Menghadapi Putus Asa dan Frustrasi Karena Diabetes

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 08/07/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kadar gula darah yang cenderung tinggi menyebabkan seseorang melakukan berbagai upaya untuk menanggulanginya, dan hal tersebut harus dilakukan terus menerus. Tanpa disadari, kondisi ini juga menyebabkan akumulasi berbagai emosi negatif seperti stress dan depresi pada penderita diabetes. Akibatnya, terjadi berbagai perubahan perilaku yang membahayakan kesehatan, disebut juga diabetes burnout.

Apa itu diabetes burnout?

Pada umumnya, burnout dapat diartikan sebagai akumulasi rasa bersalah, kecewa, dan marah akan kondisi yang dialami dan tidak tercapainya suatu target. Kondisi ini sangat mungkin dialami oleh penderita diabetes karena di samping beban pikiran akan penyakitnya, ia juga harus melakukan berbagai hal seperti mengecek gula darah, menjaga pola makan, mengonsumsi obat, atau berolahraga, dan hal ini harus dilakukan berulang dan terus menerus. Beberapa kondisi seperti kadar gula yang tidak stabil setelah melakukan pengobatan atau keinginan untuk memakan makanan tertentu dapat memicu penderita merasa frustrasi dan akhirnya menyebabkan burnout.

Apa yang terjadi ketika penderita diabetes mengalami burnout?

Diabetes burnout ditandai dengan rasa kesal penderita diabetes terhadap kenaikan kadar gula darah sehingga ia mencoba meninggalkan berbagai upaya pengobatan. Penderita diabetes yang mengalami burnout juga cenderung kembali menjalani pola hidup yang tidak sehat meskipun ia mengetahui kondisi kesehatannya. Hal ini dilakukan karena ingin merasakan “kebebasan” dari rasa frustrasi yang ia alami.

Kemarahan dan depresi akan kondisinya sering kali memperburuk berbagai perilaku yang berbahaya bagi kesehatan penderita diabetes. Akibatnya penderita mengalami kelelahan dan hipoglikemia yang berlangsung lama, serta dalam beberapa kasus yang parah, dapat menyebabkan koma.

Orangtua yang mengurus anak dengan diabetes juga dapat mengalami burnout

Orangtua dengan anak atau remaja yang mengalami diabetes sering kali mengusahakan agar kebutuhan pengobatan anak terpenuhi, namun hal ini dapat menjadi penyebab orangtua mengalami stress. Meskipun tidak menyebabkan anak menjadi putus asa dan menghindari pengobatan, orangtua yang burnout dapat mengalami depresi dan kecemasan berlebih akan kondisi anaknya. Berikut beberapa tanda jika orangtua dengan anak diabetes mengalami burnout:

  • Merasa bersalah ketika melewatkan suatu hal untuk merawat anak.
  • Merasa tidak menerima bantuan dalam merawat anak.
  • Menyalahkan diri sendiri akan kondisi atau perawatan yang diterima anak.
  • Marah ketika pengobatan diabetes anak tidak sesuai yang diharapkan.

Jika orangtua mengalami berbagai hal tersebut ada baiknya mereka mengubah pola pikir dalam merawat anak dengan diabetes. Pahamilah bahwa peran orangtua bukanlah sebagai seseorang yang bertanggungjawab menurunkan kadar gula darah, melainkan sebagai seseorang yang memantau kondisi kesehatan anak dan memenuhi kebutuhan perawatannya. Berbicara dengan dokter atau anggota keluarga adalah hal terbaik saat orangtua khawatir dengan kondisi penyakit yang dialami anak.

Bagaimana cara mengatasi rasa frustrasi karena diabetes?

Merasa putus asa terhadap kondisi kesehatan adalah hal yang normal dan hal ini merupakan bagian dari penyakit diabetes. Perubahan perilaku akibat burnout itu sendiri disebabkan kondisi emosi yang hanya bersifat sementara, dan hal ini dapat diatasi dengan mengatur stress dan menjaga agar pikiran tetap tenang. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mencegah burnout saat menghadapi diabetes:

1. Menerima rasa frustasi

Rasa putus asa sering kali muncul saat kita mengupayakan sesuatu yang berada di luar kendali kita dan hal ini sering dialami oleh penderita diabetes. Namun, berusaha menentang rasa frustrasi iniakan berdampak pada rasa bersalah yang hanya akan memperburuk kondisi Anda. Tenangkanlah diri sejenak saat Anda mulai merasa frustrasi tanpa berusaha menentang apa yang membuat menyebabkannya. Saat Anda merasa lebih tenang, pikirkanlah hal positif lainnya, seperti dengan adanya diabetes Anda menjadi termotivasi menerapkan gaya hidup sehat.

2. Memahami bahwa Anda tidak dapat mengendalikan segala hal

Kondisi diabetes mendorong Anda melakukan pola hidup sehat dan menjalani berbagai terapi untuk mengatur kadar gula darah. Namun, sering kali kita kecewa dan frustasi saat nilai yang muncul pada glucometer tidak sesuai dengan harapan. Hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah berhenti menilai kondisi kadar gula darah sebagai sesuatu hal yang baik atau buruk. Pahamilah bahwa nilai pada glucometer hanyalah sebuah angka dan bukan berarti upaya yang telah dilakukan tidak berhasil.

3. Luangkan waktu untuk bersantai

Terus menerus memikirkan dan melakukan hal yang berkaitan dengan kondisi diabetes akan sangat melelahkan bagi diri Anda sendiri. Saat di luar jadwal mengecek gula dan terapi, luangkanlah waktu untuk melakukan hal yang Anda sukai tanpa memikirkan kondisi diabetes sejenak. Melakukan kegiatan untuk relaksasi dengan berolahraga, meditasi dan yoga akan membantu emosi Anda kembali normal dalam beberapa waktu, namun hal ini dapat mencegah rasa kewalahan dalam menghadapi penyakit diabetes.

4. Membiarkan diri Anda beradaptasi

Mengalami diabetes bukan berarti Anda harus berhenti dari rutinitas bekerja. Kondisi diabetes mungkin akan membuat Anda melakukan berbagai hal namun jika dilakukan secara berdampingan akan membuat diri Anda beradaptasi terhadap dengan kondisi diabetes. Tetap beraktivitas juga membuat Anda tidak memikirkan kadar gula darah secara terus menerus dan hal ini akan sangat membantu untuk mengatasi kondisi penyakit yang Anda alami.

5. Memperoleh bantuan yang dibutuhkan

Diabetes adalah penyakit yang cenderung membuat seseorang menyendiri. Biasanya peran keluarga atau orang terdekat adalah yang paling dibutuhkan dalam mencegah depresi akibat diabetes. Namun Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter, bercerita pengalaman dengan seorang kenalan yang mengalami masalah kesehatan serupa, atau mencari tahu tentang diabetes di internet untuk meminimalisir kebingungan yang dialami.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ada yang bilang kita sudah tak boleh minum air yang disimpan dalam botol plastik hangat. Misalnya karena ditinggal di mobil seharian. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

diabetes insipidus adalah

Diabetes Insipidus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 12 menit
sering buang air kecil

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
tidak puas dengan pekerjaan berbahaya bagi kesehatan

Tidak Menikmati Pekerjaan di Masa Muda, Bisa Membahayakan Kesehatan di Masa Depan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit