Mengenal Terapi Hormon untuk Pengobatan Kanker Payudara

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Terapi hormon merupakan salah satu pengobatan untuk mengatasi kanker payudara. Terapi ini juga dikenal sebagai terapi hormonal atau terapi endokrin. Tujuannya untuk menahan kemampuan tubuh dalam memproduksi hormon atau mengganggu aksi hormon untuk memperlambat atau menghentikan pertumbuhan tumor yang sensitif akan hormon. Simak ulasannya lebih lanjut dalam artikel berikut.

Mengenal terapi hormon sebagai metode pengobatan kanker payudara

Terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara paling sering digunakan sebagai pengobatan adjuvant untuk membantu mengurangi risiko kambuh kembali kembali setelah operasi ataupun neoadjuvant (sebelum operasi). Namun, bisa juga digunakan untuk kanker yang telah menyebar.

Prosedur ini tidak sama dengan terapi hormon menopause atau penggantian hormon wanita. Terapi hormon untuk kedua kondisi tersebut biasanya dilakukan dengan memberikan hormon untuk membantu mengurangi gejala menopause.

Sementara itu, terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara biasanya dilakukan untuk menurunkan atau menghentikan estrogen. Kadar estrogen tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Dikutip dari American Cancer Society, sekitar 2 dari 3 kanker payudara adalah hormon reseptor-positif. Sel-sel tersebut memiliki reseptor untuk hormon estrogen (kanker ER-positif) dan/atau progesteron (kanker PR-positif) yang membuat sel kanker tumbuh dan menyebar.

Tujuan terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara

Pada intinya, prosedur pengobatan ini bertujuan untuk menurunkan kadar estrogen dalam tubuh bagi pasien kanker payudara.

Terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara bekerja dalam beberapa cara, yaitu:

Menghalangi fungsi ovarium

Strategi pertama saat menjalani terapi hormon untuk mengobati kanker payudara adalah dengan menghentikan sinyal di ovarium yang menghasilkan estrogen.

Terapi yang dilakukan bisa dengan menggunakan obat supresi ovarium adalah goserelin (Zoladex®) dan leuprolide (Lupron®).

Obat-obatan yang dapat digunakan sendiri atau dengan obat hormon lain (seperti tamoxifen, aromatase inhibitor, fulvestrant) ini dapat menyebabkan menopause sementara.

Menghalangi produksi estrogen

Obat yang disebut inhibitor aromatase digunakan untuk memblokir aktivitas enzim yang disebut aromatase. Aromatase digunakan tubuh untuk membuat estrogen di ovarium dan jaringan lainnya. 

Obat-obatan penghalang produksi estrogen ini disebut juga luteinizing hormone (LH) blockers. Fungsinya menghalangi hormon pelutein atau luteinizing hormone untuk melakukan fungsinya, yaitu mengendalikan kerja ovarium.

Beberapa contoh obat yang dapat menghambat enzim ini antara lain anastrozole (Arimidex®) dan letrozole (Femara®). Kedua obat ini menonaktifkan aromatase untuk sementara waktu.

Ada pula obat exemestane (Aromasin®) yang secara permanen menghentikan aktivitas enzim.

Menghalangi efek estrogen

Beberapa jenis obat dalam terapi hormon kanker payudara digunakan untuk mengganggu kemampuan estrogen dalam merangsang pertumbuhan sel-sel kanker. Obat-obatan ini dikelompokkan dalam istilah selective reseptor estrogen modulator (SERM).

Beberapa jenis obat yang masuk ke dalam golongan SERM adalah tamoxifen (Nolvadex®), raloxifene (Evista), dan toremifene (Fareston®). 

Efek samping terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara

gejala awal kanker payudara

Terdapat beberapa jenis obat yang akan digunakan dalam terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara. Itu sebabnya, efek samping yang muncul juga berbeda-beda tergantung pada obat atau jenis pengobatannya.

Dokter akan selalu mempertimbangkan manfaat melakukan terapi ini dan efek sampingnya. Jika manfaatnya dinilai lebih besar, dokter akan merekomendasikan Anda untuk tetap menjalani terapi ini.

Rasa panas, berkeringat di malam hari, dan vagina yang kering adalah efek samping umum dari jenis pengobatan ini.

Efek samping terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara dibagi menjadi dua, yaitu

Efek samping jangka pendek

Terapi hormon kadang membawa dampak positif bagi wanita. Beberapa wanita yang mengalami efek seperti hot flushes, keringat pada malam hari, dan nyeri sendi, memiliki kesempatan 10% lebih besar untuk terhindar dari kambuhnya kanker payudara, dibanding dengan wanita yang tidak mengalami efek samping.

Beberapa efek samping jangka pendek terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara umumnya meliputi:

Vagina kering atau malah mengeluarkan cairan

Kekeringan dapat menyebabkan kemungkinan infeksi pada vagina dan juga membuat berhubungan intim terasa sakit. Cairan vagina lebih umum terjadi jika Anda menggunakan tamoxifen dibanding dengan jenis pengobatan terapi hormon untuk kanker payudara lainnya.

Perubahan suasana hati

Anda mungkin akan mengalami mood swing atau merasa sangat sedih. Namun, umumnya kondisi ini akan membaik seiring berjalannya waktu. Konsultasikanlah dengan dokter jika kondisi ini berlanjut.

Nyeri sendi

Salah satu efek samping yang mungkin muncul adalah nyeri sendiri. Terutama jika Anda menggunakan aromatase inhibitors dan luteinizing hormone (LH) blockers, yaitu obat-obatan yang menghentikan produksi estrogen pada tubuh.

Penghilang rasa sakit ringan seperti parasetamol atau ibuprofen dapat membantu meringankan rasa nyeri. Jika rasa nyeri berlanjut, beri tahu dokter atau perawat.

Berkurangnya hasrat seksual

Terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara dapat menyebabkan berkurangnya hasrat seksual. Ini karena hormon androgen yang memengaruhi dorongan seks ikut terpengaruh akibat terapi ini.

Vagina yang kering, rasa lelah, perubahan suasana hati, gelisah, dan kehilangan kepercayaan diri juga turut membuat gairah seks menurun. Kondisi ini biasanya akan kembali normal setelah pengobatan selesai dilakukan.

Hot flushes dan berkeringat

Kadar estrogen yang rendah dapat menyebabkan hot flushes dan berkeringat. Biasanya ini terjadi jika terapi menggunakan luteinizing hormone (LH) blockers, karena obat-obatan ini menghentikan produksi estrogen pada tubuh.

Hot flushes biasanya mereda seiringnya waktu. Anda akan diberi obat-obatan pengontrol hot flushes dan keringat seperti clonidine atau antidepresan.

Perubahan siklus menstruasi

Efek samping terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara juga dapat berupa perubahan siklus menstruasi. Menstruasi dapat menjadi lebih ringan dan tidak teratur atau bahkan berhenti sama sekali jika Anda belum mengalami menopause dan menggunakan tamoxifen.

Luteinising hormone (LH) blocker akan menghentikan menstruasi Anda. Menstruasi akan mulai kembali saat terapi usai. Namun pada beberapa wanita yang menstruasinya tidak kembali dan mengalami menopause dini. Hal ini lebih mungkin terjadi jika usia Anda dekat dengan usia menopause.

Mual

Anda mungkin akan merasa mual untuk beberapa hari pertama terapi hormon, tapi ini akan membaik. Jika Anda merasa sangat mual, tidak dapat makan atau minum, konsultasikan dengan dokter atau perawat. Anda mungkin akan diberikan tablet anti mual.

Lelah

Wajar jika Anda merasa lelah saat menjalani terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara. Namun, seperti yang lainnya, kondisi ini akan membaik seiring waktu.

Efek samping jangka panjang

kanker payudara stadium 1

Tak hanya jangka pendek, terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara juga bisa membawa efek samping jangka panjang pada diri Anda.

Beberapa hal yang mungkin terjadi, antara lain:

Risiko pembekuan darah

Terapi hormon dapat meningkatkan risiko pembekuan darah pada kaki ataupun paru-paru. Gejala umum dari pembekuan darah adalah nyeri, pembengkakan di sekitar area pembekuan, ditandai dengan adanya gumpalan yang hangat.

Pasien akan mulai merasa sesak napas dan mengalami nyeri pada dada atau punggung. Jika pembekuan telah pindah ke paru-paru kemungkinan pasien akan mengalami batuk darah.

Penipisan tulang

Pasien akan lebih rentan terkena penipisan tulang atau osteoporosis jika memilih terapi hormon dengan obat yang berfungsi menghalangi tubuh memproduksi estrogen. Biasanya ini merupakan efek jangka panjang dari penggunaan inhibitor aromatase.

Anda akan diminta untuk melakukan pemeriksaan kepadatan tulang sebelum menjalani salah satu jenis terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara. Dokter mungkin tidak akan menyarankan inhibitor aromatase jika sudah ada tanda osteoporosis pada tubuh pasien.

Pasien mungkin akan diberikan resep kalsium dan vitamin D untuk membantu mengurangi efek  buruk pada tulang saat melakukan pengobatan inhibitor aromatase. Olahraga juga diketahui dapat membantu menurunkan risiko masalah tulang akibat terapi hormon.

Perubahan penglihatan

Meskipun sangat jarang terjadi, pengobatan dengan tamoxifen dapat menyebabkan perubahan penglihatan. Beri tahu dokter jika adanya perubahan pada penglihatan dan jika diperlukan pemeriksaan mata harus dilakukan.

Kanker rahim

Tamoxifen diketahui meningkatkan risiko sangat kecil pada munculnya kanker rahim. Efek samping yang muncul sebelum hal ini terjadi adalah pendarahan dan keluarnya cairan dari vagina. Temui dokter jika Anda mengalami perdarahan yang abnormal. Jenis kanker rahim yang disebabkan oleh tamoxifen hampir selalu dapat disembuhkan.

Efek samping yang Anda alami bisa jadi berbeda dengan yang dirasakan orang lain. Anda mungkin mengalami satu efek samping, tapi tidak yang lainnya.

Anda juga mungkin menyadari efek samping terapi hormon paling buruk terjadi pada awal pengobatan tapi akan mereda setelah beberapa minggu atau bulan. Banyak juga orang yang hanya mengalami satu atau dua efek samping yang ringan.

Itu sebabnya, jangan ragu untuk mengonsultasikan kepada dokter segala keluhan yang Anda alami saat menjalani terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara. Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk mengurangi atau mencegah efek samping yang mungkin muncul.

Yang harus Anda perhatikan sebelum memulai terapi hormon

pasien kanker payudara stadium 4

Obat-obatan tertentu, termasuk beberapa resep antidepresan (seperti golongan SSRI) menghambat enzim yang disebut CYP2D6. Enzim ini memainkan peran penting dalam penggunaan tamoxifen oleh tubuh karena memetabolisme, atau membagi, tamoxifen menjadi molekul, atau metabolit, yang jauh lebih aktif daripada tamoxifen itu sendiri.

Keadaan tersebut bisa memperlambat metabolisme tamoxifen dan mengurangi potensinya untuk pengobatan kanker payudara. Beberapa pasien kanker payudara yang mengalami depresi klinis mungkin saja diresepkan obat ini.

Obat lain yang juga menghambat CYP2D6, antara lain:

  • Quinidine, yang digunakan untuk mengobati irama jantung abnormal
  • Diphenhydramine, yang merupakan antihistamin
  • Cimetidine, yang digunakan untuk mengurangi asam lambung

Jangan lupa untuk menginformasikan segala jenis obat-obatan yang Anda konsumsi, terutama jika Anda diresepkan tamoxifen saat menjalani terapi hormon untuk pengobatan kanker payudara.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Mei 18, 2016 | Terakhir Diedit: Februari 13, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca