home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 Astrazeneca

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 Astrazeneca

Kementerian Kesehatan mengungkap ada dua warga DKI Jakarta meninggal dunia setelah vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin Astrazeneca bets atau batch CTMAV547. Namun belum diketahui apakah KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) ini terkait dengan vaksinasi Astrazeneca atau bukan.

Tidak semua KIPI terkait dengan vaksin, bisa saja seseorang mengalami penyakit serius yang berakibat fatal tetapi kebetulan terjadi setelah ia mendapatkan vaksin COVID-19. Saat ini para ahli menekankan bahwa semua jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia sudah dipastikan keamanannya.

KIPI vaksinasi COVID-19 Astrazeneca

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) <a data-event-category=Vaksin COVID-19 Astrazeneca” width=”640″ height=”360″ srcset=”https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2021/05/0f1bf06a-vaksin-covid-19-astrazeneca-kipi.jpg 640w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2021/05/0f1bf06a-vaksin-covid-19-astrazeneca-kipi-400×225.jpg 400w, https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2021/05/0f1bf06a-vaksin-covid-19-astrazeneca-kipi-107×60.jpg 107w” sizes=”(max-width: 640px) 100vw, 640px” />

Salah satu warga DKI Jakarta yang meninggal setelah vaksinasi COVID-19 ini adalah pemuda berusia 21 tahun bernama Trio Fauqi Firdaus. Trio melakukan vaksinasi di GBK pada Rabu (5/5/2021) pukul 13.30. Ia tidak mengalami gejala apapun selama 30 menit masa observasi KIPI setelah disuntikan vaksin Astrazeneca.

Setelah itu, Trio kembali ke tempat kerjanya di Pegadaian Cibubur. Tapi sampai di kantor ia mengeluh tidak enak badan dan diizinkan untuk pulang. Trio tidak menghubungi kontak yang tertera di kartu vaksinasi karena berniat untuk berobat ke dokter umum. Namun rencananya tersebut batal karena dokter langganan Trio sedang tidak praktik.

Semakin malam demamnya semakin tinggi, hingga ia pingsan di pagi hari ketika sedang dipijat. Pemuda 21 tahun itu dilarikan ke rumah sakit di Rawamangun dan dinyatakan meninggal dunia saat kedatangan (death on arrival).

Menurut hasil investigasi sementara Komnas KIPI, riwayat penyakit Trio bukan menjadi penyebab kematian. Kondisinya yang meninggal dunia ketika tiba di rumah sakit juga membuat tim kekurangan data untuk mengetahui penyebab kematiannya karena belum sempat mendapatkan pemeriksaan seperti pemeriksaan darah, CT scan, dan pemeriksaan lain.

Komisi Nasional (Komnas) KIPI, BPOM, dan organisasi terkait lainnya masih melakukan investigasi apakah KIPI serius ini terkait dengan vaksin COVID-19 Astrazeneca atau tidak.

Sejauh ini belum ada cukup bukti untuk mengetahui penyebab kematian dua warga DKI apakah terkait vaksin atau bukan. Oleh karena itu pengujian toksisitas dan sterilitas vaksin perlu dilakukan. Uji toksisitas dan sterilitas dilakukan pada batch (kelompok produksi) CTMAV547 untuk memastikan vaksin pada batch tersebut tidak terkontaminasi zat berbahaya.

“Pedoman WHO itu menyebut kalau ada KIPI serius pada batch yang sama harus diuji sterilitas dan toksisitasnya,” kata Ketua Komnas KIPI, Prof. dr. Hindra Irawan Satari Sp.A(K)., MTropPaed, dalam wawancaranya di acara Sapa Malam, Kompas TV, Senin (17/5).

Sampai investigasi selesai dilakukan, penggunaan vaksin Astrazeneca batch CTMAV547 dihentikan sementara. Sedangkan vaksinasi dengan vaksin Astrazeneca batch lainnya masih bisa terus berjalan.

Kasus kelumpuhan setelah vaksinasi dinyatakan tidak terkait vaksin

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 Astrazeneca

Selain kasus di DKI Jakarta yang masih diinvestigasi, KIPI serius juga dialami seorang guru bernama Susan yang mengalami kelumpuhan setelah vaksinasi dengan vaksin Astrazeneca. Perempuan berusia 30 tahun ini mengalami kelumpuhan dan gangguan penglihatan setelah menerima dosis kedua vaksinasi.

Dari hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Susan didiagnosis mengalami Guillain-Barre Syndrome atau Sindrom Guillain-Barre (GBS). GBS adalah kondisi langka yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sistem saraf, menyebabkan kelemahan otot dan bisa mengakibatkan kelumpuhan. GBS dapat menyebabkan gejala yang berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa tahun. Kebanyakan orang sembuh total, tetapi beberapa mengalami kerusakan saraf permanen.

Penyebab penyakit GBS belum diketahui. Pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan infeksi bakteri Campylobacter Jejuni menjadi sebab yang paling umum terjadi. Selain itu seseorang juga dapat mengalami GBS setelah beberapa infeksi lain, seperti flu, cytomegalovirus, dan virus Zika. Pada kasus yang sangat jarang, GBS bisa terjadi beberapa hari atau minggu setelah menerima vaksin tertentu.

Penelitian menemukan bahwa kemungkinan vaksinasi memicu GBS sangat kecil. Sebagai contoh, sebuah studi tentang vaksin yang digunakan selama wabah flu babi 2009 menemukan bahwa hanya terdapat kurang dari 2 kasus tambahan sindrom Guillain-Barre pada setiap juta orang yang mendapatkan vaksinasi. Banyak bukti menunjukkan, seseorang lebih mungkin terkena GBS dari infeksi, seperti flu, daripada vaksin yang dirancang untuk mencegah infeksi.

Ketua Komnas KIPI mengatakan, apa yang dialami Susan tidak terkait dengan vaksinasi COVID-19 Astrazeneca.

Dikutip Reuters (7/5/2021), Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) juga sedang menganalisis kasus KIPI sindrom Guillain-Barre yang terjadi setelah menerima vaksin COVID-19 Astrazeneca. Namun tidak menyebutkan berapa jumlah kasus yang terjadi.

Penghentian vaksinasi Astrazeneca di beberapa negara karena kasus pembekuan darah

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 Astrazeneca

Kasus langka tapi berpotensi fatal terkait vaksin COVID-19 Astrazeneca telah dilaporkan oleh beberapa negara.

Denmark

Maret 2021, Denmark menyetop permanen penggunaan vaksin Astrazeneca setelah menemukan KIPI serius berupa pembekuan darah.

Kanada

Setelah beberapa kasus pembekuan darah terkait vaksin COVID-19 Astrazeneca, pemerintah Kanada memutuskan menggunakan vaksin ini hanya pada kelompok usia di atas 55 tahun. Namun belakangan mereka kembali mempertimbangkan penggunaannya pada kelompok di atas 30 tahun.

Inggris dan Korea Selatan

Inggris dan Korea Selatan adalah dua negara yang memberlakukan penggunaan vaksin Astrazeneca hanya untuk kelompok usia 30 tahun ke atas.

Swedia

Swedia sempat menghentikan sementara penggunaan vaksin Astrazeneca setelah ada 10 kasus KIPI pembekuan darah dan 1 kasus trombosit rendah. Setelah investigasi, pemerintah Swedia memutuskan kembali menggunakan vaksin buatan Inggris ini hanya untuk kelompok usia di atas 65 tahun.

Belanda

Belanda juga mencatat 10 kasus efek samping serius terkait vaksinasi COVID-19 dengan vaksin Astrazeneca, termasuk kasus pembekuan darah. Penggunaan vaksin ini di Belanda terbatas untuk kelompok usia 60 tahun ke atas.

Penggunaan vaksin COVID-19 Astrazeneca hanya untuk kelompok usia 60 tahun ke atas juga berlaku di Jerman, Irlandia, Italia, dan Spanyol.

Pemerintah menjamin keamanan vaksin COVID-19 yang didatangkan ke Indonesia

Catatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 Astrazeneca

“Pemerintah hanya ingin menyediakan jenis vaksin yang aman. Semua vaksin yang dipilih sudah melewati serangkaian uji klinis dari berbagai lembaga terkait,” kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19, Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, dalam Keterangan Pers penjelasan KIPI terkait vaksin COVID-19 Astrazeneca dan COVAX Facility, Selasa (30/3/2021).

Nadia menjelaskan, semua vaksin COVID-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional dipilih berdasarkan rekomendasi para ahli. Vaksin tersebut juga telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam kesempatan yang sama Ketua ITAGI, Profesor Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan KIPI pembekuan darah terkait vaksin Astrazeneca jarang terjadi. Angka kejadian pembekuan tanpa vaksinasi memang yang terjadi cukup tinggi dan tidak ada peningkatan signifikan karena program vaksinasi COVID-19.

Ia menekankan manfaat vaksin COVID-19 jauh lebih besar dibanding dengan efek samping yang terjadi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulis
Ditulis oleh Ulfa Rahayu pada 19/05/2021
x