Memahami Seputar Alergi Makanan Pada Anak, Beserta Gejala dan Cara Mengatasinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kejadian alergi makanan biasanya lebih banyak dialami oleh bayi dan balita. Namun tidak menutup kemungkinan, anak-anak di usia sekolah dan remaja juga bisa mengalami kondisi ini. Meski begitu, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Kondisi ini bisa diatasi jika Anda memerhatikan beberapa hal penting, termasuk mengetahui tanda dan gejala alergi makanan pada anak.

Apa itu alergi makanan?

Salah satu masalah yang bisa memngaruhi nutrisi anak yaitu alergi makanan. Alergi makanan adalah suatu kondisi yang ditandai dengan perubahan sistem kekebalan tubuh setelah menyantap suatu jenis makanan tertentu. Maksudnya begini, seorang anak bisa mengalami alergi makanan karena tubuhnya menganggap bahwa makanan atau zat di dalam makanan tersebut sebagai sesuatu yang membahayakan.

Sampai kemudian akan muncul beberapa gejala khas alergi makanan pada anak. Penting untuk diketahui, bahwa alergi makanan sebenarnya bukanlah kondisi baru lagi di masyarakat. Menurut Food Allergy Research and Education, sekitar 1 dari 13 anak ternyata memiliki alergi paling tidak dengan satu jenis makanan.

Sayangnya, alergi makanan pada anak ini tidak bisa langsung diketahui begitu saja. Orangtua di sini memiliki peran penting untuk lebih waspada saat mengamati kemunculan reaksi alergi pada anak. Dengan begitu, kemungkinan munculnya gejala alergi makanan di kemudian hari bisa lebih diminimalisir.

Bagaimana alergi makanan pada anak bisa terjadi?

Sebelumnya sempat disinggung bahwa alergi makanan pada anak bisa terjadi karena tubuhnya mengira bahwa makanan yang dimakan tersebut berbahaya. Lebih lanjutnya, sistem kekebalan tubuh sebenarnya menilai makanan tersebut sebagai zat asing yang bisa mengakibatkan penyakit.

Demi mengatasi zat asing tersebut, sistem kekebalan tubuh kemudian melepaskan antibodi khusus yang dikenal sebagai immunoglobulin E (IgE). Itulah mengapa setiap kali anak makan makanan penyebab alergi, antibodi mengirimkan sinyal agar sistem kekebalan tubuh beraksi dengan mengeluarkan histamin.

Selain histamin, beberapa zat kimia lainnya juga dikeluarkan ke dalam aliran darah sehingga kemudian menimbulkan gejala alergi makanan pada anak.

Alergi makanan berbeda dengan intoleransi makanan

Kebanyakan orang menganggap alergi makanan dan intoleransi makanan adalah hal yang sama. Padahal, keduanya berbeda dari segala sisi.

Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap senyawa yang dianggap berbahaya setelah mengonsumsi makanan tertentu. Alergi makanan pada anak dapat bersifat kronis (berlangsung lama), atau akut (secara tiba-tiba).

Sementara intoleransi makanan tidak menyangkut sistem imun. Melainkan disebabkan karena ketidakmampuan anak dalam mencerna zat tertentu dalam makanan (seperti laktosa).

Apa saja gejala alergi makanan pada anak?

alergi anak

Setelah histamin yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh masuk ke aliran tubuh, maka pembuluh darah biasanya akan melebar. Kondisi ini yang nantinya membuat kulit meradang, gatal, dan menimbulkan berbagai gejala alergi makanan lainnya.

Akan tetapi, sebelum menduga segala gejala dan penyakit sebagai “alergi makanan”, sebaiknya ketahui dulu gejala alergi makanan pada anak. Berikut gejala yang akan munculjika anak mengalami alergi makanan:

Pada kulit:

  • Bintik-bintik merah yang terlihat seperti gigitan nyamuk
  • Ruam kulit yang terasa gatal (eksim, juga disebut dermatitis atopik)
  • Pembengkakan di beberapa bagian tubuh, seperti wajah, bibir, dan lidah

Pada pernapasan:

Pada pencernaan:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit perut

Pada sirkulasi darah:

  • Kulit pucat
  • Hilang keseimbangan
  • Hilang kesadaran (pingsan)

Reaksi alergi makanan dapat muncul berbeda-beda. Anak Anda mungkin memunculkan reaksi hanya di salah satu bagian tubuh seperti yang sudah disebutkan di atas, atau justru malah melibatkan banyak bagian tubuh.

Dalam beberapa kasus, anak juga mungkin mengalami anafilaksis, yaitu kondisi ketika tubuh memberikan reaksi yang tergolong berat hingga mengancam keselamatan jiwanya. Berikut ini gejala anafilaksis yang mungkin muncul :

  • Penurunan tekanan darah
  • Napas cepat
  • Denyut jantung cepat
  • Kulit menjadi gatal dan ruam menyebar hampir seluruh tubuh
  • Tenggorokan, bibir, wajah, mulut membengkak
  • Hilang kesadaran

Itu sebabnya, gejala alergi makanan pada anak yang satu ini membutuhkan penanganan medis segera.

Apa saja makanan yang umumnya sering menyebabkan alergi?

alergi makanan

Walaupun semua makanan berpotensi menyebabkan alergi, tapi kebanyakan kasus alergi makanan disebabkan oleh:

  • Susu sapi
  • Telur
  • Kacang tanah
  • Kedelai
  • Gandum
  • Kacang pohon (seperti kenari, pistachio, dan kacang mete)
  • Ikan (seperti tuna, salmon, kod)
  • Kerang (seperti udang dan lobster)

Pada umumnya, kacang tanah, kacang-kacangan, dan makanan laut adalah pemicu reaksi alergi berat. Alergi makanan pada daging, buah-buahan, sayuran, padi-padian, dan biji-bijian seperti wijen, juga mungkin terjadi.

Terlepas dari itu semua, alergi makanan pada anak usia dini ternyata bisa hilang. Sekitar 80-90 persen alergi telur, susu, gandum, dan kedelai tidak akan muncul lagi ketika anak berusia 5 tahun.

Namun, masih saja ada beberapa alergi yang membandel, misalnya  satu dari lima anak dapat sembuh dari alergi kacang tanah, tapi lebih sedikit yang bisa sembuh dari alergi kacang-kacangan atau makanan laut.

Dokter anak maupun ahli alergi dapat melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis alergi makanan pada anak dan memantau perkembangannya, apakah alergi sudah hilang atau belum.

Bagaimana cara mengatasi alergi makanan pada anak?

Jika Anda mencurigai si kecil mengembangkan tanda dan gejala alergi pada anak seperti yang sudah disebutkan di atas, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Penanganan yang paling umum untuk mengatasi gejala alergi makanan pada anak yakni dengan mengenali makanan penyebab alergi, dan mengindari konsumsinya. Dalam hal ini, termasuk pada makanan olahan yang dibeli di pasaran.

Itu sebabnya, Anda dianjurkan agar lebih cermat dalam memerhatikan komposisi bahan yang digunakan dalam suatu produk makanan atau minuman sebelum memberikannya pada anak. Di samping itu, dokter juga mungkin akan meresepkan obat-obatan untuk mengobati gejala.

Jika reaksi alergi makanan pada anak terbilang cukup ringan atau sedang, pemberian obat antihistamin dapat membantu meringankan gejala. Obat ini biasanya datang dalam beberapa bentuk, yakni gel, cairan, atau tablet. Antihistamin bisa dipakai setelah muncul gejala usai makan makanan tertentu.

Namun, antihistamin tidak bisa digunakan untuk meringankan gejala alergi makanan yang sudah parah. Jika ini yang dialami anak, Anda harus segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Dokter mungkin akan memberikan suntikan epinefrin. Pengobatan ini biasanya lebih ditujukan untuk anak yang mengalami anafilaksis.

Epinefrin yang disuntikkan ke paha, akan bekerja dengan cara menjaga agar tekanan darah naik. Selanjutnya, pembuluh darah yang seharusnya melebar karena alergi, berangsur-angsur akan menyempit sehingga mencegah kemunculan gejala yang parah.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca