Untuk Apa Cangkok Sumsum Tulang Belakang, dan Seperti Apa Prosesnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Bagi sebagian orang, transplantasi sumsum tulang masih terdengar asing. Maklum transplantasi ini tidak sepopuler transplantasi ginjal atau jantung. Tapi bagi pasien kanker darah atau leukimia, cangkok sumsum tulang adalah harapan hidup untuk mereka. Lalu seperti apa prosedur transplantasi sumsum tulang belakang? Cari tahu di artikel ini.

Seperti apa proses transplantasi sumsum tulang?

Sumsum tulang adalah material lunak yang ditemukan di dalam tulang yang mengandung sel-sel belum matang yang disebut sel induk hematopoietik. Sel-sel belum matang ini selanjutnya akan berkembang menjadi tiga jenis sel darah – sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit.

Transplantasi sumsum tulang adalah prosedur bedah untuk mengganti sumsum tulang yang rusak atau hancur akibat penyakit dengan sel induk sumsum tulang belakang yang sehat. Keberadaan sumsum tulang belakang ini amat penting untuk mendukung proses penyampaian pesan antara otak dan saraf tulang belakang agar dapat terjalin dengan baik.

Proses pengambilan sampel sumsum tulang dari pendonor sehat disebut sebagai ‘panen (harvesting)’. Dalam proses ini, jarum dimasukkan melalui kulit pendonor hingga ke dalam tulang untuk mengambil sumsum tulangnya. Seluruh proses memakan waktu sekitar satu jam dan donor biasanya diberikan anestesi.

Setelah kemoterapi intensif atau terapi radiasi, pasien diberikan infus sumsum tulang belakang dari pendonor melalui jalur intravena. Prosedur ini diikuti dengan proses ‘engraftment’, dimana sel-sel induk baru menemukan jalan mereka ke sumsum tulang belakang dan kembali memproduksi sel darah.

Mengapa transplantasi sumsum tulang belakang dilakukan?

Transplantasi ini dilakukan untuk menggantikan kondisi sumsum tulang yang rusak dan tidak lagi mampu menghasilkan sel darah sehat. Transplantasi juga biasa dilakukan untuk menggantikan sel darah yang rusak atau hancur akibat perawatan kanker intensif. Transplantasi sumsum tulang belakang biasa digunakan untuk mengobati beberapa kondisi berikut ini:

Gangguan kondisi darah tertentu, gangguan sistem kekebalan tubuh dan gangguan metabolisme seperti anemia sel sabit, thalassemia, penyakit SCID (severe combined immunodeficiency) atau penyakit yang membuat orang dengan penyakit ini tidak memiliki sistem kekebalan tubuh, dan sindrom hurler adalah kondisi yang sangat membutuhkan transplantasi sumsum tulang.

Transplantasi ini biasanya akan dilakukan jika perawatan lain tidak membantu. Potensi manfaat transplantasi ini lebih besar dibandingkan risiko yang akan dialami karena kondisi penyakit yang telah disebutkan.

Lalu, adakah efek samping transplantasi pada si penerima?

Transplantasi sumsum tulang belakang bagaimanapun juga adalah prosedur rumit yang bukan tanpa risiko. Seperti yang dilansir oleh National Health Service, penting bagi Anda untuk tetap menyadari risikonya. Kemungkinan masalah yang bisa terjadi selama atau setelah proses transplantasi meliputi berikut ini:

  • Penyakit graft versus host disease (GvHD). Biasa terjadi pada transplantasi alogenik dimana pasien menerima sel induk dari anggota keluarganya.
  • Sel darah menjadi berkurang. Hal ini dapat meyebabkan anemia, pendarahan yang berlebihan atau memar, dan peningkatan risiko infeksi.
  • Efek samping kemoterapi. Biasanya mudah sakit, kelelahan, rambut rontok, dan infertilitas atau sulit memiliki anak.

Bagaimana dengan efek samping transplantasi pada si pendonor?

Hanya sejumlah kecil sumsum tulang yang diambil dari donor sehingga tidak benar-benar menimbulkan banyak kerugian. Daerah di sekitar lokasi dimana sumsum tulang diambil mungkin terasa kaku selama beberapa hari.

Sumsum tulang yang disumbangkan akan diganti oleh tubuh dalam beberapa hari. Namun, waktu pemulihan akan bervariasi pada setiap individunya. Sebagian orang dapat kembali ke rutinitas mereka sehari-hari dalam waktu seminggu, sebagian lagi mungkin membutuhkan 3-4 minggu sebelum semuanya normal kembali.

Meskipun ada tidak ada efek samping berat bagi pendonor, komplikasi yang dikaitkan dengan penggunaan anestesi mungkin perlu pula diperhatikan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Kanker Tiroid

Kanker tiroid dapat terjadi baik dengan atau tanpa gejala. Supaya lebih mengenal gejala, penyebab, dan pengobatannya, simak ulasannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 1 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Benarkah Radiasi dari Wi-Fi Bisa Memicu Kanker Anak?

Perdebatan para ahli soal bahaya radiasi wi-fi tentu meresahkan, apalagi jika Anda dan anak setiap hari mengakses wi-fi. Jadi, amankah wi-fi bagi keluarga?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

7 Trik Jitu Agar Tak Mudah Tergoda Makan Junk Food

Anda tidak bisa berhenti makan junk food? Tenang, ada siasat khusus untuk menghindari godaan makan makanan tak sehat. Intip caranya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Tips Makan Sehat, Nutrisi 27 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Penyakit Degeneratif

Penyakit degeneratif adalah penyakit kronis yang memengaruhi pembuluh darah hingga tulang lansia. Yuk, kenali penyakit ini lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Lansia, Masalah Kesehatan pada Lansia 18 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kanker penyebab BAB berdarah

BAB Sering Berdarah? Hati-hati, Bisa Jadi Tanda Kanker pada Saluran Cerna

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
cara meningkatkan leukosit lewat makanan penambah sel darah putih

Daftar Makanan untuk Atasi Kekurangan Sel Darah Putih

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
kanker serviks

Mengapa Kasus Kanker Serviks Masih Tinggi di Indonesia?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 3 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
limfoma (kanker getah bening)

Limfoma (Kanker Getah Bening)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit