya, para peneliti berhasil mengidentifikasi delapan antibodi yang disebut dapat mengikat COVID-19 dan sel yang terinfeksi. Salah satu kandidat yang cukup menjanjikan dikenal sebagai S309 dan terbukti dapat menetralisir coronavirus COVID-19. 

Para ahli mulai mencoba menggabungkan S309 dengan antibodi lainnya yang dianggap kurang kuat. Kemudian, gabungan antibodi tersebut digunakan untuk menargetkan tempat yang berbeda pada lonjakan protein virus. Dengan demikian, antibodi dapat mengurangi risiko virus untuk bermutasi.

Walaupun penelitian antibodi SARS dapat melawan COVID-19 belum diujicobakan pada manusia, temuan tersebut membuka jalan pengobatan lain dalam mengatasi COVID-19. Bahkan, terapi antibodi ini juga kemungkinan besar dapat mengurangi risiko infeksi virus pada kelompok yang berisiko, seperti lansia dan pasien dengan riwayat penyakit kronis.

COVID-19

Mengapa antibodi penting untuk melawan virus?

Selain digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus COVID-19 di tubuh, antibodi juga diperlukan untuk melawan infeksi, baik SARS maupun jenis virus corona lainnya. 

Antibodi atau imunoglobulin (Ig) merupakan protein khusus yang berikatan dengan antigen dan bisa ditemukan pada permukaan patogen, seperti bakteri atau virus. Umumnya, antibodi dibuat oleh limfosit B yang merupakan sel darah putih khusus dan berasal dari sistem kekebalan tubuh. 

Pada dasarnya antibodi terdiri atas berbagai macam dengan fungsi yang berbeda-beda pula, yaitu:

  • immunoglobulin A (IgA): berperan dalam munculnya alergi
  • immunoglobulin E (IgE): digunakan untuk pemeriksaan awal alergi
  • immunoglobulin G (IgG): melindungi tubuh dengan menghafal patogen yang pernah masuk
  • immunoglobulin M (IgM): antibodi pertama untuk melawan infeksi saat tubuh terserang infeksi

Limfosit atau sel B ini mempunyai antibodi pada permukaan sel, sehingga memungkinkan antibodi untuk mendeteksi benda asing. Pada saat berhasil menemukan patogen, sel B akan berubah menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi agar dapat berikatan dengan antigen khusus dengan patogen tersebut.

Eksperimen Tes Antibodi, Metode Lain Mendeteksi COVID-19

Kemudian, sel plasma akan melepaskan antibodi dalam jumlah besar ke sirkulasi tubuh agar tubuh terlindungi dengan dua cara. 

Pertama, antibodi dapat berikatan dengan antigen di luar bakteri atau virus agar berhenti masuk ke sel-sel tubuh. Pasalnya, ketika patogen berhasil masuk ke sel tubuh Anda memudahkan mereka untuk memperbanyak diri hingga membuat tubuh sakit. Apabila sel berhenti masuk ke sel, tentu risiko terkena penyakit pun berkurang. 

Kedua, antibodi juga dapat bekerja dengan mengikat antigen pada patogen. Kemudian, antibodi memberi sinyal sel darah putih lainnya (fagosit) untuk menghancurkan patogen. Intinya, antibodi diperlukan untuk menetralkan virus dan menandainya agar dapat dihancurkan. 

Maka dari itu, temuan antibodi pasien SARS dapat digunakan untuk melawan COVID-19 cukup penting mengingat belum ada obat khusus untuk mengobati penyakit pernapasan ini. Terlebih lagi, informasi tentang antibodi COVID-19 dapat membantu peneliti merancang vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi virus.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Daftar Imunisasi Anak yang Harus Diulang

Pemberian imunisasi lengkap pada bayi sangat diperlukan untuk melindunginya dari penyakit. Bahkan, ada imunisasi yang harus diulang pemberiannya. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Anak, Parenting 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
risiko indonesia menjadi episentrum, penularan covid-19 saat konser pilkada 2020

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
dampak jangka panjang covid-19

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit