Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Ketahui 7 Efek Samping Ini Sebelum Mencoba Waxing

    Ketahui 7 Efek Samping Ini Sebelum Mencoba Waxing

    Waxing jadi salah satu cara menghilangkan rambut pada tubuh yang cukup efektif, terutama di bagian tubuh yang luas atau sulit dijangkau. Anda perlu mengetahui efek samping waxing untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.

    Untuk mengetahui lebih lanjut, simak berbagai dampak waxing terhadap kesehatan kulit dalam ulasan ini.

    Berbagai efek samping waxing

    Risiko waxing biasanya muncul akibat proses mencabut kuat bulu-bulu pada kulit. Tak hanya itu, bahan kandungan dan suhu yang digunakan juga berisiko menimbulkan efek samping.

    Berikut ini adalah berbagai bahaya yang bisa muncul ketika atau setelah melakukan waxing.

    1. Rasa nyeri hebat

    nyeri karena efek samping waxing

    Rasa sakit pada kulit saat mencabut rambut tubuh menggunakan lilin merupakan hal yang wajar. Pasalnya, waxing bisa mengangkat seluruh akar rambut yang terdapat di struktur kulit tempat berkumpulnya ujung-ujung saraf.

    Proses pencabutan ini nantinya akan menekan ujung saraf yang ada pada akar bulu. Oleh karena itu, efek samping waxing berupa rasa nyeri yang kuat bisa Anda rasakan.

    Rasa sakit ini lebih sering muncul saat Anda melakukan bikini waxing atau pencabutan bulu alat kelamin. Hal ini dikarenakan alat kelamin memiliki ujung saraf yang lebih banyak daripada bagian lengan atau betis.

    Ada perawatan sebelum waxing yang berguna mengurangi rasa nyeri waxing, seperti mengompres kulit dengan air.

    Selain itu, perawatan sesudah waxing dengan mengompres kulit dengan handuk dingin bisa membantu mengurangi rasa nyeri.

    2. Reaksi alergi

    obat alergi kulit

    Bila Anda memiliki riwayat alergi kulit, ada kemungkinan efek samping waxing ini bisa muncul.

    Lilin yang digunakan sebagai bahan waxing terkadang memiliki bahan-bahan pemicu alergi atau alergen, seperti rosin, beeswax, dan pewangi.

    Alergi ini umumnya memicu gatal dan ruam yang meluas. Akan tetapi, dalam kasus tertentu, perawatan tubuh ini bisa memicu reaksi alergi yang mengancam nyawa atau anafilaksis.

    Oleh karena itu, pastikan Anda melakukan tes tempel atau patch test sebelum melakukan waxing. Jika Anda menemukan tanda-tanda alergi, sebaiknya tunda perawatan ini.

    Anda juga bisa menggunakan sugar wax atau waxing berbahan dasar gula. Jenis waxing ini hanya memiliki komposisi gula, air, dan lemon sehingga minim risiko waxing berupa alergi.

    3. Folikulitis

    folikulitis

    Folikulitis merupakan salah satu efek samping waxing yang muncul akibat folikel (kantung tumbuhnya bulu tubuh) yang meradang.

    Waxing bisa membuat folikel rentan terinfeksi bakteri dan jamur, salah satu yang paling umum adalah infeksi bakteri Pseudomonas aeruginosa.

    Risiko infeksi berkaitan dengan kurangnya kebersihan tempat, peralatan waxing, dan lilin untuk waxing. Selain itu, bahaya waxing ini bisa muncul akibat belum mencuci tangan sebelum menjalani perawatan.

    Inilah gejala folikulitis yang kerap timbul setelah waxing.

    • Bentol-bentol merah kecil.
    • Muncul nanah yang keras dan bisa pecah.
    • Nyeri di bagan bentol.
    • Kulit gatal dan sensasi terbakar.

    4. Luka bakar kulit

    Cara mengobati luka bakar yang menggelembung

    Biasanya prosedur waxing menggunakan suhu panas agar lilin bisa dioles merata pada permukaan kulit.

    Sayangnya, jika kulit tidak tahan terhadap suhu tinggi, hal ini meningkatkan risiko luka bakar. Efek samping waxing ini umumnya memicu luka bakar derajat I dan II dengan gejala seperti:

    • kulit kemerahan,
    • timbul rasa nyeri,
    • timbul gelembung akibat kulit melepuh, dan
    • bengkak.

    Selain itu, bahaya waxing yang satu ini rentan muncul jika Anda menggunakan produk anti-aging atau krim jerawat yang mengandung retinoid.

    Pasalnya, retinoid juga rentan mengiritasi kulit. Jadi, kulit lebih berisiko mengalami luka bakar setelah waxing.

    Untuk mencegah efek samping, Anda bisa mencoba cold waxing. Jenis waxing ini menggunan lilin siap pakai yang tidak perlu dipanaskan.

    Selain itu, hentikan penggunaan skincare berbahan retinoid, seperti retinol selama 2–5 hari sebelum melakukan pencabutan bulu.

    5. Rambut tumbuh ke dalam

    cara mencegah ingrown hair

    Kondisi ini adalah salah satu jenis folikulitis atau peradangan pada folikel rambut.

    Mengutip studi terbitan Clinical, Cosmetic, and Investigational Dermatology (2019), rambut tumbuh ke dalam (pseudofolliculitis barbae) muncul karena pertumbuhan rambut yang abnormal.

    Studi tersebut menyebutkan rambut tumbuh tidak lurus menembus ke permukaan kulit, tetapi melingkar dan kembali ke bawah permukaan kulit.

    Saat rambut tumbuh ke dalam, kulit mengira rambut sebagai benda asing sehingga sistem imun bereaksi yang menimbulkan peradangan.

    Jika Anda mengalami efek samping waxing ini, dokter biasanya akan memberikan obat oles untuk mengurangi infeksi dan mengangkat sel kulit mati yang menumpuk di atas benjolan.

    Anda juga harus menjaga benjolan agar tetap steril. Hal ini membantu mengurangi infeksi yang semakin parah.

    6. Kulit terbakar akibat paparan matahari

    apa itu sunburn kulit terbakar matahari

    Salah satu fungsi bulu yang tumbuh adalah melindungi tubuh dari paparan sinar UV dari matahari.

    Jika Anda mencabut rambut-rambut tubuh dengan waxing, tentu ada risiko kulit tidak mendapatkan perlindungan terhadap sinar UV sepenuhnya. Akhirnya, kulit pun mengalami terbakar akibat matahari.

    Efek samping waxing ini makin parah jika Anda mengonsumsi pil KB hormon dan produk perawatan kulit dengan retinoid.

    Sebaiknya, pastikan Anda selalu menggunakan tabir surya atau sunscreen dengan SPF 30 ke atas pada bagian tubuh yang terpapar matahari.

    Ulangi pemakaian tabir surya setiap dua jam, meskipun saat cuaca mendung.

    Anda disarankan pula untuk mengenakan pakaian panjang dan berjalan di tempat teduh untuk mengurangi risiko waxing yang satu ini.

    7. Infeksi menular seksual

    ims karena efek samping waxing

    Hasil riset yang diterbitkan pada jurnal Sexually Transmitted Infection (2017) menemukan bahwa waxing meningkatkan risiko infeksi menular seksual.

    Penelitian ini menjelaskan bahwa bahaya waxing ini menular melalui kontak kulit, cairan alat kelamin, dan kutu kelamin.

    Selain itu, waxing bisa menimbulkan luka sehingga kulit lebih mudah terinfeksi virus, bakteri, maupun parasit penyebab penyakit menular seksual.

    Beberapa jenis infeksi seksual yang mungkin bisa muncul akibat waxing, yaitu:

    Anda sebaiknya mencari tempat waxing dengan terapis yang paham akan penularan penyakit menular seksual. Pastikan pula terapis menerapkan standar kebersihan yang tinggi.

    Selain itu, hindari pula berkunjung ke salon waxing jika Anda memiliki masalah pada kelamin, Anda, termasuk saat gatal-gatal. Hal ini berguna untuk mengurangi penularan kepada orang lain.

    Ada beberapa efek samping waxing yang tak bisa sepenuhnya dihindari, seperti timbulnya rasa sakit. Akan tetapi, risiko ini bisa dikurangi dengan beberapa perawatan kulit tertentu.

    Anda pun bisa memilih salon dengan terapis kompeten agar Anda terhindar dari bahaya waxing yang tidak diinginkan.


    Pernah alami gangguan menstruasi?

    Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Khanna, N., Chandramohan, K., Khaitan, B., & Singh, M. (2013). Post waxing folliculitis: a clinicopathological evaluation. International Journal Of Dermatology, 53(7), 849-854. doi: 10.1111/ijd.12056

    Folliculitis – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 21 January 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/folliculitis/symptoms-causes/syc-20361634

    Jeschke, M., van Baar, M., Choudhry, M., Chung, K., Gibran, N., & Logsetty, S. (2020). Burn injury. Nature Reviews Disease Primers, 6(1). doi: 10.1038/s41572-020-0145-5

    Burn Stages. (2022). Retrieved 21 January 2022, from https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/skin-hair-and-nails/burns/stages.html

    Ogunbiyi, A. (2019). Pseudofolliculitis barbae; current treatment options. Clinical, Cosmetic And Investigational Dermatology, Volume 12, 241-247. doi: 10.2147/ccid.s149250

    Ogunbiyi, A. (2019). Pseudofolliculitis barbae; current treatment options. Clinical, Cosmetic And Investigational Dermatology, Volume 12, 241-247. doi: 10.2147/ccid.s149250

    Estrogen And Progestin Oral Contraceptives (Oral Route) Precautions – Mayo Clinic. (2022). Retrieved 24 January 2022, from https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/estrogen-and-progestin-oral-contraceptives-oral-route/precautions/drg-20069422

    Yesudian, P. (2011). Human hair – An evolutionary relic?. International Journal of Trichology, 3(2), 69. doi: 10.4103/0974-7753.90799

    Osterberg, E., Gaither, T., Awad, M., Truesdale, M., Allen, I., Sutcliffe, S., & Breyer, B. (2016). Correlation between pubic hair grooming and STIs: results from a nationally representative probability sample. Sexually Transmitted Infections, 93(3), 162-166. doi: 10.1136/sextrans-2016-052687

    Kirchhof, M., & Au, S. (2014). Brazilian waxing and human papillomavirus: a case of acquired epidermodysplasia verruciformis. Canadian Medical Association Journal, 187(2), 126-128. doi: 10.1503/cmaj.140198

    Janghorban, R., & Zare, A. (2020). Awareness and practice of female beauty salon staff about human papilloma virus and its transmission in pubic hair removal using wax in Shiraz, Southwest of Iran. Advanced Biomedical Research, 9(1), 24. doi: 10.4103/abr.abr_241_19

    Ingrown hair – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2022). Retrieved 24 January 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ingrown-hair/diagnosis-treatment/drc-20373898

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jan 31
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
    Next article: