Berbagai Pemeriksaan di Dokter untuk Mendiagnosis Kanker Payudara

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Pemeriksaan atau tes payudara sendiri melalui SADARI sangat penting dilakukan untuk mendeteksi kanker sejak dini. Apalagi kanker payudara seringkali tidak menimbulkan gejala, terutama pada stadium awal. Dengan mendeteksi kanker lebih dini, pengobatan kanker payudara pun akan lebih efektif dan kemungkinan sembuh pun masih sangat besar.

Meski demikian, melakukan SADARI saja tidak cukup untuk mendiagnosis kanker payudara. Lalu, apa saja jenis tes pemeriksaan kanker payudara yang biasa dilakukan?

Pilihan pemeriksaan kanker payudara

ciri-ciri kanker payudara ciri awal kanker payudara, ciri-ciri benjolan kanker payudara, penyebab kanker payudara, ciri kanker payudara stadium awal

Bila setelah SADARI Anda menemukan benjolan di payudara atau gejala kanker payudara lainnya, Anda perlu melakukan pemeriksaan di rumah sakit untuk memastikan penyebab gejala tersebut.  Saat di rumah sakit, dokter umumnya akan melakukan beberapa cara atau tes untuk mengecek dan mengetahui apakah kondisi yang Anda alami terkait dengan kanker payudara atau tidak.

Bila didiagnosis kanker, tes tambahan pun dibutukan untuk mengetahui stadium kanker payudara yang Anda alami, sehingga pengobatannya akan lebih tepat.

Berikut berbagai cara atau tes untuk memeriksa dan mendiagnosis kanker payudara yang biasa dilakukan dokter:

1. Pemeriksaan payudara klinis

Sebelum memeriksa kondisi Anda dengan bantuan alat medis, dokter terlebih dahulu akan memeriksa payudara dengan tangan kosong. Tes ini dinamakan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) untuk melihat bentuk, ukuran, warna, dan tekstur payudara guna mendeteksi kemungkinan kanker.

Ketika melakukan pemeriksaan ini, dokter atau perawat biasanya akan meraba payudara secara sistematis dengan gerakan melingkar guna mendeteksi letak benjolan di sekitar payudara.

Selain melakukan pemeriksaan di sekitar payudara, dokter juga akan melihat kelenjar getah bening di ketiak dan atas tulang selangka. Jika ada pembengkakan atau benjolan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan dengan tes lainnya.

2. Mammografi

Mammografi (mamografi) adalah pemeriksaan untuk mendiagnosis keberadaan kanker payudara, baik pada wanita yang memiliki atau tanpa gejala. Pemeriksaan mammografi sering kali bisa mendeteksi keberadaan benjolan kanker payudara ketika ukurannya masih kecil dan belum terasa jika disentuh.

Mamografi dilakukan dengan mengambil gambar jaringan masing-masing payudara dengan sinar X. Ketika mamogram (hasil gambar mammografi) menunjukkan ada area yang berbeda di payudara, dokter akan melakukan tes lanjutan. Pasalnya, mammografi saja tidak cukup untuk memastikan jaringan abnormal tersebut kanker atau bukan.

Pemeriksaan mammografi bisa dilakukan meski Anda tidak memiliki keluhan apapun terkait payudara. Bahkan, tes ini direkomendasikan bagi wanita yang sudah memasuki usia lanjut, sebagai salah satu cara deteksi dini kanker payudara.

3. USG payudara

USG (ultrasonografi) payudara atau USG mammae merupakan tes pemeriksaan kanker dengan bantuan gelombang suara yang menampilkan gambar di layar komputer.

USG payudara bisa mendeteksi perubahan pada payudara, seperti benjolan atau perubahan jaringan. Selain itu, USG payudara juga bisa membedakan benjolan berisi kista payudara atau cairan dan massa padat yang mungkin jadi cikal bakal kanker.

4. MRI payudara

Magnetic resonance imaging (MRI) payudara adalah tes kanker payudara dengan menggunakan magnet dan gelombang radio. Kombinasi keduanya akan menghasilkan gambar di seluruh bagian payudara dan menunjukkan jaringan lunak dengan sangat jelas.

Pemeriksaan MRI umumnya dilakukan setelah seseorang didiagnosis memiliki kanker payudara. Tujuannya untuk mengetahui ukuran kanker dan mencari kemungkinan tumor lain di payudara.

Namun, MRI payudara juga sering dilakukan untuk mendeteksi kanker, terutama pada wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara. Wanita yang masuk ke dalam golongan ini biasanya memiliki riwayat keluarga atau keturunan dengan kanker payudara.

Pada wanita golongan ini, skrining MRI biasanya dilakukan bersamaan dengan mamografi tahunan. Bila tes MRI dilakukan sendiri, kemungkinan akan ada beberapa temuan kanker yang terlewat, yang hanya bisa ditemukan oleh mamografi.

Selalu konsultasikan dengan dokter Anda mengenai cara mengecek dan mengenali kanker payudara yang tepat, sesuai dengan kondisi Anda.

5. Biopsi

Biopsi

Biopsi payudara dilakukan ketika pemeriksaan fisik, mamografi, atau tes pencitraan lain menunjukkan adanya perubahan pada payudara yang diduga merupakan sel kanker.

Prosedur tes ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan yang dicurigai terdapat sel kanker di dalamnya. Sampel ini nantinya akan diperiksa di laboratorium, di bawah mikroskop, untuk dilihat karakteristiknya. Dari pemeriksaan di bawah mikroskop inilah keberadaan jaringan sel kanker bisa diketahui.

Dalam ilmu kedokteran, ada empat jenis biopsi yang biasa dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya kanker payudara. Berikut empat macam pemeriksaan biopsi untuk kanker payudara:

  • Fine-needle aspiration biopsy
  • Core needle biopsy
  • Surgical biopsy
  • Lymph nodes biopsy

Dari sekian banyak prosedur pemeriksaan kanker payudara, dokter hanya akan memilihkan mana yang paling sesuai untuk Anda. Dokter juga mungkin akan meminta Anda untuk melakukan tes mendeteksi kanker payudara lainnya, seperti ductogram, terutama bila Anda mengalami gejala keluarnya cairan dari puting.

Tanyakan lebih jauh mengenai tes apa saja yang perlu Anda jalani sesuai dengan kondisi Anda, berikut dengan keuntungan dan efek samping yang mungkin akan Anda rasakan.

Faktor yang menyulitkan tes pemeriksaan kanker payudara

Ada beberapa faktor yang membuat dokter sulit melakukan deteksi dan diagnosis kanker payudara. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kondisi pasien tertentu, sehingga terkadang sel kanker baru bisa ditemukan ketika kondisinya sudah cukup parah.

1. Obesitas

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Arch Intern Med, wanita obesitas 20 persen lebih berisiko salah diagnosis ketika menjalani mamografi daripada wanita dengan berat badan normal. Hal ini diduga karena ukuran payudara wanita obesitas lebih besar, sehingga lebih rumit untuk mendeteksi adanya tumor.

Namun, ini juga bisa terjadi karena tumor pada orang obesitas tumbuh pada tingkat yang sangat cepat. Akibat faktor tersebut, wanita obesitas cenderung terdeteksi tumor kanker payudara ketika ukurannya sudah lebih besar, daripada wanita yang indeks massa tubuhnya tergolong sehat.

2. Payudara yang padat

American Cancer Society menyebut, jaringan payudara yang padat juga mempersulit ahli radiologi untuk mendeteksi kanker payudara. Pada mammogram, jaringan payudara yang padat terlihat putih dan tumor payudara juga terlihat putih, sehingga jaringan yang padat dapat menyembunyikan tumor.

Dengan demikian, hasil mammogram bisa kurang akurat pada wanita dengan kondisi ini.

Namun, bagi wanita obesitas maupun dengan jaringan payudara padat, melakukan pemeriksaan kanker payudara, termasuk mamografi, penting untuk tetap dilakukan. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai tes kanker payudara yang tepat.

Berapa lama hasil tes pemeriksaan kanker payudara bisa keluar?

perubahan yang terjadi selama pengobatan kanker payudara

Tahapan diagnosis kanker payudara memang panjang. Dokter memerlukan berbagai tes ini untuk mendapatkan hasil yang akurat, sehingga pengobatan yang diberikan pada Anda pun akan lebih efektif.

Biasanya, hasil skrining atau deteksi kanker payudara, seperti mamografi atau USG payudara, bisa Anda terima dalam dua minggu setelah prosedur dilakukan. Bila hasilnya negatif kanker, Anda mungkin tetap perlu melakukan pemeriksaan kanker payudara kembali tiga tahun setelahnya.

Ini perlu dilakukan untuk mendeteksi kembali apakah ada pertumbuhan sel kanker setelahnya.

Bila hasilnya dicurigai sebagai sel kanker, dokter mungkin akan meminta Anda untuk melakukan tes lanjutan, seperti MRI payudara atau biopsi, seperti yang telah dijelaskan di atas. Biasanya, hasil biopsi bisa Anda terima beberapa hari atau seminggu setelah tes dilakukan.

Namun, semuanya kembali lagi pada masing-masing rumah sakit, tempat Anda melakukan tes. Jika setelah dua minggu hasil skrining atau satu minggu hasil biopsi tak juga keluar, jangan sungkan untuk bertanya langsung pada dokter yang memeriksa Anda.

Apa yang harus dilakukan saat menunggu hasil pemeriksaan kanker payudara?

Menunggu hasil tes dan diagnosis kanker payudara yang cukup lama memang bisa menjadi beban pikiran Anda. Bila ini terjadi, sebaiknya Anda melakukan hal-hal positif yang bisa mengurangi stres atau beban pikiran tersebut, sambil menunggu hasil tesnya keluar.

Lakukan apapun yang menyenangkan bagi Anda, tetapi tetap sehat untuk tubuh, seperti berolahraga, jalan-jalan, menenangkan pikiran dengan meditasi, yoga, atau manjakan diri dengan makanan sehat. Biasakan diri Anda untuk menerapkan gaya hidup sehat tersebut, karena gaya hidup yang buruk merupakan salah satu penyebab kanker payudara.

Anda pun bisa mencari dukungan dari orang lain, seperti keluarga, teman dekat, atau orang lain yang berada dalam situasi sama. Cara ini bisa menenangkan pikiran Anda atau saling bertukar informasi mengenai penyakit ini.

Gaya hidup sehat pun perlu terus diterapkan meski hasil diagnosis kanker payudara Anda menunjukkan hasil yang negatif. Pasalnya, dengan gaya hidup sehat, Anda pun bisa mencegah kanker payudara terjadi pada masa depan.

Apa yang harus dilakukan bila hasil diagnosis positif kanker payudara?

Anda mungkin merasa takut dan khawatir ketika pemeriksaan dan diagnosis kanker payudara Anda menunjukkan hasil yang positif. Ini merupakan hal yang wajar, tetapi jangan terlalu lama dan lebih baik fokus pada pengobatan Anda.

Namun, bila rasa takut tersebut tak kunjung hilang, Anda bisa mengatasi rasa takut setelah diagnosis kanker payudara ini dengan mencari dokter yang paling nyaman diajak berkomunikasi serta mengenali dan mempercayakan dokter tersebut dapat membantu menghadapi penyakit Anda.

Lindungi pula diri Anda dari cerita negatif agar tak membuat Anda stres. Namun, bila Anda gelisah, stres, depresi, bahkan hingga menyebabkan gangguan tidur, konsultasikan dengan dokter untuk mengatasi masalah tersebut. Sebaliknya, lakukanlah hal-hal positif yang bermanfaat bagi kesehatan Anda.

Anda pun perlu melibatkan dan mendiskusikan dengan pasangan Anda dalam proses diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan kanker payudara ini. Komunikasikan dengan pasangan Anda dan berusaha saling menguatkan agar Anda dan pasangan lebih siap menghadapinya.

Jelaskan pula kepada pasangan tentang kebutuhan Anda, termasuk bila butuh bantuan mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, Anda juga harus menanyakan apa kebutuhan pasangan Anda, karena selama ini ia pasti fokus pada pengobatan dan pemulihan Anda.

Ketika membicarakan hal ini, jangan lupa untuk luangkan waktu berdua dengan pasangan. Namun, tidak hanya soal kanker, Anda dan pasangan juga perlu punya waktu berdua untuk membicarakan hal lainnya, termasuk semua hal yang Anda dan pasangan pikirkan dan rasakan.

Selain diri sendiri, pasangan, dan keluarga, Anda mungkin perlu membicarakan tentang diagnosis kanker payudara ini dengan atasan atau rekan kerja di kantor. Namun, hal ini bukanlah suatu keharusan, terutama bila kondisi Anda tidak mengganggu pekerjaan.

Bila Anda memang harus memberi tahu ke rekan kerja di kantor, buatlah suasana percakapan yang nyaman. Jangan takut untuk meminta bantuan dan pengertian dari rekan kerja serta diskusikanlah kemungkinan yang akan terjadi pada penampilan Anda selama proses pengobatan dijalani.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

    Anda sering tidur dalam keadaan terang benderang dan lampu menyala? Mungkin ini saatnya mulai belajar tidur dalam gelap.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

    Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

    Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Nutrisi, Hidup Sehat 28 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit

    Apa Alat Thermal Scanner yang Dipakai untuk Mendeteksi COVID-19?

    Beberapa bandara melakukan uji menggunakan thermal scanner sebagai antisipasi pencegahan coronavirus. Apa itu sebenarnya thermal scanner?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Coronavirus, COVID-19 18 Februari 2020 . Waktu baca 5 menit

    Gejala dan Ciri – ciri Kanker Payudara Perlu Dikenali dan Diwaspadai

    Gejala awal kanker payudara tak hanya ditandai dengan benjolan. Berikut adalah ciri-ciri lain yang kerap muncul pada wanita yang terkena kanker payudara.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Kanker Payudara, Kanker 5 November 2019 . Waktu baca 8 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    bra kawat

    Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    kanker payudara ciri-ciri gejala penyebab obat

    Kanker Payudara

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 13 menit
    obat, pengobatan, dan cara mengobati kanker payudara

    Jenis Obat dan Pengobatan Kanker Payudara yang Dapat Direkomendasikan Dokter

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 13 menit
    benjolan di ketiak

    Ada Benjolan di Ketiak Anda? Ini Beberapa Penyebabnya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 24 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit