Pengaruh Defisiensi Zat Besi dan Anemia pada Kehamilan

Oleh

Defisensi zat besi bisa menyebabkan kondisi mulai dari anemia karena kekurangan zat besi, hingga anemia karena defisiensi zat besi. Dalam kondisi kekurangan zat besi, jumlah zat besi yang disimpan (diukur dengan konsentrasi feritin serum) berkurang tetapi jumlah zat besi yang mengalir dan zat besi fungsional mungkin tidak akan terpengaruh. Orang dengan kekurangan zat besi tidak memiliki cadangan zat besi yang cukup untuk digunakan jika tubuh membutuhkan zat besi tambahan.

Dalam kondisi eritropoiesis akibat defisiensi zat besi, zat besi yang disimpan habis dan zat besi yang mengalir (diukur dengan saturasi transferin) berkurang; jumlah zat besi yang diserap tidak cukup untuk mengganti jumlah zat besi yang hilang atau untuk memberikan jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh. Dalam tahap ini, kekurangan zat besi membatasi produksi sel darah merah dan menyebabkan peningkatan konsentrasi protoporfirin eritrosit.

Pada kondisi anemia akibat defisiensi zat besi, yang merupakan kondisi paling parah dari defisiensi zat besi, terjadi kekurangan cadangan zat besi, zat besi yang dialirkan dan zat besi fungsional, sehingga mengurangi Hb dan rendahnya ferritin serum, konsentrasi zat besi aliran yang rendah dan meningkatkan konsentrasi eritrosit protoporfirin.

Efek negatif pada ibu selama kehamilan

Kematian terkait reproduksi

Wanita hamil yang mengalami anemia berada pada risiko kematian selama periode prenatal. Hampir sebanyak 500.000 kematian ibu karena melahirkan atau awal post-partum terjadi setiap tahun, sebagian besar terjadi di negara berkembang. Anemia merupakan penyebab utama atau satu-satunya dalam 20-40% dari kematian tersebut. Di banyak daerah, anemia adalah faktor di hampir semua kematian ibu hamil dan menimbulkan peningkatan 5 kali lipat risiko keseluruhan kematian ibu yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Risiko kematian meningkat secara dramatis pada anemia berat.

Kasus kematian ibu ini, sebagian besar terkait dengan kehamilan dan persalinan, kontras dengan orang-orang di dunia industri di mana kematian ibu hampir 100 kali lebih sedikit dan anemia berat sangat jarang terjadi. Penting untuk menyadari bahwa anemia berat dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi dan  kondisi kesehatan yang sangat minim di negara-negara tertentu dan wilayah di dunia berkembang. Seiring infeksi malaria, infeksi lain, dan beberapa kekurangan nutrisi, termasuk folat dan vitamin A, endemik juga terjadi pada populasi ini. Kekurangan zat besi memberikan kontribusi signifikan terhadap sebagian besar kasus anemia selama kehamilan.

Risiko komplikasi selama kelahiran, termasuk kematian janin, lebih tinggi di antara populasi miskin yang juga menunjukkan perkembangan tubuh yang lambat. Kekurangan gizi umum dan khususnya kekurangan zat besi dan folat selama masa kanak-kanak dan remaja mengganggu pertumbuhan fisik. Baik suplemen zat besi dan asam folat  dapat menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik pada anak-anak dan gadis-gadis remaja yang hamil.

Kinerja selama kehamilan dan persalinan

Wanita hamil yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi memiliki masa kehamilan lebih pendek  dari yang non-anemia, atau bahkan ibu hamil yang mengalami anemia tapi bukan karena kekurangan zat besi. Sebuah studi prospektif menunjukkan bahwa semua wanita hamil mengalami anemia memiliki risiko lebih tinggi persalinan prematur dalam kaitannya dengan wanita non-anemia.

Kelompok anemia defisiensi besi memiliki risiko dua kali daripada mereka dengan anemia pada umumnya.  Hasil ini diperoleh setelah mengontrol usia ibu, paritas, etnis, berat sebelum lahir atau pra-kelahiran, perdarahan, usia kehamilan dari kondisi darah awal, jumlah rokok yang diisap per hari, dan indeks massa tubuh pra-kehamilan . Berat badan kehamilan yang tidak memadai (untuk usia kehamilan tertentu) secara signifikan lebih berisiko tinggi untuk semua kasus anemia, khususnya di antara mereka yang kekurangan zat besi. Berat badan yang tidak memadai juga telah dikaitkan dengan persalinan prematur.

Dalam beberapa populasi di daerah tropis, suplemen folat juga mengakibatkan status hematologi meningkat, berat lahir meningka,t dan mengurangi kejadian kelahiran prematur.

Hasil ini mengonfirmasi dan mengklarifikasi studi retrospektif lain atau memberikan bukti tidak langsung bahwa nutrisi yang lebih baik, termasuk prevalensi lebih rendah dari anemia, dikaitkan dengan bobot lahir yang lebih baik dan tingkat yang lebih rendah dari kelahiran prematur, dan anemia yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur. Semakin parah anemia, semakin besar risiko berat badan lahir rendah. 

Melahirkan menuntut daya tahan dan upaya fisik yang berat dan wanita yang sehat secara fisik (hampir mustahil dalam menghadapi anemia berat) memiliki kondisi lebih baik dan memiliki lebih sedikit komplikasi selama kelahiran bila dibandingkan dengan wanita yang kurang fit. Pada anemia berat, gagal jantung selama persalinan merupakan penyebab utama kematian.

Kinerja laktasi

Tidak ada bukti bahwa ibu yang kekurangan zat besi atau anemia kurang kompeten daripada ibu normal lainnya dalam proses menyusui, dan komposisi susu, baik dari segi makro dan mikro-nutrisi pada dasarnya tidak berubah.

Namun, bahkan di bawah situasi yang terbaik, zat besi pada ASI telah terbukti tidak cukup untuk mempertahankan gizi zat besi yang cukup pada bayi di atas 4 sampai 6 bulan.

Status kekebalan imun

Dua penelitian di India menunjukkan bahwa  anemia serta kekurangan zat besi berat pada ibu hamil memicu gangguan imunitas diperantarai sel yang reversibel dengan pengobatan zat besi. Variabel kontrol yang penting yang kurang dalam studi ini adalah dokumentasi gizi folat.

Efek negatif pada bayi

Kesehatan dan perkembangan

Dua penelitian besar di dunia industri yang melibatkan lebih dari 100.000 kehamilan jelas menunjukkan bahwa hasil kehamilan yang kurang menguntungkan sering terjadi di antara ibu yang memiliki anemia. Kedua studi menemukan bahwa ada tingkat yang lebih tinggi dari kematian janin dan kelainan, persalinan prematur, dan yang baru lahir dengan berat lahir yang rendah pada ibu dengan anemia. Risiko ini jelas, bahkan di kalangan ibu-ibu yang memiliki anemia hanya pada paruh pertama kehamilan. Ada korelasi yang signifikan antara tingkat keparahan anemia, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah yang sangat jelas.

Kausalitas anemia pada hasil kehamilan yang tidak diinginkan tersebut telah ditetapkan lebih lanjut dengan penelitian yang menunjukkan hasil positif yang diperoleh dalam bobot lahir dan kematian perinatal dengan keberhasilan perawatan anemia dengan zat besi dan asam folat.

Dalam hal kesehatan dan perkembangan bayi, anak yang berat badan lahirnya rendah mengalami kerugian terutama di negara berkembang di mana risiko kekurangan gizi, infeksi dan kematian meningkat. Risiko tambahan untuk bayi mungkin berasal dari kenyataan bahwa kekurangan zat besi dan anemia pada anak-anak, serta pada orang dewasa, menghasilkan perubahan dalam fungsi otak yang dapat mengakibatkan gangguan interaksi ibu-anak dan gangguan di sekolah nantinya. Ada bukti bahwa bayi yang mengalami anemia akibat defisiensi zat besi dapat menghasilkan cacat tahan lama dalam perkembangan mental dan kinerja yang mengganggu kemampuan belajar anak

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca