home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Luka Diabetes Sulit Sembuh dan Cara Perawatannya

Penyebab Luka Diabetes Sulit Sembuh dan Cara Perawatannya

Penyakit diabetes melitus memiliki banyak nama, seperti penyakit gula dan kencing manis. Namun, masyarakat Indonesia juga mengenal istilah diabetes kering dan diabetes basah. Meski begitu, istilah ini tidak berhubungan dengan jenis diabetes (diabetes tipe 1 dan 2), melainkan merupakan istilah tak resmi yang merujuk pada kondisi luka yang dialami oleh penderita diabetes.

Penyebab luka penderita diabetes susah sembuh

Gejala diabetes memang bisa ditunjukkan dari luka yang sulit sembuh. Nah, gejala luka basah yang biasanya disertai nanah sering disebut diabetes basah. Sementara itu, diabetes kering merujuk kepada luka yang tak berair.

Luka basah merupakan kondisi lebih lanjut dari diabetes kering. Ini bisa terjadi karena luka kering tidak segera diobati dengan tepat atau kadar gula darah tetap tinggi sehingga menghambat proses penyembuhan.

Gejala khas dari luka diabetes basah ditandai dengan munculnya nanah. Munculnya nanah menandakan luka yang semula kering kini telah terinfeksi oleh bakteri.

Selain itu, luka basah biasanya proses penyembuhan jauh lebih lama dibanding luka kering. Pada beberapa kasus, infeksi luka yang basah dapat menyebar ke area lain sehingga harus dilakukan tindakan amputasi.

Secara umum, terdapat beberapa hal yang menyebabkan luka diabetes sulit sembuh, baik basah ataupun kering:

1. Peredaran darah terganggu

Kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes dapat membuat pembuluh darah arteri lama-lama mengeras dan menyempit. Hal ini menyebabkan aliran darah dari jantung menuju seluruh tubuh jadi terhambat.

Penyempitan arteri akhirnya menghambat suplai darah yang kaya oksigen dan nutrisi. Padahal, oksigen dan nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan luka. Itu sebabnya, tubuh orang diabetes pun kesulitan memperbaiki kerusakannya dengan cepat.

2. Daya tahan tubuh lemah

Selain karena faktor penyempitan pembuluh darah, luka pada tubuh diabetesi (sebutan untuk penderita diabetes) juga susah sembuh karena daya tahan tubuhnya yang cenderung melemah.

Melemahnya daya tahan tubuh penderita diabetes dapat meningkatkan risiko infeksi pada luka yang tetap terbuka dan basah. Luka kemudian malah tak kunjung sembuh atau bahkan bertambah parah.

Tips mengobati luka diabetes agar tidak semakin parah

kesehatan kaki

Apabila diabetesi mengalami luka, perawatan perlu dilakukan sesegera mungkin. Proses pemulihan luka untuk orang kencing manis juga membutuhkan penanganan berbeda dengan perawatan luka pada umumnya.

Anda perlu melakukan langkah-langkah berikut ini dalam mengobati luka diabetes:

1. Merawat luka secara rutin

Saat mengalami luka, diabetesi perlu merawatnya dengan hati-hati. Selain memberikan obat secara rutin sesuai anjuran dokter, Anda perlu rutin membersihkan luka dan menutupinya dengan perban bersih.

Gunakan salep antibiotik untuk mencegah infeksi dan tutup dengan menggunakan perban yang steril. Ganti perban secara berkala setiap hari dan bersihkan kulit di sekitar luka.

Selain itu, selalu perhatikan apakah muncul tanda-tanda infeksi pada luka. Jika ia, Anda harus segera memeriksakannya ke dokter.

Jika terjadi pada kaki, Anda sebaiknya memakai kaus kaki setiap menggunakan sepatu. Namun, Anda perlu sesekali membuka sepatu dan kaus kaki agar kulit bisa bernapas sehingga kulit tidak lembap.

2. Kurangi tekanan pada luka

Hindari memberikan tekanan pada daerah yang terluka. Ketika menutup luka dengan kasa atau perban, jangan melilit atau menutup luka terlalu kencang.

Jika luka terdapat di telapak kaki, sebaiknya gunakan bantalan yang empuk agar Anda tidak menginjak daerah yang mengalami luka. Usahakan juga untuk tidak berjalan terlalu sering sampai luka benar-benar sembuh.

3. Menjaga kadar gula darah tetap normal

Dalam merawat luka diabetes, baik kering maupun basah, Anda perlu menjaga kadar gulanya tetap normal. Ini karena kadar gula darah normal merupakan faktor paling berpengaruh dalam proses penyembuhan luka.

Kadar gula yang normal bisa diraih dengan menerapkan pola hidup yang sehat, seperti menjaga pola makan diabetes tetap seimbang dan teratur, rutin olahraga, dan minum obat diabetes sesuai anjuran dokter.

4. Konsultasi ke dokter

Bila luka kering yang telah dirawat tidak kunjung pulih dalam beberapa minggu serta menimbulkan kemerahan dan rasa sakit, segera periksakan ke dokter. Gejala ini bisa menandakan luka kering diabetes yang telah berkembang menjadi luka basah akibat infeksi.

Umumnya, luka akan diobati dengan krim atau salep antibiotik.

Apa akibatnya jika luka dibiarkan tak diobati?

Diabetes juga dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh arteri yang perlahan diikuti dengan kerusakan saraf (neuropati diabetik).

Kerusakan ini membuat saraf tak lagi mampu mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. Akibatnya, Anda cenderung tidak sadar ketika tangan atau kaki terluka karena tidak merasakan sakit, nyeri, dan perih. Dengan kata lain, Anda jadi mati rasa atau baal.

Tak jarang, diabetesi baru menyadari adanya luka saat kondisi luka sudah memburuk dan mengalami infeksi. Jika tak diobati, kondisi ini bisa berkembang menjadi komplikasi diabetes yang serius.

Menurut studi dari jurnal Molecular Sciences, ketika luka pada kaki tidak berangsur sembuh dan disertai dengan gangguan saraf, kondisi ini sudah berkembang menjadi komplikasi yang disebut kaki diabetik. Kondisi seperti ini paling sering dialami oleh penderita diabetes tipe 2.

Saat luka telah lebih jauh menyebar atau sampai menyebabkan kematian jaringan penanganannya dapat berakhir dengan amputasi.

https://wp.hellosehat.com/pusat-kesehatan/diabetes-kencing-manis/diabetic-foot-luka-kaki-diabetes/

Luka diabetes harus ditangani secepat mungkin. Apabila tidak segera diobati, luka berpotensi menimbulkan infeksi akut hingga komplikasi yang berbahaya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Weledji, E. P., & Fokam, P. (2014). Treatment of the diabetic foot – to amputate or not?. BMC surgery, 14, 83. https://doi.org/10.1186/1471-2482-14-83

Okonkwo, U. A., & DiPietro, L. A. (2017). Diabetes and Wound Angiogenesis. International journal of molecular sciences, 18(7), 1419. https://doi.org/10.3390/ijms18071419

Wound Care Centers. (2020). How Diabetes Affects Wound Healing. Retrieved 12 August 2020, from https://www.woundcarecenters.org/article/living-with-wounds/how-diabetes-affects-wound-healing

National Center for Advancing Translational Sciences. (2020). Brittle diabetes  Retrieved 12 August 2020, from https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/11900/brittle-diabetes

APMA. (2020). Diabetic Wound Care | Foot Health | Patients. Retrieved 12 August 2020, from https://www.apma.org/diabeticwoundcare

Foto Penulis
Ditulis oleh Fidhia Kemala pada 08/09/2020
x