3 Jenis Serangan Jantung yang Perlu Diwaspadai

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 4, 2020
Bagikan sekarang

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju jantung terhambat. Biasanya, hal ini disebabkan oleh adanya penyumbatan di arteri koroner, yakni pembuluh darah yang membawa darah tinggi oksigen yang mengaliri otot-otot jantung. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam nyawa. Meskipun sekilas terlihat sama, dalam dunia medis serangan jantung dibagi menjadi tiga jenis. Penyebabnya pun berbeda-beda. Berikut adalah tiga jenis serangan jantung yang perlu diwaspadai.

1. ST segment elevation myocardial infarction (STEMI)

ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) merupakan salah satu jenis serangan jantung yang paling sering terjadi. Kondisi ini tergolong parah, sehingga jika mengalaminya, pasien membutuhkan perawatan segera.

Jenis serangan jantung yang satu ini tergolong yang paling serius dibanding yang lain. Menurut Society for Cardiovascular Angiography and Interventions, saat mengalami STEMI, terjadi penyumbatan penuh pada pembuluh darah arteri hingga darah tidak bisa mengalir menuju jantung. Akibatnya, sebagian besar otot jantung tidak menerima pasokan darah hingga akhirnya berhenti berfungsi.

STEMI dianggap sebagai jenis serangan jantung yang mematikan, karena pasien yang mengalaminya memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami kerusakan otot jantung hanya kurun waktu beberapa jam setelah penyumbatan terjadi. Belum lagi, pasien juga memiliki risiko mengalami cardiac arrest atau henti jantung setelah mengalami STEMI.

Gejala STEMI

Salah satu gejala yang paling sering muncul dari STEMI adalah sakit pada dada bagian tengah. Biasanya, dada terasa seperti ditekan atau diremas, bukan terasa seperti ditusuk saat mengalami STEMI. Selain pada dada, rasa sakit juga terasa pada bagian tubuh lain seperti lengan, punggung, leher, dan rahang.

Gejala lainnya yang ditimbulkan dari jenis serangan jantung ini adalah:

  • Mual
  • Sesak napas
  • Gelisah
  • Kepala terasa ringan (kliyengan)
  • Muncul keringat dingin

2. Non-ST segment elevation myocardial infarction (NSTEMI)

Berbeda dengan STEMI, NSTEMI merupakan jenis serangan jantung yang ditandai dengan penyumbatan sebagian pada arteri koroner. Akibatnya, aliran darah ke jantung sangat terbatas. Meskipun tingkatannya berada di bawah STEMI, jenis serangan jantung yang satu ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada jantung jika dibiarkan.

Gejala NSTEMI

Berikut adalah berbagai gejala yang biasanya muncul saat Anda terkena NSTEMI.

  • Sesak napas
  • Rasa sakit di dada
  • Rasa sakit di rahang, leher, punggung, hingga perut
  • Pusing
  • Mual
  • Keringat berlebih

Mungkin sekilas gejala STEMI dan NSTEMI terlihat sama. Namun, untuk membedakan apakah Anda menderita serangan jantung STEMI atau NSTEMI, Anda perlu melakukan pemeriksaan ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Anda akan dibantu untuk melihat kondisi jantung berdasarkan hasil ekokardiografi (EKG) atau rekam jantung serta pemeriksaan marker jantung. STEMI dan NSTEMI lebih dikenal sebagai istilah sindrom koroner akut.

3. Coronary Artery Spasm (CAS)

Coronary artery spasm atau disebut juga dengan kejang arteri koroner merupakan jenis serangan jantung tanpa adanya penyumbatan di arteri. Kondisi ini terjadi ketika salah satu arteri jantung mengalami kejang sehingga aliran darah ke jantung berkurang drastis, bahkan terhenti sementara.

CAS ini juga lebih dikenal sebagai angina pektoris (angin duduk) tidak stabil. Biasanya saat pemeriksaan rekam jantung didapatkan hasil yang normal dan tidak ada peningkatan marker jantung.

Gejala coronary artery spasm

Berikut adalah gejala-gejala yang muncul saat Anda mengalami serangan jantung jenis CAS, yaitu:

  • Nyeri dada (angina) yang terjadi saat aktivitas, berlangsung 5-30 menit.
  • Membaik dengan istirahat atau minum obat ISDN
  • Rasa sakit di dada sebelah kiri.
  • Rasa sesak pada dada.

Biasanya kondisi ini hanya dapat dideteksi dengan menggunakan sinar-X dan tes darah. Serangan jantung yang satu ini tidak menimbulkan kerusakan permanen dan tergolong ringan jika dibandingkan dengan jenis serangan jantung STEMI dan NSTEMI.

Namun, mengalami kejang pada arteri koroner dapat meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung yang lebih berat di kemudian hari. Maka, bukan berarti jenis serangan jantung ringan yang satu ini boleh disepelekan.

Pilihan pengobatan untuk serangan jantung

tanda-tanda penyakit jantung

Apapun jenis serangan jantung yang dialami, ketiganya bukan penyakit yang boleh disepelekan. Artinya, Anda harus segera memeriksakan kondisi ini ke dokter untuk mendapatkan perawatan medis.

Jangan menunda untuk membawa diri atau orang terkasih ke rumah sakit saat mengalami gejala serangan jantung. Apalagi jika pasien telah tidak sadarkan diri.

Nantinya, pengobatan akan disesuaikan dengan jenis serangan jantung yang dialami. Umumnya, sebelum menentukan jenis dan tingkat keparahan serangan jantung, dokter akan memberikan serangkaian obat awal seperti:

  • Aspirin untuk mengurangi penggumpalan darah.
  • Terapi oksigen.
  • Nitrogliserin untuk melancarkan aliran darah.

Setelahnya, dokter akan melakukan rekam jantung dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan jenis serangan jantung mana yang Anda alami.

Obat-obatan untuk mengatasi serangan jantung

Jika jenis serangan jantung telah terdeteksi, dokter akan memberikan berbagai pengobatan yang sesuai dengan hasil diagnosis. Serangan jantung yang belum terlalu parah biasanya diobati dengan:

  • Clot busters atau obat trombolitik yang membantu menghancurkan gumpalan darah yang menyumbat arteri.
  • Antikoagulan atau pengencer darah untuk membantu mencegah penggumpalan darah.
  • Obat tekanan darah seperti ACE inhibitor yang membantu mengendalikan tekanan darah dan mengurangi beban kerja jantung.
  • Statin yang membantu menurunkan kolesterol buruk di dalam tubuh.
  • Beta-blocker yang membantu mengurangi beban kerja jantung dan nyeri dada.

Selain itu, untuk mengatasi serangan jantung yang lebih parah dokter mungkin akan menganjurkan operasi. Yang paling penting, jangan pernah menunda untuk segera membawa orang terdekat ke rumah sakit saat muncul gejala serangan jantung.

Operasi serangan jantung

Selain penggunaan obat-obatan untuk meredakan ketiga jenis serangan jantung, ada pula prosedur operasi yang bisa dijalani oleh pasien saat mengalami serangan jantung. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Coronary angioplasty and stenting

Prosedur operasi yang satu ini dilakukan oleh dokter spesialis jantung, dengan cara memasukkan tabung tipis panjang (kateter) melalui arteri yang terletak pada pangkal paha atau pada pergelangan tangan menuju arteri yang tersumbat di jantung.

Jika pasien mengalami serangan jantung, prosedur ini biasanya dilakukan setelah cardiac cathetherization, yaitu prosedur yang dilakukan untuk mencari tahu letak penyumbatan. Kateter yang digunakan memiliki balon khusus yang akan membantu membuka penyumbatan yang terjadi pada arteri koroner.

Tabung berukuran kecil yang terbuat dari logam kemudian dimasukkan ke dalam arteri untuk menjaga agar tetap terbuka. Tujuannya untuk mengembalikan aliran darah yang sempat terhenti,  kembali lancar menuju ke jantung. Biasanya, tabung berukuran kecil ini akan disertai dengan obat-obatan yang akan dilepaskan ke dalam tubuh demi membantu agar arteri tetap terbuka.

2. Operasi coronary artery bypass

Prosedur operasi lain yang juga bisa dilakukan untuk mengatasi ketiga jenis serangan jantung tersebut adalah operasi bypass. Operasi ini biasanya dilaksanakan antara tiga hingga tujuh hari setelah pasien mengalami serangan jantung.

Jarak waktu terjadinya serangan dan pelaksanaan operasi digunakan untuk proses pemulihan jantung setelah mengalami serangan jantung. Operasi ini dilakukan dengan cara menjahit pembuluh darah atau pembuluh arteri yang terletak di luar area yang mengalami penyumbatan atau penyempitan.

Tujuannya, agar aliran darah bisa mengalir menuju jantung melalui jalan pintas yang telah dibuatkan oleh dokter melalui proses penjahitan tersebut. Saat aliran darah kembali lancar menuju ke jantung dan kondisi pasien telah stabil, Anda akan diminta untuk tetap tinggal di rumah sakit hingga beberapa hari kemudian.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sering Nyeri Dada Saat Olahraga? 6 Kondisi Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Banyak orang mengira kalau nyeri dada saat olahraga disebabkan karena terkena serangan jantung. Padahal, belum tentu! Cari tahu penyebabnya di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Kebugaran, Hidup Sehat Januari 12, 2019

Mengulik Cara Kerja Otot Jantung dan Beragam Fungsi Pentingnya

Otot jantung dianggap sebagai otot terkuat karena mampu bekerja sepanjang waktu tanpa istirahat untuk memompa darah. Apa yang terjadi jika otot ini rusak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik Desember 18, 2018

Studi: Macetnya Jalanan Ibukota Meningkatkan Risiko Serangan Jantung

Penelitian membuktikan terjebak macet dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga 3-5 kali lipat pada orang yang sehat walafiat. Kok bisa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Penyakit Jantung, Health Centers November 18, 2018

Aktor George Taka Tutup Usia, Apa Tanda Kematian Mendadak Akibat Serangan Jantung?

Aktor laga senior George Mustafa Taka meninggal dunia. Kabarnya, almarhum meninggal secara tiba-tiba. Sebetulnya adakah tanda-tanda kematian mendadak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Irene Anindyaputri

Direkomendasikan untuk Anda

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Amankah Jika Penderita Penyakit Jantung Ikut Berpuasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal tayang Mei 18, 2020
Jangan Sampai Kena Serangan Jantung Kedua Kali, Begini Cara Tepat Mencegahnya

Jangan Sampai Kena Serangan Jantung Kedua Kali, Begini Cara Tepat Mencegahnya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal tayang Juni 5, 2019
Langkah Pertolongan Pertama Ketika Serangan Jantung Terjadi

Langkah Pertolongan Pertama Ketika Serangan Jantung Terjadi

Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Tanggal tayang Mei 15, 2019
Bisakah Penyakit Sindrom Koroner Akut (SKA) Disembuhkan?

Bisakah Penyakit Sindrom Koroner Akut (SKA) Disembuhkan?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal tayang Februari 21, 2019