Sejak Kena Diabetes, Suasana Hati Jadi Berubah-ubah (Moody)? Ini Alasannya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit diabetes (tipe 1 dan tipe 2) ternyata tidak hanya dapat menimbulkan masalah serius pada kesehatan fisik. Gangguan pada kadar gula darah ini juga ternyata dapat memengaruhi emosi, yang pada gilirannya bisa mengacaukan pengendalian diabetes itu sendiri. Lalu kenapa suasana hati pengidap diabetes sering berubah-ubah secara drastis? Temukan jawabannya di bawah ini.

Mood atau suasana hati pengidap diabetes bisa berubah dalam hitungan menit

Penelitian yang dilakukan oleh American Diabetes Association menemukan bahwa melonjaknya kadar gula darah secara ekstrem dapat menyebabkan perubahan mood yang drastis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa perubahan kadar gula darah (yang sering disebut variabilitas glikemik) dapat memengaruhi kondisi dan kualitas hidup pasien diabetes. Jadi, tidak mengherankan jika suasana hati pengidap diabetes secara drastis bisa berubah-ubah dalam waktu dekat.

Penyakit diabetes, terutama tipe 2, sejak lama dikaitkan dengan depresi. Tetapi sejauh ini, belum jelas bagaimana keduanya saling memengaruhi: apakah depresi memicu diabetes atau diabetes menyebabkan orang mengalami depresi.

Nah, penelitian terbaru pada pasien diabetes tipe 1 menemukan bahwa kadar gula darah yang melonjak pada jangka waktu tertentu memicu produksi hormon yang bisa menyebabkan depresi.

Menurut Joe Solowiejczyk, seorang pakar diabetes di Johnson & Johnson Diabetes Institute, California, Amerika Serikat (AS), diabetes membuat Anda selalu khawatir atau cemas. Kekhawatiran ini lama-lama akan terasa melelahkan buat Anda. Hal ini dapat membuat para pengidap diabetes merasa tidak berdaya.

Sangat penting untuk menyadari bahwa dari waktu ke waktu pasien dengan diabetes akan mengalami suatu krisis. Anda akan mengalami hari-hari di mana Anda merasa sangat jengkel, frustrasi, sedih, penyangkalan dan lelah secara fisik.

Diabetes tidak hanya meningkatkan risiko komplikasi yang serius, tetapi diabetes yang tak terkontrol dapat memperparah depresi. Ini akan menciptakan lingkaran setan.

Selain peningkatan risiko depresi, diabetes juga dapat memengaruhi suasana hati bahkan dalam hitungan menit. Misalnya, seseorang yang mengalami gula darah rendah bisa tiba-tiba menjadi mudah marah, bahkan agresif, dan dapat bertindak layaknya orang mabuk. Hal ini yang menyebabkan suasana hati pengidap diabetes sering berubah.

diagnosis hiv

Apa hubungan antara kadar gula darah dengan suasana hati pengidap diabetes?

Kadar gula darah (glukosa) yang kelewat rendah dikenal dengan istlah hipoglikemia. Kondisi ini terjadi ketika seseorang menggunakan terlalu banyak insulin atau tidak mendapat cukup asupan makan. Hipoglikemia sendiri sering dialami penderita diabetes yang harus suntik insulin. 

Untuk menjalankan fungsinya, otak bergantung pada sumber energi yaitu glukosa. Bila tubuh kekurangan glukosa, fungsi kognitif Anda tidak bekerja dengan baik. Padahal, kemampuan untuk mengelola emosi dan suasana hati diatur salah satunya oleh fungsi kognitif otak. 

Menurut dr. Vivian Fonseca dari American Diabetes Association, reaksi hiperglikemia (kadar gula darah kelewat tinggi) juga dapat membuat Anda lebih gampang cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah kesal. Intinya, setiap perubahan dalam kadar gula darah di luar batas normal bisa membuat Anda merasa aneh dan tidak nyaman.

Meski diabetes dan kadar gula darah dapat mempengaruhi emosi, tapi emosi juga dapat mempengaruhi kadar gula darah dan kontrol pasien dengan diabetes. Dalam penelitian yang berbeda, peneliti menguji tingkat gula darah orang tanpa diabetes, dan menemukan bahwa stres menyebabkan gula darah mereka meningkat secara signifikan.

Karena suasana hati, emosi, dan kadar gula darah Anda kaitannya sangat erat, biasakan diri Anda untuk mengelola emosi. Misalnya dengan menarik napas panjang saat cemas atau marah. Anda juga harus mengendalikan gejala diabetes dan menghindari pemicu naiknya gula darah dengan pola hidup sehat yang dianjurkan dokter Anda. 

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca