8 Makanan Penyebab Jerawat yang Sebaiknya Anda Hindari

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Jerawat adalah masalah kulit yang cukup umum terjadi pada siapa saja. Penyakit kulit tidak menular ini umumnya disebabkan penyumbatan pori oleh sel kulit mati, bakteri, dan minyak berlebih. Namun, tidak sedikit orang yang percaya bahwa ada beberapa jenis makanan yang menjadi penyebab jerawat. Yuk, simak penjelasannya di sini. 

Benarkah makanan termasuk penyebab jerawat?

jerawat papula pakai benzoil peroksida dan asam salisilat

Penyebab jerawat umumnya terjadi akibat pori-pori di kulit tersumbat oleh sel kulit mati, minyak berlebih, dan bakteri. Pori-pori yang tersumbat akhirnya meradang dan menimbulkan jerawat di kulit. 

Sebenarnya, hubungan antara makanana dan jerawat belum dapat dipastikan. Sejumlah penelitian melaporkan beberapa makanan tertentu dapat memengaruhi hormon dan memicu peningkatan produksi sebum (minyak). 

Kondisi ini lebih sering terjadi ketika remaja memasuki masa pubertas. Selama pubertas, tubuh memproduksi lebih banyak hormon yang disebut insulin-like growth factor 1 (IGF-1). Beberapa studi menunjukkan IGF-1 dapat meningkatkan produksi minyak dan memperburuk kondisi jerawat. 

Bahkan, makanan tertentu juga dapat meningkatkan kadar IGF-1. Oleh sebab itu, banyak orang yang percaya bahwa makanan bisa menjadi penyebab jerawat jika dikonsumsi berlebihan. 

Jenis makanan yang menyebabkan jerawat

Setelah mengenali apa yang membuat makanan tertentu menjadi penyebab jerawat, ketahui apa saja jenis makanan yang perlu Anda hindari. Beberapa makanan di bawah ini mungkin makanan favorit Anda, tetapi bukankah lebih baik mencegah ketimbang mengobati jerawat yang muncul?

1. Produk susu

susu memicu asma

Susu dan produk olahan susu merupakan salah satu jenis makanan yang telah dikenal sejak lama sebagai penyebab jerawat. Mengapa demikian?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang konsumsi produk olahan susu sedikit lebih banyak cenderung mengalami jerawat. Meski begitu, konsumsi olahan susu lebih sering menjadi dalang dibalik masalah ini dibandingkan susu murni. 

Olahan susu lebih mungkin memicu peningkatan hormon insulin dan IGF-1 sebagai penyebab jerawat. Pasalnya, konsumsi olahan susu, seperti yogurt, es krim, dan susu rendah lemak biasanya mengandung lebih banyak gula. 

Jika produk olahan susu yang disebutkan dikonsumsi bersama dengan makanan manis lainnya, dapat meningkatkan hormon insulin dapat terjadi. Bila kadar insulin dan IGF-1 dalam darah terbilang tinggi, akan memicu reaksi peningkatan produksi sebum. 

Walaupun demikian, kedua hal ini mungkin terjadi karena didorong faktor pemicu jerawat lainnya. Sebagai contoh, perubahan hormon saat pubertas, infeksi bakteri, kualitas pola makan secara keseluruhan, hingga kondisi kulit. 

Konsumsi olahan susu mungkin bukan penyebab utama munculnya jerawat ketika Anda memiliki jenis kulit berminyak yang lebih rentan terhadap jerawat.

2. Cokelat

Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa cokelat juga bisa menjadi makanan penyebab jerawat. Faktanya, sudah banyak penelitian yang membahas tentang masalah ini, tetapi hasilnya masih belum dapat disimpulkan.

Apakah Cokelat Termasuk Makanan Sehat? Ini Fakta-faktanya!

Penelitian dari jurnal Cytokine menunjukkan bahwa cokelat dapat membuat kondisi kulit berjerawat semakin parah dan semakin banyak. Hal ini disebabkan lantaran cokelat dapat meningkatkan pelepasan protein interleukin-1B (IL-IB) dan IL-10. 

Pelepasan protein ini yang nantinya membuat bakteri penyebab jerawat (P.acnes) dapat menginfeksi kulit. Meski begitu, belum dapat dipastikan apa yang membuat cokelat dapat memicu pertumbuhan jerawat di kulit. 

3. Makanan dan minuman tinggi gula

Terlalu banyak makan makanan dan minuman yang mengandung gula dan karbohidrat di bawah ini ternyata bisa meningkatkan risiko kulit berjerawat:

  • Nasi putih
  • Minuman kemasan dan soda
  • Roti putih dan kue (keik)
  • Sereal instan
  • Permen 
  • Pasta dan mie yang terbuat dari tepung terigu

Begini, makanan yang mengandung karbohidrat olahan dan gula cenderung mengandung glikemik yang tinggi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi biasanya menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak insulin dan meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. 

Bila hal ini terjadi, kadar hormon lain akan ikut terpengaruh dan kemungkinan besar produksi minyak di kulit juga ikut meningkat. Jika produksi minyak (sebum) berlebihan, sejumlah jenis jerawat pun dapat muncul dengan mudah. 

4. Makanan cepat saji

burger sehat untuk diet

Di dunia yang kini sudah maju membuat kebanyakan orang memilih untuk mengonsumsi makanan cepat saji agar produktivitasnya tetap terjaga. Sesekali mengonsumsi makanan cepat saji sebenarnya tidak apa, tetapi ketika dilakukan berlebihan tentu memiliki bahaya tersendiri, bukan?

Makanan cepat saji umumnya mengandung gula, garam, dan olahan susu yang cukup tinggi. Ini yang membuat orang-orang mencurigai makanan cepat saji sebagai penyebab jerawat. 

Hal ini dibuktikan lewat penelitian dari Journal of the European Academy of Dermatology. Penelitian tersebut melaporkan bahwa peserta yang rutin mengonsumsi makanan cepat saji, terutama sosis dan burger, berisiko 24% lebih tinggi terkena jerawat. 

Walaupun demikian, peneliti belum mengetahui dengan pasti, apakah fast-food yang berkontribusi pada jerawat. Pasalnya, kandungan susu, gula, garam, dan produk hewani yang ada di dalamnya pun cukup mencurigakan. 

Selain itu, kebanyakan fast food mengandung minyak yang tinggi. Semakin banyak makanan berminyak yang dikonsumsi, besar kemungkinan kandungan lemak dalam sebum juga lebih tinggi. 

Perlu diingat bahwa sebagian besar studi tentang makanan cepat saji hanya menunjukkan pola kebiasaan makan dan risiko jerawat. Bukan berarti jenis makanan ini adalah pemicu jerawat yang pasti terjadi setiap kali Anda mengonsumsinya. 

5. Whey protein

Whey protein adalah salah satu jenis protein yang sering digunakan dalam makanan dan suplemen olahraga. Jenis protein ini juga merupakan sumber yang kaya akan asam leusin dan glutamin. 

Walaupun demikian, whey protein yang biasa terkandung di susu protein dapat menyebabkan jerawat. Pernyataan ini berkaitan dengan hormon yang juga menjadikan susu sebagai penyebab jerawat, yaitu IGF-1

Semua yang Perlu Anda Ketahui Seputar Whey Protein

IGF-1 adalah hormon pertumbuhan yang dapat mempercepat pertumbuhan otot. Di lain sisi, hormon ini juga dapat menyebabkan jerawat. Tingkat IGF-1 yang tinggi dapat memicu peningkatan produksi sebum (minyak). 

Hormon IGF-1 juga mengurangi faktor turunan FOXO1 di sel kulit. Kulit yang berjerawat biasanya kekurangan FOXO1 dan berkaitan erat dengan faktor pemicu jerawat, seperti perubahan hormon dan produksi sebum. 

Alhasil, terbiasa meminum susu protein dapat mengurangi FOXO1, sehingga kesehatan kulit pun menurun dan cenderung rentan terhadap jerawat. 

6. Makanan tinggi omega-6

Makanan yang kaya akan omega-6, seperti jagung dan minyak kedelai juga diduga menjadi penyebab jerawat. Di zaman yang sudah modern ini, sebagian masyarakat lebih condong mengonsumsi makanan tinggi omega-6 dan sedikit omega-3. 

Ketidakseimbangan antara asam lemak omega-6 dan omega-3 ini mendorong tubuh mengalami peradangan yang dapat memperburuk jerawat

Sementara itu, suplemen dengan asam lemak omega-3 dapat mengurangi peradangan dan terbukti membantu mengatasi jerawat. Namun, tentu saja diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal ini. 

7. Lemak trans

lemak trans adalah lemak terburuk

Selain menyumbat pembuluh arteri di jantung, makanan yang mengandung lemak trans juga dapat menjadi pemicu pertumbuhan jerawat. 

Lemak trans biasanya berasal dari minyak sayur yang telah digunakan untuk memasak dan biasa ditemukan dalam makanan olahan, seperti biskuit dan mentega. Jika dikonsumsi secara berlebihan, lemak trans bisa menyebabkan peradangan yang memicu jerawat. 

Hal ini ternyata juga berlaku pada makanan dengan kandungan lemak jenuh lainnya, seperti daging merah, keju, dan mentega. Makanan yang tinggi akan lemak jenuh sering dihubungkan dengan peningkatan insulin. 

Sayangnya, insulin yang meningkat drastis dapat merangsang produksi hormon seks yang juga meningkatkan risiko jerawat. 

8. Makanan tertentu dengan reaksi sensitif yang berbeda

Pada beberapa kasus, tubuh dapat bereaksi lebih sensitif terhadap makanan tertentu. Sensitivitas ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali makanan sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun mengeluarkan respons terhadapnya. 

Jika hal ini terjadi, tubuh akan memicu peradangan dan beredar di seluruh tubuh. Alhasil, kondisi jerawat yang sudah ada semakin buruk dan bermunculan yang baru. 

Orang lain mungkin tidak mengalami masalah ini, tetapi pada tubuh yang cenderung sensitif, makanan tersebut bisa menjadi penyebab jerawat. 

Anda dapat mengetahui makanan apa yang menjadi pemicu jerawat dengan melakukan diet eliminasi yang diawasi oleh ahli diet atau spesialis gizi. 

Mulai jeli memilih makanan dari sekarang

Terlepas dari makanan, sulit menentukan apa yang menjadi penyebab jerawat. Konsumsi satu makanan atau membatasi satu makanan lainnya mungkin tidak akan berdampak langsung terhadap jerawat Anda. 

Ini disebabkan ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang rentan terhadap jerawat, mulai dari genetik, kesalahan dalam merawat kulit, hingga kebersihan. Oleh sebab itu, diperlukan lebih banyak penelitian untuk melihat hubungan antara makanan dan jerawat. 

Meski begitu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah jerawat yang mungkin disebabkan oleh jerawat, yaitu: 

  • Konsumsi buah dan sayur yang cukup
  • Penuhi kebutuhan cairan dengan minum air
  • Batasi makanan yang mengandung gula dan susu yang tinggi
  • Pilih makanan yang mengandung antioksidan tinggi

Intinya, menjaga kesehatan kulit dengan jeli memilih makanan yang akan dikonsumsi pun penting agar Anda tidak perlu repot-repot mengobati jerawat yang meradang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Dermatitis Atopik (Eksim)

Eksim (dermatitis atopik) adalah penyakit kronis yang membuat kulit meradang, bengkak, gatal, dan pecah-pecah. Cari tahu gejala dan cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Dermatitis 9 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Mengenal Fototerapi, Terapi Cahaya untuk Penyakit Kulit dengan Sinar UV

Pengobatan penyakit kulit dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan fototerapi atau terapi cahaya. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Kulit 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim membuat kulit memerah, kasar, pecah-pecah, terasa amat gatal, dan sangat kering. Apa sebenarnya penyebab eksim alias dermatitis atopik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Ciri Kulit Sensitif dan 8 Cara Jitu Mengatasinya

Ciri kulit sensitif termasuk ruam kemerahan dan gatal-gatal setelah memakai produk perawatan kulit atau produk wewangian. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Kecantikan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan untuk penderita thalasemia

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
manfaat ampas teh bagi kecantikan

7 Cara Memanfaatkan Ampas Teh untuk Kecantikan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis numularis

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit