6 Hal yang Perlu Dilakukan Ortu Saat Susah BAB pada Anak Tak Kunjung Sembuh

Susah BAB atau sembelit merupakan salah satu gejala penyakit yang kerap muncul pada saluran pencernaan anak. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, sembelit masih menjadi keluhan terbanyak. Hal ini membuat sekitar 3 sampai 5 persen anak dibawa ke dokter spesialis dan 25 sampai 30 persennya dibawa ke dokter subspesialis gastroenterologi anak.

Tak hanya rasa sakit, sembelit atau susah BAB bisa memberikan dampak yang besar pada  kegiatan sehari-hari si kecil. Ini karena sembelit adalah penyakit yang menimbulkan rasa cemas saat buang air besar karena terasa sakit, sakit perut berulang, dan turunnya nafsu makan. Jika dibiarkan, nafsu makan yang menurun ini bisa menghambat pertumbuhan anak.

Seringnya, susah BAB disebabkan oleh gangguan pada fungsi tubuh, bukan karena masalah fisik atau konsumsi obat-obatan tertentu.

Apa itu sembelit atau konstipasi?

Sembelit atau konstipasi adalah kondisi saat anak mengalami kesulitan untuk buang air besar selama dua minggu atau lebih. Seorang anak dikatakan mengalami sembelit ketika mengalami berbagai gejala berikut:

Anak kurang dari 4 tahun

Pada anak kurang dari 4 tahun, ia dikatakan mengalami sembelit jika buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu dan disertai rasa nyeri. Selain itu, anak juga mengalami susah BAB ketika feses, atau lebih dikenal dengan sebutan tinja, terasa seperti tersumbat di dubur. Sensasi ini muncul karena feses tidak keluar semua meski sudah buang air besar tiga kali dalam seminggu atau bahkan lebih.

Anak lebih dari 4 tahun

Pada anak yang berusia lebih dari 4 tahun, susah BAB biasanya ditandai dengan gejala seperti:

  • Buang air besar dua kali atau kurang dalam seminggu tanpa minum obat pencahar
  • BAB tiba-tiba keluar, dua kali atau lebih setiap minggu
  • Memiliki riwayat penyumbatan feses
  • Memiliki riwayat sakit saat buang air besar
  • Fese keluar dalam jumlah banyak sekitar 7 sampai 30 hari
  • Punya riwayat feses berukuran besar hingga menyumbat toilet
  • Terasa seperti ada penumpukan massa di perut dan dubur

Berbagai gejala ini biasanya akan terus muncul selama dua minggu. Namun, ketika gejalanya sudah berlangsung sampai 4 minggu atau lebih, tandanya anak Anda mengalami sembelit kronis.

Memahami proses buang air besar pada anak

Buang air besar adalah proses yang diawali dengan terdorongnya feses melalui kolon atau usus besar. Proses ini disebabkan oleh kontraksi usus yang terjadi beberapa kali dalam sehari.

Pada bayi, kontraksi biasanya terjadi lebih sering. Sementara pada orang dewasa, kontraksi hanya berkisar 2 sampai 4 kali per hari.

Kontraksi usus inilah yang kemudian meningkatkan pergerakan usus besar (kolon). Ketika makanan masuk ke usus, akan muncul sebuah refleks yang mendorong feses dari kolon ke rektum.

Refleks ini disebut dengan refleks gastrokolik, yang merupakan sebuah rangsangan untuk buang air besar saat usus penuh oleh feses atau kotoran.

Feses yang sudah sampai di rektum tidak akan langsung dikeluarkan. Feses akan disimpan sambil menunggu waktu yang tepat untuk dikeluarkan.

Apa penyebab susah BAB atau konstipasi?

Penyebab anak susah BAB dibagi menjadi dua, yaitu organik (fisik) dan fungsional (fungsi tubuh). Sekitar 95 persen susah BAB pada anak disebabkan oleh masalah fungsional. Sisa 5 persen lainnya disebabkan oleh kelainan fisik seperti kelainan anatomis, saraf dan otot, metabolik, endokrin, dan lainnya.

Secara umum, berikut berbagai penyebab susah BAB pada anak:

1. Menunda BAB

Aktivitas bermain ataupun belajar sering membuat anak menunda buang air besar. Hal ini akan membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Akibatnya, sembelit pun tak bisa dihindari.

2. Stres

Anak bisa mengalami susah BAB saat ia mengalami kecemasan berlebihan terhadap suatu hal. Gangguan emosional ini dapat mempengaruhi fungsi usus karena anak cenderung menahan feses dan tidak mau buang air besar.

3. Kurang asupan cairan

Kurangnya cairan, misalnya dari minum air putih, akan membuat kerja usus menjadi lebih sulit. Pasalnya, feses menjadi lebih kering sehingga sulit untuk dikeluarkan.

4. Jenis susu formula yang dikonsumsi

Susu formula memiliki komposisi nutrisi yang berbeda dengan ASI. Hal ini membuat susu formula menjadi lebih sulit dicerna. Akibatnya, feses menjadi lebih keras dan si kecil pun jadi enggan untuk buang air besar.

5. Makanan baru

Makanan tak jarang jadi faktor yang menyebabkan anak jadi susah BAB. Hal ini terutama terjadi pada masa peralihan dari makanan cair ke makanan padat. Pasalnya, sistem pencernaan anak butuh penyesuaian. Itu sebabnya di awal-awal masa peralihan, anak biasanya akan susah BAB.

6. Kurang serat

Makanan yang rendah serat bisa menjadi pemicu yang membuat anak susah BAB.

7. Alergi makanan

Susah BAB yang tak kunjung hilang dapat menjadi tanda intoleransi susu atau makanan tertentu.

8. Kondisi medis tertentu

Kondisi medis tertentu bisa berupa kelainan atau masalah pada fisik, seperti penyakit Hirschprung, hipotiroid, atau fisura ani. Selain itu, penggunaan obat-obatan seperti obat antikejang dan antidiare juga bisa menyebabkan susah BAB pada anak.

Mengatasi susah BAB pada anak

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi susah BAB pada anak di rumah:

1. Biasakan anak duduk di toilet secara teratur

Cara ini bisa dilakukan sekitar 3 sampai 5 menit setelah makan. Meskipun anak tidak ingin buang air besar, tetap mintalah ia untuk duduk di toilet setiap harinya. Ciptakan suasana yang nyaman tiap buang air besar agar si kecil tidak merasa tertekan.

2. Berikan makanan yang tinggi serat

Sebaiknya, berikan anak makanan kaya serat misalnya dari sayuran dan buah setiap harinya. Berikan sumber serat berbeda setiap hari terutama yang banyak mengandung air. Makanan tinggi serat membantu memperlancar proses buang air besar dan meningkatkan gerakan usus untuk mendorong feses keluar.

3. Batasi pemberian susu formula

Jika anak berusia lebih dari 18 bulan, sebaiknya jangan berikan susu formula lebih dari 500 ml per hari. Pasalnya, pemberian susu yang berlebihan justru menyebabkan susah BAB.

4. Cukupi kebutuhan cairan

Dengan minum cukup cairan, feses menjadi lebih lunak. Dengan begitu, proses buang air besar bisa lebih mudah dan teratur.

5. Ajak anak bergerak aktif

Agar anak tak lagi susah BAB, ajak ia bergerak aktif misalnya lewat bermain. Berikan waktu untuk bermain sekitar 30 menit hingga 1 jam setiap hari. Dengan tetap aktif, usus akan terus bergerak sehingga memperlancar proses pencernaan anak.

6. Atur jadwal makan anak

Jadwal makan yang teratur mampu merangsang usus sehingga anak akan terbiasa buang air besar secara rutin. Biasakan si kecil sarapan pagi lebih awal agar ia terbiasa untuk buang air besar sebelum berangkat sekolah.

7. Berikan obat pencahar anak

Kalau BAB anak tidak lancar juga, orangtua bisa memberikan obat pencahar untuk anak yang mengandung zat aktif laktulosa. Laktulosa dapat membantu melunakkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan. Dalam kasus emergensi, Anda juga bisa memberikan obat pencahar dengan kandungan bisacodyl supositoria (lewat dubur) untuk mengatasi susah BAB.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika cara-cara rumahan telah dicoba tetapi anak tetap susah BAB, jangan segan untuk berkonsultasi ke dokter. Dokter biasanya akan memberikan obat pelunak feses dan perawatan lainnya sesuai dengan kondisi si kecil.

Pada anak, ada beberapa gejala sembelit yang perlu segera diperiksakan ke dokter, yaitu:

  • Sembelit terjadi sejak lahir, disertai gejala perut kembung
  • Susah BAB sudah berlangsung lebih dari dua minggu
  • Gejala sembelit tidak membaik dengan perawatan rumahan
  • Berat badan anak berkurang
  • Buang air besar berdarah

Berbagai informasi ini diharapkan bisa menjadi panduan orangtua saat anak mengalami susah BAB. Jangan ragu untuk meminta bantuan dokter agar sembelit pada anak Anda bisa segera teratasi.

Dr. dr. Dedy Rahmat, Sp.A Peminatan Gastrohepatologi Anak

Dr. dr. Dedy Rahmat, Sp.A adalah dokter spesialis anak divisi gastrohepatologi di RSUP Fatmawati Jakarta. Sehari-hari mengkhususkan diri dalam menangani kasus-kasus gastrohepatologi anak.

Dr. dr. Dedy Rahmat, Sp.A Pernah menempuh pendidikan fellowship gastrohepatologi anak di RSCM Jakarta. Tahun 2017, dr. Dedy menyelesaikan program pendidikan doktoral ilmu kedokteran di FKUI.

Saat ini, dr. Dedy praktik di:

  • RSUP Fatmawati Jakarta (Senin – Jumat jam 08:00-16:00)
  • RS Hermina Bekasi
  • RS Hermina Galaxy (Kamis jam 16:00-18:00 dan Sabtu jam 18:00-20:00)
Selengkapnya
Artikel Terbaru