Mengenal Operasi Metabolik, Prosedur Bedah untuk Cegah Diabetes Pada Orang Obesitas

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/12/2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Menurut data Riskesdas yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan tahun 2013, kurang lebih ada 12 juta orang Indonesia yang diketahui memiliki diabetes. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 nanti.

Salah satu faktor risiko terbesar dari diabetes adalah obesitas. Cadangan lemak yang semakin banyak dalam tubuh akan mengganggu kerja insulin untuk mengendalikan kadar gula darah, sehingga pada akhirnya membuat tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Resistensi insulin meningkatkan risiko Anda terhadap diabetes. Menjalani gaya hidup sehat, rutin olahraga, dan minum obat diabetes seperti metformin adalah kunci utama mengendalikan risiko diabetes. Namun ada satu alternatif lain yang bisa dijadikan obat untuk diabetes pada orang-orang obesitas. Kenalkan, operasi metabolik.

Apa itu operasi metabolik?

Operasi metabolik adalah tindak pembedahan saluran cerna yang konsepnya dikembangkan dari operasi bariatrik untuk orang-orang obesitas. Menurut American Society for Metabolic and Bariatric Surgery dan didukung oleh penelitian-penelitan lainnya, operasi ini paling efektif dalam menangani obesitas stadium berat.

Salah satu jenis operasi bariatrik memfokuskan prosedurnya pada pemotongan sebagian area usus kecil, yang disebut bypass usus. Tindakan ini dilakukan dengan cara menggabungkan bagian atas lambung dengan usus kecil, jadi perut Anda cepat penuh dan tak banyak kalori yang diserap dari makanan.

Pemotongan sebagian usus kecil ini dilaporkan dapat mengendalikan gejala diabetes tipe 2 seperti hiperglikemia. Operasi ini juga dapat menurunkan risiko penyakit lainnya seperti sleep apnea dan kanker tertentu yang mungkin muncul sebagai paket dari sindrom metabolik, akibat kadar gula darah dan kolesterol tinggi, serta lemak perut berlebih dari obesitas yang Anda miliki.

Manfaat yang bisa didapat dari operasi metabolik sebagai obat untuk diabetes orang obesitas

Setelah menjalani operasi metabolik, kontrol glikemik pasien dilaporkan lebih baik dan dapat bertahan antara 5-15 tahun. Hal ini menyebabkan 30-63% pasien mengalami remisi diabetes.

Kontrol glikemik yang lebih baik ini disebabkan karena adanya penurunan berat badan yang terjadi setelah operasi. Penurunan berat badan akan meningkatkan sensitivitas insulin dan meningkatkan pengeluaran insulin. Selain itu perubahan hormon saluran cerna, metabolisme empedu dan lemak juga berperan dalam penurunan berat badan.

Selain kontrol glikemik yang lebih baik, penelitian menunjukkan terdapat penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan peningkatan kualitas hidup pada pasien yang sudah melakukan tindak operasi ini.

Siapa saja yang boleh menjalani operasi metabolik?

Mungkin Anda menganggap diri Anda gemuk dan tertarik menjalani operasi metabolik. Namun sayangnya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika Anda mau melakukan tindakan medis ini, yaitu:

  • Memiliki indeks massa tubuh lebih dari 40 kg/m2. Operasi ini hanya akan dilakukan pada orang yang mempunyai tubuh yang sangat gemuk.
  • Memiliki indeks massa tubuh lebih dari 35 kg/m2 bila glukosa darah tetap tinggi (hiperglikemia) setelah dilakukan perubahan gaya hidup dan terapi dengan obat-obatan yang optimal.
  • Memiliki indeks massa tubuh 30.0-34.9 kg/m2 bila hiperglikemia tidak terkontrol dengan obat-obatan oral atau suntik (termasuk insulin)
  • Obesitas dengan disertai penyakit kronis tertentu seperti diabetes tipe 2 atau tekanan darah tinggi
  • Berkomitmen untuk menerapkan gaya hidup sehat setelah berhasil menjalani operasi metabolik dan memeriksakan diri secara rutin ke dokter.
  • Berani untuk mengambil risiko yang mungkin akan terjadi.

Bila Anda memiliki semua syarat di atas dan tertarik untuk melakukan tindakan ini sebagai obat untuk diabetes Anda, sebaiknya konsultasi dulu pada dokter.

Apa risiko dari tindak operasi ini?

Prosedur operasi metabolik sudah dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi, sehingga risiko bedah besar dapat dihindari. Operasi metabolik tergolong sebagai tindak medis yang minim risiko kematian; hanya 0,1-0,5%. Sama rendahnya dengan operasi kolesistektomi (pengangkatan kantung empedu) atau histerektomi (pengangkatan rahim)

Namun meski terdengar menjanjikan, operasi ini memiliki berbagai risiko dan efek samping yang mungkin saja terjadi. Yang paling umum adalah kekurangan gizi tertentu. Pasalnya, mengubah bentuk organ pencernaan dapat menyebabkan tubuh Anda tak menyerap zat gizi dengan maksimal. Kondisi kekurangan vitamin dan mineral ini dapat ditangani dengan mudah lewat pemberian suplemen makanan

Risiko hipoglikemia (gula darah rendah) jarang terjadi, namun bukannya tidak mungkin. Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan insulin atau dikenal dengan hyperinsulinemic hypoglycemia. Orang-orang yang telah menjalani operasi ini menunjukan peningkatan sekresi insulin yang berlebihan setelah mengonsumsi makanan.

ADA menyarankan Anda untuk tidak menjalani operasi metabolik ini jika memiliki riwayat alkoholisme, penyalahgunaan obat, depresi berat, kecenderungan bunuh diri, atau kondisi kesehatan mental lainnya. Operasi baru boleh dilaksanakan ketika kondisi-kondisi tersebut ditangani.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Memasuki Masa Lansia Tubuh Semakin Kurus?

Selain kulit semakin keriput, berat badan lansia juga biasanya semakin menyusut. Memangnya, apa penyebab tubuh semakin kurus saat masuk masa lansia?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 17/12/2019 . Waktu baca 4 menit

3 Manfaat Penting Buah dan Sayur Bagi Anak yang Sayang Jika Dilewatkan

Makanan tinggi serat penting untuk tumbuh kembang anak. Memang, apa saja manfaatnya makan sayur dan buah untuk bayi yang perlu orangtua tahu?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Serat Anak, Parenting, Nutrisi Anak 12/12/2019 . Waktu baca 5 menit

Cara Mengukur Lingkar Perut yang Benar

Kesehatan tubuh bisa dideteksi lewat seberapa lebar lingkar perut Anda, lho! Yuk, cari tahu cara mengukur lingkar perut yang benar di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Berat Badan Ideal, Hidup Sehat 22/11/2019 . Waktu baca 4 menit

Mengatur Kebiasaan Makan yang Sehat untuk Mencegah Obesitas

Kebiasan makan yang buruk sering kali menjadi biang kerok dari obesitas. Lalu apa saja kebiasaan makan yang perlu diatur kembali untuk cegah obesitas?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Obesitas, Health Centers 29/08/2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit
karbohidrat untuk diet

7 Sumber Karbohidrat Terbaik untuk Anda yang Sedang Diet

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit
bahaya bubble tea

Benarkah Ada Bahaya Minum Bubble Tea untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 11/03/2020 . Waktu baca 3 menit
cara menurunkan berat badan

6 Cara Sehat Menurunkan Berat Badan yang Terbukti Ampuh

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 20/12/2019 . Waktu baca 4 menit