Gastritis (Radang Lambung)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Januari 2021 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Definisi

Apa itu gastritis (radang lambung)?

Gastritis adalah gangguan sistem pencernaan yang juga dikenal sebagai radang lambung. Penyakit ini terjadi ketika lapisan dalam dinding lambung (mukosa) meradang atau membengkak.

Peradangan lapisan lambung dapat terjadi secara mendadak (radang lambung akut) atau berlangsung dalam waktu yang lama (radang lambung kronis). Radang lambung akut yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kronis.

Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan dapat disembuhkan dengan obat tertentu. Namun, dalam beberapa kasus, peradangan lambung lambat laun dapat berkembang menjadi penyakit GERD (refluks asam lambung) dan bahkan meningkatkan risiko kanker perut.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Gastritis termasuk kondisi umum. Hanya saja, penyakit ini lebih banyak dijumpai pada orang-orang yang menggunakan obat pereda nyeri dalam jangka panjang.

Obat-obatan ini diketahui bisa mengikis lapisan yang melindungi lambung dari efek asam lambung.

Selain itu, orang yang sudah kecanduan alkohol juga rentan mengalami peradangan pada lambung. Jika dibiarkan, peradangan dapat menyebabkan terbentuknya lubang pada lapisan lambung yang istilah medisnya disebut perforasi lambung.

Jenis

Apa saja jenis penyakit radang lambung?

Selain dibedakan menjadi peradangan akut dan kronis, gastritis juga terbagi menjadi beberapa jenis. Ada jenis gastritis yang bersifat erosif, yang berarti mengikis lapisan lambung. Namun, ada pula yang bersifat nonerosif.

Berikut berbagai jenis gastritis yang sejauh ini telah diketahui.

1. Radang lambung akibat infeksi

Peradangan pada lambung dapat disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori, virus, maupun jamur. Di antara ketiganya, bakteri Helicobacter pylori merupakan salah satu mikroorganisme yang paling sering menyebabkan penyakit ini.

Gastritis akibat infeksi bakteri H. pylori biasanya bersifat kronis dan dapat berujung menjadi penyakit tukak lambung atau usus. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini bisa bertahan seumur hidup dan meningkatkan risiko kanker lambung.

2. Radang lambung reaktif

Gastritis reaktif terjadi apabila lapisan lambung berkontak dengan zat penyebab iritasi dalam jangka waktu yang lama. Zat penyebab iritasi umumnya adalah obat pereda nyeri nonsteroid (NSAID), alkohol, dan bahkan cairan empedu dari tubuh Anda sendiri.

Peradangan lambung reaktif biasanya bersifat kronis dan erosif. Artinya, zat penyebab iritasi terus mengikis dinding lambung dan meningkatkan risiko terbentuknya luka.

Hal ini juga bisa menyebabkan perdarahan, sumbatan, bahkan pembentukan lubang pada lambung dan usus.

3. Radang lambung autoimun

Peradangan lambung autoimun terjadi bila sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel sehat yang menyusun dinding lambung.

Penyakit ini umumnya bersifat kronis, tapi bersifat nonerosif alias tidak menyebabkan pengikisan pada lapisan lambung.

4. Radang lambung akut erosif

Radang lambung akut erosif terjadi setelah lambung berkontak langsung dengan zat penyebab iritasi, seperti obat NSAID, alkohol, atau narkotika.

Pada kasus seperti ini, lapisan lambung terkikis dengan cepat sehingga risiko terbentuknya luka juga besar.

Terdapat salah satu bentuk radang lambung akut erosif yang disebut stress gastritis. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami masalah serius seperti cedera parah, luka bakar, penyakit kritis, atau sepsis (respons ekstrem tubuh terhadap infeksi).

5. Jenis gastritis lainnya

Selain keempat jenis gastritis yang utama, ada pula peradangan lambung dalam bentuk sebagai berikut.

  • Radang lambung post-gastrektomi: Trauma pada lapisan perut yang membuat lapisan lambung merosot setelah prosedur operasi.
  • Radang lambung radiasi: Radang lambung karena paparan radiasi yang mengiritasi lapisan lambung.
  • Radang lambung eosinofilik: Bentuk radang lambung akibat reaksi tubuh pada zat alergen yang tidak diketahui.

Tanda dan gejala

Apa saja tanda dan gejala gastritis?

Orang yang menderita radang lambung sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun sampai akhirnya didiagnosis. Pasalnya, gejala radang lambung sering tampak samar dan salah dikenali sebagai gejala gangguan pencernaan lain.

Gejala gastritis yang paling sering muncul adalah:

  • hilangnya nafsu makan,
  • mual dan muntah,
  • nyeri pada perut bagian atas, serta
  • cepat merasa kenyang meskipun baru makan sedikit.

Apabila dinding lambung telah mengalami perdarahan, gejalanya mungkin baru muncul ketika Anda muntah atau buang air besar. Perdarahan dapat mengubah warna feses menjadi hitam serta menyebabkan muntah darah atau berwarna pekat seperti kopi.

Masih ada beberapa gejala radang lambung lainnya yang belum disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran atau pertanyaan terkait gejala tertentu, sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan solusinya.

Kapan harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter jika mengalami gejala gastritis yang tidak kunjung membaik. Anda juga perlu memberitahu dokter jika mengalami rasa tidak nyaman pada perut setelah minum obat, terutama aspirin atau obat pereda nyeri lainnya.

Muntah darah, buang air besar berdarah, serta gejala radang lambung yang dibarengi perubahan warna feses menjadi hitam adalah kondisi darurat. Segera kunjungi dokter untuk mendapatkan pengobatan medis yang tepat.

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab gastritis?

Penyebab radang lambung (gastritis) yang paling umum adalah konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang. Efek samping ini disebabkan oleh bahan aktif dari obat yang menghambat kerja enzim COX (siklooksigenase) di dalam lambung.

Enzim COX adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap munculnya rangsangan nyeri. Enzim ini juga berfungsi mempertahankan lapisan dinding lambung agar lambung terlindungi dari efek asam yang mengikis.

Apabila kerja enzim COX terhambat, lapisan lambung akan mudah terkikis. Penipisan ini membuat lambung jadi rentan teriritasi dan mengalami luka akibat paparan cairan asam secara terus menerus. Akibatnya, radang dan perdarahan lambung dapat terjadi.

Selain penggunaan obat pereda nyeri jangka panjang, gastritis juga dapat disebabkan oleh sejumlah faktor berikut.

  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol.
  • Konsumsi makanan yang asam, pedas, tinggi lemak, dan mengandung kafein.
  • Infeksi perut yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori.
  • Penyakit diabetes tipe 1, penyakit Crohn, dan alergi makanan.
  • Refluks (aliran balik) cairan empedu menuju lambung.
  • Mengalami stres berat yang tidak terkelola dengan baik.

Apa yang meningkatkan risiko terkena penyakit ini?

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit radang lambung. Berikut di antaranya.

  • Sering mengonsumsi makanan pedas atau yang mengandung banyak lemak, seperti gorengan, sambal, dan hidangan dengan banyak cabai.
  • Gaya hidup tidak sehat, misalnya aktif merokok sejak lama, banyak minum minuman beralkohol, atau pola makan yang tidak teratur.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Sedang menjalani pengobatan tertentu seperti antibiotik, aspirin, steroid, dan pil KB.
  • Stres atau kelelahan yang tidak terkelola dengan baik.
  • Sering mengonsumsi obat pereda nyeri.
  • Penyakit lain yang disebabkan oleh infeksi seperti HIV/AIDS, penyakit Crohn, dan infeksi bakteri lainnya.
  • Alergi makanan, khususnya bagi orang pengidap gangguan pencernaan esophagitis eosinophilic (EoE).

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari radang lambung?

Penyakit radang lambung yang tidak diobati dengan benar atau disepelekan tentu akan semakin bertambah parah. Komplikasi yang mungkin terjadi akibat gastritis adalah sebagai berikut.

1. Tukak lambung

Gastritis dapat mengakibatkan ulkus peptikum atau tukak lambung ketika peradangan sudah menimbulkan luka pada lapisan lambung atau duodenum. Duodenum atau usus dua belas jari adalah bagian awal dari usus kecil.

Ulkus peptikum adalah peradangan dari kerongkongan bawah, lapisan perut. hingga usus kecil. Sementara itu, tukak lambung merupakan peradangan yang terjadi pada dinding lambung.

Penggunaan obat pereda nyeri dan infeksi bakteri H. pylori yang tidak diatasi dengan tepat dapat meningkatkan risiko tukak lambung. Luka yang terbentuk dapat terasa sangat menyakitkan, dan biasanya terjadi di area terbentuknya asam atau enzim.

2. Radang lambung atrofik

Radang lambung atrofik adalah kondisi peradangan kronis yang dapat menyebabkan hilangnya lapisan dan kelenjar di dalam lambung.

Lapisan dan kelenjar yang hilang tersebut kemudian tergantikan dengan jaringan daging yang berserat (fibroid).

3. Anemia

Terkikisnya lapisan dalam lambung akibat peradangan kronis lama-kelamaan dapat menyebabkan perdarahan. Kehilangan darah dalam jumlah banyak dapat berujung pada anemia (kurang darah).

Penelitian juga menunjukkan bahwa peradangan lambung akibat infeksi H. pylori dan gangguan autoimun dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap zat besi dari makanan. Akibatnya, terjadilah anemia defisiensi besi.

4. Defisiensi vitamin B12 dan anemia pernisiosa

Orang yang mengalami gastritis atrofik akibat gangguan autoimun biasanya tidak dapat menghasilkan faktor intrinsik yang cukup. Faktor intrinsik adalah protein yang dibuat lambung untuk membantu usus menyerap vitamin B12.

Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membentuk sel darah merah dan sel saraf. Buruknya penyerapan vitamin B12 dapat menyebabkan jenis anemia yang disebut anemia pernisiosa.

5. Tumor lambung

Peradangan lambung yang kronis dapat meningkatkan risiko pertumbuhan tumor jinak pada lapisan lambung. Pada kasus tertentu, gastritis kronis juga bisa menyebabkan pembentukan jaringan kanker.

Begitu pula dengan radang lambung kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri H. pylori. Infeksi H. pylori dapat meningkatkan risiko kanker limfoma jaringan terkait mukosa lambung (MALT).

6. Perforasi lambung

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peradangan kronis dapat membuat dinding lambung melemah dan menipis. Jika kondisi ini terus dibiarkan, mungkin akan terjadi perforasi alias pembentukan lubang pada lambung.

Perforasi lambung dapat menyebabkan bocornya isi lambung ke dalam rongga perut dan menimbulkan infeksi. Kondisi rongga perut yang sudah terinfeksi disebut dengan peritonitis.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini?

Gastritis dapat didiagnosis berdasarkan gejala radang lambung yang dialami pasien. Bila gejala kurang jelas, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosisnya.

Berikut adalah sejumlah tes yang dapat dilakukan dokter guna menegakkan diagnosis gastritis.

1. Endoskopi

Selama prosedur endoskopi, dokter akan memasukkan selang lentur yang dilengkapi dengan lensa (endoskop) lewat kerongkongan Anda. Tabung ini akan masuk melewati kerongkongan hingga akhirnya mencapai lambung dan usus kecil Anda.

Dengan menggunakan endoskop, dokter bisa mencari tanda-tanda adanya radang atau infeksi pada lambung. Jika terdapat jaringan yang mencurigakan, dokter mungkin akan mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk pemeriksaan laboratorium.

2. Tes untuk mendeteksi H. pylori

Test untuk mendeteksi H. pylori bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti tes darah, tes feses, atau lewat tes napas. Pada tes napas, Anda akan diminta meminum segelas kecil cairan jernih dan tidak berasa yang mengandung karbon radioaktif.

Setelah itu, Anda akan diminta mengembuskan napas ke dalam kantong khusus yang kemudian disegel.

Jika Anda positif terinfeksi, sampel napas Anda akan mengandung karbon radioaktif karena bakteri H. pylori memecah cairan tersebut di dalam lambung.

Apa saja pilihan pengobatan untuk gastritis?

Gastritis akut maupun kronis biasanya diobati dengan antibiotik atau obat-obatan yang menurunkan asam lambung. Pilihan obat untuk gastritis yang sering diresepkan dokter adalah sebagai berikut.

  • Antasida.
  • Antihistamine-2 blocker (H2 blocker) seperti famotidine, cimetidine, ranitidine, dan nizatidine.
  • Penghambat pompa proton (PPI) seperti omeprazole, esomeprazole, Iansoprazole, rabeprazole, dan pantoprazole.

Selain itu, dokter juga dapat menyuntikkan cairan dan obat-obatan lain yang lebih kuat langsung ke dalam pembuluh vena. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi produksi asam lambung jika peradangan Anda memburuk.

Selama pengobatan, Anda harus menghindari konsumsi alkohol dan obat pereda nyeri seperti ibuprofen, naproxen, atau aspirin. Beritahu dokter bila Anda mengalami gejala tertentu setelah mengonsumsi obat.

Pengobatan di rumah

Gaya hidup dan pengobatan radang lambung rumahan di bawah ini mungkin dapat membantu mengatasi gastritis akut maupun kronis yang Anda alami.

1. Tidak merokok

Rokok mengandung nikotin yang bisa melemahkan saluran pencernaan. Merokok juga diketahui dapat menyebabkan refluks asam lambung yang dapat semakin mengiritasi dinding lambung.

2. Menerapkan pola makan sehat

Menerapkan pola makan yang lebih sehat dapat membantu meredakan gejala serta mencegah radang lambung di kemudian hari. Pola makan yang baik untuk mencegah gastritis dapat meliputi sebagai berikut.

  • Makanan dengan kandungan serat tinggi seperti apel, oatmeal, brokoli, wortel, dan kacang-kacangan.
  • Makanan rendah lemak seperti ikan dan dada ayam.
  • Makanan bersifat basa, seperti sayuran yang direbus.
  • Sumber probiotik seperti yogurt, kimchi, kefir, dan tempe.

Selain bijak memilih makanan yang sehat, kebiasaan makan Anda juga perlu diubah menjadi seperti ini.

  • Jika Anda biasa makan besar 3 kali sehari, coba ubah menjadi 5 – 6 kali sehari dengan porsi yang kecil.
  • Jangan makan sampai kekenyangan karena isi lambung yang terlalu penuh bisa naik ke kerongkongan.
  • Hindari minuman bersoda dan minuman yang berkafein seperti coklat, kopi, dan teh.
  • Kurangi makanan atau minuman yang bersifat asam seperti makanan pedas dan buah sitrus. Makanan atau minuman ini memicu rasa nyeri pada ulu hati.
  • Jangan makan sebelum tidur karena bisa memicu refluks asam lambung.

3. Mengurangi berat badan

Orang dengan obesitas berisiko tinggi mengalami radang lambung. Pasalnya, berat badan berlebih meningkatkan tekanan lambung sehingga isi lambung lebih mudah naik.

Mengurangi berat badan 2 – 5 kg dapat membantu Anda mencegah gastritis.

4. Konsumsi obat pereda nyeri dengan pengawasan dokter

Obat pereda nyeri NSAID sering kali disalahgunakan. Padahal, penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan produksi asam lambung sehingga Anda rentan terkena radang lambung.

Maka dari itu, gunakan obat pereda nyeri sesuai petunjuk dokter.

5. Mengubah posisi tidur

Posisi tidur terbaik untuk mencegah kambuhnya gastritis adalah berbaring di sisi kiri, dengan menyangga kepala dan leher menggunakan bantal tebal.

Posisi tersebut menjaga cairan asam tetap berada di dasar lambung sehingga sulit untuk mengalir ke atas.

Gastritis merupakan peradangan pada lambung yang dapat menyebabkan komplikasi bila tidak diobati dengan tepat. Oleh sebab itu, konsultasikan kepada dokter bila Anda kerap mengalami gejala penyakit ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perut Kembung Setiap Pagi? Ini Penyebab dan Cara Menghentikannya

Perut kembung setiap pagi tentu bikin aktivitas sehari-hari tidak nyaman. Kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara menghentikannya? Ini dia ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Tips Makan Sehat, Nutrisi 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Divertikulitis

Kalkulator BMI Benarkah berat badan Anda sudah ideal? Ayo Cari Tahu! Your browser does not support iframes. ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 5 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Labirinitis

Kalkulator BMI Benarkah berat badan Anda sudah ideal? Ayo Cari Tahu! Your browser does not support iframes. ...

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan THT, Gangguan Telinga 5 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Zoonosis, Penyakit Infeksi dari Hewan yang Menular pada Manusia

Zoonosis adalah penyakit infeksi yang berasal dari hewan yang kemudian ditularkan pada manusia. Kenali jenis-jenisnya untuk mencegah penularan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Infeksi 4 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit pada sistem pencernaan

11 Penyakit yang Paling Sering Terjadi pada Sistem Pencernaan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
penyakit pes

Penyakit Pes

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
gambar apa itu botulisme

Botulisme

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit