Menurut para peneliti di National Jewish Medical dan Research Center di Denver, orang yang memiliki penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) lebih mungkin untuk menderita depresi daripada penderita penyakit kronis lainnya.

Jika Anda memiliki PPOK, Anda dapat membalikkan keadaan ini. Pertama-tama Anda harus lebih dulu memahami kemungkinan efek samping emosional dari PPOK agar kemudian bisa mendapatkan lebih banyak dukungan.

Penderita PPOK lebih rentan mengalami gangguan kecemasan

Anda memiliki sistem kewaspadaan bawah sadar  yang tidak pernah berhenti menganalisis darah untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan cukup oksigen dan menghirup udara sehat. Jika ada sesuatu yang salah dengan pernapasan Anda, otak Anda akan mengirimkan alarm “sesak napas.” Ketika alarm ini berbunyi, Anda bisa merasakan gelombang ketakutan penuh kepanikan atau gelisah. Jantung berdegup kencang, tangan gemetar, kepala terasa pening, dan Anda merasa berada di ambang kesadaran.

Sulit bernapas merupakan pemicu utama dari serangan kecemasan. Ketika memiliki PPOK, Anda bisa terus-menerus merasa waswas mengkhawatirkan kapan sesak napas akan kambuh lagi. Kesulitan bernapas menciptakan kecemasan, dan kecemasan tersebut, sebagai gantinya, menghasilkan sesak napas yang semakin parah. Pola pikir ini dapat menyebabkan sistem alarm “sesak napas” yang terlalu aktif — dan bahkan lebih banyak lagi kecemasan dari alarm palsu. Dalam beberapa kasus, hanya mengendus bau yang kuat seperti parfum dapat memicu alarm Anda.

Kecemasan yang tidak diobati dapat menjadi masalah keonis dan menetap, membuat Anda terus-menerus khawatir, ketakutan, dan bahkan depresi. Ini dapat memengaruhi keluarga dan hubungan Anda, dan partisipasi Anda dalam masyarakat. Anda dapat merasa terisolasi dari pasangan dan keluarga, dan kehilangan minat serta kegembiraan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kecemasan juga dapat menguras energi fisik Anda yang sedari awal memang sudah sedikit.

Penderita PPOK mudah terjerat depresi

Memiliki penyakit kronis seperti PPOK dapat menyebabkan keputusasaan dan depresi. Gejala PPOK seperti kelelahan dan sulit tidur berkaitan dengan depresi, dan efek lain dari kondisi ini, seperti masalah makan dan sulit bernapas, dapat membuat Anda jatuh dalam kepayahan. Jika Anda memiliki PPOK, Anda dapat merasa lemah dan tidak mampu untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang menyenangkan, atau Anda mungkin tinggal di rumah karena Anda tidak mau mengalami kejang batuk di depan umum atau merasa tidak nyaman membawa tabung oksigen. Ini semua adalah alasan di balik meningkatnya risiko depresi di antara orang-orang penderita PPOK.

Penting untuk mendapatkan bantuan untuk stres emosional yang disebabkan oleh PPOK, karena kecemasan dan depresi hanya akan memperburuk kondisi. Menurut National Jewish Health, penderita depresi dan PPOK cenderung tidak menaati program pengobatan mereka, dan PPOK yang tidak ditangani dapat menyebabkan rasa sakit, kunjungan ke ruang gawat darurat, rawat inap di rumah sakit yang lebih sering.

Mengatasi tantangan emosional yang timbul akibat PPOK

Penting untuk dipahami bahwa setiap gejolak emosi yang Anda rasakan adalah reaksi normal terhadap perubahan gaya hidup yang harus Anda lakukan akibat PPOK. Kecemasan dan depresi menunjukkan bahwa Anda adalah seorang manusia biasa. Depresi atau kecemasan bukan berarti Anda lemah atau kehilangan kewarasan.

Anda mungkin tidak mampu melakukan semua hal yang biasa Anda lakukan, tetapi ada banyak yang dapat Anda lakukan untuk mengubah cara pandang Anda.

  • Tantang pemikiran cemas atau depresif dengan menggunakan self-talk untuk menumpas perasaan negatif tersebut. Jika Anda berpikir “Aku tidak akan membaik,” tanggapi dengan “Tidak benar. Aku juga pernah mengalami hari-hari baik.”
  • Gunakan self-affirmation seperti “Aku orang yang penuh aksi, bukan pencemas.”
  • Ketika Anda merasa depresi, lakukanlah kegiatan fisik sederhana seperti pereganggan atau bersenandung selama 5 menit untuk meredam perasaan negatif.
  • Ketika Anda merasa cemas, buang napas perlahan dan katakan pada diri sendiri, “Tenang. Jika aku tenang, perasaan cemas akan menghilang.”
  • Pelajari teknik pernapasan dari psikolog, terapis fisik, atau terapis pernapasan. Akan lebih baik jika dalam lingkungan rehabilitasi paru.
  • Berolahragalah yang ringan dan secara bertahap tingkatkan durasi latihan Anda dalam pengawasan dokter. Anda akan mendapatkan dorongan mood dengan berolahraga dan membatasi kehilangan massa otot yang seringkali muncul bersama dengan PPOK.
  • Bergabunglah dalam kelompok dukungan PPOK. Tidak hanya bertemu dengan orang-orang baru yang juga menghadapi tantangan yang sama, tetapi Anda juga mendapatkan saran bernilai yang dapat membantu Anda.
  • Taati program rehabilitasi dari dokter ketika gejala Anda meningkat.

Ketika Anda berjuang mengatasi stres emosional, ingatkan diri sendiri bahwa tetap menjalin hubungan dengan keluarga dan teman akan memberikan dukungan moral yang Anda butuhkan untuk penanganan PPOK terbaik. Dan jika Anda menyadari adanya perkembangan tanda-tanda dari depresi dan/atau kecemasan, konsultasikan secara terbuka pada dokter untuk menemukan cara-cara untuk mengendalikan gejala-gejala tersebut.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca