Pengobatan kanker payudara yang dijalani pasien terkadang menimbulkan komplikasi atau efek samping yang tidak menyenangkan. Efek samping dan komplikasi yang muncul akan berbeda, tergantung pada perawatan dan obat-obatan yang dipilih, serta reaksi masing-masing individu terhadap pengobatan.

Konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami efek samping atau risiko komplikasi.

Kemoterapi

Efek samping yang paling umum dari kemoterapi adalah gangguan saluran pencernaan dan rambut rontok. Sel-sel tubuh di beberapa bagian membelah dengan cepat dan rusak bersamaan dengan sel-sel kanker yang dibunuh. Selain itu, efek samping yang mungkin dirasakan pasien adalah rasa mual dan muntah. Oleh sebab itu, dokter biasanya meresepkan obat tambahan untuk meringankannya. Efek samping lain dari kemoterapi adalah:

  • Jumlah sel darah rendah
  • Kelelahan
  • Mudah memar
  • Infeksi

Efek samping di atas memang biasa terjadi karena sel-sel dari sumsum tulang juga rentan mengalami kerusakan akibat obat kemoterapi.

Pada kasus langka, kemoterapi dapat menyebabkan kerusakan jantung atau memicu kanker lain seperti leukemia. Umumnya, komplikasi spesifik dari pengobatan kanker payudara jangka panjang tergantung pada gender. Kemoterapi pada wanita premenopause dapat merusak ovarium sehingga produksi hormon berhenti. Hal ini dapat menimbulkan gejala menopause, seperti kekeringan vagina dan serangan hawa panas. Periode menstruasi dapat berhenti atau menjadi sangat tidak teratur, sehingga wanita akan kesulitan untuk hamil. Wanita yang mengalami efek samping ini juga mungkin akan menghadapi risiko lebih tinggi terkena osteoporosis tulang.

Kebanyakan wanita tidak lagi merasakan efek samping setelah pengobatan selesai. Tekanan emosional pengobatan juga terbukti dapat menyebabkan efek samping terasa lebih intens. Bagi beberapa pasien, gangguan konsentrasi dan kehilangan memori jangka pendek (yang dikenal sebagai “chemo-brain, chemo-fog, atau chemo-memory,”) menjadi tantangan tersendiri.

Efek samping psikologis dari kemoterapi dan/atau kanker payudara itu sendiri mencakup:

  • Depresi
  • Perasaan takut
  • Perasaan sedih
  • Perasaan terasingkan

Beberapa wanita mengalami kesulitan untuk kembali ke kehidupan “normal” pasca pengobatan. Risiko kambuh dapat menjadi hal yang jauh menakutkan. Pasien dianjurkan untuk berdiskusi mengenai terapi dengan dokter profesional. Selain itu, tetaplah berhubungan dengan keluarga dan kerabat dekat selama pengobatan ini.

Terapi radiasi

Pada kasus yang jarang terjadi, terapi radiasi dan terapi hormon dapat mengakibatkan efek samping yang lebih serius. Efek samping dari terapi radiasi bisa muncul perlahan-lahan. Seiring berjalannya waktu, efek samping umum yang awalnya dianggap ringan bisa membuat tubuh menjadi sangat lemah. Komplikasi yang lebih serius meliputi radang paru, kerusakan jantung, atau bahkan kanker sekunder.

Terapi hormon

Tingkat estrogen yang menurunkan akibat terapi hormon juga dapat secara signifikan meningkatkan risiko osteoporosis. Dokter akan memantau kepadatan mineral tulang Anda saat Anda mengonsumsi obat-obatan. Kadar estrogen yang lebih rendah juga dapat menyebabkan kekeringan vagina dan iritasi.

Mastektomi

Mastektomi adalah prosedur pembedahan sebagai bagian dari pengobatan untuk kanker payudara. Menurut Johns Hopkins Medicine, komplikasi mastektomi yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Pembengkakan payudara sementara
  • Nyeri payudara
  • Kulit mengeras akibat jaringan parut yang terbentuk di lokasi sayatan
  • Infeksi luka atau perdarahan
  • Pembengkakan lengan akibat pengangkatan kelenjar getah bening (limfedema)
  • Gatal, kesemutan, tekanan, dan berdenyut-denyut

Komplikasi potensial lain dari mastektomi adalah efek psikologis. Beberapa pasien mungkin merasa sedih karena kehilangan satu atau kedua payudaranya, sementara yang lainnya mungkin mengalami depresi atau kecemasan setelah operasi. Perasaan yang menghantui ini dapat ditangani melalui terapi, lingkungan pendukung, atau cara lainnya. Beberapa pasien mungkin memilih untuk menjalani operasi rekonstruksi payudara setelah mastektomi untuk mengembalikan penampilan fisik sebelum menjalani operasi. Pasien lain mungkin lebih memilih untuk menggunakan prostesis payudara untuk mencapai efek yang sama.

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca