Pankreas Buatan: Harapan Baru untuk Penderita Diabetes Tipe 1

Oleh

Inovasi di dunia medis dalam mengobati diabetes tipe 1 sedang mengalami peningkatan penting. Saat ini, sedang berjalan percobaan untuk menggunakan pankreas buatan dalam mengobati diabetes tipe 1. Apakah teknologi ini bisa membawa para penderita diabetes tipe 1 ke harapan hidup yang lebih baik?

Saat ini, pengobatan untuk diabetes tipe 1 memang sangat efektif. Akan tetapi, di waktu yang bersamaan, pengobatan untuk diabetes tipe 1 ini secara relatif cukup rumit, dimulai harus cuci darah secara rutin, mengecek gula darah, dan menyuntik insulin. Para peneliti sedang melakukan percobaan untuk menggunakan pankreas buatan ini untuk para penderita diabetes tipe 1 supaya tidak rumit-rumit lagi menjalankan prosedur yang ada sekarang.

Sebenarnya, ide tentang pankreas buatan ini sudah didiskusikan sejak beberapa dekade lalu. Akan tetapi, baru saat ini teknologi dapat mendukung untuk merealisasikan ide ini.

Di desain oleh Boris Kovatchev dan rekan-rekannya di University of Virginia School of Medicine, pankreas buatani memiliki potensial yang tinggi untuk mengubah kehidupan para pengidap diabetes tipe 1 ke arah yang lebih baik.

Kovatchev sudah mulai bekerja dengan teknologi ini sejak tahun 2006. Pada awalnya, banyak orang yang skeptis tentang keberhasilan dari alat ini. Namun kenyataannya, saat ini, alat ini sudah masuk tahap percobaan langsung di manusia. Diharapkan, dalam waktu dekat, alat ini sudah dapat diaplikasikan bagi para seluruh penderita diabetes tipe 1.

Apa itu diabetes tipe 1?

Pankreas Anda memproduksi hormon yang bernama insulin. Hormon insulin ini berfungsi untuk memfasilitasi penyerapan gula dari darah ke bagian tubuh yang memerlukan. Pada penderita diabetes tipe 1, pankreas berhenti memproduksi insulin yang cukup untuk menyeimbangkan gula darah Anda.

Berbeda dengan diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 sama sekali bukan disebabkan karena gaya hidup. Diabetes tipe 1 terjadi karena serangan pada sel beta di pankreas yang tidak dapat dilawan dengan baik oleh sistem imun. Akibatnya, pankreas tidak bisa memproduksi insulin sesuai dengan yang tubuh Anda butuhkan.

Saat ini untuk mengobati diabetes tipe 1, biasanya si penderita harus secara rutin menjalani tes gula darah dan menyuntik tubuhnya dengan insulin untuk menyeimbangkan jumlah insulin yang dibutuhkan. Berhubung hal ini dilakukan secara manual oleh manusia, bisa saja terjadi kesalahan. Apabila sampai terjadi kesalahan dan gula darah si penderita naik, maka selang berjalannya waktu dapat merusak ginjal, saraf, mata, dan pembuluh darah. Di sisi lain, gula darah yang rendah, dalam keadaan ekstrem, bisa menyebabkan koma atau kematian.

Bagaimana cara kerja pankreas buatan?

Pankreas buatan karya Kovatchev ini biasanya disebut sebagai closed-loop control dari gula darah pada penderita diabetes. Yang artinya, Kovatchev berusaha menciptakan alat yang dapat mengontrol gula darah manusia tanpa campur tangan manusia, alias mengandalkan kerja mesin.

Pusat dari sistem ini menggunakan platform yang bernama InControl. Platform ini bekerja di suatu alat hasil modifikasi dari smartphone. Alat ini dihubungkan secara wireless ke monitor gula darah, alat yang berfungsi untuk memompa insulin dan remote monitor. Monitor gula darah ini mengamati kadar gula darah setiap 5 menit sekali dan mengirimkan hasilnya ke alat InControl.

Semua alat ini dikontrol oleh algoritma dan mendapatkan informasi yang tepat tentang insulin yang dibutuhkan oleh si penderita melalui jarum kecil, di mana penderita bahkan tidak akan mengeluarkan darah setetes pun.

Algoritma inilah yang menjadi kunci dari inovasi ini. Algoritma ini didesain untuk mengetahui informasi tentang seberapa banyak insulin yang dibutuhkan oleh pasien per detik. Tidak cukup untuk sebuah teknologi hanya mengetahui berapa kadar gula darah dalam waktu-waktu tertentu saja. Teknologi tersebut harus bisa memprediksikan kadar gula darah setiap saat dan beradaptasi dengan sensitivitas insulin di setiap masing-masing penderita.

Pankreas pada tubuh manusia sendiri memang secara natural memiliki “hitungan” tentang gula darah dan insulin yang dibutuhkan. Akan tetapi, untuk membuat desain yang bisa mirip dengan cara kerja pankreas itu benar-benar sulit.

Kovatchev menjelaskan kepada Medical News Today bahwa algoritma yang dibuat pada alat ini adalah berdasarkan model dari sistem metabolisme manusia, yang menggunakan data dari kadar gula saat itu, insulin yang dibuat sebelumnya, dan jika memungkinkan, sinyal untuk mengenali pola fluktuasi gula darah dan memprediksi kemana gula darah dari si penderita akan dibawa. Nantinya algoritma akan didesain untuk memberikan pasien insulin sesuai dengan prediksi kadar gula darah. Perhatian terpenting dari pembuatan alat ini adalah masalah keamanan untuk pemakaian alat ini.

Tahap percobaan mengaplikasikan pankreas buatan

Pankreas buatan sudah memasuki tahap akhir masa percobaan di 9 lokasi yang tersebar di Amerika dan Eropa. Pada tahap pertama, 240 penderita diabetes tipe 1 akan menjalani percobaan memakai sistem alat ini untuk 6 bulan. Tahap kedua dari percobaan akan mengundang 180 orang yang sudah mengikuti percobaan tahap pertama untuk memakai alat ini untuk 6 bulan berikutnya. Nantinya, regulasi kadar gula darah dan risiko gula darah rendah dari pemakai alat ini akan dibandingkan dengan penderita yang menerima pengobatan diabetes tipe 1 dengan pemompa insulin biasa.

Kovatchev menjelaskan bahwa untuk menciptakan pengobatan yang sukses untuk penderita diabetes, pankreas buatan perlu membuktikan keamanan dan efektivitasnya setelah penggunaan jangka panjang. Tujuan dari penemuan alat ini adalah untuk mengenalkan pengobatan baru bagi para penderita diabetes. Pankreas buatan bukanlah alat yang bekerja hanya untuk satu fungsi. Akan tetapi, alat ini dapat beradaptasi dan gampang digunakan untuk pasien dalam lingkungan pengobatan digital.

Ke depannya, Kovatchev berharap pankreas buatan juga dapat memberi sinyal dari detak jantung, pendeteksi gerak, dan hormon lain seperti amylin. Para peneliti percaya bahwa teknologi ini dapat berkembang sesuai dengan ekspektasi.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Mei 25, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 9, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca