Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Seputar Vaksin HPV

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker terganas nomor dua yang menyerang kaum wanita. Sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Oleh karena itu, vaksinasi HPV atau yang sering disebut sebagai vaksin kanker serviks, adalah salah satu cara terbaik mencegah kanker serviks

Apa itu vaksin HPV?

vaksin HPV

Vaksin HPV adalah jenis vaksin yang bertujuan untuk mencegah penyakit karena human papillomavirus, salah satunya adalah kanker serviks.

Virus ini dapat menyerang bagian sel epitel pada kulit dan membran mukosa, yang salah satunya terletak di daerah kelamin. Sel yang diserang akan menjadi rusak dan mulai tumbuh secara abnormal. Akibatnya, perkembangan virus HPV berisiko menyebabkan kanker, termasuk kanker serviks.

Tak hanya kanker serviks, beberapa jenis virus ini juga diketahui dapat menyebabkan penyakit kutil kelamin, kanker anus, dan kanker tenggorokan.

Apa manfaat vaksin HPV?

Seperti vaksin lainnya, manfaat vaksin HPV adalah mencegah sebagian besar kasus kanker serviks, terutama jika diberikan sebelum seorang wanita terkena virus tersebut.

Selain itu, beberapa jenis vaksin yang utamanya untuk mencegah kanker leher rahim ini juga dapat mencegah kanker vagina dan vulva pada wanita, serta dapat mencegah kutil kelamin dan kanker anus pada wanita dan pria.

Beberapa jenis HPV juga telah dikaitkan dengan kanker di mulut dan tenggorokan. Jadi vaksin untuk HPV ini kemungkinan juga dapat melindungi Anda dari kanker mulut dan tenggorokan.

Ada berapa jenis vaksin HPV?

Mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 2 jenis vaksin kanker serviks di Indonesia untuk membantu mencegah kanker serviks. Pertama yakni bivalen, dan kedua yaitu tetravalen.

Vaksin bivalen mengandung 2 tipe virus HPV, yaitu tipe 16 dan 18 yang dapat mencegah terjadinya kanker leher rahim. Sementara vaksin tetravalen berisikan 4 tipe virus HPV, yakni 6, 11, 16, dan 18.

Keempat tipe virus pada vaksin HPV tersebut berguna untuk mencegah kanker serviks atau leher rahim, sekaligus kutil kelamin atau genital ward.

Kapan pemberian vaksin kanker serviks?

vaksin kanker serviks

Menurut CDC, vaksin HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks diberikan rutin untuk anak perempuan dan anak laki-laki berusia 11 atau 12 tahun. Namun, ada juga beberapa organisasi merekomendasikan untuk memulai vaksin sejak usia 9 atau 10 tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa respons kekebalan akan lebih kuat jika vaksin diberikan pada usia muda, dibandingkan di usia yang lebih tua. Tingkat efektivitas kerja vaksin ini pun akan semakin tinggi.

Vaksinasi yang diberikan pada remaja putri pada saat berusia 9-13 tahun dinilai paling efektif meskipun belum melakukan hubungan seksual. Rentang usia ini dinilai efektif karena pada masa inilah tubuh memberikan proteksi respons imun yang lebih baik dibanding usia di atasnya.

Lembaga pencegahan dan pengendalian penyakit Amerika menunjukkan bahwa setidaknya vaksin ini akan bertahan selama 10 tahun. Hal ini dibuktikan dengan melakukan penelitian kepada orang yang sudah melakukan vaksin HPV, dan diamati selama 10 tahun, efektivitasnya masih terbukti baik.

Secara khusus, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjadwalkan pemberian vaksin sebaiknya dilakukan di rentang usia 10-18 tahun.

Jumlah vaksin HPV bisa diberikan sebanyak 2-3 kali. Dosis kedua vaksin dapat diberikan satu atau dua bulan setelah pemberian vaksin pertama kali tergantung jenis vaksin yang diberikan, apakah bivalen atau tetravalen. Jadwal pemberian vaksin terakhir sekitar 6 bulan usai penyuntikan yang pertama kali.

Secara umum, pemberian vaksin kanker serviks dilakukan dalam waktu:

  • Dosis pertama: Saat ini
  • Dosis kedua: 2 bulan setelah dosis pertama
  • Dosis ketiga: 6 bulan setelah dosis pertama

Jika jadwal pemberian vaksin terlewat, Anda tidak perlu mengulangnya dari awal. Cukup dengan melengkapi dosis vaksin untuk kanker serviks yang terlewat sebelumnya.

Siapa saja yang perlu mendapatkan vaksin HPV?

vaksin vaksinasi HPV

Di Indonesia sendiri, pemberian kanker serviks umumnya lebih disarankan untuk anak perempuan, setidaknya dimulai dari usia 10 tahun ke atas. Hanya saja, Kementerian Kesehatan RI berharap agar pemberian vaksin HPV bisa diperluas untuk anak laki-laki juga nantinya.

Pasalnya, pemberian vaksinasi kepada laki-laki dapat membantu melindungi dan mengurangi penularan virus HPV penyebab kanker serviks ke pasangan seksualnya di kemudian hari.

Sangat ideal untuk anak perempuan dan anak laki-laki untuk menerima vaksin untuk mencegah penyebaran virus dan penyakit sebelum mereka melakukan kontak seksual dan terpapar HPV.

Ini karena sekali Anda terinfeksi, vaksin untuk pencegahan kanker serviks ini tidak akan bekerja efektif, bahkan mungkin tidak bekerja sama sekali.

Meski begitu, berapa pun usia Anda, baik sudah pernah melakukan hubungan seksual atau belum, tak ada kata terlambat untuk mendapatkan vaksin kanker serviks. Hal ini karena masih ada kemungkinan bahwa Anda belum terinfeksi HPV dari hubungan seksual sebelumnya.

Siapa yang tidak boleh mendapatkan vaksin HPV?

proses kehamilan

Vaksin HPV tidak disarankan untuk wanita hamil atau orang yang sedang sakit parah. Melansir dari CDC, wanita yang sedang hamil baru diperbolehkan untuk mendapat vaksin ini setelah melahirkan. 

Jika mendapati diri hamil setelah menerima suntikan pertama vaksin HPV, Anda dianjurkan untuk menunda pemberian suntikan berikutnya hingga melahirkan.

Meski umumnya seorang ibu yang tidak mengetahui dirinya hamil saat vaksin tidak perlu khawatir, cobalah untuk tetap berkonsultasi ke dokter.

Informasikan segala jenis alergi yang dimiliki sebelum vaksin dilakukan. Jika Anda juga memiliki reaksi alergi terhadap kandungan atau komponen vaksin atau dosis vaksin sebelumnya, Anda seharusnya tidak diperbolehkan mendapat vaksin ini.

Apakah vaksin HPV memengaruhi kesuburan wanita?

CDC menyadari perhatian publik tentang keamanan vaksin untuk kanker serviks ini. Sejak 2006, pemantauan dan penelitian vaksin human papillomavirus yang terus dilakukan oleh CDC, FDA dan organisasi kesehatan lainnya, telah mengonfirmasi bahwa vaksin ini memiliki catatan keamanan yang sangat baik. Tidak ada bukti bahwa pemberian vaksin menyebabkan masalah reproduksi pada wanita.

Apa efek samping vaksin HPV?

vaksin HPV

Efek samping dari vaksin kanker serviks biasanya terbilang ringan. Bahkan, ada juga yang tidak merasakan efek samping apa pun setelah mendapatkannya.

Efek samping yang paling umum dari vaksin HPV meliputi rasa sakit, pembengkakan atau kemerahan pada tempat suntikan. Pusing atau pingsan kadang juga terjadi setelah vaksinasi dilakukan.

Efek samping yang sangat umum

Lebih dari satu per seratus perempuan yang mendapatkan vaksin kanker serviks mengalami:

  • Demam
  • Mual (tidak enak badan)
  • Nyeri di lengan, jari tangan, kaki, dan jari kaki
  • Kemerahan, memar, gatal, bengkak, nyeri, atau selulitis.
  • Sakit kepala

Efek samping yang jarang

Sekitar satu per sepuluh ribu perempuan yang mendapatkan vaksin HPV mengalami ruam merah yang gatal (urtikaria atau biduran).

Efek samping yang sangat langka

Kurang dari satu per sepuluh ribu perempuan yang mendapatkan vaksin kanker serviks mengalami masalah dan kesulitan bernapas (bronkospasme).

Reaksi alergi

Dalam kasus yang jarang terjadi, Anda mungkin mengalami reaksi alergi serius setelah mendapatkan vaksin. Reaksi ini dikenal juga sebagai syok anafilaktik. Tanda-tanda syok anafilaktik termasuk:

  • Kesulitan bernapas 
  • Mata, bibir, alat kelamin, tangan, kaki dan daerah lainnya membengkak (angioedema)
  • Gatal
  • Mulut terasa seperti besi
  • Mata sakit, merah, dan gatal
  • Perubahan denyut jantung
  • Hilang kesadaran

Sekali lagi, reaksi parah seperti ini sangat langka. Perbandingannya yaitu satu per satu juta orang. Jika Anda memiliki reaksi alergi yang parah, segera hubungi dokter.

Sudah vaksin, masih perlukah saya tes pap smear?

deteksi kanker serviks

Vaksin HPV untuk pencegahan kanker serviks tidak bisa menggantikan tes pap smear. Pemeriksaan rutin kanker serviks melalui tes pap smear merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan seorang wanita.

Pap smear adalah sebuah tes  untuk mendeteksi dini keadaan sel-sel pada serviks (leher rahim) dan vagina. Dengan pemeriksaan rutin, dokter bisa langsung mendeteksi jika ada perubahan sel yang mungkin bisa berkembang menjadi kanker.

Tes pap smear sebaiknya mulai dilakukan sejak wanita berusia 21 tahun atau sudah aktif berhubungan seksual. Pemeriksaan ini dapat dilakukan 3 tahun sekali. 

Selain vaksin, bagaimana cara mencegah kanker serviks?

deteksi kanker serviks dini memperbesar peluang sembuh

Tak hanya vaksin, ada beberapa cara lain yang dapat Anda lakukan untuk mencegah infeksi HPV.

Selalu lakukan hubungan seksual secara sehat. Gunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Selain itu, sebaiknya hindari merokok karena berisiko meningkatkan kemungkinan Anda untuk mengalami kanker serviks.

Tidak bergonta-ganti pasangan seks juga merupakan cara untuk mencegah kanker serviks.

Untuk mendeteksi kanker serviks pada tahap awal, lakukan pemeriksaan kesehatan dengan tes pap smear rutin yang dimulai pada usia 21. Hubungi dokter segera jika Anda melihat tanda atau gejala kanker serviks, seperti perdarahan vagina setelah berhubungan seks, saat sedang tidak menstruasi, atau setelah menopause, atau jika Anda merasa sakit saat berhubungan seks.

Share now :

Direview tanggal: Desember 17, 2017 | Terakhir Diedit: Februari 13, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca