home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenali Perbedaan PCO dan PCOS, Penyakit pada Reproduksi Wanita

Kenali Perbedaan PCO dan PCOS, Penyakit pada Reproduksi Wanita

Meskipun namanya sangat mirip, PCO dan PCOS adalah dua kondisi yang berbeda. Yuk, kenali lebih jauh tentang dua kondisi ini dan bagaimana perbedaan PCO dan PCOS melalui penjelasan berikut!

Pengertian PCO dan PCOS

infeksi jamur vagina

PCO dan PCOS adalah kondisi medis yang sama-sama terjadi pada organ reproduksi wanita. Adapun perbedaan PCO dan PCOS adalah sebagai berikut.

Pengertian

Apa itu PCO?

PCO (polycystic ovaries) biasa juga disebut dengan kista ovarium (ovarian cysts) adalah kondisi di mana terdapat banyak sel telur yang menempel pada dinding ovarium atau indung telur.

Biasanya, seorang wanita akan memiliki setidaknya 1 buah cyst (kista) di sepanjang hidupnya. Namun, jika terdapat lebih dari satu cyst maka inilah yang disebut dengan PCO.

Kondisi ini cukup umum terjadi di kalangan wanita dan dibedakan menjadi beberapa tipe, sebagai berikut.

  • Dermoid cyst, yaitu sejenis kantung kecil yang bertumbuh dan berisi rambut, lemak dan jaringan lainnya.
  • Cystadenomas, yaitu sel non kanker yang tumbuh di bagian luar dinding ovarium.
  • Endometriomas, yaitu jaringan yang seharusnya tumbuh di dalam rahim tetapi tumbuh di luar rahim dan membentuk kista.

Apa itu PCOS?

PCOS adalah singkatan dari polycystic ovary syndrome, yaitu gangguan hormonal yang dialami oleh wanita dewasa yang menyebabkan sel telurnya sulit matang.

Sel-sel telur yang tidak matang tersebut gagal dilepaskan menuju rahim. Akibatnya terjadi penumpukan dalam ovarium. Kondisi inilah yang disebut dengan PCOS.

Tidak banyak wanita yang mengalami PCOS. Melansir jurnal Human Reproduction Oxford, hanya terdapat 2,2% hingga 26,7% wanita usia 15 sampai 44 tahun yang mengalami kondisi ini.

Gejala PCO vs PCOS

Secara umum, PCO dan PCOS memiliki gejala yang berbeda satu sama lain.

Gejala PCO

Kebanyakan kasus olycystic vvaries tidak menunjukkan gejala. Namun, seiring pertumbuhan kista yang semakin banyak, Anda mungkin akan mengalami gejala sebagai berikut:

  • nyeri pada area panggul terutama jika bergerak,
  • nyeri pada perut saat haid ataupun sebelumnya,
  • merasa nyeri setelah berhubungan seks,
  • rasa nyeri pada payudara,
  • merasa penuh dan berat di perut bagian bawah,
  • perut terasa kembung dan bengkak, serta
  • mual dan muntah.

Jika Anda mengalami gejala di atas sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk mencegah PCO semakin parah.

Pada kasus PCO yang parah, akan menunjukkan gejala seperti:

  • nyeri panggul yang tak tertahankan,
  • demam,
  • pusing,
  • pingsan, dan
  • nafas terengah-engah.

Jika gejala ini terjadi sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Jika tidak segera ditangani akan berisiko menyebabkan berbagai komplikasi penyakit yang serius.

Gejala PCOS

Kebanyakan wanita tidak menyadari bahwa dirinya mengalami PCOS. Pasalnya, PCOS tidak menunjukkan gejala nyeri seperti yang terjadi pada PCO.

Biasanya wanita baru mengetahui kondisinya setelah memeriksakan diri ke dokter akibat mengalami kenaikan berat badan yang sulit terkontrol atau sulit memiliki anak.

Secara umum, kondisi polycystic ovary syndrome menunjukkan gejala-gejala berikut ini.

Gangguan menstruasi

Office and Women’s Health menyatakan bahwa wanita yang mengidap PCOS biasanya hanya mengalami haid sebanyak kurang dari 8 kali dalam setahun.

Menstruasi berat

Selain menstruasi yang jarang, pengidap PCOS bisa saja mengeluarkan darah dalam jumlah yang lebih banyak daripada menstruasi normal.

Tumbuh bulu di tempat yang tidak biasa

Lebih dari 7 dari 10 penderita PCOS mengalami pertumbuhan bulu di area wajah, perut dan dada.

Tumbuh jerawat di berbagai tempat

Tubuh wanita yang mengidap PCOS akan ditumbuhi jerawat yang tidak hanya pada wajah tapi juga di dada, dada dan punggung dalam jumlah yang cukup banyak.

Kulit semakin gelap dan berminyak

Kondisi PCOS akan menunjukkan gejala kulit yang berminyak dan semakin gelap terutama di area leher, selangkangan dan bagian bawah payudara.

Mengalami kenaikan berat badan

Gejala yang paling umum terjadi pada penderita PCOS adalah berat badan berlebih. Sekitar 8 dari 10 penderitanya mengalami kondisi ini.

Rambut rontok

Rambut wanita yang menderita PCOS akan mengalami penipisan, rontok bahkan botak di area pucuk kepala.

Sakit kepala

Perubahan hormon yang terjadi pada kondisi PCOS menyebabkan penderitanya sering mengalami sakit kepala.

Penyebab PCO vs PCOS

Meskipun sama-sama menyerang bagian reproduksi wanita, tetapi PCO dan PCOS disebabkan oleh dua hal yang berbeda.

Penyebab PCO

Kebanyakan polycystic ovaries disebabkan oleh fungsional cyst yaitu kondisi di mana folikel yang berisi sel telur tidak pecah. Akibatnya terbentuk benjolan kecil pada permukaan indung telur sehingga menjadi kista.

Wanita yang sudah pernah memiliki kista ovarium, akan berisiko memiliki kista yang lebih banyak atau PCO.

Penyebab PCOS

Adapun penyebab polycystic ovary syndrome adalah gangguan metabolisme yang menyebabkan tubuh memproduksi hormon androgen atau hormon lelaki yang lebih banyak.

Akibatnya wanita yang mengalami PCOS akan kesulitan memproduksi sel telur ataupun sulit mematangkan sel telurnya.

Gangguan metabolisme ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain.

Faktor keturunan

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Endocrine menyebutkan bahwa faktor gen dalam keluarga dapat menyebabkan kondisi PCOS.

Resistensi insulin

Sekitar 7 dari 10 penderita PCOS mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi di mana insulin dalam tubuh tidak mampu mengolah gula dengan baik. Kondisi ini biasanya dialami oleh penderita diabetes.

Adanya peradangan

Penderita PCOS biasanya mengalami gangguan pada sel darah putih yang mengakibatkan tubuh sulit mengatasi peradangan.

Perbedaan komplikasi PCO vs PCOS

vagina gatal

Baik PCO maupun PCOS keduanya berisiko menyebabkan komplikasi tertentu.

Komplikasi PCO

Secara umum, PCO dapat menyebabkan berbagai gangguan berikut:

  • pergeseran posisi ovarium,
  • pendarahan dalam ovarium (kondisi ini cukup langka), dan
  • meningkatkan risiko infeksi pada ovarium.

Kabar baiknya, kondisi PCO umumnya tidak menyebabkan gangguan pada kesuburan wanita. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir berlebihan.

Komplikasi PCOS

Jika dibandingkan dengan PCO, PCOS berisiko memberikan efek yang lebih buruk bagi kesehatan. Risiko komplikasi yang bisa terjadi antara lain.

Gangguan kesuburan

Hal ini karena PCOS pada dasarnya disebabkan oleh berlebihannya hormon lelaki yaitu testosteron. Akibatnya, wanita yang mengalami kondisi ini kesulitan mematangkan sel telur.

Keguguran dan kelahiran prematur

Jika kehamilan berhasil terjadi, risiko keguguran dan persalinan prematur masih mengintai penderitanya.

Gangguan metabolisme

Gangguan hormonal yang terjadi pada PCOS dapat menyebabkan gangguan metabolisme tubuh seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Diabetes

PCOS biasanya disebabkan karena adanya resistensi insulin. Kondisi ini juga berisiko menyebabkan penderitanya mengalami diabetes.

Kanker endometrium

Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Steroids, wanita yang mengidap PCOS memiliki risiko 2,7 kali lipat lebih besar mengalami kanker endometrium jika tidak segera diatasi.

Diagnosa PCO dan PCOS

Perbedaan selanjutnya dari PCO dan PCOS adalah pada proses diagnosa.

Bagaimana mendiagnosa PCO?

Kondisi Polycystic Ovaries biasanya dapat dideteksi dengan melakukan pemeriksaan panggul. Selain itu, pemeriksaan dapat dilakukan sesuai dengan ukuran dan tipe kista pada PCO.

Adapun pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosa kondisi ini antara lain.

Tes kehamilan

Jika hasil tes kehamilan menunjukkan positif, ada kemungkinan Anda sedang hamil atau justru sedang mengalami kista ovarium/PCO.

USG pada bagian panggul

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi lokasi kista dan jenis kista yang dimiliki apakah kista padat atau berisi cairan.

Laparoskopi

Laparoskopi yaitu prosedur pemeriksaan dengan memasukkan semacam selang berkamera melalui sayatan kecil di perut.

Tujuannya tidak hanya untuk mendeteksi adanya kista, melainkan dapat sekaligus menyingkirkannya.

Bagaimana mendiagnosa PCOS?

Berbeda dengan PCO, kondisi PCOS cenderung lebih sulit dideteksi. Hingga saat ini belum ditemukan metode yang paling akurat untuk mendeteksi kondisi ini.

Jurnal Human Reproduction Oxford menyatakan bahwa 70% penderita PCOS tidak terdiagnosa dengan baik.

Selain itu, kondisi ini biasanya tidak memiliki gejala yang khas, sehingga sulit dideteksi dini. Biasanya, penderitanya baru menyadari kondisi PCOS setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh karena adanya keluhan sulit hamil.

Biasanya, untuk mendiagnosis PCOS, dokter akan mengumpulkan data seperti:

  • perubahan berat badan yang dialami,
  • kondisi siklus menstruasi,
  • mengecek adanya pertumbuhan bulu di bagian tubuh yang tidak biasa,
  • mengecek adanya jerawat yang berlebihan, dan
  • memeriksa adanya kondisi resistensi insulin.

Selain pemeriksaan tersebut, jika dibutuhkan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, sebagai berikut.

  • Pemeriksaan panggul, yaitu dengan memasukkan jari ke dalam liang vagina.
  • Pemeriksaan darah, untuk mendeteksi adanya gangguan hormonal.
  • USG transvaginal, yaitu memasukkan alat yang memancarkan gelombang suara ke dalam vagina lalu melihat gambarnya di monitor.

Cara mengobati PCO dan PCOS

selama usg transvaginal

Karena penyebabnya yang berbeda, PCO dan PCOS juga memiliki prosedur pengobatan yang berbeda pula.

Pengobatan PCO

Pada dasarnya, polycystic ovaries atau kista ovarium adalah kondisi yang umum terjadi pada wanita dan bukan merupakan penyakit yang parah.

Biasanya, kista pada ovarium dapat hilang sendiri dalam beberapa bulan. Terutama jika Anda mengalaminya di usia yang masih muda.

Anda hanya perlu melakukan konsultasi dan pemeriksaan rutin untuk mengetahui apakah kista yang Anda miliki mulai mengecil atau sudah menghilang sama sekali.

Namun, jika dalam waktu beberapa bulan, kista Anda masih ada, maka dokter mungkin akan melakukan berbagai tindakan pengobatan berikut.

Pemberian kontrasepsi hormonal

Pil KB untuk PCOS disinyalir sebagai salah satu upaya untuk membantu menghilangkan kista ovarium. Namun, keampuhan metode ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Mengutip penelitian yang diterbitkan oleh American Family Phycician, disimpulkan bahwa konsumsi pil kontrasepsi dinilai tidak efektif dalam mengatasi PCO.

Tindakan operasi

Pilihan pengobatan lainnya yang biasanya dokter lakukan adalah operasi pengangkatan kista. Operasi ini dapat dilakukan dengan prosedur laparoskopi ataupun laparatomi.

Laparoskopi dilakukan dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan selang berkamera dan penjepit. Prosedur ini minim risiko dan hanya menyisakan luka kecil di perut.

Adapun laparotomi adalah prosedur yang mirip dengan laparoskopi, tetapi sayatan yang dibuat lebih lebar. Ini untuk mengangkat kista yang cukup besar.

Pengobatan PCOS

Berbeda dengan kista ovarium, pengobatan PCOS cenderung lebih rumit karena kista dapat berkembang semakin ganas sehingga berisiko kanker.

Pengobatan kondisi ini biasanya dilakukan sesuai dengan keluhan yang ditimbulkannya.

  • Untuk melancarkan siklus haid, dokter akan menganjurkan konsumsi pil hormonal dan terapi progestin. Terapi ini juga bertujuan untuk mencegah terbentuknya sel kanker.
  • Untuk membantu menaikkan kesuburan, dokter akan memberikan obat-obatan seperti pil anti-estrogen, letrozole, metformin dan suntik gonadotropins.
  • Untuk mengurangi pertumbuhan bulu, dokter akan memberikan obat-obatan hormonal seperti spironolactone, eflornithine, atau elektrolisis.

Selain pemberian obat-obatan, tindakan operasi untuk mengangkat kista mungkin diperlukan jika kista pada PCOS semakin ganas dan berisiko kanker

Untuk mengurangi keparahan PCOS, Anda sebaiknya menjalani pola hidup sehat, seperti berolahraga secara teratur dan diet rendah karbo.

Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menanyakan ke dokter secara langsung mengenai perbedaan PCO dan PCOS.

Kalkulator Masa Subur

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Memantau siklus haid, menentukan hari kesuburan dan lebih membantu Anda untuk merencanakan kehamilan lebih baik.

Kalkulator Masa Subur

Berapa lama siklus haid Anda?

(hari)

28

Berapa lama Anda haid?

(hari)

7

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ovarian cysts – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 5 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/symptoms-causes/syc-20353405

Ovarian cysts and infertility: A connection?. (2020). Retrieved 5 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/expert-answers/ovarian-cysts-and-infertility/faq-20057806

Polycystic ovary syndrome | Womenshealth.gov. (2020). Retrieved 5 April 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/polycystic-ovary-syndrome

Polycystic ovary syndrome (PCOS) – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 5 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pcos/symptoms-causes/syc-20353439

Polycystic ovary syndrome (PCOS) – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 5 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pcos/diagnosis-treatment/drc-20353443

Diamanti-Kandarakis, E., Kandarakis, H., & Legro, R. (2006). The Role of Genes and Environment in the Etiology of PCOS. Endocrine, 30(1), 19-26. doi: 10.1385/endo:30:1:19

Seehusen, D., & Earwood, J. (2014). Oral Contraceptives Are Not an Effective Treatment for Ovarian Cysts. Retrieved 5 April 2021, from https://www.aafp.org/afp/2014/1101/p623.html

Gibson-Helm, M., Teede, H., Dunaif, A., & Dokras, A. (2016). Delayed diagnosis and a lack of information associated with dissatisfaction in women with polycystic ovary syndrome. The Journal Of Clinical Endocrinology & Metabolism, jc.2016-2963. doi: 10.1210/jc.2016-2963

Bozdag, G., Mumusoglu, S., Zengin, D., Karabulut, E., & Yildiz, B. (2016). The prevalence and phenotypic features of polycystic ovary syndrome: a systematic review and meta-analysis. Human Reproduction, 31(12), 2841-2855. doi: 10.1093/humrep/dew218

Dumesic, D., & Lobo, R. (2013). Cancer risk and PCOS. Steroids, 78(8), 782-785. doi: 10.1016/j.steroids.2013.04.004

March, W., Moore, V., Willson, K., Phillips, D., Norman, R., & Davies, M. (2009). The prevalence of polycystic ovary syndrome in a community sample assessed under contrasting diagnostic criteria. Human Reproduction, 25(2), 544-551. doi: 10.1093/humrep/dep399

Polycystic ovary syndrome | Womenshealth.gov. Retrieved 5 April 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/polycystic-ovary-syndrome

Marshall, J., & Dunaif, A. (2012). Should all women with PCOS be treated for insulin resistance?. Fertility And Sterility, 97(1), 18-22. doi: 10.1016/j.fertnstert.2011.11.036

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 04/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita