Mengulas Lebih Jauh Tentang Asma Akibat Olahraga (Exercise Induced Asthma)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Penyakit asma ada banyak jenis, salah satunya adalah exercise induced asthma (EIA). Asma jenis ini umumnya terjadi akibat pengidap asma melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berat. Kenapa gejala asma bisa muncul karena olahraga?  

Apa itu exercise induced asthma?

Exercise induced asthma (EIA) adalah penyempitan saluran udara di paru-paru yang dipicu oleh olahraga atau aktivitas fisik yang berat.

Asma akibat olahraga adalah kondisi yang umum. Olahraga termasuk salah satu pemicu asma yang paling banyak dilaporkan. Menurut Allergy and Asthma Foundation of America (AAFA), asma karena olahraga lebih sering dialami oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa usia 20-an.

Diperkirakan sebanyak 80-90% dari pengidap asma gejalanya cenderung kambung karena olahraga atau aktivitas fisik berat. Apalagi jika berolahraga udara dingin. Kondisi ini menyebabkan penderitanya susah napas, dada terasa sesak seperti dililit tali yang begitu kuat, mengi, hingga batuk-batuk selama atau sesudah olahraga.

Penyebab asma akibat olahraga

Olahraga bukan penyebab asma. Namun, olahraga dapat menjadi pemicu serangan asma bagi orang-orang yang memang sebelumnya sudah punya penyakit asma. Gejala mereka bisa bertambah parah akibat olahraga.

Meski begitu, tak menutup kemungkinan juga orang yang tidak punya riwayat asma (termasuk atlet) mengalaminya hanya saat mereka berolahraga. Kenapa?

American College of Allergy, Asthma & Immunology mengungkapkan bahwa olahraga menyebabkan kita bernapas lebih cepat dan dangkal seiring meningkatnya kebutuhan oksigen dalam tubuh. Tanpa disadari, kondisi ini membuat Anda akan menarik dan buang napas melalui mulut, menyebabkan udara yang menuju paru-paru lebih kering dan dingin.

Mulut tidak memiliki rambut-rambut halus dan rongga sinus seperti hidung untuk melembapkan udara yang masuk. Udara kering dari luar yang masuk ke paru lewat mulut akan membuat saluran udara menyempit sehingga Anda lebih susah untuk bernapas lega. Dalam dunia medis kondisi ini disebut dengan bronkokonstriksi.

Bronkokonstriksi memiliki efek yang lebih kuat pada penderita asma dibandingkan pada orang yang sehat. Selain menyebabkan saluran napas menyempit dan meradang, kondisi ini juga memicu produksi lendir berlebihan. Akibatnya, penderita asma akan semakin kesusahan untuk bernapas lega.

Beragam faktor risiko exercise induced asthma

Ternyata ada banyak faktor yang membuat gejala asma lebih mungkin timbul selama berolahraga. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Udara dingin dan kering.
  • Polusi udara.
  • Bernapas lewat mulut.
  • Klorin dalam kolam renang.
  • Zat alergen yang terhirup, seperti debu, tungau, bulu binatang, kecoa, dan serbuk sari dari bunga, pohon, atau rumput.
  • Asap rokok, asap knalpot kendaraan, asap kimia limbah pabrik, dan asap pembakaran sampah.
  • Sedang mengalami infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu, pilek, dan sinusitis.
  • Produk rumah tangga atau kosmetik yang mengandung zat iritan, seperti sabun, sampo, cairan pembersih lantai, lateks, dan lain sebagainya.
  • Parfum dan wewangian menyengat.

Selain yang disebutkan di atas, exercise induced asthma juga dapat dipicu dari jenis aktivitas fisik yang Anda lakukan. Ya, seseorang umumnya akan lebih rentan mengalami kekambuhan gejala ketika mereka melakukan aktivitas fisik yang menyebabkan napas ngos-ngosan, seperti lari jarak jauh atau sepak bola.

Tanda dan gejala asma karena olahraga

Berikut beberapa tanda dan gejala asma akibat olahraga yang paling umum dan harus diwaspadai.

  • Batuk terus menerus.
  • Mengi, suara seperti siulan atau bunyi “ngik-ngik” ketika bernapas.
  • Dada terasa nyeri seperti dililit tali kuat-kuat.
  • Napas cepat dan dangkal.
  • Badan lemas selama olahraga.
  • Badan sempoyongan atau terasa seperti ingin jatuh.
  • Kepala kliyengan .

Gejala dari exercise induced asthma akan dimulai selama olahraga dan akan memburuk sekitar 5-10 menit setelah berhenti berolahraga. Gejala akan muncul lagi setelah 20-30 menit dan secara bertahap dapat memburuk.

Terkadang, beberapa orang juga akan merasakan gejala “fase lambat” sekitar 4-12 jam setelah berhenti berolahraga. Fase lambat ini akan mereda bertahap dan dapat memakan waktu hingga 24 jam.

Secara umum, durasi, frekuensi, dan intensitas keparahan gejala asma akibat olahraga mungkin akan berbeda pada setiap orang. Beberapa dapat mengalami gejala yang parah, sementara yang lainnya cenderung ringan dan tidak melemahkan. Sebaiknya segera cari pertolongan medis di rumah sakit atau klinik terdekat bila Anda mengeluhkan gejala yang mengganggu dan melemahkan saat olahraga.

Cara mendiagnosis exercise induced asthma

Untuk membuat diagnosis, hal pertama yang dokter akan lakukan adalah menanyakan seputar riwayat kesehatan Anda. Bila punya riwayat penyakit tertentu, terutama yang berhubungan dengan penyakit pernapasan, pastikan Anda memberi tahu dokter. Sampaikan pula perihal obat-obatan yang sedang rutin diminum setiap hari. 

Dokter juga akan menanyakan perihal gejala yang Anda keluhkan. Baik itu tingkat keparahannya, frekuensi kekambuhannya, hingga lamanya gejala yang Anda alami.

Sehabis itu, dokter akan meminta Anda melakukan aktivitas fisik yang intens untuk memicu gejala. Aktivitas ini mengharuskan Anda berlari di treadmill atau perlengkapan olahraga statis lainnya yang dapat meningkatkan kecepatan pernapasan.

Kapasitas paru-paru Anda akan diamati dengan seksama menggunakan alat spirometer sebelum, selama, dan sesudah menjalani aktivitas fisik tersebut. Hasil pengukuran spirometer dapat mendeteksi ada tidaknya penyempitan di saluran udara.

Dokter mungkin juga akan meminta Anda menghirup metakolin, yaitu zat yang dapat memicu sel otot polos di saluran udara sehingga menyebabkan bronkokonstriksi. Tes spirometri pun perlu dilakukan sebelum dan setelah Anda menghirup metakolin.

Gejala asma akibat olahraga punya banyak kemiripan dengan penyakit lainnya. Sebut saja, alergi, penyakit paru-paru (pneumonia dan bronkitis), dan GERD. Maka dari itu, guna semakin memantapkan diagnosis, Anda mungkin juga akan diminta untuk menjalani pemeriksaan lain, seperti tes darah.

Pilihan pengobatan untuk asma karena olahraga

Penting untuk dipahami bahwa exercise induced asthma tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang ada berfungsi untuk meredakan gejala dan mencegah kekambuhan serangan selanjutnya.

Secara umum, pilihan pengobatan asma akibat olahraga sama dengan asma pada umumnya. Anda bisa menggunakan inhaler yang berisi obat bronkodilator kerja cepat untuk mengatasi gejala yang kambuh tiba-tiba saat sedang asyik berolahraga. Bronkodilator kerja cepat efektif melemaskan otot-otot yang menegang di sekitar saluran napas, sehingga Anda bisa kembali bernapas lebih lega.

Gejala asma karena olahraga juga dapat kurangi dengan obat kortikosteroid hirup yang digunakan melalui nebulizer atau inhaler. Obat ini masuk dalam pengobatan asma jangka panjang karena efeknya yang dapat menghambat atau mengurangi peradangan di saluran pernapasan. Bila digunakan dengan tepat, obat ini dapat menekan frekuensi kekambuhan gejala asma akibat olahraga.

Kebanyakan obat asma akibat olahraga merupakan obat dengan resep dokter. Pastikan Anda menggunakan obat-obatan di atas sesuai yang dianjurkan dokter.

Selain dengan obat-obatan medis, asma karena olahraga juga dapat diatasi dengan mengihindari faktor pemicunya. Segera berhenti berolahraga dan lakukan aksi cepat asma bila Anda mengalami tanda-tanda asma kambuh.

Meski faktor pemicunya adalah olahraga, bukan berarti pengidap asma tidak boleh berolahraga sama sekali. Dengan perawatan yang tepat, orang yang punya asma jenis ini bisa berolahraga tanpa khawatir  gejalanya kambuh.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Mei 10, 2016 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Yang juga perlu Anda baca