Situasi Penyakit HIV/AIDS di Indonesia, Penanggulangan yang Belum Maksimal

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/05/2020
Bagikan sekarang

HIV /AIDS merupakan penyakit menular yang menyebabkan pelemahan sistem kekebalan tubuh secara drastis. Belum ditemukan obat pemulih untuk menghapus infeksi HIV secara menyeluruh di dalam tubuh penderita. Akibatnya, penderita HIV dan AIDS lebih rentan terjangkit penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur sehingga perlu menjalani pengobatan seumur hidup. Tapi, sebenarnya seberapa umum kasus HIV di Indonesia?

Kondisi HIV di Indonesia

Pada tahun 2015, WHO memperkirakan terdapat 36,7 juta orang di dunia hidup dengan HIV. Diduga seperempat dari kelompok penderita HIV tidak mengetahui virus HIV bersarang di dalam tubuhnya.

Estimasi UNAIDS pada tahun 2018 menempatkan Indonesia sebagai negara dalam tiga peringkat tertinggi pengidap HIV di Asia Pasifik.

HIV di Indonesia pertama kali ditemukan di provinsi Bali pada tahun 1987. Hingga pertengahan 2019 lalu, data dari Kementrian Kesehatan menunjukan jumlah kumulatif kasus HIV di Indonesia adalah sebanyak 349.882 kasus.

Berdasarkan  prevalensi dari tahun 2005 hingga 2019, kasus infeksi HIV di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Penderita AIDS mengalami peningkatan dua kali lipat ke angka 9.280 dibandingkan 10 tahun lalu.

Terdapat 5 provinsi dengan jumlah kasus HIV AIDS di Indonesia tertinggi adalah DKI Jakarta (62.108), diikuti Jawa Timur (51.990), Jawa Barat (36.853), Papua (34.473), dan Jawa Tengah (30.257).

Namun angka mengenai kondisi HIV di Indonesia ini belum bisa menggambarkan kenyataan secara menyeluruh karena diduga masih banyak kasus HIV di Indonesia yang tidak terlaporkan.

Kelompok rentan HIV di Indonesia

Dari laporan Kementrian Kesehatan tersebut diketahui kelompok heteroseksual paling rentan terinfeksi HIV di Indonesia. Mereka memiliki faktor risiko HIV melalui hubungan seksual tertinggi sebesar 70,2 persen, diikuti dengan pengguna alat suntik tidak steril (8,2%),  homoseksual (7%), dan penularan melalui perinatal atau persalinan (2,9%).

Ini berlawanan dengan asumsi banyak orang yang berpikir bahwa HIV/AIDS hanya akan menyerang kelompok homoseksual atau pengguna narkoba. Nyatanya, siapapun bisa terinfeksi HIV.

HIV di Indonesia paling banyak menyerang laki-laki usia 20-39 tahun. Yang mengejutkan adalah ternyata persentase penyintas HIV di Indonesia dari kelompok ibu rumah tangga cukup tinggi. Ibu rumah tangga mudah tertular HIV dari suaminya yang kerap berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks.

Ibu rumah tangga yang terinfeksi berpeluang besar menularkan penyakit ini kepada anaknya saat hamil, melahirkan, dan menyusui sehingga turut meningkatkan jumlah anak-anak yang terinfeksi HIV di Indonesia.

Infografik di bawah ini menjelaskan lebih lanjut tentang kondisi terakhir mengenai kasus HIV  AIDS di Indonesia pada akhir tahun 2016.

hello sehat infografik hiv aids di indonesia

Kurangnya pemahaman mengenai HIV AIDS

Banyak mitos-mitos mengenai HIV yang masih diyakini banyak orang di Indonesia. Salah satunya adalah kesamaan antara HIV dan AIDS. Padahal keduanya menyatakan kondisi kesehatan dengan perbedaan yang mendasar.

HIV yang merupakan kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus adalah jenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. HIV secara spesifik menghancurkan sel putih limfosit CD4 yang merupakan bagian dari sistem imun yang  bertugas melawan infeksi.

Infeksi HIV menyebabkan jumlah sel CD4 turun sangat drastis sehingga sistem imun tubuh Anda tidak cukup kuat melawan infeksi.

Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi yang paling parah dari penyakit HIV dan ditandai dengan munculnya infeksi oportunistik dan kemunculan penyakit komplikasi seiring dengan semakin melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa perbedaan paling utama antara keduanya adalah AIDS merupakan penyakit kronis atau stadium infeksi akhir dari HIV.

Pengobatan HIV di Indonesia yang belum inklusif

Penularan serta bahaya infeksi HIV di Indonesia bisa ditekan melalui pengobatan antiretroviral (ARV). Obat ARV bekerja dengan menghambat perkembangan infeksi virus dalam proses replikasi yang merusak sel dalam sistem imun.

Meskipun jumlah infeksi HIV di Indonesia mengalami penurunan selama sepuluh tahun terakhir, kasus HIV yang menyebabkan kematian melonjak hingga 60% sejak 2010 dari 24000 kematian hingga 38000 kematian di tahun 2018 dalam laporan UNAIDS.

Belum maksimalnya upaya penanggulan HIV di Indonesia melalui akses obat ARV dapat menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kematian. Pasalnya, permasalah seperti terbatasnya ketersediaan obat ARV berdampak pada penurunan kondisi kesehatan penderita HIV.

Obat ARV perlu dikonsumsi secara rutin untuk mereduksi pertumbuhan virus atau viral load hingga mencapai status tidak terdeteksi. Kondisi ini dapat memulihkan kembali kerja sistem imun sehingga meningkatkan harapan hidup penderita HIV.

Sebaliknya, jika dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun orang yang terinfeksi HIV tidak menjalani mengobatan dengan minum obat ARV maka HIV akan berkembang menjadi AIDS. Kondisi ini ditandai dengan munculnya kumpulan gejala yang lebih parah dan penyakit komplikasi.

Pencegahan HIV AIDS di Indonesia

HIV bukan termasuk virus yang mudah menular sehingga upaya pencegahan HIV di Indonesia sangat efektif dalam pengendalian penularan penyakit ini. Langkah pertama mencegah HIV bisa dimulai dengan melakukan pemeriksaan atau tes HIV untuk memperoleh hasil diagnosis secara pasti.

Tes HIV sangat dianjurkan dilakukan oleh orang yang berisiko tinggi menularkan HIV, yaitu yang kerap berganti-ganti pasangan seksual, ibu rumah tangga dan ibu hamil. Salah satu strategi pencegahan HIV yang juga bisa dilakukan adalah dengan mengonsumsi PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis).

Obat ini biasanya diberikan pada orang yangterdiagnosis HIV negatif melalui hasil tes. Namun akses terhadap obat PrEP untuk pencegahan HIV di Indonesia masih sangat sulit karena ketersediaannya yang terbatas.

Pemerintah memang telah menyiapkan fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) yang menyediakan akses terhadap pengobatan HIV di Indonesia yang terjangkau. Namun, upaya mengendalikan HIV di Indonesia nampaknya tak sebatas mengenai kemudahan akses dan kecukupan persediaan obat.

Masih maraknya stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV di Indonesia mempengaruhi penderita HIV untuk mengakses pengobatan HIV.

Dari jumlah keseluruhan kasus HIV di Indonesia terdapat 340.978 orang dengan HIV AIDS (ODHA) yang pernah menjalani perawatan HIV khusus. Sementara 224.142 di antaranya pernah mengalami pengobatan.

Dari jumlah kasus HIV di Indonesia, hanya sekitar 33% ODHA yang rutin menjalani pengobatan ARV. Angka putus obat masih terhitung sangat tinggi, yaitu mencapai 23 %. Padahal, pengobatan HIV yang efektif tidak boleh terputus untuk mencegah efek resitansi obat.

Kendala penanggulangan HIV di Indonesia akibat stigma

Stigma yang ditujukan kepada ODHA mengarah pada perilaku seksual yang menjadi penyebab penularan HIV di Indonesia yang utama. ODHA seringkali dicap berperilaku negatif seperti melakukan seks bebas sehingga terjangkit HIV.

Belum lagi diskriminasi terhadap penyintas disebabkan oleh keterbatasan wawasan mengenai penularan HIV. ODHA sering kali tidak diterima di lingkungan sosialnya karena dianggap mudah menularkan penyakit HIV kepada orang lain.

Stigma dan diskriminasi membuat ODHA enggan menunjukkan bahwa mereka membutuhkan pengobatan ARV secara menerus seumur hidupnya. Seperti yang dituliskan dalam penelitian berjudul Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV/AIDS, penolakan dan isolasi sosial terhadap ODHA berdampak pada program penanggulangan dan pencegahan HIV di Indonesia.

ODHA takut melalukan tes HIV, khawatir jika hasilnya reaktif atau positif mereka akan dikucilkan. Alhasil, penundaan diagnosis dini menyebabkan penularan HIV di Indonesia semakin sulit dikendalikan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Obat HIV Dapat Digunakan untuk Melawan Coronavirus?

Para tenaga kesehatan sedang berupaya mencari cara mengobati wabah coronavirus dari Wuhan, Tiongkok, menggunakan obat HIV untuk coronavirus. Efektifkah?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 02/02/2020

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Bila anak terkena HIV dari orang tuanya, perlukah orang tua memberi tahu hal tersebut ke anak? Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan pada anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ruam kulit kemerahan muncul pada sekitar 90% orang yang terinfeksi HIV dalam beberapa bulan pertama setelah terdiagnosis. Apakah ini berbahaya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Bisakah Tertular HIV di Kolam Renang?

Salah satu mitos tentang HIV adalah Anda dapat tertular melalui air. Nah, apakah penularan HIV juga tidak berlaku di kolam renang?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

nyamuk menularkan hiv

Bisakah HIV Menular Melalui Gigitan Nyamuk?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020

Apakah HIV Bisa Sembuh dengan Sendirinya? Ini Jawabannya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020
merawat anak HIV AIDS

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21/03/2020

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14/03/2020