Coronavirus Penyebab COVID-19 Sempat Disebut Virus Buatan, Ini Faktanya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Tiongkok sempat berang usai beberapa media dunia menyebutkan bahwa coronavirus penyebab COVID-19 adalah virus buatan. Sebelumnya, ilmuwan dari dua universitas terkemuka di India juga mengungkapkan hal serupa. Virus bernama resmi SARS-CoV-2 itu diduga dari protein dalam Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Perdebatan ilmuwan tentang asal muasal coronavirus bukan pertama kali ini terjadi. Terlebih lagi, wabah COVID-19 yang kini merebak disebabkan oleh jenis coronavirus yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Lantas, apakah virus penyebab COVID-19 bersifat alami atau justru buatan? Apa perbedaan antara kedua jenis virus tersebut?

Coronavirus penyebab COVID-19 bukan virus buatan

laboratorium coronavirus

Akhir Januari lalu, beberapa ilmuwan dari New Delhi, India, mengamati susunan genetik SARS-CoV-2 yang saat itu masih dikenal sebagai 2019-nCoV. Kemudian, mereka membandingkannya dengan susunan genetik HIV dan menemukan banyak kemiripan.

Para ilmuwan tersebut percaya bahwa kemiripan itu tidak mungkin muncul secara acak. Hasil temuan ini pun menimbulkan keyakinan bahwa coronavirus penyebab COVID-19 adalah virus buatan yang sengaja dirancang dari susunan genetik HIV.

Beberapa pekan kemudian, dua peneliti dari Tiongkok juga menerbitkan artikel tentang asal-usul COVID-19. Mereka berspekulasi bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kebocoran laboratorium milik Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wuhan serta Institut Virologi Wuhan.

Pasalnya, kelelawar yang diduga menjadi pembawa SARS-CoV-2 hidup di habitat yang berjarak ratusan kilometer dari tempat awal munculnya virus. Selain itu, laboratorium yang diamati oleh kedua peneliti tersebut juga sangat dekat dengan Kota Wuhan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

27,549

Terkonfirmasi

7,935

Sembuh

1,663

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Namun, dugaan coronavirus penyebab COVID-19 adalah virus buatan disanggah oleh sejumlah pihak. Ari Allyn-Feuer, ahli bioinformatika dari Amerika Serikat, mengambil tiga poin dari studi yang dilakukan di India tersebut. Berikut tiga poin yang ia bahas:

1. Susunan genetik SARS-CoV-2 tidaklah langka

Susunan genetik SARS-CoV-2 memang beda dari tipe coronavirus lain yang menjadi kerabatnya, tetapi perbedaan ini sama sekali tidak unik ataupun langka. Sebaliknya, perbedaan susunan genetik antara dua tipe virus sejenis cukup umum ditemukan.

2. Susunan genetik yang cocok sangat pendek

Susunan genetik SARS-CoV-2 yang disebut-sebut mirip dengan HIV sangat pendek dan ditemukan pada lebih dari satu bagian virus. Susunan genetik yang terlalu pendek tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk membandingkan virus.

3. Ada bagian dari susunan genetik HIV yang hilang dari SARS-CoV-2

Susunan genetik HIV memiliki sifat-sifat biologis yang unik. Jika SARS-CoV-2 dirancang dari HIV, sifat-sifat tersebut seharusnya ada pada SARS-CoV-2. Namun, para peneliti justru tidak menemukan sifat biologis HIV pada SARS-CoV-2. Sifat biologis yang dimiliki SARS-CoV-2 tetap mirip dengan coronavirus pada umumnya.

Kemiripan antara susunan genetik HIV dan coronavirus penyebab wabah COVID-19 tidak membuktikan bahwa virus tersebut adalah buatan. Malahan, kemiripan antara dua virus memang bisa terjadi secara acak dan ini merupakan peristiwa alamiah.

SARS-CoV-2 justru lebih mirip dengan coronavirus yang terdapat pada kelelawar. Virus ini 79-96% mirip dengan coronavirus penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan 50% mirip dengan coronavirus penyebab MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Penelitian tahun 2015 dalam jurnal Nature Medicine pun pernah menyebutkan bahwa virus SARS yang ada pada kelelawar berpotensi menyebabkan wabah di masa depan. Tidak menutup kemungkinan, wabah yang dimaksud adalah COVID-19 yang kini merebak.

gejala dan komplikasi coronavirus

Apa beda virus alami dengan virus buatan?

Virus adalah parasit mikroskopis yang berukuran sangat kecil. Berbeda dengan bakteri yang bisa bertahan hidup sendiri, virus harus menginfeksi sel inang untuk bertahan. Ini sebabnya virus berada di tengah-tengah kategori makhluk hidup dan benda mati.

Virus kerap dianggap sebagai musuh karena parasit tak kasat mata ini sering memicu penyakit. Beberapa penyakit akibat virus yang berdampak besar bagi manusia antara lain flu burung, Ebola, SARS, dan COVID-19 yang kini menginfeksi puluhan ribu orang.

Akan tetapi, virus tidak selalu bersifat merugikan. Banyak peneliti di dunia melakukan modifikasi pada virus untuk mengambil manfaatnya. Modifikasi tersebut menghasilkan virus buatan yang bermanfaat, tidak terkecuali untuk mengatasi wabah coronavirus.

Perbedaan terbesar antara virus alami dan buatan terletak pada susunan genetik dan sifatnya. Virus alami dapat ditemukan di lingkungan, terutama pada binatang. Susunan genetiknya sama dengan virus sejenisnya dan tidak berubah kecuali terjadi mutasi.

Teknik Pernapasan Tertentu Bisa Meredakan Gejala Coronavirus?

Sementara itu, susunan genetik virus buatan mungkin sudah diubah, ditambahkan, atau dipotong sesuai tujuan penelitian. Dengan cara ini, para ilmuwan dapat mengendalikan virus untuk tujuan tertentu.

Secara umum, virus alami dapat bertahan lebih lama karena memiliki tempat di alam. Virus alami biasanya tidak bisa dihilangkan sama sekali dan hanya dapat dikendalikan dampaknya. Hal ini berkebalikan dengan sifat virus buatan.

Virus buatan tidak memiliki tempat di alami sehingga tidak mampu bertahan lama. Sekalipun terdapat penyakit akibat virus buatan, upaya pencegahan dan penanganan dapat memusnahkan virus meski akan memakan waktu lama.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Tercatat ada puluhan bayi tertular COVID-19 di Indonesia. Seberapa besar risiko bayi baru lahir untuk terinfeksi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 28/05/2020

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Selain mendeteksi keberadaan COVID-19 di tubuh, antibodi dapat digunakan untuk melawan virus terutama pasien yang pulih dari SARS. Apa hubungan keduanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 28/05/2020

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggunakan disinfektan

Perhatikan Penggunaan Disinfektan yang Baik Agar Aman dan Efektif Cegah Penyebaran Virus

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi

Bagaimana Sesi Konseling Bersama Psikolog dan Psikiater Selama Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
potong rambut salon covid-19

Potong Rambut di Salon Saat COVID-19 Ada Aturannya, Lho!

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
makan di luar rumah saat pandemi

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020