Semua Hal yang Harus Anda Ketahui Tentang Penyakit Asma Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Asma bisa memengaruhi orang-orang dari segala usia, tetapi paling sering dimulai pada masa kanak-kanak. Asma yang kambuh dapat mengganggu waktu tidur, bermain, dan kegiatan anak lainnya. Asma tidak bisa disembuhkan, tetapi Anda dan anak Anda dapat mengurangi gejala dengan mengikuti sejumlah rencana tindakan pengobatan asma. Cari tahu semua informasi tentang asma pada anak di bawah ini.

Apa bedanya asma pada anak dan orang dewasa?

Asma pada anak dan dewasa adalah penyakit yang sama. Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, keduanya memiliki gejala dan pengobatan yang hampir sama. Namun, anak-anak yang memiliki asma menghadapi masalah yang berbeda dibanding orang dewasa.

Gejala asma pada anak mungkin akan mirip dengan gejala dari penyakit pernapasan lainnya. Hal ini yang membuat banyak orangtua tidak menyadari kalau anaknya terkena asma. Pengobatan yang tidak tepat membuat gejala asma semakin memburuk sehingga dapat memengaruhi kesehatan si kecil secara keseluruhan.

Selain itu, anak dengan asma juga cenderung memiliki gejala yang tidak teratur. Kadang-kadang alergen dapat memicu serangan asma, dan terkadang tidak. Sementara pada orang dewasa gejalanya biasanya lebih konsisten, sehingga mereka membutuhkan pengobatan harian untuk mengotrol gejala dan serangan asma.

Bagaimana mengetahui jika anak saya memiliki gejala asma?

Tidak semua anak memiliki gejala asma yang sama karena gejala penyakit ini dapat bervariasi dari waktu ke waktu pada anak yang sama. Meski begitu, beberapa tanda dan gejala asma pada anak yang paling umum adalah:

  • Batuk kronis yang tak kunjung sembuh, biasa terjadi ketika sedang bermain, tertawa, menangis, dan bahkan di malam hari
  • Sering mengeluh sesak atau dadanya sakit
  • Bunyi seperti siulan kecil atau ngik ngik saat mengembuskan napas (mengi)
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas

Tanda dan gejala asma pada anak lainnya meliputi:

  • Sering susah tidur di malam hari karena sesak napas, batuk, atau mengi.
  • Serangan batuk atau mengi yang memburuk disertai dengan infeksi pernapasan, seperti pilek atau flu.
  • Kesulitan bernapas sehingga menghambat aktivitas mereka untuk bermain atau berolahraga.
  • Sering terlihat kelelahan karena kurang tidur.

Faktor apa saja yang meningkatkan risiko anak terkena asma?

Meskipun penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun banyak pemicu dan faktor risiko yang membuat seseorang anak rentan kena asma. Faktor risiko tersebut antara lain adalah:

  • Memiliki infeksi pernapasan, misalnya pneumonia, bronkitis, dan lain sebagainya.
  • Memiliki alergi atopik tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim.
  • Lahir dengan berat badan rendah.
  • Kelahiran prematur.
  • Anda atau pasangan merokok. Hal ini bisa membuat bayi berisiko 4 kali terkena asma, dibanding dengan bayi yang bebas dari udara asap rokok di rumahnya.
  • Anda atau pasangan menderita asma, atau kondisi alergi lainnya, seperti eksim.

Sejak kapan gejala asma pada anak mulai bisa didiagnosis?

Diagnosis asma pada anak mungkin akan sedikit menyulitkan, karena:

  • Gejala asma seperti mengi dan batuk sangat umum pada anak-anak, terutama pada anak di bawah 3 tahun
  • Tes fungsi paru dengan spirometri biasanya baru bekerja optimal pada anak-anak usia 5 tahun ke atas

Jadi dalam banyak kasus, dokter baru bisa mendiagnosis asma pada anak ketika mereka berusia 5 tahun ke atas.

Pada anak di bawah usia 5 tahun, dokter akan bergantung pada informasi yang Anda berikan terkait gejala yang dialami si kecil. Itu sebabnya orangtua adalah kunci dalam membantu dokter memahami tanda-tanda dan gejala asma pada anak. Dokter mungkin akan menggunakan pendekatan menunggu dan mengamati. Kadang-kadang diagnosis dapat memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Hal ini karena efek jangka panjang dari obat asma pada bayi dan anak kecil tidak jelas.

Penting untuk segera berkonsultasi ke dokter ketika Anda mencurigai mereka memiliki gejala asma. Diagnosis dini dan perawatan yang tepat dapat mencegah berbagai gangguan dari kegiatan sehari-hari seperti tidur, bermain, olahraga dan sekolah. Tak hanya itu, ini juga dapat mencegah serangan asma yang berbahaya atau mengancam jiwa di kemudian hari.

Tujuan pengobatan asma pada anak

Asma pada anak harus selalu diobati di bawah pengawasan dokter. Tujuan pengobatan adalah untuk:

  1. Mengurangi gejala dan mencegah kekambuhan serangan asma
  2. Menentukan “rencana tindakan” untuk gejala asma agar mengurangi pengobatan medis darurat
  3. Memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya
  4. Mengendalikan gejala asma pada anak dengan mengurangi pengunaan obat-obatan tertentu guna mengurangi risiko efek samping di kemudian hari
  5. Memastikan kehadiran sekolah yang teratur
  6. Mengurangi risiko bolak-balik ke gawat darurat

Bagaimana cara mengobati asma pada anak?

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengobati asma pada anak.

1. Merancang rencana pengobatan asma bersama dokter

Pengobatan asma tidak hanya diputuskan sepihak oleh dokter saja. Anda sebagai orangtua juga harus ikut merancang pengobatan. Hal ini dilakukan guna mendapatkan hasil pengobatan yang efektif dan maksimal.

Dokter akan membantu Anda menuliskan rencana penanganan asma untuk Anda baca dan pahami di rumah. Rencana penanganan asma ini meliputi berbagai obat-obatan yang harus dikonsumsi anak, kapan dan bagaimana harus minum obat, dan instruksi lainnya yang diberikan dokter anak untuk menjaga kondisi si kecil agar tetap bugar. Rencana penanganan juga dapat membantu Anda untuk mengetahui kapan gejala asma pada anak biasanya memburuk dan bagaimana cara menanganinya.

2. Menggunakan spirometer

karbohidrat tinggi

Jika asma anak tampak dipicu oleh alergi parah, dokter anak mungkin merujuk Anda ke spesialis alergi anak atau spesialis paru-paru. Penilaian fungsi paru-paru anak mungkin meliputi penggunaan alat bernama spirometer. Spirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah udara yang dapat diembuskan dari paru-paru. Sayangnya alat ini hanya dapat digunakan pada anak yang berusia di atas 5 tahun.

3. Obat resep

gejala alergi obat pada anak

Obat resep untuk anak akan tergantung sifat asma yang dimilikinya. Ada dua jenis utama obat asma. Jenis pertama membuka saluran pernapasan dan melemaskan otot yang menegang. Obat yang meredakan dengan cepat atau “penyelamat” ini disebut bronkodilator.  Sementara jenis kedua adalah obat pengendali atau pemeliharaan, yang berguna untuk mengobati radang saluran udara (bengkak dan produksi lendir). Biasanya menggunakan kortikosteroid hisap (inhaler).

Obat yang meredakan dengan cepat atau penyelamat ditujukan untuk penggunaan jangka pendek. Bila anak mengalami serangan asma, dengan batuk dan/atau mengi, obat penyelamat harus diberikan. Dengan membuka saluran udara yang menyempit, obat penyelamat ini mampu meredakan rasa sesak di dalam dada dan mengurangi mengi serta sesak napas.

Inhalasi short-acting beta2-agonis (albuterol, pirbuterol, levalbuterol atau bitolterol) adalah pilihan jenis obat bronkodilator. Obat-obatan lain adalah ipratropium (antikolinergik), prednisoneprednisolon (steroid oral). Obat ini diresepkan berdasarkan kebutuhan. Beberapa anak terus bernapas mendesah walaupun telah diobati, tapi selama anak mau makan, hal ini mungkin tidak masalah.

Seandainya serangan asma makin parah, dokter mungkin memberikan obat tambahan — seperti kortikosteroid oral. Penting untuk menyadari bahwa bila tidak ada kemajuan atau perubahan setelah memberikan obat penyelamat, segera konsultasi ke dokter.

4. Obat hirup

cara menggunakan nebulizer

Obat penyelamat boleh diberikan dengan obat hirup yang didorong oleh HFA (HFA = hydrofluoroalkanes)—juga dikenal dengan puffer—atau dengan nebulizer. Kebanyakan orang yang menderita asma harus minum obat kontrol jangka panjang setiap hari untuk membantu mencegah gejala. Obat-obatan jangka panjang efektif mengurangi peradangan saluran napas, dan membantu mencegah gejala. Obat-obatan ini termasuk kortikosteroid hirup, cromolyn, Omalizumab (anti-IgE).

Pada bayi dan anak kecil, kortikosteroid hirup mungkin diberikan melalui nebulizer dengan masker wajah atau melalui pengisap. Pengisap membutuhkan selang plastik (spacer) atau bilik yang menyimpan volume, agar obat dapat mencapai area kecil tepat pada paru-paru. Tanpa spacer, sebagian besar obat-obatan akan kembali menuju tenggorokan dan tertelan.

Bayi dan anak kecil biasanya menggunakan masker (berukuran kecil atau sedang), yang ditempatkan pada wajah. Pastikan segel masker terpasang dengan baik ketika anak mengambil beberapa embusan napas. Spacer juga bisa berupa pelindung mulut untuk anak yang usianya lebih dari 5 tahun. Anak-anak diharuskan menghirup dan menahan napas secara perlahan selama 10 detik.

Biasanya dua embusan diberikan selama 1 menit terpisah. Di setiap embusannya, anak harus mengambil 6 kali napas, yang bisa terulang setiap 4-6 jam atau sesuai dengan arahan dokter. Setelah menggunakan steroid isap, penting bagi anak untuk membersihkan dan meludah atau menggosok giginya.

Jika anak Anda memiliki asma yang parah, Anda mungkin harus menggunakan kortikosteroid oral atau cair untuk jangka pendek agar asma Anda tetap terkontrol. Konsultasikan ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

Pada umumnya, obat pengontrol jangka panjang diperuntukkan bagi seseorang anak yang memiliki:

  • Serangan asma lebih dari dua kali seminggu
  • Sering terbangun karena serangan asma lebih dari dua kali sebulan
  • Membutuhkan lebih dari dua rangkaian obat steroid oral dalam setahun
  • Pernah dirawat di rumah sakit karena gejala asma

5. Pakai alat bantu pernapasan

nebulizer alat hirup uap untuk obat masalah pernapasan

Obat-obatan asma jenis hirup membutuhkan bantuan alat khusus untuk mengubah obat yang cair menjadi uap supaya dapat diserap langsung ke dalam paru-paru. Alat bantu pernapasan yang paling umum digunakan untuk pengidap asma adalah inhaler dan nebulizer. Entah itu inhaler atau nebulizer, keduanya sama-sama bertindak untuk mengendalikan gejala serta meredakan serangan asma yang kambuh.

Pada anak-anak, alat bantu pernapasan yang sering digunakan adalah nebulizer. Ini karena dibanding inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer amat sangat kecil, sehingga obat akan lebih cepat meresap ke bagian paru-paru yang ditargetkan.

Nebulizer ada banyak jenisnya, tapi umumnya cara pakai nebulizer adalah sebagai berikut:

  1. Cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir untuk mencegah kuman ikut masuk ke paru-paru lewat tangan yang menyentuh nebulizer.
  2. Siapkan obat yang akan digunakan. Jika obat sudah dicampur, tuang langsung ke dalam wadah obat nebulizer. Jika belum, masukkan satu per satu dengan menggunakan pipet atau alat suntik.
  3. Tambahkan cairan saline jika diperlukan dan diresepkan dokter.
  4. Hubungkan wadah obat ke mesin dan juga masker ke bagian atas wadah.
  5. Pasang masker di wajah hingga menutupi hidung dan mulut. Pastikan pinggiran masker tersegel baik dengan wajah, agar tidak ada uap obat yang lolos keluar dari sisi-sisi masker. Obat-obatan yang keluar dari sisi masker tidak pernah mencapai paru-paru.
  6. Hidupkan mesin kemudian tarik napas dengan hidung dan keluarkan perlahan melalui mulut.
  7. Anda bisa mengakhirinya saat tidak ada lagi uap yang keluar. Ini tandanya obat sudah habis.

Cara memakai nebulizer umumnya memakan waktu kurang lebih 15-20 menit. Meski membutuhkan waktu yang lama, namun penggunaan nebulizer sebagai alat bantu pernapasan pada anak yang asma dinilai lebih efektif.

Disarankan untuk memberikan obat ketika anak tidak sedang rewel atau menangis, karena napas tersengal dan sesunggukan bisa mengurangi jumlah obat yang dapat mencapai paru-paru. Ini mungkin tidak selalu terjadi. Namun seiring waktu kebanyakan anak sudah mulai fasih dalam menerima obat-obatan dari nebulizer.

Pengobatan asma yang mana yang paling efektif untuk anak?

batuk pada anak

Walaupun semua teknik sama efektif, anak mungkin lebih kooperatif dengan salah satu teknik daripada teknik lainnya. Obat penyelamat mungkin tampak lebih efektif melalui nebulizer, tapi dosis albuterol yang ternebulisasi umumnya lebih besar daripada dua embusan yang terkirim melalui pengisap (inhaler). Karena asma bisa menjadi penyakit yang rumit dan mungkin berbeda pada setiap orang, dokter akan menentukan perawatan sesuai dengan kondisi anak.

Jika gejala anak muncul berselang, dokter anak mungkin hanya memberikan bronkodilator untuk batuk atau suara mengi episodik. Bila asma kronis atau kambuhan, dokter biasanya akan meresepkan obat pengontrol untuk digunakan secara teratur. Obat ini umumnya membutuhkan waktu dua minggu untuk memberikan efek sepenuhnya.

Obat antiradang — paling umum kostikosteroid hirup — disarankan untuk semua anak penderita asma yang memiliki gejala berkepanjangan. Obat ini sangat efektif dan aman tapi harus digunakan secara teratur. Obat ini sering gagal karena tidak digunakan secara konsisten. Karena tidak memiliki efek yang cepat, anak sering kali tergoda untuk menghentikan penggunaannya. Namun, menghentikannya akan membiarkan saluran udara anak tidak terlindungi, dan dia mungkin mengalami serangan asma.

Kelas obat pengontrol yang relatif baru bernama antagonis reseptor leukotriene. Obat ini menghalangi aktivitas kimiawi (leukotriene) yang berhubungan dengan radang saluran udara. Umumnya obat ini tersedia dalam bentuk oral, seperti pil. bubuk granul, dan tablet kunyah. Walaupun tidak seefektif kostikosteroid hirup dalam mencegah serangan asma, obat ini mungkin menjadi pilihan untuk gejala berkepanjangan yang ringan atau selain kortikosteroid isap.

Pilihan obat ini baru dipertimbangkan jika penggunaan kortikosteroid hisap tidak dapat mengontrol gejala asma. Selain itu, obat ini tidak dapat diberikan secara monoterapi, harus dikombinasi dengan kortikosteroid hisap.

Penting untuk diingat bahwa obat-obatan tersebut harus diberikan setiap hari untuk mencegah serangan. Cara lain bagi anak untuk menerima obat-obatan tertentu adalah melalui pengisap bubuk kering, yang melepaskan obat tanpa propelan. Anak harus mengandalkan daya hirupnya sendiri untuk minum obat dan memasukkannya ke dalam paru-paru. Akibatnya, obat ini umumnya tidak diresepkan sampai anak mencapai usia sekolah (setidaknya 5-6 tahun).

Adakah efek samping dari pengobatan asma pada anak?

Pastikan memberikan obat sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikan penggunaan obat terlalu cepat, mengurangi pemberian dari yang disarankan, atau beralih ke obat-obatan atau perawatan lainnya tanpa terlebih dahulu mendiskusikan perubahan dengan dokter.

Pada beberapa anak, beberapa obat mungkin diberikan pada saat yang bersamaan untuk mengendalikan asma, dan kemudian jumlah obat akan dikurangi jika gejala asma terkendali. Jika Anda tidak mengerti mengapa perawatan tertentu telah disarankan, atau bagaimana harus diberikan, mintalah penjelasan.

Dalam beberapa kasus, asma pada anak tidak mengalami kemajuan sedikit pun bahkan ketika mereka menggunakan obat. Jika hal ini terjadi, lebih banyak obat asma mungkin diperlukan, hal ini dikarenakan kemungkinan mereka tidak mengidap asma, atau kondisi medis lainnya mungkin mengganggu pengobatan mereka. Dokter anak akan memeriksa anak dan masalah yang memperparah asmanya, seperti rhinitis alergi, infeksi sinus, dan asam lambung (GERD).

Bagaimana caranya mengendalikan gejala asma tanpa obat-obatan?

Beberapa perubahan gaya hidup juga dapat Anda lakukan untuk mengendalikan gejala asma pada anak. Salah satunya adalah menghindari pemicu asma dan alergi.

Ada banyak hal yang bisa memicu asma. Maka penting bagi Anda untuk mengetahui hal spesifik apa yang bisa memicu asma Anda kambuh agar bisa menghindarinya.

Berbagai pemicu asma pada anak mungkin termasuk:

  • Zat alergen yang terhirup, seperti tungau debu; parfum dan wewangian menyengat; polusi udara dari asap knalpot kendaraan/asap kimia limbah pabrik/asap rokok; bulu binatang; serbuk sari bunga; serbuk kayu pohon; dan lain-lain.
  • Infeksi saluran pernapasan atas (seperti pilek, flu, atau pneumonia).
  • Alergi makanan.
  • Olahraga atau aktivitas fisik yang terlalu berat.
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti antinyeri NSAID (aspirin dan ibuprofen) dan beta-blocker untuk penyakit jantung.
  • Cuaca dingin dan kering berangin, cuaca panas yang didukung dengan kualitas udara buruk (penuh polusi), dan perubahan suhu drastis.
  • Makanan atau minuman yang mengandung pengawet (seperti MSG).
  • Stres dan kecemasan berlebihan.
  • Bernyanyi, tertawa, atau menangis yang terlalu berlebihan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca