Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apa Itu Waxing? Ketahui Jenis, Persiapan, dan Efek Sampingnya

Apa Itu Waxing? Ketahui Jenis, Persiapan, dan Efek Sampingnya

Waxing adalah salah satu cara untuk menghilangkan bulu pada bagian tubuh. Lantas, apa itu waxing? Apa bedanya dengan metode lainnya? Kenali lebih lanjut di sini.

Apa itu waxing?

Waxing adalah salah satu teknik atau cara menghilangkan bulu dalam jumlah banyak dengan mencabutnya menggunakan cairan khusus atau gula karamel yang telah dipanaskan.

Bahan untuk waxing yang disebut wax akan dioleskan di atas kulit yang berbulu. Setelah itu, kulit ditutup dengan handuk atau kain kasa di atasnya.

Kain kemudian ditekan-tekan selama beberapa saat, lalu ditarik melawan arah tumbuhnya rambut sehingga rambut tercabut sampai ke akar.

Pada dasarnya, seluruh bagian kulit yang ditumbuhi bulu bisa mendapatkan perawatan untuk kulit yang satu ini.

Hanya saja, sebagian besar orang umumnya melakukan waxing untuk menghilangkan bulu atau rambut di bagian:

  • lengan,
  • punggung,
  • perut,
  • alat kelamin atau bikini waxing,
  • betis dan paha,
  • wajah, kumis dan jenggot, dan
  • alis.

Apa saja kegunaan waxing?

Waxing membuat bulu tubuh tumbuh lebih lama bila dibandingkan dengan mencukur.

Teknik pencabutan ini akan mengangkat bulu sampai ke akarnya. Dengan begitu, rambut butuh waktu lebih lama untuk tumbuh mencapai permukaan kulit.

Setelah waxing, bulu biasanya baru tumbuh kembali dalam waktu 2–3 minggu. Pertumbuhan bulu pun bisa berkurang secara permanen. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot mencukur setiap beberapa hari sekali.

Selain itu, menarik kain kasa dari kulit yang dilakukan dalam teknik waxing membuat sel kulit mati terangkat sehingga kulit tampak lebih bersih, cerah, dan mulus.

Teknik pencabutan ini juga cocok untuk menghilangkan rambut di berbagai area tubuh. Tekstur wax yang cair memudahkan Anda untuk mencabut bulu di area yang sulit dijangkau.

Proses waxing pun juga terbilang sangat cepat dibandingkan dengan cara menghilangkan bulu lainnya.

Apa saja jenis-jenis waxing?

proses brazilian waxing

Pada dasarnya, waxing dilakukan dengan mencabut bulu-bulu tubuh dalam jumlah banyak secara bersamaan. Namun, ada pula beberapa teknik yang mengandalkan bahan wax yang lebih spesifik.

Inilah jenis waxing yang umum tersedia di salon perawatan kulit atau klinik kecantikan.

  • Warm soft wax: wax berbahan dasar krim atau resin dan memerlukan kain kasa untuk mencabut bulu.
  • Warm hard wax: menggunakan lilin keras berbentuk seperti manik-manik yang harus dilelehkan terlebih dahulu. Jenis ini tidak memerlukan penggunaan kain kasa.
  • Cold soft wax: memakai lilin yang meleleh dalam keadaan dingin dan siap dioles ke tubuh atau di kain kasa.
  • Pre-made wax strips: menggunakan produk kain kasa yang sudah terdapat lilin wax di atasnya.
  • Sugar wax: serupa dengan warm soft wax, tapi menggunakan wax berbahan dasar gula dan lemon.
  • Fruit wax: serupa dengan warm hard wax yang pencabutannya tidak memerlukan kain kasa. Wax mengandung enzim buah-buahan untuk menutrisi kulit.
  • Chocolate wax: wax berbahan dasar cokelat dan minyak tumbuhan sehingga membuat kulit tetap lembap.

Apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum waxing?

scrubbing scrub badan

Persiapan sebelum menjalani waxing berguna untuk menghilangkan bulu semaksimal mungkin dengan risiko seminim mungkin.

American Academy of Dermatology Association merekomendasikan beberapa hal berikut yang harus Anda lakukan sebelum mendapatkan perawatan ini.

1. Pastikan panjang bulu sudah sesuai.

Sebelum waxing, pastikan panjang rambut yang ingin dicabut sekitar 0,5–2 cm. Jika terlalu panjang, Anda bisa mengguntingnya terlebih dahulu.

Rambut yang terlalu pendek justru membuat wax sulit menempel di rambut sehingga tidak bisa tercabut.

2. Hindari krim retinoid

Penggunaan produk perawatan kulit atau skincare berbahan retinoid memang baik untuk mengurangi tanda-tanda penuaan. Hanya saja, krim ini memiliki efek samping memicu iritasi.

Jika Anda menggunakan retinoid sebelumnya, risiko iritasi kulit akan meningkat ketika bulu-bulu tubuh tercabut. Oleh karena itu, hentikan pemakaian krim retinoid selama 2–5 hari.

3. Kurangi rasa nyeri

Beberapa orang memiliki toleransi rasa sakit yang berbeda-beda. Untuk itu, Anda bisa menenangkan kulit menggunakan kompres kulit sekitar 30 menit sebelum waxing.

Anda juga bisa mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol atau ibuprofen. Namun, pastikan kondisi tubuh Anda juga memungkinkan untuk mengonsumsi kedua jenis obat ini.

4. Bersihkan kulit dengan optimal

Sebelum waxing, pastikan Anda mandi terlebih dahulu. Anda juga disarankan melakukan eksfoliasi ringan pada kulit untuk mengangkat sel kulit mati.

Jangan lupa untuk mengeringkan bagian tubuh dengan optimal. Kulit bersih dan kering tanpa air setetes pun akan membantu wax mengangkat bulu dengan maksimal.

5. Pastikan kulit dalam keadaan sehat

Kulit akan mengalami trauma kecil atau bahkan lesi saat bulu-bulu tercabut atau terkena panas wax. Oleh karena itu, lakukan perawatan kulit ini hanya saat kulit Anda sehat.

Jangan lakukan perawatan ini jika mengalami kondisi:

  • kulit terbakar paparan sinar matahari,
  • iritasi,
  • luka kecil atau besar,
  • memiliki penyakit kulit, seperti penyakit kulit menular akibat infeksi bakteri dan jamur.

Apa saja efek samping yang timbul setelah waxing?

cara mencegah ingrown hair

Mengutip situs DermNet NZ, belum diketahui secara pasti efek jangka panjang dari rutin melakukan waxing.

Namun, terdapat efek samping yang langsung muncul akibat gerakan mencabut bulu dan suhu panas dari waxing. Prosedur ini membuat kulit tertarik sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Berikut ini efek samping waxing yang mungkin timbul sesaat setelah melakukan perawatan kulit ini.

1. Infeksi folikel rambut atau folikulitis

Folikulitis muncul akibat infeksi bakteri Pseudomonas dan reaksi zat asing terhadap batang rambut atau keratin rambut. Peradangan akibat folikulitis ini memicu kulit memiliki benjolan.

Benjolan ini bisa jadi merupakan rambut yang tumbuh ke dalam, yaitu ingrown hair. Benjolan bisa terisi nanah dan tampak seperti jerawat.

2. Hiperpigmentasi

Kondisi kulit yang menggelap ternyata merupakan salah satu efek samping yang timbul akibat luka kecil tak kasat mata.

Luka ini bisa muncul akibat folikulitis, kulit yang tertarik wax, atau bulu yang tercabut terlalu kencang. Jadi, timbul bekas luka dalam bentuk kulit terlihat tampak gelap atau hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

3. Jaringan parut

Dalam kondisi yang parah, folikulitis akibat waxing bisa menimbulkan luka berat. Kulit akan memicu produksi kolagen berlebih untuk mempercepat proses penyembuhan luka.

Hal tersebut mengakibatkan tekstur kulit tidak lagi merata sehingga terbentuk jaringan parut.

5. Dermatitis kontak alergi

Dermatitis kontak alergi bisa menjadi salah satu efek samping waxing. Pasalnya, ada beberapa komposisi wax yang justru menjadi pemicu alergi, seperti rosin dan beeswax.

Hal ini membuat Anda mengalami gejala alergi kulit, seperti ruam dan gatal.

Waxing adalah salah satu metode mengurangi rambut pada tubuh yang aman. Pastikan Anda mengetahui komposisi wax untuk menghindari timbulnya alergi.

Baik ketika waxing di rumah, salon, maupun klinik kecantikan, jangan lupa untuk memastikan kebersihan peralatan yang digunakan untuk mengurangi risiko infeksi kulit.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hair removal: How to wax. (2022). Retrieved 18 January 2022, from https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-basics/hair/how-to-wax

Waxing | DermNet NZ. (2022). Retrieved 18 January 2022, from https://dermnetnz.org/topics/waxing

Leyden, J., Stein-Gold, L., & Weiss, J. (2017). Why Topical Retinoids Are Mainstay of Therapy for Acne. Dermatology And Therapy, 7(3), 293-304. doi: 10.1007/s13555-017-0185-2

Khanna, N., Chandramohan, K., Khaitan, B., & Singh, M. (2013). Post waxing folliculitis: a clinicopathological evaluation. International Journal Of Dermatology, 53(7), 849-854. doi: 10.1111/ijd.12056

Marshall, C., Hu, M., Leavitt, T., Barnes, L., Lorenz, H., & Longaker, M. (2018). Cutaneous Scarring: Basic Science, Current Treatments, and Future Directions. Advances In Wound Care, 7(2), 29-45. doi: 10.1089/wound.2016.0696

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jan 31
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan